logo
Microsleep Kembali Merenggut Korban di Tol Pekanbaru-Dumai, Tiga Penumpang Tewas Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Operasi Pasar Murah Rohul Digelar Sepekan, Pemprov Riau Jual Bahan Pokok di Bawa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Kian Terpuruk ke Rp18.110 per Dolar AS, Harga Impor dan Proyek Infrastruk Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pembangunan Flyover Padang Lua Rp182 Miliar Dimulai, Jalur Logistik Sumbar-Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sungai Kampar Kembali Makan Korban, Buruh Asal Jabar Hilang Saat Memancing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Perpisahan Mengharukan: Demi Sang Putri, Aji Santoso Tinggalkan PSPS Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Puting Beliung di Desa Api-Api: Sekolah Hancur, Harapan Siswa Tak Boleh Roboh, U Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Puting Beliung Terjang Bengkalis, Sekolah dan Rumah Warga Porak-Poranda, Kerugia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Editorial / Editorial
Ketika Pasangan Bermarwah
Ketika Pasangan Bermarwah "Bakarek Rotan"
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: boy surya hamya
3 Juni 2026 | 15:46:55

Politik sering kali menghadirkan paradoks. Mereka yang dahulu berjalan beriringan menuju kekuasaan, tidak jarang berakhir saling berseberangan ketika kekuasaan itu telah diraih. 

Fenomena tersebut tampaknya juga terjadi pada kepemimpinan Riau yang kini menjadi perhatian publik. Setidaknya, dalam persidangan perkara dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid memperlihatkan secara terbuka retaknya hubungan politik dengan SF Hariyanto.

Sidang di Pengadilan Tipikor Pekanbaru pada 3 Juni 2026 sejatinya digelar untuk menguji fakta-fakta hukum dalam perkara yang sedang disidangkan. Namun dalam proses pemeriksaan, publik justru menyaksikan terbukanya dinamika hubungan antara dua tokoh yang sebelumnya tampil sebagai pasangan politik dalam Pilgub Riau.

Saling bantah di ruang sidang memperlihatkan adanya perbedaan pandangan mengenai perjalanan politik mereka, pembagian peran dalam pemerintahan hingga komunikasi yang terjalin setelah keduanya memenangkan kontestasi politik. 

iklan-view

Abdul Wahid dan SF Hariyanto sama-sama menyampaikan versinya masing-masing. Publik mendengar tudingan, klarifikasi bahkan penolakan yang disampaikan secara langsung di hadapan majelis hakim.

Dalam perspektif politik, peristiwa ini bukanlah fenomena yang sepenuhnya baru. Sejarah politik Indonesia maupun daerah mencatat, banyak pasangan kepala daerah yang awalnya tampil kompak dan mesra saat pemilihan, tetapi kemudian harus kandas dalam menghadapi tantangan saat memasuki fase pemerintahan. 

Kontestasi elektoral dan pengelolaan pemerintahan merupakan dua arena berbeda. Jika saat kampanye fokus utama adalah memenangkan dukungan rakyat, maka setelah terpilih tantangan akan bergeser pada pembagian peran, komunikasi politik dan pengelolaan kekuasaan.

Yang membuat dinamika Abdul Wahid dan SF Hariyanto menarik perhatian adalah simbolisme yang melekat pada pasangan ini sejak awal. 

Dalam Pilgub Riau 2024 yang mengantarkan mereka memimpin Riau untuk periode 2025-2030, pasangan ini mengusung tagline "Bermarwah", sebuah akronim dari nama mereka sekaligus membawa makna menjaga kehormatan, martabat dan nilai-nilai Melayu yang menjadi identitas masyarakat Riau.

Saat itu, pasangan Abdul Wahid-SF Hariyanto berhasil membangun narasi kolaborasi antara pengalaman politik dan birokrasi. Abdul Wahid dikenal sebagai politisi yang memiliki basis dukungan kuat, sementara SF Hariyanto merupakan birokrat senior yang pernah menjabat Sekretaris Daerah Provinsi Riau dan memiliki pengalaman panjang dalam tata kelola pemerintahan. 

Kombinasi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kemenangan mereka dalam Pilgub Riau. Karena itulah, munculnya konflik yang kini terlihat di ruang sidang menghadirkan ironi tersendiri. 

Tagline "Bermarwah" yang dahulu menjadi simbol persatuan politik kini menjadi bahan refleksi publik tentang bagaimana hubungan politik dapat berubah ketika dihadapkan pada realitas pemerintahan.

