logo
● Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● KPK Telusuri Kasus Dana Bencana Rp148 Miliar, Dua Anggota TNI Jadi Perhatian Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Rupiah Kembali Tersungkur di Atas Rp18.000, Sentimen Global Membayangi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Diduga Selundupkan Narkoba, Kapal Tanker Mongolia Diamankan di Belawan, 8 Orang Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● El Niño Pengaruhi Jadwal Musim Hujan, BMKG Minta Warga Bersiap Hadapi Cuaca Ekst Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Antisipasi Dampak Kabut Asap, Sekdaprov Riau Tinjau Posko Kesehatan dan Rumah Ok Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● AKP Zulhendra Resmi Jabat Kapolsek Pangkalan Kerinci, Kompol Shilton ke Polresta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Antrean Solar Picu Kemacetan di Pekanbaru, Dishub Peringatkan Pengelola SPBU Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Lingkungan / ENERGI
PLN Perkuat Edu-Ekowisata Pulau Mapur Bintan, Warga Jadi Penggerak Konservasi
PLN memadukan konservasi ekosistem laut dan penyu dengan pengembangan wisata edukasi serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Program Edu-Ekowisata Konservasi Berbasis Masyarakat Tahap II di Pulau Mapur. (Foto: Istimewa)
PLN Perkuat Edu-Ekowisata Pulau Mapur Bintan, Warga Jadi Penggerak Konservasi
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: lingkungan | 6 Oktober 2026 | 16:11:10

BINTAN - Di Pulau Mapur, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, menjaga laut bukan sekadar tentang mempertahankan keindahan alam. Bagi masyarakat pesisir, kelestarian laut juga berkaitan langsung dengan masa depan dan sumber penghidupan mereka.

Semangat itulah yang coba diperkuat PT PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli. Melalui Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (UIP3B) Sumatera bersama Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Pekanbaru dan Yayasan Ecology Kepulauan Riau (YEKR), PLN meresmikan Program Edu-Ekowisata Konservasi Berbasis Masyarakat Tahap II di Pulau Mapur, Jumat (2/10/2026).

iklan-view

Program yang berlangsung di Kawasan Konservasi Taman Wisata Perairan (TWP) Timur Pulau Bintan ini memadukan konservasi ekosistem laut dan penyu dengan pengembangan wisata edukasi serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Bukan hanya menjaga penyu dan habitatnya, program tersebut juga diarahkan agar masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengembangkan potensi wisata bahari di daerahnya.

General Manager PLN UIP3B Sumatera, Elvanto Yanuar Ikhsan, mengatakan keberadaan PLN di tengah masyarakat tidak semata-mata berkaitan dengan keandalan pasokan listrik. Perusahaan juga memiliki komitmen untuk ikut menjaga lingkungan dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“PLN tidak hanya hadir untuk menyalurkan listrik, tetapi juga menjaga lingkungan dan mendukung kesejahteraan masyarakat. Melalui program ini, kami ingin menjadikan Pulau Mapur sebagai contoh bahwa pelestarian laut dan pertumbuhan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan,” ujarnya dalam relis yang diterima Pekanbarutv.com, Selasa (6/10/2026).

Komitmen tersebut diwujudkan melalui sejumlah kegiatan, mulai dari peningkatan kapasitas masyarakat, pembangunan fasilitas pendukung ekowisata hingga penguatan konservasi penyu.

Di bidang pemberdayaan, masyarakat mendapatkan pelatihan manajemen homestay serta pelatihan selam lanjutan, termasuk specialty diving dan dive guide. Keterampilan tersebut diharapkan membuka peluang bagi warga untuk terlibat langsung dalam pengelolaan wisata bahari secara profesional.

Sementara itu, dukungan fasilitas diwujudkan melalui pembangunan Dive Center, Pusat Promosi UMKM Desa Mapur, serta fasilitas glamping. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat daya tarik wisata, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi produk dan usaha masyarakat untuk berkembang.

Di sisi lain, upaya konservasi terus diperkuat melalui patroli bersama Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Perisai Mapur, pemantauan dan perlindungan sarang penyu, pelatihan penggunaan aplikasi KoboToolbox, serta edukasi lingkungan kepada masyarakat.

