logo
Pengawasan Diperketat, Satops Patnal Geledah Petugas dan Barang Bawaan di Lapas Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Usai Direhabilitasi, Kucing Hutan hingga Owa Ungko Dilepasliarkan di Taman Nasio Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Jaksa KPK Sebut Kesaksian Ahli Psikologi Forensik Menguatkan Pembuktian Kasus Ab Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi JMSI Riau Anugerahkan Amanah Leadership Award kepada Bupati Pelalawan Zukri Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Mutasi Polri: Kombes Pandra Tinggalkan Polda Riau, Kombes Akmadi Gantikan Posisi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Prediksi Hujan Masih Guyur Sejumlah Wilayah Riau Hari Ini Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ahli Psikologi Forensik: Atasan Tak Bisa Dipidana Hanya Karena Bawahan Berbuat K Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ahli Forensik Ungkap Titik Lemah Dakwaan Abdul Wahid: Motif dan Niat Jahat Belum Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / Pelalawan
Nona Seroja Jadi Sorotan, Bayi Gajah Sumatera di Tesso Nilo Kini Tumbuh Sehat dan Aktif
Anak gajah Nona Seroja bersama induknya Ria di Flying Squad Camp Tesso Nilo, Riau. (Foto: AFP)
Nona Seroja Jadi Sorotan, Bayi Gajah Sumatera di Tesso Nilo Kini Tumbuh Sehat dan Aktif
Editor: Yob Ayrus | Penulis: boy surya hamta
25 Juni 2026 | 12:09:36

PEKANBARU- Anak gajah Sumatera bernama Nona Seroja yang lahir di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, menjadi perhatian publik setelah sejumlah video yang menampilkan tingkah lucunya viral di media sosial. Bayi gajah berusia 15 hari itu tidak hanya mencuri perhatian warganet, tetapi juga menjadi simbol penting keberhasilan upaya konservasi gajah Sumatera yang saat ini berstatus terancam punah.

Melalui akun Instagram resmi Taman Nasional Tesso Nilo, pengelola membagikan berbagai aktivitas Nona Seroja sejak lahir pada 10 Juni 2026. Dalam salah satu video, bayi gajah betina tersebut terlihat mulai mencoba memakan rumput saat berusia delapan hari, meski masih kesulitan menggunakan belalainya.

“Bayi gajah kecil yang baru berusia 8 hari ini mulai penasaran nyobain makan rumput. Comel banget lihat tingkahnya yang masih meraba-raba. Belalainya masih belajar, jadi rumputnya belum berhasil keambil,” tulis pengelola TNTN dalam unggahan tersebut.

Video lain memperlihatkan momen pertemuan Nona Seroja dengan kakaknya, Domang. Interaksi keduanya memicu respons positif dari warganet yang mengikuti perkembangan bayi gajah tersebut sejak diumumkan kelahirannya.

iklan-view

Sejumlah komentar membanjiri unggahan tersebut. Warganet menyoroti perkembangan Nona Seroja yang mulai aktif berlari dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Popularitas Nona Seroja tidak lepas dari kabar kelahirannya yang diumumkan Kementerian Kehutanan pada 10 Juni lalu. Dalam keterangan resmi, disebutkan bahwa anak gajah betina tersebut lahir dalam kondisi sehat, aktif bergerak, serta mampu menyusu secara normal.

Kepala Balai TNTN, Heru Sutmatoro, menjelaskan Nona Seroja lahir sekitar pukul 07.30 WIB di kawasan Flying Squad Camp Tesso Nilo.

Menurut Heru, kelahiran itu pertama kali diketahui oleh Mahout atau pawang gajah, Erwin Daulay, saat memindahkan gajah dari lokasi ikatan menuju area penggembalaan. Sekitar satu kilometer dari Pos Jaga Resort Konservasi Gajah Sumatera, Erwin menemukan bayi gajah yang baru lahir lengkap dengan ari-arinya.

“Observasi awal dilakukan oleh mahout dan dilanjutkan oleh tim dokter hewan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bayi gajah dalam kondisi aktif, mampu berdiri, dan menyusu secara berulang,” jelas Heru.

