logo
Hotspot Sumatera Merosot, BMKG Ingatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang di Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kemenkes: 174 Ribu Warga Terserang ISPA, 40.363 di Antaranya Balita Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD dan Pemko Pekanbaru Sepakati APBD-P 2026 Rp3,26 Triliun, Banjir Jadi Sorota Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi UPDATE: Satu Korban Galodo Arosuka Ditemukan Tewas, Jalur Padang-Solok Masih Ter Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Melemah ke Rp17.884, Investor Cermati Arah Suku Bunga The Fed dan BI Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sekolah di Pekanbaru Kembali Belajar Tatap Muka Terbatas Mulai Besok Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi HUT Lalu Lintas ke-71, Kapolda Riau Soroti Karhutla yang Terus Berulang: Apa Tak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harga TBS Sawit Riau Periode 23-29 September Turun Rp27 per Kg Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / LINGKUNGAN
Diego, Gajah Binaan PLG Minas Mati Setelah Berjuang Melawan Sakit
Diego, gajah binaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, mati setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif akibat gangguan kesehatan. (Foto: Wahyu/Pekanbarutv)
Diego, Gajah Binaan PLG Minas Mati Setelah Berjuang Melawan Sakit
Editor: Arya Mahendra | Penulis: wahyu falatehan
Rubrik: lingkungan | 17 September 2026 | 09:39:20

PEKANBARU - Kabar duka datang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Riau. Diego, gajah binaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, mati setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif akibat gangguan kesehatan.

Gajah jantan berusia 17 tahun itu dinyatakan mati pada Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Sebelumnya, tim medis BBKSDA Riau telah melakukan berbagai tindakan untuk memulihkan kondisi Diego yang sempat mengalami diare dan kehilangan nafsu makan.

Plh Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, mengatakan gangguan kesehatan Diego mulai terlihat pada 10 September 2026. Saat itu, kondisi fisiknya menurun, ditandai dengan kotoran yang mencret dan berkurangnya nafsu makan.

iklan-view

Tim medis kemudian melakukan pemeriksaan. Dari pemeriksaan awal, Diego diduga mengalami cacingan setelah ditemukan cacing pada kotorannya.

"Tim medis Balai Besar KSDA Riau segera melakukan pemeriksaan dan dalam diagnosis awal gajah mengalami cacingan karena ditemukan beberapa cacing dalam kotoran yang dikeluarkan," kata Ujang.

Perawatan intensif kemudian dilakukan. Kondisi Diego sempat menunjukkan perkembangan positif. Nafsu makannya meningkat, sementara kotorannya mulai kembali berbentuk.

Pemeriksaan lanjutan terhadap sampel feses di laboratorium juga menunjukkan hasil negatif terhadap cacing. Meski demikian, pengobatan dan pemantauan terhadap kondisi Diego terus dilakukan.

Namun, kondisi tersebut kembali memburuk pada Selasa (15/9/2026). Diego dilaporkan kembali tidak mau makan, mengalami diare dengan frekuensi cukup sering, serta terlihat sangat lemah.

Tim medis BBKSDA Riau kembali memberikan penanganan intensif. Diego mendapat cairan infus, obat-obatan suportif berupa vitamin, serta obat antiradang dan antiinflamasi.

Sehari kemudian, Rabu (16/9/2026), tim medis kembali melakukan treatment lanjutan. Saat hendak dilakukan pengambilan sampel darah, pemberian cairan infus dan obat-obatan lainnya, kondisi Diego tiba-tiba menurun drastis.

Gajah tersebut terduduk dan kemudian tumbang. Tak lama berselang, tanda-tanda vitalnya menghilang. Diego akhirnya dinyatakan mati sekitar pukul 12.00 WIB.

Untuk mengetahui penyebab kematiannya, tim medis melakukan nekropsi atau bedah bangkai. Dari pemeriksaan awal, kematian Diego diduga berkaitan dengan infeksi kronis pada saluran pencernaan.

Meski demikian, BBKSDA Riau masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis tersebut. Sampel sejumlah organ telah diambil untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai, jasad Diego kemudian dikuburkan sesuai prosedur yang berlaku.

Gajah yang Menyambut Pengunjung

Kepergian Diego menjadi kehilangan bagi PLG Minas. Gajah jantan tersebut lahir pada 3 September 2009 dari pasangan induk betina Vera dan induk jantan Reno.