Keterlibatan Masyarakat

Ketua Dewan Pengurus YEKR, Tri Armanto, menilai keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar konservasi dapat berlangsung dalam jangka panjang.

“Konservasi yang berkelanjutan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Kami ingin masyarakat Mapur tidak hanya menjadi penjaga ekosistem laut, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari pengembangan ekowisata,” katanya.

Semangat tersebut terlihat dalam rangkaian kegiatan peresmian yang dilanjutkan dengan Conservation Talk bertema Kolaborasi Masyarakat dalam Pengembangan Edu-Ekowisata dan Konservasi Laut Pulau Mapur.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pelepasliaran tukik di Pantai Belakang, Pulau Mapur. Kegiatan tersebut melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau, UPTD Pengelola Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Riau, YEKR, serta Pokmaswas Desa Mapur.

Field Coordinator Konservasi Penyu YEKR, Alvayed, mengatakan keberhasilan konservasi penyu sangat bergantung pada kesadaran masyarakat dalam menjaga habitat pesisir.

“Konservasi bukan sekadar melindungi penyu dan sarangnya, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga ekosistem pesisir,” ujarnya.

Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad melalui Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kepri, Luki Zaiman Prawira, mengapresiasi kolaborasi PLN, pemerintah, lembaga konservasi dan masyarakat dalam menjaga ekosistem laut sekaligus membuka peluang ekonomi.

Hal senada disampaikan Bupati Bintan Roby Kurniawan melalui Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Setdakab Bintan, Mohammad Panca Azdigoena. Pemerintah daerah berharap pengembangan edu-ekowisata dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat posisi Pulau Mapur sebagai destinasi wisata bahari yang lestari.

Melalui program tersebut, Pulau Mapur kini tidak hanya diproyeksikan sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi masyarakat.

Di satu sisi, penyu dan ekosistem laut dijaga. Di sisi lain, keterampilan, UMKM, homestay dan wisata bahari dikembangkan. Dari titik temu itulah diharapkan lahir ekonomi masyarakat yang tumbuh tanpa harus mengorbankan alam.

Upaya tersebut sekaligus mendukung SDGs Tujuan 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta Tujuan 14 tentang ekosistem laut.

Bagi Pulau Mapur, menjaga laut pada akhirnya bukan hanya tentang menyelamatkan penyu hari ini, tetapi juga menjaga sumber kehidupan dan membuka harapan bagi generasi masyarakat pesisir di masa depan. (*)

PLN Perkuat Edu-Ekowisata Pulau Mapur Bintan, Warga Jadi Penggerak Konservasi
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: lingkungan | 6 Oktober 2026 | 16:11:10
PLN Perkuat Edu-Ekowisata Pulau Mapur Bintan, Warga Jadi Penggerak Konservasi
PLN memadukan konservasi ekosistem laut dan penyu dengan pengembangan wisata edukasi serta pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Program Edu-Ekowisata Konservasi Berbasis Masyarakat Tahap II di Pulau Mapur. (Foto: Istimewa)

BINTAN - Di Pulau Mapur, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, menjaga laut bukan sekadar tentang mempertahankan keindahan alam. Bagi masyarakat pesisir, kelestarian laut juga berkaitan langsung dengan masa depan dan sumber penghidupan mereka.

Semangat itulah yang coba diperkuat PT PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli. Melalui Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (UIP3B) Sumatera bersama Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Pekanbaru dan Yayasan Ecology Kepulauan Riau (YEKR), PLN meresmikan Program Edu-Ekowisata Konservasi Berbasis Masyarakat Tahap II di Pulau Mapur, Jumat (2/10/2026).

Program yang berlangsung di Kawasan Konservasi Taman Wisata Perairan (TWP) Timur Pulau Bintan ini memadukan konservasi ekosistem laut dan penyu dengan pengembangan wisata edukasi serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Bukan hanya menjaga penyu dan habitatnya, program tersebut juga diarahkan agar masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengembangkan potensi wisata bahari di daerahnya.