Nona Seroja merupakan anak kelima dari induk gajah jinak bernama Ria yang berada di Camp Elephant Flying Squad TNTN. Sebelumnya, Ria telah melahirkan empat anak gajah yang diberi nama Tesso, Tino, Harmoni, dan Domang.

Kelahiran Nona Seroja juga menjadi bagian dari keberhasilan program pengembangbiakan alami antara gajah jinak dan gajah liar yang dilakukan di kawasan Tesso Nilo. Program ini menjadi salah satu strategi konservasi untuk menjaga populasi gajah Sumatera yang terus menghadapi tekanan akibat penyusutan habitat dan konflik satwa-manusia.

Data Balai TNTN menunjukkan, dalam delapan tahun terakhir Camp Elephant Flying Squad telah mencatat empat kelahiran anak gajah dari dua induk gajah jinak, yakni Lisa dan Ria. Capaian tersebut dinilai penting karena reproduksi gajah di habitat konservasi membutuhkan kondisi lingkungan dan kesehatan satwa yang baik.

Dengan lahirnya Nona Seroja, jumlah gajah yang berada di Camp Elephant Flying Squad TNTN kini bertambah menjadi delapan ekor. Populasi tersebut terdiri dari tiga gajah dewasa, dua gajah remaja, dan tiga anak gajah.

Kelahiran bayi gajah ini memiliki arti penting bagi upaya pelestarian satwa liar di Indonesia. Gajah Sumatera merupakan salah satu satwa kunci yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Namun, populasinya terus mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan, perburuan, dan fragmentasi habitat.

Pada 2011, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan status konservasi gajah Sumatera dalam kategori Critically Endangered (CR) atau kritis, yang berarti berada di ambang kepunahan. Selain itu, satwa ini juga masuk dalam daftar hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

Karena itu, setiap kelahiran anak gajah menjadi indikator positif bagi keberlangsungan populasi satwa tersebut. Keberhasilan reproduksi di Tesso Nilo menunjukkan bahwa upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan konservasi masih mampu mendukung kelestarian gajah Sumatera.

Kementerian Kehutanan menegaskan kelahiran Nona Seroja menjadi dorongan untuk terus memperkuat perlindungan habitat dan populasi gajah Sumatera di alam liar. Upaya konservasi tersebut dinilai penting agar satwa endemik Pulau Sumatera itu tetap dapat bertahan di tengah berbagai ancaman yang terus berkembang.

Sementara itu, perkembangan Nona Seroja akan terus dipantau oleh tim Flying Squad dan dokter hewan TNTN guna memastikan kondisi kesehatannya tetap stabil hingga memasuki fase pertumbuhan berikutnya. (dtc)

Nona Seroja Jadi Sorotan, Bayi Gajah Sumatera di Tesso Nilo Kini Tumbuh Sehat dan Aktif
Editor: Yob Ayrus | Penulis: boy surya hamta
Rubrik: lingkungan | 25 Juni 2026 | 12:09:36
Nona Seroja Jadi Sorotan, Bayi Gajah Sumatera di Tesso Nilo Kini Tumbuh Sehat dan Aktif
Anak gajah Nona Seroja bersama induknya Ria di Flying Squad Camp Tesso Nilo, Riau. (Foto: AFP)

PEKANBARU- Anak gajah Sumatera bernama Nona Seroja yang lahir di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, menjadi perhatian publik setelah sejumlah video yang menampilkan tingkah lucunya viral di media sosial. Bayi gajah berusia 15 hari itu tidak hanya mencuri perhatian warganet, tetapi juga menjadi simbol penting keberhasilan upaya konservasi gajah Sumatera yang saat ini berstatus terancam punah.

Melalui akun Instagram resmi Taman Nasional Tesso Nilo, pengelola membagikan berbagai aktivitas Nona Seroja sejak lahir pada 10 Juni 2026. Dalam salah satu video, bayi gajah betina tersebut terlihat mulai mencoba memakan rumput saat berusia delapan hari, meski masih kesulitan menggunakan belalainya.

“Bayi gajah kecil yang baru berusia 8 hari ini mulai penasaran nyobain makan rumput. Comel banget lihat tingkahnya yang masih meraba-raba. Belalainya masih belajar, jadi rumputnya belum berhasil keambil,” tulis pengelola TNTN dalam unggahan tersebut.

