
JAKARTA - Rupiah semakin terdesak. Nilai tukar mata uang Garuda kini tinggal Rp84 dari level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah kembali terperosok dalam perdagangan Kamis (24/9/2026).
Rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.916 per dolar AS, melemah 98 poin atau 0,55 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp17.818.
Posisi tersebut menempatkan rupiah pada salah satu level terlemahnya dan membuat batas Rp18.000 per dolar AS semakin dekat.

Tekanan terutama datang dari menguatnya dolar AS setelah data ekonomi terbaru menunjukkan aktivitas bisnis Negeri Paman Sam masih solid.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan sentimen global masih menjadi faktor utama yang menekan rupiah.
Salah satu pemicunya adalah data Flash Purchasing Managers' Index (PMI) AS September. PMI Composite AS melonjak menjadi 58,4, dari 56,0 pada Agustus. Angka itu merupakan level tertinggi sejak Juli 2021.
"Sentimen global masih menjadi faktor utama yang menekan rupiah hari ini," kata Amru di Jakarta, Kamis (24/9/2026), seperti dikutip antaranews.
Menurut dia, data tersebut menunjukkan momentum ekonomi AS masih kuat. Pada saat yang sama, tekanan biaya dan inflasi yang masih persisten membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve tetap relatif ketat.
Situasi tersebut memperkuat daya tarik dolar AS dan aset berbasis dolar, sekaligus memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara emerging market, termasuk rupiah.
BI Jaga Rupiah
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) sebelumnya mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Kebijakan tersebut dibarengi komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui optimalisasi berbagai instrumen moneter.
BI juga masih memiliki bantalan eksternal berupa cadangan devisa yang berada di sekitar US$146,5 miliar.
Cadangan devisa tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang ketahanan eksternal Indonesia ketika tekanan terhadap pasar keuangan global meningkat.
Namun, tekanan terhadap rupiah tetap terlihat dalam perdagangan Kamis.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI juga bergerak melemah ke kisaran Rp17.898 per dolar AS, dari Rp17.803 pada hari sebelumnya.
Artinya, baik rupiah di pasar spot maupun JISDOR kini sama-sama berada di zona yang sangat dekat dengan Rp18.000 per dolar AS.
Level tersebut menjadi perhatian pasar karena setiap pelemahan lanjutan akan membawa rupiah melewati batas psikologis tersebut.
Pergerakan rupiah berikutnya masih akan sangat dipengaruhi oleh arah dolar AS, data ekonomi Amerika Serikat, kebijakan The Fed, serta langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. (*)




JAKARTA - Rupiah semakin terdesak. Nilai tukar mata uang Garuda kini tinggal Rp84 dari level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah kembali terperosok dalam perdagangan Kamis (24/9/2026).
Rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.916 per dolar AS, melemah 98 poin atau 0,55 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp17.818.
Posisi tersebut menempatkan rupiah pada salah satu level terlemahnya dan membuat batas Rp18.000 per dolar AS semakin dekat.
Tekanan terutama datang dari menguatnya dolar AS setelah data ekonomi terbaru menunjukkan aktivitas bisnis Negeri Paman Sam masih solid.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan sentimen global masih menjadi faktor utama yang menekan rupiah.
Salah satu pemicunya adalah data Flash Purchasing Managers' Index (PMI) AS September. PMI Composite AS melonjak menjadi 58,4, dari 56,0 pada Agustus. Angka itu merupakan level tertinggi sejak Juli 2021.
"Sentimen global masih menjadi faktor utama yang menekan rupiah hari ini," kata Amru di Jakarta, Kamis (24/9/2026), seperti dikutip antaranews.
Menurut dia, data tersebut menunjukkan momentum ekonomi AS masih kuat. Pada saat yang sama, tekanan biaya dan inflasi yang masih persisten membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve tetap relatif ketat.
Situasi tersebut memperkuat daya tarik dolar AS dan aset berbasis dolar, sekaligus memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara emerging market, termasuk rupiah.
BI Jaga Rupiah
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) sebelumnya mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Kebijakan tersebut dibarengi komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui optimalisasi berbagai instrumen moneter.
BI juga masih memiliki bantalan eksternal berupa cadangan devisa yang berada di sekitar US$146,5 miliar.
Cadangan devisa tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang ketahanan eksternal Indonesia ketika tekanan terhadap pasar keuangan global meningkat.
Namun, tekanan terhadap rupiah tetap terlihat dalam perdagangan Kamis.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI juga bergerak melemah ke kisaran Rp17.898 per dolar AS, dari Rp17.803 pada hari sebelumnya.
Artinya, baik rupiah di pasar spot maupun JISDOR kini sama-sama berada di zona yang sangat dekat dengan Rp18.000 per dolar AS.
Level tersebut menjadi perhatian pasar karena setiap pelemahan lanjutan akan membawa rupiah melewati batas psikologis tersebut.
Pergerakan rupiah berikutnya masih akan sangat dipengaruhi oleh arah dolar AS, data ekonomi Amerika Serikat, kebijakan The Fed, serta langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. (*)