logo
● Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● KPK Telusuri Kasus Dana Bencana Rp148 Miliar, Dua Anggota TNI Jadi Perhatian Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Rupiah Kembali Tersungkur di Atas Rp18.000, Sentimen Global Membayangi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Diduga Selundupkan Narkoba, Kapal Tanker Mongolia Diamankan di Belawan, 8 Orang Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● El Niño Pengaruhi Jadwal Musim Hujan, BMKG Minta Warga Bersiap Hadapi Cuaca Ekst Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Antisipasi Dampak Kabut Asap, Sekdaprov Riau Tinjau Posko Kesehatan dan Rumah Ok Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● AKP Zulhendra Resmi Jabat Kapolsek Pangkalan Kerinci, Kompol Shilton ke Polresta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Antrean Solar Picu Kemacetan di Pekanbaru, Dishub Peringatkan Pengelola SPBU Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Rupiah Kembali Menguat ke Rp17.899, Tapi Bayang-Bayang Dolar Masih Menghantui
Ilustrasi. Rupiah kembali menguat di tengah bayang-bayang Dolar AS. (Foto: AI/Pekanbarutv.com)
Rupiah Kembali Menguat ke Rp17.899, Tapi Bayang-Bayang Dolar Masih Menghantui
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 6 Oktober 2026 | 17:29:50

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp17.899 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 18 poin atau sekitar 0,10 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.917 per dolar AS.

Penguatan tersebut terjadi setelah rupiah sempat berada di bawah tekanan pada awal perdagangan. Data Bloomberg Technoz mencatat rupiah dibuka melemah tipis 0,04 persen ke level Rp17.919 per dolar AS, seiring tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan indeks dolar. Namun, tekanan tersebut berbalik sepanjang perdagangan hingga rupiah mampu mengakhiri sesi di zona hijau.

iklan-view

Pergerakan rupiah turut dipengaruhi koreksi dolar AS dan penurunan yield US Treasury menjelang publikasi risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi AS yang belakangan menunjukkan pelemahan, termasuk data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Agustus yang berada di bawah ekspektasi.

Data ekonomi AS yang lebih lemah tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan ruang bagi Federal Reserve atau The Fed untuk menaikkan suku bunga semakin terbatas. Investor kini menunggu risalah rapat FOMC September yang dijadwalkan terbit Rabu (7/10/2026), disusul data klaim awal tunjangan pengangguran AS pada Kamis. Kedua agenda tersebut berpotensi menjadi penggerak utama dolar dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung beragam. Baht Thailand menguat sekitar 0,19 persen, dolar Singapura naik 0,07 persen dan yuan China menguat 0,02 persen. Sebaliknya, yen Jepang melemah 0,17 persen dan peso Filipina turun 0,22 persen. Pergerakan yang tidak seragam menunjukkan pasar masih sangat selektif dalam merespons perkembangan ekonomi dan geopolitik global.

Di sisi lain, penguatan rupiah masih menghadapi sejumlah tantangan. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tetap berada pada level tinggi, sekitar 5,31 persen pada awal perdagangan Selasa. Kondisi ini membuat aset berbasis dolar AS masih relatif menarik bagi investor global dan berpotensi membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang.

Harga minyak mentah dunia yang masih berada di level tinggi juga menjadi perhatian. Biaya energi yang mahal dapat meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan inflasi melalui kenaikan biaya impor, sehingga turut memengaruhi persepsi investor terhadap prospek rupiah.

Dari dalam negeri, investor masih bersikap wait and see sembari menantikan sejumlah data ekonomi Indonesia yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut antara lain cadangan devisa, tingkat kepercayaan konsumen dan penjualan ritel yang dinilai dapat memberikan gambaran mengenai kondisi fundamental ekonomi nasional.

Pengamat pasar uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu (7/10/2026) masih akan bergerak fluktuatif. Menurut proyeksinya, rupiah berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp17.890 hingga Rp17.940 per dolar AS.

Dengan demikian, penguatan rupiah pada perdagangan Selasa belum sepenuhnya menunjukkan perubahan tren. Pergerakan mata uang Garuda masih akan sangat ditentukan oleh arah dolar AS, respons pasar terhadap risalah FOMC, perkembangan yield obligasi AS, harga minyak serta sentimen terhadap aset negara berkembang.