Video lain memperlihatkan momen pertemuan Nona Seroja dengan kakaknya, Domang. Interaksi keduanya memicu respons positif dari warganet yang mengikuti perkembangan bayi gajah tersebut sejak diumumkan kelahirannya.

Sejumlah komentar membanjiri unggahan tersebut. Warganet menyoroti perkembangan Nona Seroja yang mulai aktif berlari dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Popularitas Nona Seroja tidak lepas dari kabar kelahirannya yang diumumkan Kementerian Kehutanan pada 10 Juni lalu. Dalam keterangan resmi, disebutkan bahwa anak gajah betina tersebut lahir dalam kondisi sehat, aktif bergerak, serta mampu menyusu secara normal.

Kepala Balai TNTN, Heru Sutmatoro, menjelaskan Nona Seroja lahir sekitar pukul 07.30 WIB di kawasan Flying Squad Camp Tesso Nilo.

Menurut Heru, kelahiran itu pertama kali diketahui oleh Mahout atau pawang gajah, Erwin Daulay, saat memindahkan gajah dari lokasi ikatan menuju area penggembalaan. Sekitar satu kilometer dari Pos Jaga Resort Konservasi Gajah Sumatera, Erwin menemukan bayi gajah yang baru lahir lengkap dengan ari-arinya.

“Observasi awal dilakukan oleh mahout dan dilanjutkan oleh tim dokter hewan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bayi gajah dalam kondisi aktif, mampu berdiri, dan menyusu secara berulang,” jelas Heru.

Nona Seroja merupakan anak kelima dari induk gajah jinak bernama Ria yang berada di Camp Elephant Flying Squad TNTN. Sebelumnya, Ria telah melahirkan empat anak gajah yang diberi nama Tesso, Tino, Harmoni, dan Domang.

Kelahiran Nona Seroja juga menjadi bagian dari keberhasilan program pengembangbiakan alami antara gajah jinak dan gajah liar yang dilakukan di kawasan Tesso Nilo. Program ini menjadi salah satu strategi konservasi untuk menjaga populasi gajah Sumatera yang terus menghadapi tekanan akibat penyusutan habitat dan konflik satwa-manusia.

Data Balai TNTN menunjukkan, dalam delapan tahun terakhir Camp Elephant Flying Squad telah mencatat empat kelahiran anak gajah dari dua induk gajah jinak, yakni Lisa dan Ria. Capaian tersebut dinilai penting karena reproduksi gajah di habitat konservasi membutuhkan kondisi lingkungan dan kesehatan satwa yang baik.

Dengan lahirnya Nona Seroja, jumlah gajah yang berada di Camp Elephant Flying Squad TNTN kini bertambah menjadi delapan ekor. Populasi tersebut terdiri dari tiga gajah dewasa, dua gajah remaja, dan tiga anak gajah.

Kelahiran bayi gajah ini memiliki arti penting bagi upaya pelestarian satwa liar di Indonesia. Gajah Sumatera merupakan salah satu satwa kunci yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Namun, populasinya terus mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan, perburuan, dan fragmentasi habitat.

Pada 2011, International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan status konservasi gajah Sumatera dalam kategori Critically Endangered (CR) atau kritis, yang berarti berada di ambang kepunahan. Selain itu, satwa ini juga masuk dalam daftar hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

Karena itu, setiap kelahiran anak gajah menjadi indikator positif bagi keberlangsungan populasi satwa tersebut. Keberhasilan reproduksi di Tesso Nilo menunjukkan bahwa upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan konservasi masih mampu mendukung kelestarian gajah Sumatera.

Kementerian Kehutanan menegaskan kelahiran Nona Seroja menjadi dorongan untuk terus memperkuat perlindungan habitat dan populasi gajah Sumatera di alam liar. Upaya konservasi tersebut dinilai penting agar satwa endemik Pulau Sumatera itu tetap dapat bertahan di tengah berbagai ancaman yang terus berkembang.

Sementara itu, perkembangan Nona Seroja akan terus dipantau oleh tim Flying Squad dan dokter hewan TNTN guna memastikan kondisi kesehatannya tetap stabil hingga memasuki fase pertumbuhan berikutnya. (dtc)