logo
Intan Sari Terpilih Jadi Ketua RT 02 Tobekgodang, Partisipasi Warga Capai 90 Per Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Keluarkan Peringatan Dini, Hujan Lebat Hari Ini Guyur Rohul dan Kuansing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD Riau Desak Pemprov Tetapkan Standar Harga Kelapa, Harga di Inhil Anjlok ke Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi KPU Pekanbaru dan PWI Teken MoU, Perkuat Publikasi Kepemiluan hingga Tangkal Hoa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Uji Kekuatan Tanah, Bandara SSK II Pekanbaru Ubah Jam Operasional Sementara Mula Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ditjenpas Riau Akui Kelalaian Pengawal Jadi Pemicu Napi Kabur, Usul Hukuman Bera Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pengakuan Tangan Kanan Ibnu: Napi Kabur Diduga Rutin Keluar Lapas, Sipir Disebut Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Terungkap! Napi Kabur dari Lapas Pekanbaru Diduga "Otak" Penyelundupan Sabu ke B Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
Hotspot Riau Naik Jadi 24 Titik, Terbanyak Berada di Siak dan Rohil
Hotspot di Riau kembali mengalami peningkatan menjadi 24 titik. (Foto: Istimewa)
Hotspot Riau Naik Jadi 24 Titik, Terbanyak Berada di Siak dan Rohil
Editor: Yob Ayrus | Penulis: Boy Surya Hamta
11 Juli 2026 | 09:30:12



PEKANBARU-Jumlah hotspot Riau kembali mengalami peningkatan menjadi 24 titik berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga pukul 23.00 WIB. Kabupaten Siak dan Rokan Hilir menjadi daerah dengan titik panas terbanyak, sementara BMKG tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meski hujan masih diprakirakan turun di sejumlah wilayah.

Forecaster on Duty BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Yasir P., mengatakan kenaikan jumlah titik panas menjadi indikator yang perlu diwaspadai karena dapat menjadi petunjuk awal munculnya kebakaran hutan dan lahan apabila tidak segera ditindaklanjuti.

Berdasarkan hasil pemantauan satelit hingga pukul 23.00 WIB, sebanyak 24 titik panas tersebar di delapan kabupaten dan kota di Provinsi Riau. Kabupaten Siak mencatat jumlah terbanyak dengan delapan hotspot, disusul Kabupaten Rokan Hilir tujuh titik.

Selanjutnya, Kabupaten Rokan Hulu, Kampar, dan Pelalawan masing-masing memiliki dua titik panas. Sementara Kabupaten Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, dan Kota Dumai masing-masing terpantau satu titik.

iklan-view

Secara regional, Pulau Sumatera mencatat total 222 hotspot. Aceh menjadi provinsi dengan jumlah terbanyak yakni 70 titik, diikuti Sumatera Selatan 56 titik, Sumatera Utara 28 titik, Riau 24 titik, Lampung 17 titik, Kepulauan Bangka Belitung delapan titik, Sumatera Barat tujuh titik, Bengkulu tujuh titik, serta Jambi lima titik.

Menurut Yasir, masyarakat diminta tidak menganggap peningkatan hotspot sebagai hal biasa. Ia mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak membuka lahan menggunakan cara membakar karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas, terutama pada lahan gambut yang banyak terdapat di Riau.

"Di Provinsi Riau terpantau 24 titik panas yang tersebar di delapan kabupaten dan kota. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran hutan maupun lahan agar dapat segera ditangani," kata Yasir.

Di sisi lain, kondisi cuaca di Riau masih dipengaruhi potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. BMKG mencatat sejak pagi hujan telah mengguyur sebagian wilayah Kabupaten Bengkalis, Siak, Pelalawan, serta Kota Dumai.

Potensi hujan juga diperkirakan masih berlanjut pada sore hingga malam hari di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Bengkalis, Siak, Pelalawan, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, dan Kota Dumai.

Sementara pada dini hari, hujan masih berpeluang terjadi di Kabupaten Rokan Hilir, Bengkalis, Siak, serta Kota Dumai.

BMKG mengingatkan bahwa hujan yang terjadi tidak sepenuhnya menghilangkan risiko karhutla. Sebaliknya, kondisi cuaca di beberapa wilayah masih dapat berubah dengan cepat sehingga masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya titik api.

Selain itu, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, terutama di wilayah Dumai, Bengkalis, Siak, Pelalawan, dan Indragiri Hilir pada pagi maupun sore hingga malam hari.

Untuk kondisi atmosfer secara umum, suhu udara di Riau diprakirakan berkisar antara 23 hingga 34 derajat Celcius dengan kelembapan udara mencapai 55 hingga 100 persen. Angin bertiup dari arah tenggara hingga barat dengan kecepatan 10 hingga 40 kilometer per jam.

Di wilayah perairan Riau, tinggi gelombang laut diperkirakan berada pada kisaran 0,5 hingga 1,25 meter atau masuk kategori rendah. Meski demikian, BMKG tetap mengimbau nelayan maupun pengguna transportasi laut agar memantau perkembangan prakiraan cuaca sebelum melakukan pelayaran.

Yasir menegaskan bahwa pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada upaya pemerintah dan petugas di lapangan, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Pelaporan dini apabila ditemukan asap atau indikasi kebakaran dinilai penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga kebakaran tidak meluas.

