logo
Kejar Kemiskinan 2 Persen, Pemko Pekanbaru Petakan Wilayah Prioritas Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kejagung Sita Rp5 Miliar, Nama Ferry Boboho Muncul dalam Penyidikan Kasus Febrie Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Istri Sedang Melahirkan, Pengurus Ponpes Ash-Sholihah Sleman Diduga Perkosa Eks Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kuasa Hukum PT SPRH Divonis 12 Tahun, Korupsi Dana PI PHR Rugikan Negara Rp64,2 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Melemah ke Rp17.585, Reli 5 Hari Terhenti di Akhir Pekan, Ancaman The Fed Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ombudsman Dorong DPM-PTSP Pekanbaru Jadi Benchmark Tata Kelola Investasi Nasiona Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Berawal dari Jajanan Viral, Mochillpku Raup Omzet Jutaan Rupiah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Diduga Hendak Transaksi Sabu di Kebun Karet Kampar Kiri, Pria Dan Wanita Ini Dib Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Mendagri Dorong Tradisi Solidaritas Antardaerah dalam Penanganan Bencana
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian.
Mendagri Dorong Tradisi Solidaritas Antardaerah dalam Penanganan Bencana
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 30 Agustus 2026 | 18:01:39

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengajak pemerintah daerah (pemda) memperkuat semangat gotong royong dalam membantu daerah lain yang mengalami bencana.

Mendagri menjelaskan, Indonesia merupakan negara dengan kondisi geografis yang memiliki potensi bencana di berbagai wilayah. Keberadaan banyak gunung berapi, wilayah laut yang luas, serta sungai-sungai yang melimpah membuat bencana dapat terjadi di berbagai daerah.

“Bencana bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Di sini kita memerlukan kegotongroyongan,” kata Tito dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

iklan-view

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Tito usai menghadiri acara Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II Regional Jawa-Bali yang berlangsung di Kabupaten Badung, Bali, pada hari Jumat (28/8).

Dirinya menilai bahwa situasi tersebut menuntut adanya kepedulian bersama antarwilayah. Pemerintah daerah yang mempunyai sumber daya lebih diharapkan mampu mengulurkan tangan bagi daerah yang tengah berjuang memulihkan diri dari dampak bencana.

Apresiasi khusus turut diberikan oleh Mendagri kepada jajaran pemda yang sudah aktif menyalurkan berbagai bentuk bantuan ke sejumlah lokasi terdampak, seperti wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tito mengungkapkan bahwa keterlibatan kepala daerah tidak hanya sebatas pengiriman logistik, melainkan banyak di antara mereka yang turun tangan langsung mendatangi lokasi bencana.

“Jadi sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan (kepala daerah),” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa partisipasi bantuan tidak harus selalu berskala besar. Apabila dikerjakan secara kolektif, akumulasi dukungan dari berbagai pemda diyakini mampu menghadirkan dampak positif yang besar bagi warga korban bencana.

“Jadi sekali lagi ini solidaritas kita saling membantu antardaerah ketika terjadi bencana ini kiranya dapat menjadi tradisi kita dan itu sangat bermanfaat, jujur sangat bermanfaat bagi daerah-daerah terdampak,” kata Tito.

Di samping memperkuat kolaborasi antardaerah, pemerintah pusat dipastikan terus hadir memberikan intervensi nyata dalam penanggulangan bencana di Sumatera maupun NTT.

Bentuk dukungan pusat di Sumatera mencakup alokasi anggaran serta penambahan dana Transfer ke Daerah (TKD). Sementara itu, penanganan di NTT diperkuat melalui kucuran anggaran tambahan Belanja Tidak Terduga (BTT) senilai total Rp200 miliar dari Presiden.

(*)

Home / News
Mendagri Dorong Tradisi Solidaritas Antardaerah dalam Penanganan Bencana
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 30 Agustus 2026 | 18:01:39
Mendagri Dorong Tradisi Solidaritas Antardaerah dalam Penanganan Bencana
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian.

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengajak pemerintah daerah (pemda) memperkuat semangat gotong royong dalam membantu daerah lain yang mengalami bencana.

Mendagri menjelaskan, Indonesia merupakan negara dengan kondisi geografis yang memiliki potensi bencana di berbagai wilayah. Keberadaan banyak gunung berapi, wilayah laut yang luas, serta sungai-sungai yang melimpah membuat bencana dapat terjadi di berbagai daerah.

“Bencana bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Di sini kita memerlukan kegotongroyongan,” kata Tito dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Tito usai menghadiri acara Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II Regional Jawa-Bali yang berlangsung di Kabupaten Badung, Bali, pada hari Jumat (28/8).

Dirinya menilai bahwa situasi tersebut menuntut adanya kepedulian bersama antarwilayah. Pemerintah daerah yang mempunyai sumber daya lebih diharapkan mampu mengulurkan tangan bagi daerah yang tengah berjuang memulihkan diri dari dampak bencana.

Apresiasi khusus turut diberikan oleh Mendagri kepada jajaran pemda yang sudah aktif menyalurkan berbagai bentuk bantuan ke sejumlah lokasi terdampak, seperti wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tito mengungkapkan bahwa keterlibatan kepala daerah tidak hanya sebatas pengiriman logistik, melainkan banyak di antara mereka yang turun tangan langsung mendatangi lokasi bencana.

“Jadi sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan (kepala daerah),” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa partisipasi bantuan tidak harus selalu berskala besar. Apabila dikerjakan secara kolektif, akumulasi dukungan dari berbagai pemda diyakini mampu menghadirkan dampak positif yang besar bagi warga korban bencana.

“Jadi sekali lagi ini solidaritas kita saling membantu antardaerah ketika terjadi bencana ini kiranya dapat menjadi tradisi kita dan itu sangat bermanfaat, jujur sangat bermanfaat bagi daerah-daerah terdampak,” kata Tito.

Di samping memperkuat kolaborasi antardaerah, pemerintah pusat dipastikan terus hadir memberikan intervensi nyata dalam penanggulangan bencana di Sumatera maupun NTT.

Bentuk dukungan pusat di Sumatera mencakup alokasi anggaran serta penambahan dana Transfer ke Daerah (TKD). Sementara itu, penanganan di NTT diperkuat melalui kucuran anggaran tambahan Belanja Tidak Terduga (BTT) senilai total Rp200 miliar dari Presiden.

(*)