
PEKANBARU - Berapa harga seekor hewan? Bagi kebanyakan orang, nilainya mungkin hanya berkisar jutaan hingga puluhan juta rupiah. Namun, di dunia balap kuda, peternakan elite, hewan peliharaan, hingga lelang ikan di Jepang, seekor hewan bisa dihargai hingga jutaan bahkan puluhan juta dolar Amerika Serikat.
Salah satu nama yang paling fenomenal adalah Fusaichi Pegasus, kuda pacu Thoroughbred yang setelah memenangkan Kentucky Derby 2000 kemudian dilaporkan terjual untuk kepentingan pembiakan dengan nilai sekitar US$60 juta hingga US$70 juta.

Angka tersebut membuat Fusaichi Pegasus masuk dalam jajaran hewan dengan nilai transaksi tertinggi dalam sejarah.
Yang membuat kisah ini menarik, harga seekor hewan mahal biasanya bukan sekadar soal penampilan. Prestasi, garis keturunan, kualitas genetik, kemampuan menghasilkan keturunan unggul, kelangkaan, hingga gengsi pemiliknya dapat membuat nilai seekor hewan melonjak berkali-kali lipat.
Berikut sejumlah hewan dengan harga fantastis yang dirangkum dari berbagai sumber.
Fusaichi Pegasus, sekitar US$60-70 juta
Fusaichi Pegasus menjadi salah satu contoh paling ekstrem tentang bagaimana kemenangan di arena olahraga dapat mengubah nilai seekor hewan.

Kuda Thoroughbred ini memenangkan Kentucky Derby 2000, salah satu balapan kuda paling bergengsi di Amerika Serikat. Sebelumnya, Fusaichi Pegasus dibeli pemiliknya, Fusao Sekiguchi, seharga sekitar US$4 juta ketika masih berusia muda.
Setelah memenangkan Kentucky Derby, nilainya melonjak. Coolmore, kelompok pembiakan kuda asal Irlandia, kemudian dikabarkan membeli hak kepemilikan kuda tersebut dengan nilai sekitar US$60 juta hingga US$70 juta.
Namun, Coolmore bukan sekadar membeli seekor juara balap. Fusaichi Pegasus memiliki nilai besar sebagai pejantan karena keturunan dan potensi genetiknya.
Inilah karakteristik utama pasar kuda elite: seekor hewan dapat bernilai sangat mahal karena calon keturunannya diperkirakan mampu menghasilkan uang dalam jumlah besar.
Shareef Dancer, US$40 juta
Sebelum Fusaichi Pegasus menjadi sensasi, dunia Thoroughbred telah mengenal transaksi bernilai puluhan juta dolar.
Salah satunya adalah Shareef Dancer, kuda pacu yang pada 1983 dikabarkan memiliki nilai transaksi sekitar US$40 juta.

Seperti banyak kuda elite lainnya, nilai Shareef Dancer tidak hanya ditentukan oleh performanya di lintasan. Faktor penting lainnya adalah silsilah dan potensi pembiakan.
Pasar kuda pacu memang memiliki karakter unik. Seekor kuda yang memiliki darah juara dapat diperlakukan sebagai aset investasi karena keturunannya berpotensi dijual kembali dengan harga tinggi.
The Green Monkey, US$16 juta
Nama The Green Monkey terdengar seperti karakter film, tetapi hewan ini sebenarnya adalah seekor kuda Thoroughbred.
Pada 2006, The Green Monkey terjual dalam lelang dengan harga US$16 juta. Saat itu, transaksi tersebut menjadi salah satu penjualan kuda muda paling mahal yang pernah tercatat.

Harganya didorong oleh silsilah elite dan performa yang menjanjikan ketika masih muda. Namun, karier balapnya kemudian tidak sesuai dengan ekspektasi.
The Green Monkey hanya tiga kali turun berlomba dan tidak pernah memenangkan perlombaan. Ia akhirnya pensiun dari dunia balap.
Kisah tersebut menjadi salah satu contoh bahwa harga pembelian yang fantastis tidak selalu berujung pada prestasi yang sama fantastisnya.
Hong Dong, Tibetan Mastiff seharga sekitar US$1,5 juta
Jika kuda mendominasi transaksi hewan bernilai tinggi, dunia anjing juga memiliki cerita tersendiri.
Pada 2011, seekor Tibetan Mastiff bernama Hong Dong atau Big Splash dilaporkan terjual dengan harga sekitar US$1,5 juta.

