
PEKANBARU-Pemerintah Kota Pekanbaru segera melakukan perbaikan terhadap Jembatan Jalan Nelayan yang amblas. Sebagai solusi sementara agar mobilitas masyarakat tidak terganggu, pemerintah bersama kontraktor menyiapkan pembangunan jembatan darurat yang ditargetkan mulai dipasang paling lambat 8 Juli mendatang.
Keberadaan jembatan sementara menjadi kebutuhan mendesak, karena hingga kini aktivitas warga di kawasan tersebut masih terganggu. Banyak pengendara sepeda motor tetap memilih melintasi jembatan yang rusak meski kondisinya dinilai berisiko, sementara kendaraan roda empat harus memutar melalui jalur alternatif dengan waktu tempuh yang lebih lama.
Saat ini, pembangunan jembatan darurat belum dapat dilakukan sepenuhnya. Tim di lapangan masih menyelesaikan pekerjaan perbaikan jalan di sekitar lokasi sekaligus menunggu kondisi cor-coran turap agar cukup kuat dan tidak mengalami kerusakan ketika proses pemasangan jembatan dimulai.
Pihak kontraktor memastikan, proses persiapan terus berjalan sehingga pemasangan dapat dilakukan sesuai jadwal yang telah direncanakan.

Budi, kontraktor yang menangani perbaikan jembatan mengatakan, proses perakitan jembatan sementara akan segera dimulai.
"Kita rencanakan untuk pemasangan jembatan yang melintang, paling lambat tanggal 8 Juli. Tapi untuk penyusunan sudah dapat kita mulai," kata Budi, Senin (6/7/2026).
Dengan adanya jembatan sementara, akses masyarakat diharapkan dapat kembali terbuka sehingga aktivitas harian, termasuk perjalanan menuju tempat kerja, sekolah maupun distribusi barang, tidak lagi terganggu selama proses pembangunan jembatan permanen berlangsung.
Sementara menunggu pekerjaan selesai, kondisi di lokasi masih menjadi perhatian karena sebagian pengendara tetap nekat melintasi jembatan yang amblas.
Salah seorang pengemudi ojek online, Hendri mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain tetap menggunakan jalur tersebut, meski setiap kali melintas dirinya merasa khawatir terhadap keselamatan.
Menurutnya, menggunakan jalan alternatif membuat waktu perjalanan menjadi jauh lebih lama sehingga berpengaruh terhadap pekerjaannya sebagai pengemudi transportasi daring.
"Kalau takut pastilah dan juga was-was karena kondisinya seperti itu. Kalau bawa penumpang, penumpangnya takut jadi kadang ambil jalur memutar," ujar Hendri.
Kondisi serupa juga dirasakan Fitri, warga yang cukup sering melewati Jalan Nelayan karena orang tuanya tinggal di kawasan tersebut.
Ia mengaku memilih tetap melintas meski merasa cemas. Pasalnya, jalur alternatif mengharuskannya memutar cukup jauh sehingga waktu perjalanan bertambah sekitar setengah jam.
"Sering lewat sini karena rumah orang tua kan di sini. Kalau cari jalan lain jauh, adalah setengah jam karena mutar ke Rumbai dulu," katanya.
Fitri berharap, proses perbaikan dapat segera diselesaikan sehingga masyarakat tidak lagi dihantui rasa khawatir setiap melintasi kawasan tersebut.
Kerusakan jembatan tidak hanya berdampak terhadap kenyamanan berkendara, tetapi juga memengaruhi kelancaran mobilitas masyarakat yang setiap hari mengandalkan akses Jalan Nelayan sebagai jalur penghubung.
Selama jembatan belum dapat difungsikan secara normal, pengendara roda empat masih harus menggunakan rute alternatif dengan jarak tempuh yang lebih panjang. Sementara itu, sebagian pengendara sepeda motor memilih mengambil risiko melintasi jembatan yang rusak karena dianggap lebih cepat dibandingkan harus memutar.
Pemerintah Kota Pekanbaru berharap, pembangunan jembatan sementara dapat segera rampung sehingga akses masyarakat kembali terbuka sembari menunggu proses perbaikan jembatan utama selesai.