Namun penting untuk dicatat, perbedaan pandangan yang muncul dalam persidangan belum tentu dapat disederhanakan sebagai persoalan personal semata. Konflik antara kepala daerah dan wakil kepala daerah kerap memiliki dimensi yang lebih kompleks, mulai dari komunikasi birokrasi, distribusi kewenangan, ekspektasi politik sampai perbedaan pendekatan dalam menjalankan roda pemerintahan.

Dari sudut pandang tata kelola pemerintahan, publik tentu berharap hubungan antara gubernur dan wakil gubernur dapat berjalan harmonis karena keduanya dipilih dalam satu paket oleh rakyat. 

Harmoni kepemimpinan biasanya menjadi modal penting dalam memastikan stabilitas pemerintahan dan efektivitas pelayanan publik. Sebaliknya, ketika hubungan itu mengalami gangguan, perhatian masyarakat sering kali beralih dari agenda pembangunan menuju dinamika konflik elite.

Apa yang terungkap dalam persidangan menunjukkan bahwa persoalan di antara Abdul Wahid dan SF Hariyanto tampaknya telah berlangsung cukup lama dan tidak muncul secara tiba-tiba. 

Pernyataan-pernyataan yang disampaikan kedua pihak mengindikasikan adanya akumulasi kekecewaan dan perbedaan persepsi yang belum terselesaikan selama masa pemerintahan berlangsung.

Di sisi lain, ruang sidang bukanlah arena untuk menentukan siapa yang benar dalam konflik politik tersebut. Fungsi persidangan tetaplah menguji fakta dan alat bukti terkait perkara hukum yang sedang diperiksa. 

Adapun perdebatan mengenai hubungan politik keduanya menjadi catatan tersendiri yang memberikan gambaran kepada publik mengenai dinamika di balik pemerintahan yang pernah mereka pimpin bersama.

Pada akhirnya, masyarakat Riau mungkin tidak hanya melihat persidangan ini sebagai proses hukum, tetapi juga sebagai cermin tentang rapuhnya koalisi politik ketika dihadapkan pada realitas kekuasaan. 

Pasangan yang dahulu tampil dengan semangat "Bermarwah" kini memperlihatkan bahwa menjaga kesatuan, setelah kemenangan sering kali jauh lebih sulit dibanding meraihnya.

Kini, hubungan kedua pemimpin Riau itu tampaknya kandas sudah. Dalam pribahasa minang ibarat "bakarek rotan" yang artinya hubungan yang sudah putus sama sekali dan sudah sulit, bahkan tak dapat didamaikan kembali.

Berkaca dari kondisi inilah, publik kemudian belajar bahwa dalam politik, kemenangan ternyata bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari ujian yang sesungguhnya. (*)

Ketika Pasangan Bermarwah "Bakarek Rotan"
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: boy surya hamya
Rubrik: editorial | 3 Juni 2026 | 15:46:55
Ketika Pasangan Bermarwah "Bakarek Rotan"

Politik sering kali menghadirkan paradoks. Mereka yang dahulu berjalan beriringan menuju kekuasaan, tidak jarang berakhir saling berseberangan ketika kekuasaan itu telah diraih. 

Fenomena tersebut tampaknya juga terjadi pada kepemimpinan Riau yang kini menjadi perhatian publik. Setidaknya, dalam persidangan perkara dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid memperlihatkan secara terbuka retaknya hubungan politik dengan SF Hariyanto.

Sidang di Pengadilan Tipikor Pekanbaru pada 3 Juni 2026 sejatinya digelar untuk menguji fakta-fakta hukum dalam perkara yang sedang disidangkan. Namun dalam proses pemeriksaan, publik justru menyaksikan terbukanya dinamika hubungan antara dua tokoh yang sebelumnya tampil sebagai pasangan politik dalam Pilgub Riau.

Saling bantah di ruang sidang memperlihatkan adanya perbedaan pandangan mengenai perjalanan politik mereka, pembagian peran dalam pemerintahan hingga komunikasi yang terjalin setelah keduanya memenangkan kontestasi politik. 

Abdul Wahid dan SF Hariyanto sama-sama menyampaikan versinya masing-masing. Publik mendengar tudingan, klarifikasi bahkan penolakan yang disampaikan secara langsung di hadapan majelis hakim.

Dalam perspektif politik, peristiwa ini bukanlah fenomena yang sepenuhnya baru. Sejarah politik Indonesia maupun daerah mencatat, banyak pasangan kepala daerah yang awalnya tampil kompak dan mesra saat pemilihan, tetapi kemudian harus kandas dalam menghadapi tantangan saat memasuki fase pemerintahan. 