Jika tekanan eksternal kembali meningkat, rupiah berpotensi kembali menguji level Rp17.900 per dolar AS. Sebaliknya, apabila dolar AS terus terkoreksi dan sinyal kebijakan The Fed semakin dovish, ruang penguatan rupiah masih terbuka dalam perdagangan berikutnya. (*)

Home / Ekonomi
Rupiah Kembali Menguat ke Rp17.899, Tapi Bayang-Bayang Dolar Masih Menghantui
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 6 Oktober 2026 | 17:29:50
Rupiah Kembali Menguat ke Rp17.899, Tapi Bayang-Bayang Dolar Masih Menghantui
Ilustrasi. Rupiah kembali menguat di tengah bayang-bayang Dolar AS. (Foto: AI/Pekanbarutv.com)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp17.899 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 18 poin atau sekitar 0,10 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.917 per dolar AS.

Penguatan tersebut terjadi setelah rupiah sempat berada di bawah tekanan pada awal perdagangan. Data Bloomberg Technoz mencatat rupiah dibuka melemah tipis 0,04 persen ke level Rp17.919 per dolar AS, seiring tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan indeks dolar. Namun, tekanan tersebut berbalik sepanjang perdagangan hingga rupiah mampu mengakhiri sesi di zona hijau.

Pergerakan rupiah turut dipengaruhi koreksi dolar AS dan penurunan yield US Treasury menjelang publikasi risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi AS yang belakangan menunjukkan pelemahan, termasuk data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Agustus yang berada di bawah ekspektasi.

Data ekonomi AS yang lebih lemah tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan ruang bagi Federal Reserve atau The Fed untuk menaikkan suku bunga semakin terbatas. Investor kini menunggu risalah rapat FOMC September yang dijadwalkan terbit Rabu (7/10/2026), disusul data klaim awal tunjangan pengangguran AS pada Kamis. Kedua agenda tersebut berpotensi menjadi penggerak utama dolar dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung beragam. Baht Thailand menguat sekitar 0,19 persen, dolar Singapura naik 0,07 persen dan yuan China menguat 0,02 persen. Sebaliknya, yen Jepang melemah 0,17 persen dan peso Filipina turun 0,22 persen. Pergerakan yang tidak seragam menunjukkan pasar masih sangat selektif dalam merespons perkembangan ekonomi dan geopolitik global.

Di sisi lain, penguatan rupiah masih menghadapi sejumlah tantangan. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tetap berada pada level tinggi, sekitar 5,31 persen pada awal perdagangan Selasa. Kondisi ini membuat aset berbasis dolar AS masih relatif menarik bagi investor global dan berpotensi membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang.

Harga minyak mentah dunia yang masih berada di level tinggi juga menjadi perhatian. Biaya energi yang mahal dapat meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan inflasi melalui kenaikan biaya impor, sehingga turut memengaruhi persepsi investor terhadap prospek rupiah.

Dari dalam negeri, investor masih bersikap wait and see sembari menantikan sejumlah data ekonomi Indonesia yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut antara lain cadangan devisa, tingkat kepercayaan konsumen dan penjualan ritel yang dinilai dapat memberikan gambaran mengenai kondisi fundamental ekonomi nasional.

Pengamat pasar uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu (7/10/2026) masih akan bergerak fluktuatif. Menurut proyeksinya, rupiah berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp17.890 hingga Rp17.940 per dolar AS.

Dengan demikian, penguatan rupiah pada perdagangan Selasa belum sepenuhnya menunjukkan perubahan tren. Pergerakan mata uang Garuda masih akan sangat ditentukan oleh arah dolar AS, respons pasar terhadap risalah FOMC, perkembangan yield obligasi AS, harga minyak serta sentimen terhadap aset negara berkembang.

Jika tekanan eksternal kembali meningkat, rupiah berpotensi kembali menguji level Rp17.900 per dolar AS. Sebaliknya, apabila dolar AS terus terkoreksi dan sinyal kebijakan The Fed semakin dovish, ruang penguatan rupiah masih terbuka dalam perdagangan berikutnya. (*)