logo
Misteri Paus 8 Meter dan Berat 8 Ton di Hutan Bakau Inhil, Warga Mandah Mendadak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Semakin Terdesak, Tinggal Rp84 dari Level Psikologis Rp18.000 Per-Dolar A Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Razia Gabungan di Lapas Pekanbaru, Senjata Tajam Rakitan hingga Kompor Listrik D Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPD RI Desak Kemenlu Selamatkan Nandiya, TKI Jaksel yang Diduga Jadi Korban TPPO Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Cabai Merah Kian "Pedas", Harga Jual Tembus Rp80 Ribu Per Kilogram, Cuaca Buruk Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Cucu Dilaporkan Curi Sawit Milik Kakek Sendiri, Dugaan Kriminalisasi Ahli Waris Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Massa Fomari-Bebersi Desak Kejati Riau Usut Kasus Dugaan Ijazah Ketua DPRD Siak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Saat Antrean BBM Jadi Rezeki: Kisah Zurbainah, Penjual Pisang Molen di Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
Riau Mulai Diguyur Hujan, BMKG Ingatkan Banjir dan Karhutla Belum Sepenuhnya Aman
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono menjawab pertanyaan wartawan, Rabu (23/9/2026). (Foto: Istimewa)
Riau Mulai Diguyur Hujan, BMKG Ingatkan Banjir dan Karhutla Belum Sepenuhnya Aman
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: news | 23 September 2026 | 13:35:21

PEKANBARU-Perubahan pola cuaca mulai terasa di sejumlah wilayah Riau. Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir membantu meredam ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi pada saat yang sama menghadirkan risiko hidrometeorologi yang perlu diantisipasi masyarakat.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono menjelaskan, hujan yang mulai turun menjadi salah satu faktor yang membantu menekan kemunculan titik panas di Riau.

Dikatakan, sampai 22 September 2026 tidak lagi ditemukan hotspot di wilayah Riau. Kondisi tersebut menjadi perkembangan positif setelah sebelumnya ancaman karhutla cukup mendapat perhatian.

iklan-view

"Memasuki musim penghujan, kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap diperlukan. Alhamdulillah, sampai 22 September tidak lagi ditemukan hotspot di Riau. Kondisi tersebut juga didukung oleh hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah," ujar Warjono di Kantor Gubernur Riau, Rabu (23/9/2026).

Data layanan hotspot Stasiun Meteorologi SSK II Pekanbaru juga menunjukkan tidak ada titik panas yang terdeteksi di Riau pada 23 September 2026.

Hujan Lebat Bisa Memicu Banjir dan Longsor
Meredanya hotspot tidak berarti masyarakat bisa mengendurkan kewaspadaan terhadap cuaca. Peralihan kondisi atmosfer justru perlu diperhatikan karena hujan yang turun dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat dapat menimbulkan persoalan baru.

Warjono menjelaskan, hujan dengan volume besar dalam durasi pendek dapat memicu pertumbuhan awan yang berpotensi menghasilkan cuaca ekstrem.

Situasi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir, genangan maupun longsor.

"Perlu diwaspadai, akibat tingginya volume hujan dalam waktu singkat tersebut muncul awan-awan yang berpotensi menyebabkan cuaca ekstrem. Sehingga masyarakat harus mewaspadai ancaman banjir dan longsor," jelasnya.

Masyarakat juga diminta lebih berhati-hati ketika beraktivitas di luar rumah saat hujan deras terjadi. Risiko dapat meningkat apabila hujan disertai angin kencang, terutama di kawasan dengan pepohonan lebat, drainase yang kurang baik atau kondisi tanah yang labil.

El Nino Masih Sangat Kuat
Di tengah meningkatnya curah hujan di sejumlah wilayah, ancaman karhutla juga belum dapat dianggap selesai. Penyebabnya, kondisi atmosfer Riau masih dipengaruhi fenomena El Niño yang berada pada intensitas sangat kuat.

BMKG pada 22 September 2026 menyebut El Niño sangat kuat masih berlangsung. Anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 pada akhir Agustus tercatat +2,83 derajat Celsius, sedangkan indeks ENSO periode Juli-Agustus-September mencapai +2,63. BMKG juga memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di banyak wilayah Indonesia mengalami kemunduran dari rata-rata klimatologis.

Kondisi tersebut membuat hujan tidak selalu turun merata. Ada wilayah yang mendapat hujan, sementara kawasan lain masih bisa mengalami periode kering.

Warjono mengatakan jeda hujan di tengah periode yang mulai basah tetap perlu diwaspadai. Ketika hujan berhenti selama beberapa hari, lahan yang sebelumnya mulai basah dapat kembali mengering dan meningkatkan risiko kebakaran.

"Meskipun sudah masuk musim hujan, pengaruh El Nino diprediksi masih berlangsung. Hal ini menyebabkan adanya jeda waktu di mana curah hujan berkurang di spot-spot tertentu," terangnya.

Menurut Warjono, periode kering singkat tersebut dapat menjadi celah bagi munculnya kembali karhutla. Karena itu, kewaspadaan terhadap kebakaran tetap diperlukan meskipun hujan sudah mulai turun.

"Kekeringan singkat di tengah musim hujan ini berpotensi memicu Karhutla, terutama hingga bulan Oktober," pungkasnya.

Kondisi ini sejalan dengan analisis BMKG yang menunjukkan El Niño sangat kuat masih memengaruhi dinamika atmosfer pada September 2026. BMKG juga mencatat sebagian besar wilayah Riau masih berada dalam periode musim kemarau pada analisis dasarian awal September, sementara pola hujan diperkirakan belum sepenuhnya merata.