Kontestasi elektoral dan pengelolaan pemerintahan merupakan dua arena berbeda. Jika saat kampanye fokus utama adalah memenangkan dukungan rakyat, maka setelah terpilih tantangan akan bergeser pada pembagian peran, komunikasi politik dan pengelolaan kekuasaan.

Yang membuat dinamika Abdul Wahid dan SF Hariyanto menarik perhatian adalah simbolisme yang melekat pada pasangan ini sejak awal. 

Dalam Pilgub Riau 2024 yang mengantarkan mereka memimpin Riau untuk periode 2025-2030, pasangan ini mengusung tagline "Bermarwah", sebuah akronim dari nama mereka sekaligus membawa makna menjaga kehormatan, martabat dan nilai-nilai Melayu yang menjadi identitas masyarakat Riau.

Saat itu, pasangan Abdul Wahid-SF Hariyanto berhasil membangun narasi kolaborasi antara pengalaman politik dan birokrasi. Abdul Wahid dikenal sebagai politisi yang memiliki basis dukungan kuat, sementara SF Hariyanto merupakan birokrat senior yang pernah menjabat Sekretaris Daerah Provinsi Riau dan memiliki pengalaman panjang dalam tata kelola pemerintahan. 

Kombinasi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kemenangan mereka dalam Pilgub Riau. Karena itulah, munculnya konflik yang kini terlihat di ruang sidang menghadirkan ironi tersendiri. 

Tagline "Bermarwah" yang dahulu menjadi simbol persatuan politik kini menjadi bahan refleksi publik tentang bagaimana hubungan politik dapat berubah ketika dihadapkan pada realitas pemerintahan.

Namun penting untuk dicatat, perbedaan pandangan yang muncul dalam persidangan belum tentu dapat disederhanakan sebagai persoalan personal semata. Konflik antara kepala daerah dan wakil kepala daerah kerap memiliki dimensi yang lebih kompleks, mulai dari komunikasi birokrasi, distribusi kewenangan, ekspektasi politik sampai perbedaan pendekatan dalam menjalankan roda pemerintahan.

Dari sudut pandang tata kelola pemerintahan, publik tentu berharap hubungan antara gubernur dan wakil gubernur dapat berjalan harmonis karena keduanya dipilih dalam satu paket oleh rakyat. 

Harmoni kepemimpinan biasanya menjadi modal penting dalam memastikan stabilitas pemerintahan dan efektivitas pelayanan publik. Sebaliknya, ketika hubungan itu mengalami gangguan, perhatian masyarakat sering kali beralih dari agenda pembangunan menuju dinamika konflik elite.

Apa yang terungkap dalam persidangan menunjukkan bahwa persoalan di antara Abdul Wahid dan SF Hariyanto tampaknya telah berlangsung cukup lama dan tidak muncul secara tiba-tiba. 

Pernyataan-pernyataan yang disampaikan kedua pihak mengindikasikan adanya akumulasi kekecewaan dan perbedaan persepsi yang belum terselesaikan selama masa pemerintahan berlangsung.

Di sisi lain, ruang sidang bukanlah arena untuk menentukan siapa yang benar dalam konflik politik tersebut. Fungsi persidangan tetaplah menguji fakta dan alat bukti terkait perkara hukum yang sedang diperiksa. 

Adapun perdebatan mengenai hubungan politik keduanya menjadi catatan tersendiri yang memberikan gambaran kepada publik mengenai dinamika di balik pemerintahan yang pernah mereka pimpin bersama.

Pada akhirnya, masyarakat Riau mungkin tidak hanya melihat persidangan ini sebagai proses hukum, tetapi juga sebagai cermin tentang rapuhnya koalisi politik ketika dihadapkan pada realitas kekuasaan. 

Pasangan yang dahulu tampil dengan semangat "Bermarwah" kini memperlihatkan bahwa menjaga kesatuan, setelah kemenangan sering kali jauh lebih sulit dibanding meraihnya.

Kini, hubungan kedua pemimpin Riau itu tampaknya kandas sudah. Dalam pribahasa minang ibarat "bakarek rotan" yang artinya hubungan yang sudah putus sama sekali dan sudah sulit, bahkan tak dapat didamaikan kembali.

Berkaca dari kondisi inilah, publik kemudian belajar bahwa dalam politik, kemenangan ternyata bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari ujian yang sesungguhnya. (*)