BMKG juga mengimbau masyarakat terus mengikuti informasi cuaca terbaru karena perubahan kondisi atmosfer dapat memengaruhi potensi hujan maupun risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Riau. Dengan meningkatnya jumlah hotspot, kewaspadaan terhadap karhutla tetap menjadi perhatian utama, terutama di daerah yang selama ini menjadi lokasi rawan kebakaran. (mcr)

Home / News
Hotspot Riau Naik Jadi 24 Titik, Terbanyak Berada di Siak dan Rohil
Editor: Yob Ayrus | Penulis: Boy Surya Hamta
Rubrik: news | 11 Juli 2026 | 09:30:12
Hotspot Riau Naik Jadi 24 Titik, Terbanyak Berada di Siak dan Rohil
Hotspot di Riau kembali mengalami peningkatan menjadi 24 titik. (Foto: Istimewa)



PEKANBARU-Jumlah hotspot Riau kembali mengalami peningkatan menjadi 24 titik berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga pukul 23.00 WIB. Kabupaten Siak dan Rokan Hilir menjadi daerah dengan titik panas terbanyak, sementara BMKG tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meski hujan masih diprakirakan turun di sejumlah wilayah.

Forecaster on Duty BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Yasir P., mengatakan kenaikan jumlah titik panas menjadi indikator yang perlu diwaspadai karena dapat menjadi petunjuk awal munculnya kebakaran hutan dan lahan apabila tidak segera ditindaklanjuti.

Berdasarkan hasil pemantauan satelit hingga pukul 23.00 WIB, sebanyak 24 titik panas tersebar di delapan kabupaten dan kota di Provinsi Riau. Kabupaten Siak mencatat jumlah terbanyak dengan delapan hotspot, disusul Kabupaten Rokan Hilir tujuh titik.

Selanjutnya, Kabupaten Rokan Hulu, Kampar, dan Pelalawan masing-masing memiliki dua titik panas. Sementara Kabupaten Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, dan Kota Dumai masing-masing terpantau satu titik.

Secara regional, Pulau Sumatera mencatat total 222 hotspot. Aceh menjadi provinsi dengan jumlah terbanyak yakni 70 titik, diikuti Sumatera Selatan 56 titik, Sumatera Utara 28 titik, Riau 24 titik, Lampung 17 titik, Kepulauan Bangka Belitung delapan titik, Sumatera Barat tujuh titik, Bengkulu tujuh titik, serta Jambi lima titik.

Menurut Yasir, masyarakat diminta tidak menganggap peningkatan hotspot sebagai hal biasa. Ia mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak membuka lahan menggunakan cara membakar karena berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas, terutama pada lahan gambut yang banyak terdapat di Riau.

"Di Provinsi Riau terpantau 24 titik panas yang tersebar di delapan kabupaten dan kota. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran hutan maupun lahan agar dapat segera ditangani," kata Yasir.

Di sisi lain, kondisi cuaca di Riau masih dipengaruhi potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. BMKG mencatat sejak pagi hujan telah mengguyur sebagian wilayah Kabupaten Bengkalis, Siak, Pelalawan, serta Kota Dumai.

Potensi hujan juga diperkirakan masih berlanjut pada sore hingga malam hari di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Bengkalis, Siak, Pelalawan, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, dan Kota Dumai.

Sementara pada dini hari, hujan masih berpeluang terjadi di Kabupaten Rokan Hilir, Bengkalis, Siak, serta Kota Dumai.

BMKG mengingatkan bahwa hujan yang terjadi tidak sepenuhnya menghilangkan risiko karhutla. Sebaliknya, kondisi cuaca di beberapa wilayah masih dapat berubah dengan cepat sehingga masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya titik api.

Selain itu, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, terutama di wilayah Dumai, Bengkalis, Siak, Pelalawan, dan Indragiri Hilir pada pagi maupun sore hingga malam hari.

Untuk kondisi atmosfer secara umum, suhu udara di Riau diprakirakan berkisar antara 23 hingga 34 derajat Celcius dengan kelembapan udara mencapai 55 hingga 100 persen. Angin bertiup dari arah tenggara hingga barat dengan kecepatan 10 hingga 40 kilometer per jam.

Di wilayah perairan Riau, tinggi gelombang laut diperkirakan berada pada kisaran 0,5 hingga 1,25 meter atau masuk kategori rendah. Meski demikian, BMKG tetap mengimbau nelayan maupun pengguna transportasi laut agar memantau perkembangan prakiraan cuaca sebelum melakukan pelayaran.

Yasir menegaskan bahwa pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada upaya pemerintah dan petugas di lapangan, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Pelaporan dini apabila ditemukan asap atau indikasi kebakaran dinilai penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga kebakaran tidak meluas.

BMKG juga mengimbau masyarakat terus mengikuti informasi cuaca terbaru karena perubahan kondisi atmosfer dapat memengaruhi potensi hujan maupun risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Riau. Dengan meningkatnya jumlah hotspot, kewaspadaan terhadap karhutla tetap menjadi perhatian utama, terutama di daerah yang selama ini menjadi lokasi rawan kebakaran. (mcr)