logo
Intan Sari Terpilih Jadi Ketua RT 02 Tobekgodang, Partisipasi Warga Capai 90 Per Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Keluarkan Peringatan Dini, Hujan Lebat Hari Ini Guyur Rohul dan Kuansing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD Riau Desak Pemprov Tetapkan Standar Harga Kelapa, Harga di Inhil Anjlok ke Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi KPU Pekanbaru dan PWI Teken MoU, Perkuat Publikasi Kepemiluan hingga Tangkal Hoa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Uji Kekuatan Tanah, Bandara SSK II Pekanbaru Ubah Jam Operasional Sementara Mula Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ditjenpas Riau Akui Kelalaian Pengawal Jadi Pemicu Napi Kabur, Usul Hukuman Bera Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pengakuan Tangan Kanan Ibnu: Napi Kabur Diduga Rutin Keluar Lapas, Sipir Disebut Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Terungkap! Napi Kabur dari Lapas Pekanbaru Diduga "Otak" Penyelundupan Sabu ke B Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Pekanbaru
Rupiah Menguat ke Rp17.940 per Dolar AS, Data Ekonomi AS Jadi Pemicu
Rupiah pagi ini dibuka menguat. (Foto: Istimewa)
Rupiah Menguat ke Rp17.940 per Dolar AS, Data Ekonomi AS Jadi Pemicu
Editor: Yob Ayrus | Penulis: Boy Surya Hamta
3 Juli 2026 | 09:32:03

PEKANBARU-Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Jumat (3/7/2026) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda dibuka terapresiasi 0,27% ke posisi Rp17.940 per dolar AS, membalikkan pelemahan yang terjadi pada perdagangan sehari sebelumnya di tengah tekanan terhadap mata uang Negeri Paman Sam akibat melemahnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada pembukaan perdagangan Jumat berhasil menguat setelah pada penutupan Kamis (2/7/2026) berada di level Rp17.988 per dolar AS atau melemah 0,32%. Perubahan arah pergerakan ini terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS (DXY) yang menjadi salah satu acuan utama pergerakan mata uang global.

Hingga pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS tercatat turun 0,05% ke level 100,803. Pelemahan tersebut memperpanjang koreksi yang terjadi pada perdagangan sebelumnya ketika DXY ditutup turun 0,53%.

iklan-view

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap dolar AS masih berlanjut di pasar global. Kondisi itu sekaligus membuka ruang bagi penguatan sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, pada perdagangan menjelang akhir pekan.

Tekanan terhadap greenback dipicu oleh data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan di sektor ketenagakerjaan. Data terbaru memperlihatkan pertumbuhan lapangan kerja sepanjang Juni berada di bawah ekspektasi pasar, sehingga memengaruhi proyeksi investor terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Sepanjang Juni 2026, ekonomi Amerika Serikat hanya mampu menciptakan 57.000 lapangan kerja baru. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar yang sebelumnya memperkirakan penambahan sekitar 110.000 pekerjaan.

Tidak hanya itu, data payroll untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah. Revisi tersebut memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai mengalami perlambatan setelah sebelumnya relatif bertahan di tengah tingginya suku bunga.

Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar kembali mengevaluasi kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat. Ketika peluang kenaikan suku bunga menurun, daya tarik aset berbasis dolar AS ikut berkurang sehingga mendorong pelemahan mata uang tersebut.

Kondisi ini tercermin dari meningkatnya tekanan jual terhadap aset berdenominasi dolar AS dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Akibatnya, mata uang lain memperoleh ruang untuk menguat, termasuk rupiah yang langsung dibuka di zona hijau pada perdagangan Jumat.

Bagi pasar keuangan Indonesia, pelemahan dolar AS menjadi sentimen positif karena dapat membantu menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Stabilitas rupiah menjadi salah satu faktor penting bagi dunia usaha, pelaku impor, investor, maupun pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mengendalikan tekanan inflasi yang berasal dari harga barang impor.

Meski demikian, pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang hari diperkirakan masih dipengaruhi perkembangan sentimen global. Pelaku pasar akan terus mencermati berbagai data ekonomi Amerika Serikat berikutnya yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed.

Selain data ekonomi, dinamika pasar keuangan internasional dan perubahan ekspektasi investor terhadap suku bunga AS juga diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan dolar AS dalam jangka pendek.

