
PEKANBARU– Nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (5/6/2026). Pelemahan ini bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan, tetapi berpotensi memicu kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, hingga meningkatkan ketidakpastian bagi dunia usaha di daerah, termasuk Riau yang bergantung pada sektor ekspor dan energi.
Data Investing menunjukkan rupiah pada pukul 06.20 WIB melemah ke posisi Rp18.001 per dolar AS atau turun 0,43 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Dalam 24 jam terakhir, mata uang Indonesia bahkan sempat menyentuh level Rp18.013 per dolar AS.
Level Rp18.000 menjadi perhatian pelaku pasar karena secara psikologis menunjukkan tekanan yang semakin kuat terhadap stabilitas nilai tukar nasional di tengah meningkatnya risiko global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa pelemahan rupiah dipicu kebijakan fiskal pemerintah yang bermasalah.

Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia saat ini justru lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dari sisi penerimaan negara.
"Banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan. Kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu," kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/6).
Ia menyebut pertumbuhan penerimaan pajak pada 2026 menunjukkan hasil positif dari reformasi perpajakan yang telah dilakukan pemerintah.
Konflik Timur Tengah Tekan Rupiah
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Pelaku pasar saat ini mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang masih diliputi ketidakpastian.
Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman. Dampaknya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.
Pengamat mata uang Ariston Tjendra mengatakan peluang rupiah menembus level Rp18.000 memang semakin besar karena sentimen eksternal masih mendominasi pasar.
"Penggerak utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih soal konflik AS dan Iran. Kabar terbaru, AS dan Iran masing-masing belum sepakat damai, bahkan saling serang yang mendorong kenaikan harga minyak mentah," ujarnya. (kpc)




PEKANBARU– Nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (5/6/2026). Pelemahan ini bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan, tetapi berpotensi memicu kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, hingga meningkatkan ketidakpastian bagi dunia usaha di daerah, termasuk Riau yang bergantung pada sektor ekspor dan energi.
Data Investing menunjukkan rupiah pada pukul 06.20 WIB melemah ke posisi Rp18.001 per dolar AS atau turun 0,43 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Dalam 24 jam terakhir, mata uang Indonesia bahkan sempat menyentuh level Rp18.013 per dolar AS.
Level Rp18.000 menjadi perhatian pelaku pasar karena secara psikologis menunjukkan tekanan yang semakin kuat terhadap stabilitas nilai tukar nasional di tengah meningkatnya risiko global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa pelemahan rupiah dipicu kebijakan fiskal pemerintah yang bermasalah.
Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia saat ini justru lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dari sisi penerimaan negara.
"Banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan. Kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu," kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/6).
Ia menyebut pertumbuhan penerimaan pajak pada 2026 menunjukkan hasil positif dari reformasi perpajakan yang telah dilakukan pemerintah.
Konflik Timur Tengah Tekan Rupiah
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Pelaku pasar saat ini mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang masih diliputi ketidakpastian.
Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman. Dampaknya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.
Pengamat mata uang Ariston Tjendra mengatakan peluang rupiah menembus level Rp18.000 memang semakin besar karena sentimen eksternal masih mendominasi pasar.
"Penggerak utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih soal konflik AS dan Iran. Kabar terbaru, AS dan Iran masing-masing belum sepakat damai, bahkan saling serang yang mendorong kenaikan harga minyak mentah," ujarnya. (kpc)