Dengan target pemasangan paling lambat 8 Juli, keberadaan jembatan darurat diharapkan menjadi solusi sementara untuk mengurangi hambatan mobilitas warga sekaligus meminimalkan risiko keselamatan akibat banyaknya pengendara yang masih nekat melintasi jembatan amblas tersebut. (why)






PEKANBARU-Pemerintah Kota Pekanbaru segera melakukan perbaikan terhadap Jembatan Jalan Nelayan yang amblas. Sebagai solusi sementara agar mobilitas masyarakat tidak terganggu, pemerintah bersama kontraktor menyiapkan pembangunan jembatan darurat yang ditargetkan mulai dipasang paling lambat 8 Juli mendatang.
Keberadaan jembatan sementara menjadi kebutuhan mendesak, karena hingga kini aktivitas warga di kawasan tersebut masih terganggu. Banyak pengendara sepeda motor tetap memilih melintasi jembatan yang rusak meski kondisinya dinilai berisiko, sementara kendaraan roda empat harus memutar melalui jalur alternatif dengan waktu tempuh yang lebih lama.
Saat ini, pembangunan jembatan darurat belum dapat dilakukan sepenuhnya. Tim di lapangan masih menyelesaikan pekerjaan perbaikan jalan di sekitar lokasi sekaligus menunggu kondisi cor-coran turap agar cukup kuat dan tidak mengalami kerusakan ketika proses pemasangan jembatan dimulai.
Pihak kontraktor memastikan, proses persiapan terus berjalan sehingga pemasangan dapat dilakukan sesuai jadwal yang telah direncanakan.
Budi, kontraktor yang menangani perbaikan jembatan mengatakan, proses perakitan jembatan sementara akan segera dimulai.
"Kita rencanakan untuk pemasangan jembatan yang melintang, paling lambat tanggal 8 Juli. Tapi untuk penyusunan sudah dapat kita mulai," kata Budi, Senin (6/7/2026).
Dengan adanya jembatan sementara, akses masyarakat diharapkan dapat kembali terbuka sehingga aktivitas harian, termasuk perjalanan menuju tempat kerja, sekolah maupun distribusi barang, tidak lagi terganggu selama proses pembangunan jembatan permanen berlangsung.
Sementara menunggu pekerjaan selesai, kondisi di lokasi masih menjadi perhatian karena sebagian pengendara tetap nekat melintasi jembatan yang amblas.
Salah seorang pengemudi ojek online, Hendri mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain tetap menggunakan jalur tersebut, meski setiap kali melintas dirinya merasa khawatir terhadap keselamatan.
Menurutnya, menggunakan jalan alternatif membuat waktu perjalanan menjadi jauh lebih lama sehingga berpengaruh terhadap pekerjaannya sebagai pengemudi transportasi daring.
"Kalau takut pastilah dan juga was-was karena kondisinya seperti itu. Kalau bawa penumpang, penumpangnya takut jadi kadang ambil jalur memutar," ujar Hendri.
Kondisi serupa juga dirasakan Fitri, warga yang cukup sering melewati Jalan Nelayan karena orang tuanya tinggal di kawasan tersebut.
Ia mengaku memilih tetap melintas meski merasa cemas. Pasalnya, jalur alternatif mengharuskannya memutar cukup jauh sehingga waktu perjalanan bertambah sekitar setengah jam.
"Sering lewat sini karena rumah orang tua kan di sini. Kalau cari jalan lain jauh, adalah setengah jam karena mutar ke Rumbai dulu," katanya.
Fitri berharap, proses perbaikan dapat segera diselesaikan sehingga masyarakat tidak lagi dihantui rasa khawatir setiap melintasi kawasan tersebut.
Kerusakan jembatan tidak hanya berdampak terhadap kenyamanan berkendara, tetapi juga memengaruhi kelancaran mobilitas masyarakat yang setiap hari mengandalkan akses Jalan Nelayan sebagai jalur penghubung.
Selama jembatan belum dapat difungsikan secara normal, pengendara roda empat masih harus menggunakan rute alternatif dengan jarak tempuh yang lebih panjang. Sementara itu, sebagian pengendara sepeda motor memilih mengambil risiko melintasi jembatan yang rusak karena dianggap lebih cepat dibandingkan harus memutar.
Pemerintah Kota Pekanbaru berharap, pembangunan jembatan sementara dapat segera rampung sehingga akses masyarakat kembali terbuka sembari menunggu proses perbaikan jembatan utama selesai.
Dengan target pemasangan paling lambat 8 Juli, keberadaan jembatan darurat diharapkan menjadi solusi sementara untuk mengurangi hambatan mobilitas warga sekaligus meminimalkan risiko keselamatan akibat banyaknya pengendara yang masih nekat melintasi jembatan amblas tersebut. (why)