logo
Sinyal Pemerintah untuk KPK: Periksa Nusron Wahid Jika Dibutuhkan dalam Kasus Su Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pendidikan Gratis dari TK hingga Kuliah Disiapkan, Pemerintah Hitung Anggaran da Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Program BSPS 2026 Berjalan, Pemprov Riau Sebut 31 Ribu Rumah Masih Butuh Bantuan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sidang Pemerasan dan Penipuan: Saksi Pelapor Ungkap Transfer Rp35 Juta ke Terdak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sembilan Hari Tertekan, Rupiah Akhirnya Bangkit ke Rp17.818 per Dolar AS Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Warga Temukan Pemuda Tergantung dalam Apotek di Salo Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemko Pekanbaru Sudah Perbaiki 34 Km Jalan Rusak, Target 55 Km Tahun Ini Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Antrean Solar Tak Kunjung Terurai, Edy Natar Duga Ada Mafia, Polda Riau: Masih K Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Mendagri Dorong Tradisi Solidaritas Antardaerah dalam Penanganan Bencana
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian.
Mendagri Dorong Tradisi Solidaritas Antardaerah dalam Penanganan Bencana
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 30 Agustus 2026 | 18:01:39

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengajak pemerintah daerah (pemda) memperkuat semangat gotong royong dalam membantu daerah lain yang mengalami bencana.

Mendagri menjelaskan, Indonesia merupakan negara dengan kondisi geografis yang memiliki potensi bencana di berbagai wilayah. Keberadaan banyak gunung berapi, wilayah laut yang luas, serta sungai-sungai yang melimpah membuat bencana dapat terjadi di berbagai daerah.

“Bencana bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Di sini kita memerlukan kegotongroyongan,” kata Tito dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

iklan-view

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Tito usai menghadiri acara Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II Regional Jawa-Bali yang berlangsung di Kabupaten Badung, Bali, pada hari Jumat (28/8).

Dirinya menilai bahwa situasi tersebut menuntut adanya kepedulian bersama antarwilayah. Pemerintah daerah yang mempunyai sumber daya lebih diharapkan mampu mengulurkan tangan bagi daerah yang tengah berjuang memulihkan diri dari dampak bencana.

Apresiasi khusus turut diberikan oleh Mendagri kepada jajaran pemda yang sudah aktif menyalurkan berbagai bentuk bantuan ke sejumlah lokasi terdampak, seperti wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tito mengungkapkan bahwa keterlibatan kepala daerah tidak hanya sebatas pengiriman logistik, melainkan banyak di antara mereka yang turun tangan langsung mendatangi lokasi bencana.

“Jadi sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan (kepala daerah),” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa partisipasi bantuan tidak harus selalu berskala besar. Apabila dikerjakan secara kolektif, akumulasi dukungan dari berbagai pemda diyakini mampu menghadirkan dampak positif yang besar bagi warga korban bencana.

“Jadi sekali lagi ini solidaritas kita saling membantu antardaerah ketika terjadi bencana ini kiranya dapat menjadi tradisi kita dan itu sangat bermanfaat, jujur sangat bermanfaat bagi daerah-daerah terdampak,” kata Tito.

Di samping memperkuat kolaborasi antardaerah, pemerintah pusat dipastikan terus hadir memberikan intervensi nyata dalam penanggulangan bencana di Sumatera maupun NTT.

Bentuk dukungan pusat di Sumatera mencakup alokasi anggaran serta penambahan dana Transfer ke Daerah (TKD). Sementara itu, penanganan di NTT diperkuat melalui kucuran anggaran tambahan Belanja Tidak Terduga (BTT) senilai total Rp200 miliar dari Presiden.

(*)

Home / News
Mendagri Dorong Tradisi Solidaritas Antardaerah dalam Penanganan Bencana
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 30 Agustus 2026 | 18:01:39
Mendagri Dorong Tradisi Solidaritas Antardaerah dalam Penanganan Bencana
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian.

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengajak pemerintah daerah (pemda) memperkuat semangat gotong royong dalam membantu daerah lain yang mengalami bencana.

Mendagri menjelaskan, Indonesia merupakan negara dengan kondisi geografis yang memiliki potensi bencana di berbagai wilayah. Keberadaan banyak gunung berapi, wilayah laut yang luas, serta sungai-sungai yang melimpah membuat bencana dapat terjadi di berbagai daerah.

“Bencana bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Di sini kita memerlukan kegotongroyongan,” kata Tito dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Tito usai menghadiri acara Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II Regional Jawa-Bali yang berlangsung di Kabupaten Badung, Bali, pada hari Jumat (28/8).

Dirinya menilai bahwa situasi tersebut menuntut adanya kepedulian bersama antarwilayah. Pemerintah daerah yang mempunyai sumber daya lebih diharapkan mampu mengulurkan tangan bagi daerah yang tengah berjuang memulihkan diri dari dampak bencana.

Apresiasi khusus turut diberikan oleh Mendagri kepada jajaran pemda yang sudah aktif menyalurkan berbagai bentuk bantuan ke sejumlah lokasi terdampak, seperti wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tito mengungkapkan bahwa keterlibatan kepala daerah tidak hanya sebatas pengiriman logistik, melainkan banyak di antara mereka yang turun tangan langsung mendatangi lokasi bencana.

“Jadi sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan (kepala daerah),” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa partisipasi bantuan tidak harus selalu berskala besar. Apabila dikerjakan secara kolektif, akumulasi dukungan dari berbagai pemda diyakini mampu menghadirkan dampak positif yang besar bagi warga korban bencana.

“Jadi sekali lagi ini solidaritas kita saling membantu antardaerah ketika terjadi bencana ini kiranya dapat menjadi tradisi kita dan itu sangat bermanfaat, jujur sangat bermanfaat bagi daerah-daerah terdampak,” kata Tito.

Di samping memperkuat kolaborasi antardaerah, pemerintah pusat dipastikan terus hadir memberikan intervensi nyata dalam penanggulangan bencana di Sumatera maupun NTT.

Bentuk dukungan pusat di Sumatera mencakup alokasi anggaran serta penambahan dana Transfer ke Daerah (TKD). Sementara itu, penanganan di NTT diperkuat melalui kucuran anggaran tambahan Belanja Tidak Terduga (BTT) senilai total Rp200 miliar dari Presiden.

(*)