logo
Pengawasan Diperketat, Satops Patnal Geledah Petugas dan Barang Bawaan di Lapas Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Usai Direhabilitasi, Kucing Hutan hingga Owa Ungko Dilepasliarkan di Taman Nasio Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Jaksa KPK Sebut Kesaksian Ahli Psikologi Forensik Menguatkan Pembuktian Kasus Ab Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi JMSI Riau Anugerahkan Amanah Leadership Award kepada Bupati Pelalawan Zukri Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Mutasi Polri: Kombes Pandra Tinggalkan Polda Riau, Kombes Akmadi Gantikan Posisi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Prediksi Hujan Masih Guyur Sejumlah Wilayah Riau Hari Ini Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ahli Psikologi Forensik: Atasan Tak Bisa Dipidana Hanya Karena Bawahan Berbuat K Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ahli Forensik Ungkap Titik Lemah Dakwaan Abdul Wahid: Motif dan Niat Jahat Belum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Opini / Pekanbaru
242 Tahun Pekanbaru, Tumbuh Menuju Modernisasi
242 Tahun Pekanbaru, Tumbuh Menuju Modernisasi
Editor: Yob Ayrus | Penulis: boy surya hamta
24 Juni 2026 | 12:52:13

Oleh: Boy Surya Hamta


22 Juni 2026, Pekanbaru genap berusia 242 tahun. Usia yang tidak lagi muda. Usia yang semestinya cukup matang untuk menjadi kota modern nyaman dihuni, berdaya saing tinggi, sekaligus manusiawi bagi seluruh warganya.

Namun seperti banyak kota berkembang di Indonesia, perjalanan Pekanbaru menuju modernisasi tidak selalu berjalan lurus. Ada kemajuan yang patut diapresiasi, tetapi juga persoalan klasik yang terus berulang dan belum sepenuhnya menemukan solusi. 

iklan-view

Di tengah gegap gempita perayaan hari jadi Pekanbaru, momentum ini penting dijadikan ruang refleksi bersama tentang sudah sejauh mana Pekanbaru tumbuh dan ke mana arah kota ini hendak dibawa?

Pekanbaru hari ini bukan lagi kota kecil di tepian Sungai Siak. Dalam dua dekade terakhir, transformasinya berlangsung sangat cepat. Pertumbuhan penduduk terus meningkat, kawasan permukiman meluas, pusat-pusat ekonomi baru bermunculan, investasi terus berdatangan dan aktivitas perdagangan menjadikan Pekanbaru sebagai simpul ekonomi terpenting di Sumatera bagian tengah.

Secara ekonomi, Pekanbaru merupakan etalase Riau. Kota ini menjadi pusat jasa, perdagangan, pendidikan, kesehatan dan pemerintahan. Mobilitas masyarakat yang tinggi menciptakan dinamika perkotaan yang semakin kompleks. 

Di satu sisi, perkembangan tersebut menjadi indikator kemajuan. Namun di sisi lain, pertumbuhan yang cepat sering kali melampaui kapasitas tata kelola kota itu sendiri.

Persoalan pertama yang sejauh ini masih menjadi pekerjaan rumah terbesar adalah masalah banjir. Hampir setiap musim hujan, berbagai kawasan di Pekanbaru tergenang. Fenomena ini bukan lagi peristiwa insidental, melainkan telah menjadi siklus tahunan yang diterima masyarakat sebagai sesuatu yang dianggap biasa.

Padahal, sesungguhnya banjir tidak boleh dianggap sebagai persoalan normal. Keluhan warga terkait genangan di sejumlah lokasi, seperti kawasan Jembatan Sungai Batak, Arifin Achmad maupun Panam adalah potret kecil dari persoalan yang lebih besar. 

Di banyak titik kota, hujan dengan intensitas tinggi selama beberapa jam saja sudah cukup untuk melumpuhkan aktivitas masyarakat. Jalan-jalan utama berubah menjadi kubangan, kendaraan terjebak kemacetan, aktivitas ekonomi terganggu dan produktivitas warga menurun.

Persoalan banjir di Pekanbaru sebenarnya bukan semata-mata, karena curah hujan. Akar masalahnya jauh lebih kompleks. Sistem drainase yang belum optimal, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, minimnya ruang resapan air hingga persoalan sampah yang menyumbat saluran menjadi faktor yang saling berkaitan.