Selama tekanan terhadap dolar AS masih berlanjut, peluang penguatan rupiah tetap terbuka. Namun, volatilitas pasar global masih berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang, sehingga pelaku pasar diperkirakan tetap bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Penguatan rupiah pada awal perdagangan ini sekaligus menjadi sinyal positif setelah mata uang domestik sempat mengalami tekanan pada sesi sebelumnya. Arah pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap perkembangan ekonomi global, terutama dari Amerika Serikat yang masih menjadi salah satu penentu utama pergerakan pasar keuangan dunia. (cnbc)

Home / Ekonomi
Rupiah Menguat ke Rp17.940 per Dolar AS, Data Ekonomi AS Jadi Pemicu
Editor: Yob Ayrus | Penulis: Boy Surya Hamta
Rubrik: ekonomi | 3 Juli 2026 | 09:32:03
Rupiah Menguat ke Rp17.940 per Dolar AS, Data Ekonomi AS Jadi Pemicu
Rupiah pagi ini dibuka menguat. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU-Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Jumat (3/7/2026) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda dibuka terapresiasi 0,27% ke posisi Rp17.940 per dolar AS, membalikkan pelemahan yang terjadi pada perdagangan sehari sebelumnya di tengah tekanan terhadap mata uang Negeri Paman Sam akibat melemahnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada pembukaan perdagangan Jumat berhasil menguat setelah pada penutupan Kamis (2/7/2026) berada di level Rp17.988 per dolar AS atau melemah 0,32%. Perubahan arah pergerakan ini terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS (DXY) yang menjadi salah satu acuan utama pergerakan mata uang global.

Hingga pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS tercatat turun 0,05% ke level 100,803. Pelemahan tersebut memperpanjang koreksi yang terjadi pada perdagangan sebelumnya ketika DXY ditutup turun 0,53%.

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap dolar AS masih berlanjut di pasar global. Kondisi itu sekaligus membuka ruang bagi penguatan sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, pada perdagangan menjelang akhir pekan.

Tekanan terhadap greenback dipicu oleh data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan di sektor ketenagakerjaan. Data terbaru memperlihatkan pertumbuhan lapangan kerja sepanjang Juni berada di bawah ekspektasi pasar, sehingga memengaruhi proyeksi investor terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Sepanjang Juni 2026, ekonomi Amerika Serikat hanya mampu menciptakan 57.000 lapangan kerja baru. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar yang sebelumnya memperkirakan penambahan sekitar 110.000 pekerjaan.

Tidak hanya itu, data payroll untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi lebih rendah. Revisi tersebut memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai mengalami perlambatan setelah sebelumnya relatif bertahan di tengah tingginya suku bunga.

Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar kembali mengevaluasi kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat. Ketika peluang kenaikan suku bunga menurun, daya tarik aset berbasis dolar AS ikut berkurang sehingga mendorong pelemahan mata uang tersebut.

Kondisi ini tercermin dari meningkatnya tekanan jual terhadap aset berdenominasi dolar AS dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Akibatnya, mata uang lain memperoleh ruang untuk menguat, termasuk rupiah yang langsung dibuka di zona hijau pada perdagangan Jumat.

Bagi pasar keuangan Indonesia, pelemahan dolar AS menjadi sentimen positif karena dapat membantu menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Stabilitas rupiah menjadi salah satu faktor penting bagi dunia usaha, pelaku impor, investor, maupun pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mengendalikan tekanan inflasi yang berasal dari harga barang impor.

Meski demikian, pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang hari diperkirakan masih dipengaruhi perkembangan sentimen global. Pelaku pasar akan terus mencermati berbagai data ekonomi Amerika Serikat berikutnya yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed.

Selain data ekonomi, dinamika pasar keuangan internasional dan perubahan ekspektasi investor terhadap suku bunga AS juga diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan dolar AS dalam jangka pendek.

Selama tekanan terhadap dolar AS masih berlanjut, peluang penguatan rupiah tetap terbuka. Namun, volatilitas pasar global masih berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang, sehingga pelaku pasar diperkirakan tetap bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Penguatan rupiah pada awal perdagangan ini sekaligus menjadi sinyal positif setelah mata uang domestik sempat mengalami tekanan pada sesi sebelumnya. Arah pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap perkembangan ekonomi global, terutama dari Amerika Serikat yang masih menjadi salah satu penentu utama pergerakan pasar keuangan dunia. (cnbc)