
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (7/5/2026). Mata uang Garuda berhasil naik 54 poin atau sekitar 0,31 persen ke posisi Rp17.333 per dolar AS.
Penguatan rupiah dipicu sentimen positif dari pasar global yang mulai optimistis terhadap peluang meredanya konflik di Timur Tengah, khususnya antara AS dan Iran. Meski demikian, pelaku pasar masih memilih berhati-hati karena proses negosiasi dinilai belum sepenuhnya aman.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan optimisme pasar muncul setelah muncul sinyal bahwa pembicaraan damai antara Washington dan Teheran semakin mendekati titik temu.
“Iran sedang meninjau proposal perdamaian dari AS yang disebut-sebut dapat mengakhiri konflik secara resmi. Namun, AS tetap meminta Iran menghentikan program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dalam riset hariannya.
Meski pasar merespons positif, Presiden AS Donald Trump menyebut masih terlalu dini untuk melakukan pembicaraan tatap muka dengan Iran. Di sisi lain, parlemen senior Iran juga menilai proposal Washington masih lebih menyerupai daftar keinginan ketimbang kesepakatan final.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran yang dikutip kantor berita ISNA menyebut Teheran segera menyampaikan respons resmi atas proposal tersebut. Sementara itu, Trump mengaku yakin Iran ingin mencapai kesepakatan damai.
Sumber mediasi dari Pakistan menyebut kedua negara kini hampir menyepakati memorandum satu halaman yang akan menjadi dasar penghentian konflik secara formal.
Laporan media AS Axios bahkan menyebut Washington menunggu jawaban Iran dalam 48 jam ke depan terkait sejumlah poin krusial. Sumber tersebut menyebut situasi saat ini menjadi titik terdekat menuju perdamaian sejak perang pecah.
Selain sentimen geopolitik, pelaku pasar juga menanti data ekonomi Amerika Serikat, terutama laporan klaim pengangguran awal dan pidato sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed). Pasar juga bersiap menghadapi rilis data ketenagakerjaan AS pada Jumat besok yang diperkirakan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed berikutnya.
Tujuh "Jurus" BI
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) juga terus memperkuat langkah stabilisasi rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui tujuh langkah strategis untuk menjaga kestabilan nilai tukar.
Langkah pertama yakni intervensi pasar secara agresif, baik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun intervensi di pasar offshore seperti Singapura, London, dan New York.
BI juga mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal asing masuk guna menutup arus keluar dana di pasar saham dan obligasi.
Selain itu, BI bersama Kementerian Keuangan telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder senilai Rp123,1 triliun sepanjang tahun berjalan.
Bank sentral juga memastikan likuiditas pasar tetap longgar, tercermin dari pertumbuhan uang primer sebesar 14,1 persen.
Tak hanya itu, BI memperketat pembelian dolar AS tanpa dokumen pendukung. Batas pembelian yang sebelumnya USD100 ribu kini dipangkas menjadi USD50 ribu per bulan dan akan kembali diturunkan menjadi USD25 ribu.
BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT), termasuk penguatan pasar Yuan-Rupiah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Langkah lainnya adalah memberi ruang bagi bank domestik untuk ikut menjual Offshore NDF di luar negeri agar suplai dolar lebih besar dan pasar lebih stabil.
Terakhir, BI memperketat pengawasan terhadap bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar dalam jumlah besar dengan menerjunkan tim pengawas langsung ke lapangan.
Perry menegaskan, pembatasan pembelian dolar menjadi salah satu instrumen penting untuk meredam spekulasi di pasar domestik. BI juga terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) demi memastikan stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga di tengah fluktuasi global. (idxc)
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (7/5/2026). Mata uang Garuda berhasil naik 54 poin atau sekitar 0,31 persen ke posisi Rp17.333 per dolar AS.
Penguatan rupiah dipicu sentimen positif dari pasar global yang mulai optimistis terhadap peluang meredanya konflik di Timur Tengah, khususnya antara AS dan Iran. Meski demikian, pelaku pasar masih memilih berhati-hati karena proses negosiasi dinilai belum sepenuhnya aman.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan optimisme pasar muncul setelah muncul sinyal bahwa pembicaraan damai antara Washington dan Teheran semakin mendekati titik temu.
“Iran sedang meninjau proposal perdamaian dari AS yang disebut-sebut dapat mengakhiri konflik secara resmi. Namun, AS tetap meminta Iran menghentikan program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dalam riset hariannya.
Meski pasar merespons positif, Presiden AS Donald Trump menyebut masih terlalu dini untuk melakukan pembicaraan tatap muka dengan Iran. Di sisi lain, parlemen senior Iran juga menilai proposal Washington masih lebih menyerupai daftar keinginan ketimbang kesepakatan final.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran yang dikutip kantor berita ISNA menyebut Teheran segera menyampaikan respons resmi atas proposal tersebut. Sementara itu, Trump mengaku yakin Iran ingin mencapai kesepakatan damai.
Sumber mediasi dari Pakistan menyebut kedua negara kini hampir menyepakati memorandum satu halaman yang akan menjadi dasar penghentian konflik secara formal.
Laporan media AS Axios bahkan menyebut Washington menunggu jawaban Iran dalam 48 jam ke depan terkait sejumlah poin krusial. Sumber tersebut menyebut situasi saat ini menjadi titik terdekat menuju perdamaian sejak perang pecah.
Selain sentimen geopolitik, pelaku pasar juga menanti data ekonomi Amerika Serikat, terutama laporan klaim pengangguran awal dan pidato sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed). Pasar juga bersiap menghadapi rilis data ketenagakerjaan AS pada Jumat besok yang diperkirakan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed berikutnya.
Tujuh "Jurus" BI
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) juga terus memperkuat langkah stabilisasi rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui tujuh langkah strategis untuk menjaga kestabilan nilai tukar.
Langkah pertama yakni intervensi pasar secara agresif, baik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun intervensi di pasar offshore seperti Singapura, London, dan New York.
BI juga mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal asing masuk guna menutup arus keluar dana di pasar saham dan obligasi.
Selain itu, BI bersama Kementerian Keuangan telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder senilai Rp123,1 triliun sepanjang tahun berjalan.
Bank sentral juga memastikan likuiditas pasar tetap longgar, tercermin dari pertumbuhan uang primer sebesar 14,1 persen.
Tak hanya itu, BI memperketat pembelian dolar AS tanpa dokumen pendukung. Batas pembelian yang sebelumnya USD100 ribu kini dipangkas menjadi USD50 ribu per bulan dan akan kembali diturunkan menjadi USD25 ribu.
BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT), termasuk penguatan pasar Yuan-Rupiah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Langkah lainnya adalah memberi ruang bagi bank domestik untuk ikut menjual Offshore NDF di luar negeri agar suplai dolar lebih besar dan pasar lebih stabil.
Terakhir, BI memperketat pengawasan terhadap bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar dalam jumlah besar dengan menerjunkan tim pengawas langsung ke lapangan.
Perry menegaskan, pembatasan pembelian dolar menjadi salah satu instrumen penting untuk meredam spekulasi di pasar domestik. BI juga terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) demi memastikan stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga di tengah fluktuasi global. (idxc)