Karena itu, solusi banjir tidak cukup hanya dengan pengerukan drainase menjelang musim hujan. Kota ini membutuhkan peta jalan penanganan banjir jangka panjang yang berbasis data, terintegrasi dan berkelanjutan.

Pekanbaru membutuhkan keberanian untuk membangun sistem drainase modern yang mampu mengantisipasi pertumbuhan kota selama puluhan tahun ke depan. Jika tidak, setiap pembangunan jalan baru akan selalu berakhir pada pertanyaan yang sama, mengapa jalan semakin bagus tetapi banjir masih datang?

Persoalan kedua yang tak kalah penting adalah sampah. Harus diakui, dalam beberapa bulan terakhir Pemerintah Kota Pekanbaru telah menunjukkan keseriusan membersihkan titik-titik pembuangan sampah liar. Berbagai kawasan yang sebelumnya menjadi pemandangan tidak sedap mulai terlihat lebih tertata. Langkah ini layak diapresiasi.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Agung Nugroho dan Wakil Wali Kota Markarius Anwar, persoalan sampah setidaknya mulai mendapatkan perhatian yang lebih intens dibandingkan sebelumnya. Operasi pembersihan dilakukan di sejumlah titik, pengawasan ditingkatkan dan kesadaran publik terus didorong.

Namun demikian, persoalan sampah sesungguhnya bukan hanya soal membersihkan tumpukan yang terlihat. Tantangan sesungguhnya adalah membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif dari hulu hingga hilir.

Sampah bukan sekadar urusan kebersihan. Ia adalah indikator kualitas tata kelola kota. Ketika masyarakat masih mudah membuang sampah sembarangan, ketika sistem pengangkutan belum sepenuhnya optima. Sepanjang pemilahan sampah dari sumber belum berjalan baik, maka persoalan ini akan terus berulang meski pemerintah melakukan pembersihan setiap hari.

Pekanbaru kini membutuhkan revolusi pengelolaan sampah. Edukasi masyarakat harus berjalan beriringan dengan pembenahan sistem. Kota ini membutuhkan lebih banyak bank sampah, pusat daur ulang, pengelolaan berbasis komunitas dan pemanfaatan teknologi yang mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir.

Modernisasi sebuah kota tidak hanya ditentukan gedung tinggi dan jalan lebar, tetapi juga kemampuannya dalam mengelola sampah secara beradab.

Selain banjir dan sampah, tantangan lain yang perlu mendapat perhatian adalah persoalan sosial perkotaan.

Pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan beriringan dengan pemerataan kesejahteraan. Di tengah geliat pembangunan, masih terdapat kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya menikmati manfaat pertumbuhan tersebut. 

Urbanisasi yang terus meningkat menghadirkan berbagai persoalan baru mulai dari ketimpangan sosial, pengangguran hingga meningkatnya kebutuhan terhadap layanan dasar perkotaan.

Kota modern bukan hanya kota yang kaya secara ekonomi. Kota modern adalah kota yang mampu memastikan seluruh warganya mendapatkan akses yang setara terhadap pendidikan, kesehatan, transportasi, ruang publik dan kesempatan ekonomi.

Di sinilah pentingnya kebijakan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada fisik, tetapi juga pada pembangunan manusia. Pekanbaru harus mulai memikirkan masa depan generasi mudanya secara lebih serius.

Aspirasi yang disampaikan sejumlah pegiat seni beberapa waktu lalu menunjukkan, masih terdapat ruang yang perlu diperkuat. Selama ini, perhatian terhadap sektor ekonomi kreatif belum sepenuhnya proporsional dibandingkan potensinya yang begitu besar.

Padahal, kota-kota maju di dunia justru tumbuh melalui kreativitas. Seni, budaya, musik, film, desain, teknologi digital, hingga industri kreatif menjadi mesin ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus identitas kota.

Pekanbaru memiliki modal besar. Komunitas kreatif tumbuh di berbagai sudut kota. Musisi lokal bermunculan. Kreator digital semakin banyak. Anak-anak muda menunjukkan kreativitas luar biasa. Yang mereka butuhkan hanyalah ruang, dukungan dan kesempatan.

