
JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mencetak rekor terendah baru terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.950 per dolar AS, semakin mendekati ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Refinitiv, posisi penutupan tersebut sekaligus menandai tembusnya level psikologis Rp17.900 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak awal sesi.
Rupiah dibuka melemah 0,22 persen di level Rp17.870 per dolar AS sebelum terus mengalami depresiasi hingga penutupan pasar. Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS di pasar global.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat naik 0,05 persen ke level 99,271 pada pukul 15.00 WIB.

Analis menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk mendorong investor memburu aset-aset aman, termasuk dolar AS.
Situasi memanas setelah Komando Pusat AS menyebut Iran meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara di kawasan Teluk, meski seluruhnya gagal mencapai sasaran. Sebagai respons, pasukan AS dilaporkan melakukan serangan ke Pulau Qeshm yang berada di wilayah Iran.
Meningkatnya ketidakpastian geopolitik tersebut memperkuat posisi dolar AS sebagai safe haven dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, tekanan datang dari melemahnya kinerja perdagangan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus neraca perdagangan April 2026 hanya mencapai sekitar US$90 juta, merosot tajam dibandingkan surplus Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar.
Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-April 2026 juga menyusut signifikan dari US$11,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi US$5,64 miliar.
Merespons pelemahan rupiah, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan yang dimiliki.
"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan tertulis.
Ramdan menegaskan BI akan terus mengoptimalkan intervensi pasar dan memastikan ketersediaan likuiditas valuta asing agar stabilitas pasar keuangan tetap terjaga.
Selain itu, sejak 2 Juni 2026, BI mulai memberlakukan ketentuan batas transaksi pembelian valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying menjadi maksimal US$25.000 per pelaku per bulan.
Di sisi lain, bank sentral juga terus memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan menekan risiko gejolak nilai tukar.
Saat ini, kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia bersama sejumlah negara mitra, antara lain Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. (cnbc)




JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mencetak rekor terendah baru terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.950 per dolar AS, semakin mendekati ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Refinitiv, posisi penutupan tersebut sekaligus menandai tembusnya level psikologis Rp17.900 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak awal sesi.
Rupiah dibuka melemah 0,22 persen di level Rp17.870 per dolar AS sebelum terus mengalami depresiasi hingga penutupan pasar. Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS di pasar global.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat naik 0,05 persen ke level 99,271 pada pukul 15.00 WIB.
Analis menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk mendorong investor memburu aset-aset aman, termasuk dolar AS.
Situasi memanas setelah Komando Pusat AS menyebut Iran meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara di kawasan Teluk, meski seluruhnya gagal mencapai sasaran. Sebagai respons, pasukan AS dilaporkan melakukan serangan ke Pulau Qeshm yang berada di wilayah Iran.
Meningkatnya ketidakpastian geopolitik tersebut memperkuat posisi dolar AS sebagai safe haven dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, tekanan datang dari melemahnya kinerja perdagangan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus neraca perdagangan April 2026 hanya mencapai sekitar US$90 juta, merosot tajam dibandingkan surplus Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar.
Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-April 2026 juga menyusut signifikan dari US$11,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi US$5,64 miliar.
Merespons pelemahan rupiah, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan yang dimiliki.
"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan tertulis.
Ramdan menegaskan BI akan terus mengoptimalkan intervensi pasar dan memastikan ketersediaan likuiditas valuta asing agar stabilitas pasar keuangan tetap terjaga.
Selain itu, sejak 2 Juni 2026, BI mulai memberlakukan ketentuan batas transaksi pembelian valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying menjadi maksimal US$25.000 per pelaku per bulan.
Di sisi lain, bank sentral juga terus memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan menekan risiko gejolak nilai tukar.
Saat ini, kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia bersama sejumlah negara mitra, antara lain Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. (cnbc)