logo
Rupiah Kian Terpuruk ke Rp18.110 per Dolar AS, Harga Impor dan Proyek Infrastruk Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pembangunan Flyover Padang Lua Rp182 Miliar Dimulai, Jalur Logistik Sumbar-Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sungai Kampar Kembali Makan Korban, Buruh Asal Jabar Hilang Saat Memancing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Perpisahan Mengharukan: Demi Sang Putri, Aji Santoso Tinggalkan PSPS Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Puting Beliung di Desa Api-Api: Sekolah Hancur, Harapan Siswa Tak Boleh Roboh, U Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Puting Beliung Terjang Bengkalis, Sekolah dan Rumah Warga Porak-Poranda, Kerugia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Babak Baru Lapas Bagansiapiapi, Warga Binaan Tempati Lapas Modern di Ujung Tanju Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Suasana Haru Warnai Pemakaman Lima Warga Kerinci Korban Kecelakaan Maut di Tol P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Keuangan
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Tingkatkan Intervensi, Pengamat: Berpotensi Rp19.000!
Rupiah tembus Rp18.000 per-Dolar AS.
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Tingkatkan Intervensi, Pengamat: Berpotensi Rp19.000!
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
4 Juni 2026 | 15:22:42

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali mencatat sejarah baru yang kurang menggembirakan. Sejak perdagangan dibuka Kamis (4/6/2026) pagi, mata uang Garuda sudah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus menjadi titik terlemah sepanjang sejarah.

Data pasar menunjukkan rupiah dibuka di level Rp18.016 per dolar AS, melemah 49 poin atau 0,27 persen dibanding perdagangan sebelumnya.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi menembus level Rp 19.000 per dolar AS pada Juni 2026. Menurutnya, pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik yang masih membayangi perekonomian Indonesia.

“Saat ini rupiah sudah di atas Rp18.000. Pada Juni ini, kemungkinan rupiah di Rp19.000,” kata Ibrahim di Jakarta.

iklan-view

Ibrahim menjelaskan, dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama di kawasan Selat Hormuz, menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia karena sekitar 20% perdagangan minyak global melewati jalur tersebut.

Sedangkan Bank Indonesia (BI) memastikan akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan guna menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam gejolak yang dipicu ketidakpastian global.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan pelemahan rupiah masih didominasi faktor eksternal, terutama meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas dan memperkecil peluang tercapainya perdamaian di kawasan tersebut.

Menurutnya, kondisi itu membuat harga minyak dunia tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi global, sekaligus memicu arus keluar modal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging," kata Destry dalam keterangan resminya.

Selain tekanan dari luar negeri, BI juga mencermati tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri, terutama untuk repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran utang luar negeri.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI akan terus hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi, baik di pasar domestik maupun internasional.

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya," ujar Destry.

Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Di saat yang sama, BI juga memperkuat daya tarik aset keuangan domestik melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang lebih kompetitif guna menjaga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia.

Upaya lain yang terus didorong adalah perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Saat ini kerja sama LCT telah dijalankan bersama China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Destry mengungkapkan pemanfaatan LCT menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Hingga April 2026, nilai transaksi LCT telah mencapai sekitar US$22,7 miliar, hampir menyamai total transaksi sepanjang 2025 yang tercatat sebesar US$25,7 miliar.

Meski rupiah berada di bawah tekanan, BI menilai pelemahan yang terjadi masih sejalan dengan tren mata uang negara-negara lain di kawasan.

"Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional. Secara year to date melemah 7,44 persen," katanya.

Bank sentral juga menegaskan kondisi eksternal Indonesia masih relatif kuat. Cadangan devisa nasional tercatat sebesar US$146,2 miliar pada akhir April 2026, level yang dinilai cukup untuk menjaga stabilitas sektor eksternal dan menghadapi gejolak pasar global.

Ke depan, BI memastikan akan terus memperkuat koordinasi dengan pelaku pasar, perbankan, dan korporasi guna menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. (cnn/bsc)

Home / Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Tingkatkan Intervensi, Pengamat: Berpotensi Rp19.000!
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 4 Juni 2026 | 15:22:42
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Tingkatkan Intervensi, Pengamat: Berpotensi Rp19.000!
Rupiah tembus Rp18.000 per-Dolar AS.

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali mencatat sejarah baru yang kurang menggembirakan. Sejak perdagangan dibuka Kamis (4/6/2026) pagi, mata uang Garuda sudah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus menjadi titik terlemah sepanjang sejarah.

Data pasar menunjukkan rupiah dibuka di level Rp18.016 per dolar AS, melemah 49 poin atau 0,27 persen dibanding perdagangan sebelumnya.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi menembus level Rp 19.000 per dolar AS pada Juni 2026. Menurutnya, pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik yang masih membayangi perekonomian Indonesia.

“Saat ini rupiah sudah di atas Rp18.000. Pada Juni ini, kemungkinan rupiah di Rp19.000,” kata Ibrahim di Jakarta.

Ibrahim menjelaskan, dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama di kawasan Selat Hormuz, menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia karena sekitar 20% perdagangan minyak global melewati jalur tersebut.

Sedangkan Bank Indonesia (BI) memastikan akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan guna menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam gejolak yang dipicu ketidakpastian global.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan pelemahan rupiah masih didominasi faktor eksternal, terutama meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas dan memperkecil peluang tercapainya perdamaian di kawasan tersebut.

Menurutnya, kondisi itu membuat harga minyak dunia tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi global, sekaligus memicu arus keluar modal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging," kata Destry dalam keterangan resminya.

Selain tekanan dari luar negeri, BI juga mencermati tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri, terutama untuk repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran utang luar negeri.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI akan terus hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi, baik di pasar domestik maupun internasional.

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya," ujar Destry.

Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Di saat yang sama, BI juga memperkuat daya tarik aset keuangan domestik melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang lebih kompetitif guna menjaga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia.

Upaya lain yang terus didorong adalah perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Saat ini kerja sama LCT telah dijalankan bersama China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Destry mengungkapkan pemanfaatan LCT menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Hingga April 2026, nilai transaksi LCT telah mencapai sekitar US$22,7 miliar, hampir menyamai total transaksi sepanjang 2025 yang tercatat sebesar US$25,7 miliar.

Meski rupiah berada di bawah tekanan, BI menilai pelemahan yang terjadi masih sejalan dengan tren mata uang negara-negara lain di kawasan.

"Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional. Secara year to date melemah 7,44 persen," katanya.

Bank sentral juga menegaskan kondisi eksternal Indonesia masih relatif kuat. Cadangan devisa nasional tercatat sebesar US$146,2 miliar pada akhir April 2026, level yang dinilai cukup untuk menjaga stabilitas sektor eksternal dan menghadapi gejolak pasar global.

Ke depan, BI memastikan akan terus memperkuat koordinasi dengan pelaku pasar, perbankan, dan korporasi guna menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. (cnn/bsc)