Karena itu, gagasan menghadirkan festival kreatif yang melibatkan pelaku seni lokal merupakan langkah yang patut dipertimbangkan secara serius. Pemerintah tidak harus menjadi pelaksana utama. Cukup menjadi fasilitator yang membuka ruang kolaborasi.

Begitu pula dengan kebutuhan ruang olahraga dan ruang interaksi sosial. Rencana pembangunan skate park oleh Pemko Pekanbaru disambut positif komunitas skateboard. Ini merupakan contoh bagaimana pemerintah dapat menjawab kebutuhan generasi muda secara konkret. 

Bagi sebagian orang, skate park mungkin terlihat sebagai fasilitas pelengkap. Namun bagi komunitas urban, ruang semacam itu memiliki fungsi sosial yang jauh lebih besar.

Ia menjadi ruang berkumpul, ruang berekspresi, ruang membangun komunitas, bahkan ruang pembentukan karakter anak muda.

Kota modern adalah kota yang menyediakan ruang hidup bagi semua kelompok masyarakat, bukan hanya ruang untuk kendaraan bermotor.

Di tengah berbagai kritik tersebut, kita juga harus jujur mengakui bahwa Pekanbaru mengalami sejumlah kemajuan yang tidak bisa diabaikan.

Pembangunan dan perbaikan jalan kota dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan masyarakat. Sejumlah ruas jalan yang selama bertahun-tahun menjadi sumber keluhan kini berangsur membaik. Mobilitas warga menjadi lebih lancar, akses ekonomi meningkat dan kenyamanan berkendara bertambah.

Pembangunan infrastruktur jalan memang bukan solusi atas semua persoalan kota. Namun infrastruktur yang baik merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Yang perlu dijaga sekarang adalah konsistensi. Pembangunan jalan tidak boleh berhenti pada proyek fisik semata. Ia harus menjadi bagian dari visi transportasi perkotaan yang lebih besar. Penggunaan mode transportasi bus transmetro listrik di Pekanbaru adalah salah satu buktinya.

Hadirnya transportasi publik modern, ramah lingkungan ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi. Jika tidak, pertumbuhan jumlah kendaraan akan terus melampaui kapasitas jalan yang tersedia.

Memasuki usia ke-242 tahun, tantangan terbesar Pekanbaru sesungguhnya bukan lagi bagaimana membangun kota, melainkan bagaimana mengelola pertumbuhan kota.

Membangun jalan relatif mudah. Membangun gedung relatif mudah. Namun membangun tata kelola perkotaan yang efektif membutuhkan kepemimpinan, konsistensi dan visi jangka panjang.

Kepemimpinan Agung Nugroho dan Markarius Anwar masih memiliki waktu untuk membuktikan, bahwa perubahan yang dijanjikan bukan sekadar slogan politik. Harapan masyarakat terhadap pemerintahan saat ini sangat besar. Publik ingin melihat hasil nyata, bukan hanya pencitraan. 

Publik ingin melihat persoalan banjir berkurang, sampah tertangani, pelayanan publik membaik, dan ruang hidup kota menjadi lebih nyaman.

Kritik yang disampaikan masyarakat sejatinya bukan bentuk kebencian terhadap pemerintah. Sebaliknya, kritik adalah bentuk kepedulian. Kritik lahir karena masyarakat masih memiliki harapan.

Dan harapan itu masih ada. Pekanbaru memiliki semua modal untuk menjadi kota metropolitan terbaik di Sumatera. Letaknya strategis, ekonominya kuat, sumber daya manusianya melimpah dan masyarakatnya dikenal adaptif terhadap perubahan.

Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk berpikir lebih jauh dari sekadar satu periode pemerintahan. Kota ini memerlukan visi 20 hingga 30 tahun ke depan. Visi yang melampaui kepentingan politik jangka pendek.

Ketika kelak Pekanbaru merayakan usia ke-250 tahun, masyarakat tentu berharap tidak lagi membicarakan banjir yang sama, sampah yang sama atau persoalan perkotaan yang terus berulang. Mereka ingin melihat kota yang lebih tertata, lebih hijau, lebih kreatif dan lebih manusiawi.

Usia 242 tahun bukanlah garis akhir. Ia adalah pengingat bahwa perjalanan panjang masih terbentang di depan.