General Manager PLN UIP3B Sumatera, Elvanto Yanuar Ikhsan, mengatakan keberadaan PLN di tengah masyarakat tidak semata-mata berkaitan dengan keandalan pasokan listrik. Perusahaan juga memiliki komitmen untuk ikut menjaga lingkungan dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“PLN tidak hanya hadir untuk menyalurkan listrik, tetapi juga menjaga lingkungan dan mendukung kesejahteraan masyarakat. Melalui program ini, kami ingin menjadikan Pulau Mapur sebagai contoh bahwa pelestarian laut dan pertumbuhan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan,” ujarnya dalam relis yang diterima Pekanbarutv.com, Selasa (6/10/2026).

Komitmen tersebut diwujudkan melalui sejumlah kegiatan, mulai dari peningkatan kapasitas masyarakat, pembangunan fasilitas pendukung ekowisata hingga penguatan konservasi penyu.

Di bidang pemberdayaan, masyarakat mendapatkan pelatihan manajemen homestay serta pelatihan selam lanjutan, termasuk specialty diving dan dive guide. Keterampilan tersebut diharapkan membuka peluang bagi warga untuk terlibat langsung dalam pengelolaan wisata bahari secara profesional.

Sementara itu, dukungan fasilitas diwujudkan melalui pembangunan Dive Center, Pusat Promosi UMKM Desa Mapur, serta fasilitas glamping. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat daya tarik wisata, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi produk dan usaha masyarakat untuk berkembang.

Di sisi lain, upaya konservasi terus diperkuat melalui patroli bersama Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Perisai Mapur, pemantauan dan perlindungan sarang penyu, pelatihan penggunaan aplikasi KoboToolbox, serta edukasi lingkungan kepada masyarakat.

Keterlibatan Masyarakat

Ketua Dewan Pengurus YEKR, Tri Armanto, menilai keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar konservasi dapat berlangsung dalam jangka panjang.

“Konservasi yang berkelanjutan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Kami ingin masyarakat Mapur tidak hanya menjadi penjaga ekosistem laut, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari pengembangan ekowisata,” katanya.

Semangat tersebut terlihat dalam rangkaian kegiatan peresmian yang dilanjutkan dengan Conservation Talk bertema Kolaborasi Masyarakat dalam Pengembangan Edu-Ekowisata dan Konservasi Laut Pulau Mapur.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pelepasliaran tukik di Pantai Belakang, Pulau Mapur. Kegiatan tersebut melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau, UPTD Pengelola Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Riau, YEKR, serta Pokmaswas Desa Mapur.

Field Coordinator Konservasi Penyu YEKR, Alvayed, mengatakan keberhasilan konservasi penyu sangat bergantung pada kesadaran masyarakat dalam menjaga habitat pesisir.

“Konservasi bukan sekadar melindungi penyu dan sarangnya, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga ekosistem pesisir,” ujarnya.

Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad melalui Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kepri, Luki Zaiman Prawira, mengapresiasi kolaborasi PLN, pemerintah, lembaga konservasi dan masyarakat dalam menjaga ekosistem laut sekaligus membuka peluang ekonomi.

Hal senada disampaikan Bupati Bintan Roby Kurniawan melalui Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Setdakab Bintan, Mohammad Panca Azdigoena. Pemerintah daerah berharap pengembangan edu-ekowisata dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat posisi Pulau Mapur sebagai destinasi wisata bahari yang lestari.

Melalui program tersebut, Pulau Mapur kini tidak hanya diproyeksikan sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi masyarakat.

Di satu sisi, penyu dan ekosistem laut dijaga. Di sisi lain, keterampilan, UMKM, homestay dan wisata bahari dikembangkan. Dari titik temu itulah diharapkan lahir ekonomi masyarakat yang tumbuh tanpa harus mengorbankan alam.

Upaya tersebut sekaligus mendukung SDGs Tujuan 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta Tujuan 14 tentang ekosistem laut.

Bagi Pulau Mapur, menjaga laut pada akhirnya bukan hanya tentang menyelamatkan penyu hari ini, tetapi juga menjaga sumber kehidupan dan membuka harapan bagi generasi masyarakat pesisir di masa depan. (*)