logo
Intan Sari Terpilih Jadi Ketua RT 02 Tobekgodang, Partisipasi Warga Capai 90 Per Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Keluarkan Peringatan Dini, Hujan Lebat Hari Ini Guyur Rohul dan Kuansing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD Riau Desak Pemprov Tetapkan Standar Harga Kelapa, Harga di Inhil Anjlok ke Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi KPU Pekanbaru dan PWI Teken MoU, Perkuat Publikasi Kepemiluan hingga Tangkal Hoa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Uji Kekuatan Tanah, Bandara SSK II Pekanbaru Ubah Jam Operasional Sementara Mula Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ditjenpas Riau Akui Kelalaian Pengawal Jadi Pemicu Napi Kabur, Usul Hukuman Bera Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pengakuan Tangan Kanan Ibnu: Napi Kabur Diduga Rutin Keluar Lapas, Sipir Disebut Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Terungkap! Napi Kabur dari Lapas Pekanbaru Diduga "Otak" Penyelundupan Sabu ke B Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Pekanbaru
Nilai Tukar Rupiah Pagi Ini Jebol Rp18.000, Pemerintah Bantah Faktor Fiskal
Rupiah pagi in jebol ke posisi Rp18.000. (Foto: Istimewa)
Nilai Tukar Rupiah Pagi Ini Jebol Rp18.000, Pemerintah Bantah Faktor Fiskal
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: Boy Surya Hamta
5 Juni 2026 | 10:19:58

PEKANBARU– Nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (5/6/2026). Pelemahan ini bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan, tetapi berpotensi memicu kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, hingga meningkatkan ketidakpastian bagi dunia usaha di daerah, termasuk Riau yang bergantung pada sektor ekspor dan energi.

Data Investing menunjukkan rupiah pada pukul 06.20 WIB melemah ke posisi Rp18.001 per dolar AS atau turun 0,43 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Dalam 24 jam terakhir, mata uang Indonesia bahkan sempat menyentuh level Rp18.013 per dolar AS.

Level Rp18.000 menjadi perhatian pelaku pasar karena secara psikologis menunjukkan tekanan yang semakin kuat terhadap stabilitas nilai tukar nasional di tengah meningkatnya risiko global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa pelemahan rupiah dipicu kebijakan fiskal pemerintah yang bermasalah.

iklan-view

Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia saat ini justru lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dari sisi penerimaan negara.

"Banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan. Kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu," kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/6).

Ia menyebut pertumbuhan penerimaan pajak pada 2026 menunjukkan hasil positif dari reformasi perpajakan yang telah dilakukan pemerintah.

Konflik Timur Tengah Tekan Rupiah

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Pelaku pasar saat ini mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang masih diliputi ketidakpastian.

Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman. Dampaknya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.

Pengamat mata uang Ariston Tjendra mengatakan peluang rupiah menembus level Rp18.000 memang semakin besar karena sentimen eksternal masih mendominasi pasar.

"Penggerak utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih soal konflik AS dan Iran. Kabar terbaru, AS dan Iran masing-masing belum sepakat damai, bahkan saling serang yang mendorong kenaikan harga minyak mentah," ujarnya. (kpc)

Home / Ekonomi
Nilai Tukar Rupiah Pagi Ini Jebol Rp18.000, Pemerintah Bantah Faktor Fiskal
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: Boy Surya Hamta
Rubrik: ekonomi | 5 Juni 2026 | 10:19:58
Nilai Tukar Rupiah Pagi Ini Jebol Rp18.000, Pemerintah Bantah Faktor Fiskal
Rupiah pagi in jebol ke posisi Rp18.000. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU– Nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (5/6/2026). Pelemahan ini bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan, tetapi berpotensi memicu kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, hingga meningkatkan ketidakpastian bagi dunia usaha di daerah, termasuk Riau yang bergantung pada sektor ekspor dan energi.

Data Investing menunjukkan rupiah pada pukul 06.20 WIB melemah ke posisi Rp18.001 per dolar AS atau turun 0,43 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Dalam 24 jam terakhir, mata uang Indonesia bahkan sempat menyentuh level Rp18.013 per dolar AS.

Level Rp18.000 menjadi perhatian pelaku pasar karena secara psikologis menunjukkan tekanan yang semakin kuat terhadap stabilitas nilai tukar nasional di tengah meningkatnya risiko global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa pelemahan rupiah dipicu kebijakan fiskal pemerintah yang bermasalah.

Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia saat ini justru lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dari sisi penerimaan negara.

"Banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan. Kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, enggak begitu," kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/6).

Ia menyebut pertumbuhan penerimaan pajak pada 2026 menunjukkan hasil positif dari reformasi perpajakan yang telah dilakukan pemerintah.

Konflik Timur Tengah Tekan Rupiah

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Pelaku pasar saat ini mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang masih diliputi ketidakpastian.

Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman. Dampaknya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.

Pengamat mata uang Ariston Tjendra mengatakan peluang rupiah menembus level Rp18.000 memang semakin besar karena sentimen eksternal masih mendominasi pasar.

"Penggerak utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih soal konflik AS dan Iran. Kabar terbaru, AS dan Iran masing-masing belum sepakat damai, bahkan saling serang yang mendorong kenaikan harga minyak mentah," ujarnya. (kpc)