Dan seperti setiap kota besar yang ingin maju, Pekanbaru tidak membutuhkan pujian berlebihan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk bercermin, mengakui kekurangan, memperbaiki kelemahan dan terus bergerak menuju masa depan.

Selamat ulang tahun ke-242, Pekanbaru.

Semoga terus tumbuh, bukan hanya menjadi kota yang lebih besar, tetapi juga menjadi kota yang lebih baik. (*)


*Penulis adalah Redaktur Pelaksana PekanbaruTV

Home / Opini
242 Tahun Pekanbaru, Tumbuh Menuju Modernisasi
Editor: Yob Ayrus | Penulis: boy surya hamta
Rubrik: opini | 24 Juni 2026 | 12:52:13
242 Tahun Pekanbaru, Tumbuh Menuju Modernisasi

Oleh: Boy Surya Hamta


22 Juni 2026, Pekanbaru genap berusia 242 tahun. Usia yang tidak lagi muda. Usia yang semestinya cukup matang untuk menjadi kota modern nyaman dihuni, berdaya saing tinggi, sekaligus manusiawi bagi seluruh warganya.

Namun seperti banyak kota berkembang di Indonesia, perjalanan Pekanbaru menuju modernisasi tidak selalu berjalan lurus. Ada kemajuan yang patut diapresiasi, tetapi juga persoalan klasik yang terus berulang dan belum sepenuhnya menemukan solusi. 

Di tengah gegap gempita perayaan hari jadi Pekanbaru, momentum ini penting dijadikan ruang refleksi bersama tentang sudah sejauh mana Pekanbaru tumbuh dan ke mana arah kota ini hendak dibawa?

Pekanbaru hari ini bukan lagi kota kecil di tepian Sungai Siak. Dalam dua dekade terakhir, transformasinya berlangsung sangat cepat. Pertumbuhan penduduk terus meningkat, kawasan permukiman meluas, pusat-pusat ekonomi baru bermunculan, investasi terus berdatangan dan aktivitas perdagangan menjadikan Pekanbaru sebagai simpul ekonomi terpenting di Sumatera bagian tengah.

Secara ekonomi, Pekanbaru merupakan etalase Riau. Kota ini menjadi pusat jasa, perdagangan, pendidikan, kesehatan dan pemerintahan. Mobilitas masyarakat yang tinggi menciptakan dinamika perkotaan yang semakin kompleks. 

Di satu sisi, perkembangan tersebut menjadi indikator kemajuan. Namun di sisi lain, pertumbuhan yang cepat sering kali melampaui kapasitas tata kelola kota itu sendiri.

Persoalan pertama yang sejauh ini masih menjadi pekerjaan rumah terbesar adalah masalah banjir. Hampir setiap musim hujan, berbagai kawasan di Pekanbaru tergenang. Fenomena ini bukan lagi peristiwa insidental, melainkan telah menjadi siklus tahunan yang diterima masyarakat sebagai sesuatu yang dianggap biasa.

Padahal, sesungguhnya banjir tidak boleh dianggap sebagai persoalan normal. Keluhan warga terkait genangan di sejumlah lokasi, seperti kawasan Jembatan Sungai Batak, Arifin Achmad maupun Panam adalah potret kecil dari persoalan yang lebih besar. 

Di banyak titik kota, hujan dengan intensitas tinggi selama beberapa jam saja sudah cukup untuk melumpuhkan aktivitas masyarakat. Jalan-jalan utama berubah menjadi kubangan, kendaraan terjebak kemacetan, aktivitas ekonomi terganggu dan produktivitas warga menurun.

Persoalan banjir di Pekanbaru sebenarnya bukan semata-mata, karena curah hujan. Akar masalahnya jauh lebih kompleks. Sistem drainase yang belum optimal, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, minimnya ruang resapan air hingga persoalan sampah yang menyumbat saluran menjadi faktor yang saling berkaitan.

Karena itu, solusi banjir tidak cukup hanya dengan pengerukan drainase menjelang musim hujan. Kota ini membutuhkan peta jalan penanganan banjir jangka panjang yang berbasis data, terintegrasi dan berkelanjutan.

