logo
Sinyal Pemerintah untuk KPK: Periksa Nusron Wahid Jika Dibutuhkan dalam Kasus Su Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pendidikan Gratis dari TK hingga Kuliah Disiapkan, Pemerintah Hitung Anggaran da Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Program BSPS 2026 Berjalan, Pemprov Riau Sebut 31 Ribu Rumah Masih Butuh Bantuan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sidang Pemerasan dan Penipuan: Saksi Pelapor Ungkap Transfer Rp35 Juta ke Terdak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sembilan Hari Tertekan, Rupiah Akhirnya Bangkit ke Rp17.818 per Dolar AS Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Warga Temukan Pemuda Tergantung dalam Apotek di Salo Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pemko Pekanbaru Sudah Perbaiki 34 Km Jalan Rusak, Target 55 Km Tahun Ini Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Antrean Solar Tak Kunjung Terurai, Edy Natar Duga Ada Mafia, Polda Riau: Masih K Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Konflik Global Picu Lonjakan Beban Subsidi Energi Hingga Rp300 Triliun
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menghitung pembengkakan kompensasi dan subsidi energi bisa mencapai Rp300 triliun dari anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya akibat konflik geopolitik.
Konflik Global Picu Lonjakan Beban Subsidi Energi Hingga Rp300 Triliun
Editor: putrajaya
Rubrik: ekonomi | 2 September 2026 | 16:07:27

Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menghitung pembengkakan kompensasi dan subsidi energi bisa mencapai Rp300 triliun dari anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya akibat konflik geopolitik.

“Kami dari Kementerian ESDM sudah menghitung ini dampak kenaikan ini, kalau kita tidak antisipasi dengan ketersediaan energi baru dan terbarukan, ini konsekuensinya peningkatan kompensasi dan subsidi, dari Rp400 triliun itu bisa meningkat sekitar Rp300 triliun,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot dalam The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu.

Ketegangan global tersebut dipicu oleh peperangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berdampak langsung pada terganggunya rantai pasok energi dunia. Situasi krisis ini turut diperparah oleh konflik berkepanjangan antara Ukraina dan Rusia.

iklan-view

“Ini memicu keterbatasan ketersediaan energi secara global,” ucap dia.

Berdasarkan paparan Yuliot, kenaikan biaya energi ini berimbas pada lonjakan inflasi serta pembengkakan biaya produksi sektor industri. Situasi tersebut dinilai berpotensi membawa dampak luas berupa krisis makroekonomi secara keseluruhan.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah kini menggenjot pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Kebijakan transisi energi ini selaras dengan program prioritas Astacita, khususnya dalam mewujudkan kemandirian bangsa lewat swasembada energi sekaligus memperkuat ketahanan negara.

“Kami melihat dari sisi kita swasembada energi dan hilirisasi, ini akan meningkatkan penyediaan energi dan juga perluasan akses dan jangkauan terhadap energi bagi industri dan masyarakat secara keseluruhan,” ujar Yuliot. (*)

Home / Ekonomi
Konflik Global Picu Lonjakan Beban Subsidi Energi Hingga Rp300 Triliun
Editor: putrajaya
Rubrik: ekonomi | 2 September 2026 | 16:07:27
Konflik Global Picu Lonjakan Beban Subsidi Energi Hingga Rp300 Triliun
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menghitung pembengkakan kompensasi dan subsidi energi bisa mencapai Rp300 triliun dari anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya akibat konflik geopolitik.

Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menghitung pembengkakan kompensasi dan subsidi energi bisa mencapai Rp300 triliun dari anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya akibat konflik geopolitik.

“Kami dari Kementerian ESDM sudah menghitung ini dampak kenaikan ini, kalau kita tidak antisipasi dengan ketersediaan energi baru dan terbarukan, ini konsekuensinya peningkatan kompensasi dan subsidi, dari Rp400 triliun itu bisa meningkat sekitar Rp300 triliun,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot dalam The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu.

Ketegangan global tersebut dipicu oleh peperangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berdampak langsung pada terganggunya rantai pasok energi dunia. Situasi krisis ini turut diperparah oleh konflik berkepanjangan antara Ukraina dan Rusia.

“Ini memicu keterbatasan ketersediaan energi secara global,” ucap dia.

Berdasarkan paparan Yuliot, kenaikan biaya energi ini berimbas pada lonjakan inflasi serta pembengkakan biaya produksi sektor industri. Situasi tersebut dinilai berpotensi membawa dampak luas berupa krisis makroekonomi secara keseluruhan.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah kini menggenjot pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Kebijakan transisi energi ini selaras dengan program prioritas Astacita, khususnya dalam mewujudkan kemandirian bangsa lewat swasembada energi sekaligus memperkuat ketahanan negara.

“Kami melihat dari sisi kita swasembada energi dan hilirisasi, ini akan meningkatkan penyediaan energi dan juga perluasan akses dan jangkauan terhadap energi bagi industri dan masyarakat secara keseluruhan,” ujar Yuliot. (*)