Anjing berukuran raksasa tersebut dibeli oleh seorang pengusaha asal China. Pada masa itu, Tibetan Mastiff memiliki popularitas tinggi di kalangan orang kaya China dan menjadi salah satu simbol status.
Nilainya juga dipengaruhi oleh warna, ukuran, garis keturunan, dan potensi pembiakan.
Dengan kata lain, pembeli tidak hanya mendapatkan seekor anjing peliharaan. Ia juga mendapatkan hewan yang dianggap memiliki nilai ekonomi dan simbolik tinggi.
New Kim, merpati balap hampir US$2 juta
Hewan mahal tidak hanya datang dari dunia kuda dan anjing. Pada 2020, seekor merpati balap Belgia bernama New Kim terjual sekitar 1,6 juta euro, atau sekitar US$1,8 juta pada saat transaksi.

New Kim sebelumnya dikenal sebagai merpati balap berkualitas tinggi. Nilai utamanya terletak pada kemampuan balap sekaligus potensi genetiknya.
Bagi kolektor dan peternak merpati balap, mendapatkan keturunan dari hewan juara dapat menjadi investasi yang sangat bernilai.
Kasus New Kim menunjukkan bahwa bahkan hewan yang ukurannya hanya beberapa ratus gram dapat memiliki harga yang menyaingi rumah mewah.
Missy, sapi seharga US$1,2 juta
Hewan ternak pun dapat masuk ke daftar hewan termahal. Missy, seekor sapi Holstein asal Kanada, terjual seharga sekitar US$1,2 juta pada 2009.
Harga tersebut berkaitan dengan kualitas genetik, silsilah, serta potensinya dalam menghasilkan keturunan bernilai tinggi.

Dalam industri peternakan modern, sapi dengan genetika unggul bukan sekadar hewan penghasil susu. Materi genetiknya dapat digunakan untuk menghasilkan generasi baru yang memiliki produktivitas dan karakteristik unggul.
Karena itu, seekor sapi betina dengan silsilah luar biasa dapat memiliki nilai yang jauh melampaui harga sapi pada umumnya.
Bluefin Tuna, ikan yang terjual jutaan dolar
Kalau membicarakan hewan termahal, ikan mungkin bukan yang pertama terlintas di pikiran.
Namun, lelang bluefin tuna di Jepang berkali-kali menghasilkan harga yang mencengangkan.
Pada 2019, pengusaha restoran Jepang Kiyoshi Kimura membeli seekor tuna sirip biru seberat 278 kilogram dengan harga 333,6 juta yen, atau sekitar US$3,1 juta.