Pekanbaru membutuhkan keberanian untuk membangun sistem drainase modern yang mampu mengantisipasi pertumbuhan kota selama puluhan tahun ke depan. Jika tidak, setiap pembangunan jalan baru akan selalu berakhir pada pertanyaan yang sama, mengapa jalan semakin bagus tetapi banjir masih datang?

Persoalan kedua yang tak kalah penting adalah sampah. Harus diakui, dalam beberapa bulan terakhir Pemerintah Kota Pekanbaru telah menunjukkan keseriusan membersihkan titik-titik pembuangan sampah liar. Berbagai kawasan yang sebelumnya menjadi pemandangan tidak sedap mulai terlihat lebih tertata. Langkah ini layak diapresiasi.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Agung Nugroho dan Wakil Wali Kota Markarius Anwar, persoalan sampah setidaknya mulai mendapatkan perhatian yang lebih intens dibandingkan sebelumnya. Operasi pembersihan dilakukan di sejumlah titik, pengawasan ditingkatkan dan kesadaran publik terus didorong.

Namun demikian, persoalan sampah sesungguhnya bukan hanya soal membersihkan tumpukan yang terlihat. Tantangan sesungguhnya adalah membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif dari hulu hingga hilir.

Sampah bukan sekadar urusan kebersihan. Ia adalah indikator kualitas tata kelola kota. Ketika masyarakat masih mudah membuang sampah sembarangan, ketika sistem pengangkutan belum sepenuhnya optima. Sepanjang pemilahan sampah dari sumber belum berjalan baik, maka persoalan ini akan terus berulang meski pemerintah melakukan pembersihan setiap hari.

Pekanbaru kini membutuhkan revolusi pengelolaan sampah. Edukasi masyarakat harus berjalan beriringan dengan pembenahan sistem. Kota ini membutuhkan lebih banyak bank sampah, pusat daur ulang, pengelolaan berbasis komunitas dan pemanfaatan teknologi yang mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir.

Modernisasi sebuah kota tidak hanya ditentukan gedung tinggi dan jalan lebar, tetapi juga kemampuannya dalam mengelola sampah secara beradab.

Selain banjir dan sampah, tantangan lain yang perlu mendapat perhatian adalah persoalan sosial perkotaan.

Pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan beriringan dengan pemerataan kesejahteraan. Di tengah geliat pembangunan, masih terdapat kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya menikmati manfaat pertumbuhan tersebut. 

Urbanisasi yang terus meningkat menghadirkan berbagai persoalan baru mulai dari ketimpangan sosial, pengangguran hingga meningkatnya kebutuhan terhadap layanan dasar perkotaan.

Kota modern bukan hanya kota yang kaya secara ekonomi. Kota modern adalah kota yang mampu memastikan seluruh warganya mendapatkan akses yang setara terhadap pendidikan, kesehatan, transportasi, ruang publik dan kesempatan ekonomi.

Di sinilah pentingnya kebijakan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada fisik, tetapi juga pada pembangunan manusia. Pekanbaru harus mulai memikirkan masa depan generasi mudanya secara lebih serius.

Aspirasi yang disampaikan sejumlah pegiat seni beberapa waktu lalu menunjukkan, masih terdapat ruang yang perlu diperkuat. Selama ini, perhatian terhadap sektor ekonomi kreatif belum sepenuhnya proporsional dibandingkan potensinya yang begitu besar.

Padahal, kota-kota maju di dunia justru tumbuh melalui kreativitas. Seni, budaya, musik, film, desain, teknologi digital, hingga industri kreatif menjadi mesin ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus identitas kota.

Pekanbaru memiliki modal besar. Komunitas kreatif tumbuh di berbagai sudut kota. Musisi lokal bermunculan. Kreator digital semakin banyak. Anak-anak muda menunjukkan kreativitas luar biasa. Yang mereka butuhkan hanyalah ruang, dukungan dan kesempatan.

Karena itu, gagasan menghadirkan festival kreatif yang melibatkan pelaku seni lokal merupakan langkah yang patut dipertimbangkan secara serius. Pemerintah tidak harus menjadi pelaksana utama. Cukup menjadi fasilitator yang membuka ruang kolaborasi.

Begitu pula dengan kebutuhan ruang olahraga dan ruang interaksi sosial. Rencana pembangunan skate park oleh Pemko Pekanbaru disambut positif komunitas skateboard. Ini merupakan contoh bagaimana pemerintah dapat menjawab kebutuhan generasi muda secara konkret. 