Karena itu, masyarakat Riau menghadapi dua sisi ancaman cuaca sekaligus. Hujan deras perlu diantisipasi karena dapat memicu banjir, longsor dan cuaca ekstrem. Namun ketika hujan berhenti cukup lama, risiko karhutla dapat kembali meningkat.

Masyarakat pun diimbau terus mengikuti informasi dan peringatan cuaca dari BMKG serta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan, khususnya saat kondisi kembali panas dan kering. (mcr)

Home / News
Riau Mulai Diguyur Hujan, BMKG Ingatkan Banjir dan Karhutla Belum Sepenuhnya Aman
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: yob ayrus
Rubrik: news | 23 September 2026 | 13:35:21
Riau Mulai Diguyur Hujan, BMKG Ingatkan Banjir dan Karhutla Belum Sepenuhnya Aman
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono menjawab pertanyaan wartawan, Rabu (23/9/2026). (Foto: Istimewa)

PEKANBARU-Perubahan pola cuaca mulai terasa di sejumlah wilayah Riau. Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir membantu meredam ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi pada saat yang sama menghadirkan risiko hidrometeorologi yang perlu diantisipasi masyarakat.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Warjono menjelaskan, hujan yang mulai turun menjadi salah satu faktor yang membantu menekan kemunculan titik panas di Riau.

Dikatakan, sampai 22 September 2026 tidak lagi ditemukan hotspot di wilayah Riau. Kondisi tersebut menjadi perkembangan positif setelah sebelumnya ancaman karhutla cukup mendapat perhatian.

"Memasuki musim penghujan, kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap diperlukan. Alhamdulillah, sampai 22 September tidak lagi ditemukan hotspot di Riau. Kondisi tersebut juga didukung oleh hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah," ujar Warjono di Kantor Gubernur Riau, Rabu (23/9/2026).

Data layanan hotspot Stasiun Meteorologi SSK II Pekanbaru juga menunjukkan tidak ada titik panas yang terdeteksi di Riau pada 23 September 2026.

Hujan Lebat Bisa Memicu Banjir dan Longsor
Meredanya hotspot tidak berarti masyarakat bisa mengendurkan kewaspadaan terhadap cuaca. Peralihan kondisi atmosfer justru perlu diperhatikan karena hujan yang turun dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat dapat menimbulkan persoalan baru.

Warjono menjelaskan, hujan dengan volume besar dalam durasi pendek dapat memicu pertumbuhan awan yang berpotensi menghasilkan cuaca ekstrem.

Situasi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir, genangan maupun longsor.

"Perlu diwaspadai, akibat tingginya volume hujan dalam waktu singkat tersebut muncul awan-awan yang berpotensi menyebabkan cuaca ekstrem. Sehingga masyarakat harus mewaspadai ancaman banjir dan longsor," jelasnya.

Masyarakat juga diminta lebih berhati-hati ketika beraktivitas di luar rumah saat hujan deras terjadi. Risiko dapat meningkat apabila hujan disertai angin kencang, terutama di kawasan dengan pepohonan lebat, drainase yang kurang baik atau kondisi tanah yang labil.

El Nino Masih Sangat Kuat
Di tengah meningkatnya curah hujan di sejumlah wilayah, ancaman karhutla juga belum dapat dianggap selesai. Penyebabnya, kondisi atmosfer Riau masih dipengaruhi fenomena El Niño yang berada pada intensitas sangat kuat.

BMKG pada 22 September 2026 menyebut El Niño sangat kuat masih berlangsung. Anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 pada akhir Agustus tercatat +2,83 derajat Celsius, sedangkan indeks ENSO periode Juli-Agustus-September mencapai +2,63. BMKG juga memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di banyak wilayah Indonesia mengalami kemunduran dari rata-rata klimatologis.

Kondisi tersebut membuat hujan tidak selalu turun merata. Ada wilayah yang mendapat hujan, sementara kawasan lain masih bisa mengalami periode kering.

Warjono mengatakan jeda hujan di tengah periode yang mulai basah tetap perlu diwaspadai. Ketika hujan berhenti selama beberapa hari, lahan yang sebelumnya mulai basah dapat kembali mengering dan meningkatkan risiko kebakaran.

"Meskipun sudah masuk musim hujan, pengaruh El Nino diprediksi masih berlangsung. Hal ini menyebabkan adanya jeda waktu di mana curah hujan berkurang di spot-spot tertentu," terangnya.

Menurut Warjono, periode kering singkat tersebut dapat menjadi celah bagi munculnya kembali karhutla. Karena itu, kewaspadaan terhadap kebakaran tetap diperlukan meskipun hujan sudah mulai turun.

"Kekeringan singkat di tengah musim hujan ini berpotensi memicu Karhutla, terutama hingga bulan Oktober," pungkasnya.

Kondisi ini sejalan dengan analisis BMKG yang menunjukkan El Niño sangat kuat masih memengaruhi dinamika atmosfer pada September 2026. BMKG juga mencatat sebagian besar wilayah Riau masih berada dalam periode musim kemarau pada analisis dasarian awal September, sementara pola hujan diperkirakan belum sepenuhnya merata.

Karena itu, masyarakat Riau menghadapi dua sisi ancaman cuaca sekaligus. Hujan deras perlu diantisipasi karena dapat memicu banjir, longsor dan cuaca ekstrem. Namun ketika hujan berhenti cukup lama, risiko karhutla dapat kembali meningkat.

Masyarakat pun diimbau terus mengikuti informasi dan peringatan cuaca dari BMKG serta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan, khususnya saat kondisi kembali panas dan kering. (mcr)