Rekor tersebut kemudian kembali pecah pada lelang Tahun Baru 2026 di pasar Toyosu, Tokyo.
Seekor bluefin tuna seberat 243 kilogram dibeli dengan harga 510 juta yen atau sekitar US$3,24 juta. Transaksi tersebut menjadi harga tertinggi dalam sejarah lelang Tahun Baru tuna di Tokyo.
Meski demikian, harga tersebut tidak bisa disamakan begitu saja dengan harga ikan di pasar biasa. Lelang Tahun Baru Jepang memiliki unsur tradisi, prestise, pemasaran, dan simbol keberuntungan bagi pelaku bisnis.
Mengapa hewan bisa dihargai semahal itu?
Jika melihat berbagai kasus tersebut, ada satu kesamaan: yang dibeli sering kali bukan sekadar hewannya, tetapi potensi yang melekat pada hewan tersebut.
Pada kuda pacu, misalnya, pembeli mempertimbangkan prestasi, silsilah dan kemampuan menghasilkan keturunan. Pada sapi, kualitas genetik dan produktivitas menjadi faktor penting.
Sementara pada Tibetan Mastiff, faktor kelangkaan dan status sosial turut memainkan peran. Pada merpati balap, kemampuan dan garis keturunan menjadi daya tarik utama.
Sedangkan pada bluefin tuna, harga fantastis lebih berkaitan dengan kombinasi kualitas ikan, tradisi lelang dan nilai prestise.
Dengan demikian, harga seekor hewan tidak selalu mencerminkan nilai biologisnya. Harga tersebut bisa mencerminkan nilai ekonomi, budaya, genetik, olahraga, teknologi, bahkan gengsi.
Jika disusun berdasarkan angka transaksi yang sering dikutip, beberapa nama yang menonjol antara lain:
Fusaichi Pegasus — sekitar US$60-70 juta
Shareef Dancer — sekitar US$40 juta
The Green Monkey — US$16 juta
Bluefin tuna — sekitar US$3,24 juta pada lelang Tokyo 2026
New Kim — sekitar US$1,8 juta
Hong Dong — sekitar US$1,5 juta
Missy — sekitar US$1,2 juta
Sir Lancelot Encore — sekitar US$155.000
Namun, angka-angka tersebut tidak sepenuhnya dapat dibandingkan secara apple-to-apple. Sebagian merupakan pembelian untuk kepentingan pembiakan, sebagian merupakan lelang hewan, sementara tuna dijual dalam konteks lelang Tahun Baru Jepang yang memiliki nilai simbolis tersendiri.
Yang jelas, daftar tersebut menunjukkan satu fenomena menarik: di dunia tertentu, seekor hewan bukan hanya dianggap sebagai makhluk hidup, tetapi juga dapat menjadi aset dengan nilai ekonomi luar biasa.
Dan di antara semua kisah tersebut, Fusaichi Pegasus tetap menjadi salah satu contoh paling spektakuler tentang bagaimana satu kemenangan di lintasan balap dapat mengubah harga seekor kuda dari jutaan menjadi puluhan juta dolar. (*)




PEKANBARU - Berapa harga seekor hewan? Bagi kebanyakan orang, nilainya mungkin hanya berkisar jutaan hingga puluhan juta rupiah. Namun, di dunia balap kuda, peternakan elite, hewan peliharaan, hingga lelang ikan di Jepang, seekor hewan bisa dihargai hingga jutaan bahkan puluhan juta dolar Amerika Serikat.
Salah satu nama yang paling fenomenal adalah Fusaichi Pegasus, kuda pacu Thoroughbred yang setelah memenangkan Kentucky Derby 2000 kemudian dilaporkan terjual untuk kepentingan pembiakan dengan nilai sekitar US$60 juta hingga US$70 juta.
Angka tersebut membuat Fusaichi Pegasus masuk dalam jajaran hewan dengan nilai transaksi tertinggi dalam sejarah.
Yang membuat kisah ini menarik, harga seekor hewan mahal biasanya bukan sekadar soal penampilan. Prestasi, garis keturunan, kualitas genetik, kemampuan menghasilkan keturunan unggul, kelangkaan, hingga gengsi pemiliknya dapat membuat nilai seekor hewan melonjak berkali-kali lipat.
Berikut sejumlah hewan dengan harga fantastis yang dirangkum dari berbagai sumber.
Fusaichi Pegasus, sekitar US$60-70 juta
Fusaichi Pegasus menjadi salah satu contoh paling ekstrem tentang bagaimana kemenangan di arena olahraga dapat mengubah nilai seekor hewan.