Bagi sebagian orang, skate park mungkin terlihat sebagai fasilitas pelengkap. Namun bagi komunitas urban, ruang semacam itu memiliki fungsi sosial yang jauh lebih besar.

Ia menjadi ruang berkumpul, ruang berekspresi, ruang membangun komunitas, bahkan ruang pembentukan karakter anak muda.

Kota modern adalah kota yang menyediakan ruang hidup bagi semua kelompok masyarakat, bukan hanya ruang untuk kendaraan bermotor.

Di tengah berbagai kritik tersebut, kita juga harus jujur mengakui bahwa Pekanbaru mengalami sejumlah kemajuan yang tidak bisa diabaikan.

Pembangunan dan perbaikan jalan kota dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan masyarakat. Sejumlah ruas jalan yang selama bertahun-tahun menjadi sumber keluhan kini berangsur membaik. Mobilitas warga menjadi lebih lancar, akses ekonomi meningkat dan kenyamanan berkendara bertambah.

Pembangunan infrastruktur jalan memang bukan solusi atas semua persoalan kota. Namun infrastruktur yang baik merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Yang perlu dijaga sekarang adalah konsistensi. Pembangunan jalan tidak boleh berhenti pada proyek fisik semata. Ia harus menjadi bagian dari visi transportasi perkotaan yang lebih besar. Penggunaan mode transportasi bus transmetro listrik di Pekanbaru adalah salah satu buktinya.

Hadirnya transportasi publik modern, ramah lingkungan ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi. Jika tidak, pertumbuhan jumlah kendaraan akan terus melampaui kapasitas jalan yang tersedia.

Memasuki usia ke-242 tahun, tantangan terbesar Pekanbaru sesungguhnya bukan lagi bagaimana membangun kota, melainkan bagaimana mengelola pertumbuhan kota.

Membangun jalan relatif mudah. Membangun gedung relatif mudah. Namun membangun tata kelola perkotaan yang efektif membutuhkan kepemimpinan, konsistensi dan visi jangka panjang.

Kepemimpinan Agung Nugroho dan Markarius Anwar masih memiliki waktu untuk membuktikan, bahwa perubahan yang dijanjikan bukan sekadar slogan politik. Harapan masyarakat terhadap pemerintahan saat ini sangat besar. Publik ingin melihat hasil nyata, bukan hanya pencitraan. 

Publik ingin melihat persoalan banjir berkurang, sampah tertangani, pelayanan publik membaik, dan ruang hidup kota menjadi lebih nyaman.

Kritik yang disampaikan masyarakat sejatinya bukan bentuk kebencian terhadap pemerintah. Sebaliknya, kritik adalah bentuk kepedulian. Kritik lahir karena masyarakat masih memiliki harapan.

Dan harapan itu masih ada. Pekanbaru memiliki semua modal untuk menjadi kota metropolitan terbaik di Sumatera. Letaknya strategis, ekonominya kuat, sumber daya manusianya melimpah dan masyarakatnya dikenal adaptif terhadap perubahan.

Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk berpikir lebih jauh dari sekadar satu periode pemerintahan. Kota ini memerlukan visi 20 hingga 30 tahun ke depan. Visi yang melampaui kepentingan politik jangka pendek.

Ketika kelak Pekanbaru merayakan usia ke-250 tahun, masyarakat tentu berharap tidak lagi membicarakan banjir yang sama, sampah yang sama atau persoalan perkotaan yang terus berulang. Mereka ingin melihat kota yang lebih tertata, lebih hijau, lebih kreatif dan lebih manusiawi.

Usia 242 tahun bukanlah garis akhir. Ia adalah pengingat bahwa perjalanan panjang masih terbentang di depan.

Dan seperti setiap kota besar yang ingin maju, Pekanbaru tidak membutuhkan pujian berlebihan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk bercermin, mengakui kekurangan, memperbaiki kelemahan dan terus bergerak menuju masa depan.

Selamat ulang tahun ke-242, Pekanbaru.

Semoga terus tumbuh, bukan hanya menjadi kota yang lebih besar, tetapi juga menjadi kota yang lebih baik. (*)


*Penulis adalah Redaktur Pelaksana PekanbaruTV