Sejak lahir, Diego dibesarkan dan dirawat di PLG Minas. Selama berada di pusat pelatihan tersebut, Diego menjadi salah satu gajah binaan yang turut berperan dalam menyambut para pengunjung.

Kini, gajah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari aktivitas konservasi dan edukasi di PLG Minas itu telah tiada.

Kepergian Diego juga menjadi pengingat tentang tantangan panjang dalam menjaga dan merawat satwa liar, terutama gajah Sumatera yang keberadaannya menjadi bagian penting dari ekosistem hutan Riau. (why)

Diego, Gajah Binaan PLG Minas Mati Setelah Berjuang Melawan Sakit
Editor: Arya Mahendra | Penulis: wahyu falatehan
Rubrik: lingkungan | 17 September 2026 | 09:39:20
Diego, Gajah Binaan PLG Minas Mati Setelah Berjuang Melawan Sakit
Diego, gajah binaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, mati setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif akibat gangguan kesehatan. (Foto: Wahyu/Pekanbarutv)

PEKANBARU - Kabar duka datang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Riau. Diego, gajah binaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, mati setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif akibat gangguan kesehatan.

Gajah jantan berusia 17 tahun itu dinyatakan mati pada Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Sebelumnya, tim medis BBKSDA Riau telah melakukan berbagai tindakan untuk memulihkan kondisi Diego yang sempat mengalami diare dan kehilangan nafsu makan.

Plh Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, mengatakan gangguan kesehatan Diego mulai terlihat pada 10 September 2026. Saat itu, kondisi fisiknya menurun, ditandai dengan kotoran yang mencret dan berkurangnya nafsu makan.

Tim medis kemudian melakukan pemeriksaan. Dari pemeriksaan awal, Diego diduga mengalami cacingan setelah ditemukan cacing pada kotorannya.

"Tim medis Balai Besar KSDA Riau segera melakukan pemeriksaan dan dalam diagnosis awal gajah mengalami cacingan karena ditemukan beberapa cacing dalam kotoran yang dikeluarkan," kata Ujang.

Perawatan intensif kemudian dilakukan. Kondisi Diego sempat menunjukkan perkembangan positif. Nafsu makannya meningkat, sementara kotorannya mulai kembali berbentuk.

Pemeriksaan lanjutan terhadap sampel feses di laboratorium juga menunjukkan hasil negatif terhadap cacing. Meski demikian, pengobatan dan pemantauan terhadap kondisi Diego terus dilakukan.

Namun, kondisi tersebut kembali memburuk pada Selasa (15/9/2026). Diego dilaporkan kembali tidak mau makan, mengalami diare dengan frekuensi cukup sering, serta terlihat sangat lemah.

Tim medis BBKSDA Riau kembali memberikan penanganan intensif. Diego mendapat cairan infus, obat-obatan suportif berupa vitamin, serta obat antiradang dan antiinflamasi.

Sehari kemudian, Rabu (16/9/2026), tim medis kembali melakukan treatment lanjutan. Saat hendak dilakukan pengambilan sampel darah, pemberian cairan infus dan obat-obatan lainnya, kondisi Diego tiba-tiba menurun drastis.

Gajah tersebut terduduk dan kemudian tumbang. Tak lama berselang, tanda-tanda vitalnya menghilang. Diego akhirnya dinyatakan mati sekitar pukul 12.00 WIB.

Untuk mengetahui penyebab kematiannya, tim medis melakukan nekropsi atau bedah bangkai. Dari pemeriksaan awal, kematian Diego diduga berkaitan dengan infeksi kronis pada saluran pencernaan.

Meski demikian, BBKSDA Riau masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis tersebut. Sampel sejumlah organ telah diambil untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai, jasad Diego kemudian dikuburkan sesuai prosedur yang berlaku.

Gajah yang Menyambut Pengunjung

Kepergian Diego menjadi kehilangan bagi PLG Minas. Gajah jantan tersebut lahir pada 3 September 2009 dari pasangan induk betina Vera dan induk jantan Reno.

Sejak lahir, Diego dibesarkan dan dirawat di PLG Minas. Selama berada di pusat pelatihan tersebut, Diego menjadi salah satu gajah binaan yang turut berperan dalam menyambut para pengunjung.

Kini, gajah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari aktivitas konservasi dan edukasi di PLG Minas itu telah tiada.

Kepergian Diego juga menjadi pengingat tentang tantangan panjang dalam menjaga dan merawat satwa liar, terutama gajah Sumatera yang keberadaannya menjadi bagian penting dari ekosistem hutan Riau. (why)