Kuda Thoroughbred ini memenangkan Kentucky Derby 2000, salah satu balapan kuda paling bergengsi di Amerika Serikat. Sebelumnya, Fusaichi Pegasus dibeli pemiliknya, Fusao Sekiguchi, seharga sekitar US$4 juta ketika masih berusia muda.
Setelah memenangkan Kentucky Derby, nilainya melonjak. Coolmore, kelompok pembiakan kuda asal Irlandia, kemudian dikabarkan membeli hak kepemilikan kuda tersebut dengan nilai sekitar US$60 juta hingga US$70 juta.
Namun, Coolmore bukan sekadar membeli seekor juara balap. Fusaichi Pegasus memiliki nilai besar sebagai pejantan karena keturunan dan potensi genetiknya.
Inilah karakteristik utama pasar kuda elite: seekor hewan dapat bernilai sangat mahal karena calon keturunannya diperkirakan mampu menghasilkan uang dalam jumlah besar.
Shareef Dancer, US$40 juta
Sebelum Fusaichi Pegasus menjadi sensasi, dunia Thoroughbred telah mengenal transaksi bernilai puluhan juta dolar.
Salah satunya adalah Shareef Dancer, kuda pacu yang pada 1983 dikabarkan memiliki nilai transaksi sekitar US$40 juta.

Seperti banyak kuda elite lainnya, nilai Shareef Dancer tidak hanya ditentukan oleh performanya di lintasan. Faktor penting lainnya adalah silsilah dan potensi pembiakan.
Pasar kuda pacu memang memiliki karakter unik. Seekor kuda yang memiliki darah juara dapat diperlakukan sebagai aset investasi karena keturunannya berpotensi dijual kembali dengan harga tinggi.
The Green Monkey, US$16 juta
Nama The Green Monkey terdengar seperti karakter film, tetapi hewan ini sebenarnya adalah seekor kuda Thoroughbred.
Pada 2006, The Green Monkey terjual dalam lelang dengan harga US$16 juta. Saat itu, transaksi tersebut menjadi salah satu penjualan kuda muda paling mahal yang pernah tercatat.

Harganya didorong oleh silsilah elite dan performa yang menjanjikan ketika masih muda. Namun, karier balapnya kemudian tidak sesuai dengan ekspektasi.
The Green Monkey hanya tiga kali turun berlomba dan tidak pernah memenangkan perlombaan. Ia akhirnya pensiun dari dunia balap.
Kisah tersebut menjadi salah satu contoh bahwa harga pembelian yang fantastis tidak selalu berujung pada prestasi yang sama fantastisnya.
Hong Dong, Tibetan Mastiff seharga sekitar US$1,5 juta
Jika kuda mendominasi transaksi hewan bernilai tinggi, dunia anjing juga memiliki cerita tersendiri.
Pada 2011, seekor Tibetan Mastiff bernama Hong Dong atau Big Splash dilaporkan terjual dengan harga sekitar US$1,5 juta.

Anjing berukuran raksasa tersebut dibeli oleh seorang pengusaha asal China. Pada masa itu, Tibetan Mastiff memiliki popularitas tinggi di kalangan orang kaya China dan menjadi salah satu simbol status.
Nilainya juga dipengaruhi oleh warna, ukuran, garis keturunan, dan potensi pembiakan.
Dengan kata lain, pembeli tidak hanya mendapatkan seekor anjing peliharaan. Ia juga mendapatkan hewan yang dianggap memiliki nilai ekonomi dan simbolik tinggi.
New Kim, merpati balap hampir US$2 juta
Hewan mahal tidak hanya datang dari dunia kuda dan anjing. Pada 2020, seekor merpati balap Belgia bernama New Kim terjual sekitar 1,6 juta euro, atau sekitar US$1,8 juta pada saat transaksi.

New Kim sebelumnya dikenal sebagai merpati balap berkualitas tinggi. Nilai utamanya terletak pada kemampuan balap sekaligus potensi genetiknya.
Bagi kolektor dan peternak merpati balap, mendapatkan keturunan dari hewan juara dapat menjadi investasi yang sangat bernilai.
Kasus New Kim menunjukkan bahwa bahkan hewan yang ukurannya hanya beberapa ratus gram dapat memiliki harga yang menyaingi rumah mewah.
Missy, sapi seharga US$1,2 juta
Hewan ternak pun dapat masuk ke daftar hewan termahal. Missy, seekor sapi Holstein asal Kanada, terjual seharga sekitar US$1,2 juta pada 2009.
Harga tersebut berkaitan dengan kualitas genetik, silsilah, serta potensinya dalam menghasilkan keturunan bernilai tinggi.

Dalam industri peternakan modern, sapi dengan genetika unggul bukan sekadar hewan penghasil susu. Materi genetiknya dapat digunakan untuk menghasilkan generasi baru yang memiliki produktivitas dan karakteristik unggul.
Karena itu, seekor sapi betina dengan silsilah luar biasa dapat memiliki nilai yang jauh melampaui harga sapi pada umumnya.
Bluefin Tuna, ikan yang terjual jutaan dolar
Kalau membicarakan hewan termahal, ikan mungkin bukan yang pertama terlintas di pikiran.
Namun, lelang bluefin tuna di Jepang berkali-kali menghasilkan harga yang mencengangkan.
Pada 2019, pengusaha restoran Jepang Kiyoshi Kimura membeli seekor tuna sirip biru seberat 278 kilogram dengan harga 333,6 juta yen, atau sekitar US$3,1 juta.

Rekor tersebut kemudian kembali pecah pada lelang Tahun Baru 2026 di pasar Toyosu, Tokyo.
Seekor bluefin tuna seberat 243 kilogram dibeli dengan harga 510 juta yen atau sekitar US$3,24 juta. Transaksi tersebut menjadi harga tertinggi dalam sejarah lelang Tahun Baru tuna di Tokyo.
Meski demikian, harga tersebut tidak bisa disamakan begitu saja dengan harga ikan di pasar biasa. Lelang Tahun Baru Jepang memiliki unsur tradisi, prestise, pemasaran, dan simbol keberuntungan bagi pelaku bisnis.
Mengapa hewan bisa dihargai semahal itu?
Jika melihat berbagai kasus tersebut, ada satu kesamaan: yang dibeli sering kali bukan sekadar hewannya, tetapi potensi yang melekat pada hewan tersebut.
Pada kuda pacu, misalnya, pembeli mempertimbangkan prestasi, silsilah dan kemampuan menghasilkan keturunan. Pada sapi, kualitas genetik dan produktivitas menjadi faktor penting.
Sementara pada Tibetan Mastiff, faktor kelangkaan dan status sosial turut memainkan peran. Pada merpati balap, kemampuan dan garis keturunan menjadi daya tarik utama.
Sedangkan pada bluefin tuna, harga fantastis lebih berkaitan dengan kombinasi kualitas ikan, tradisi lelang dan nilai prestise.
Dengan demikian, harga seekor hewan tidak selalu mencerminkan nilai biologisnya. Harga tersebut bisa mencerminkan nilai ekonomi, budaya, genetik, olahraga, teknologi, bahkan gengsi.
Jika disusun berdasarkan angka transaksi yang sering dikutip, beberapa nama yang menonjol antara lain:
Fusaichi Pegasus — sekitar US$60-70 juta
Shareef Dancer — sekitar US$40 juta
The Green Monkey — US$16 juta
Bluefin tuna — sekitar US$3,24 juta pada lelang Tokyo 2026
New Kim — sekitar US$1,8 juta
Hong Dong — sekitar US$1,5 juta
Missy — sekitar US$1,2 juta
Sir Lancelot Encore — sekitar US$155.000
Namun, angka-angka tersebut tidak sepenuhnya dapat dibandingkan secara apple-to-apple. Sebagian merupakan pembelian untuk kepentingan pembiakan, sebagian merupakan lelang hewan, sementara tuna dijual dalam konteks lelang Tahun Baru Jepang yang memiliki nilai simbolis tersendiri.
Yang jelas, daftar tersebut menunjukkan satu fenomena menarik: di dunia tertentu, seekor hewan bukan hanya dianggap sebagai makhluk hidup, tetapi juga dapat menjadi aset dengan nilai ekonomi luar biasa.
Dan di antara semua kisah tersebut, Fusaichi Pegasus tetap menjadi salah satu contoh paling spektakuler tentang bagaimana satu kemenangan di lintasan balap dapat mengubah harga seekor kuda dari jutaan menjadi puluhan juta dolar. (*)