
PEKANBARU-Kabut asap yang melanda Kota Pekanbaru membuat kebutuhan masker meningkat. Sejumlah pedagang masker mengaku mengalami kenaikan penjualan seiring warga mulai menggunakan masker untuk melindungi diri dari paparan asap.
Salah satunya Edy, pedagang masker yang berjualan di Jalan HR Soebrantas, Pekanbaru. Ia mengaku omzet penjualan maskernya mengalami peningkatan sekitar 17 persen dibandingkan kondisi biasanya.
“Alhamdulillah ada peningkatan. Kalau dipersenkan mungkin sekitar 70 persen,” kata Edy, Kamis (7/10/2026).

Edi menjelaskan, pembeli masker datang dari berbagai kalangan. Namun, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling banyak membeli masker.
“Yang paling banyak anak-anak,” ujarnya.
Edy mengatakan, masker yang dijualnya memiliki beberapa jenis. Ia mengaku lebih memilih menyediakan masker dengan bahan yang cukup tebal agar tidak mudah putus saat digunakan.
“Kita butuhnya yang agak lumayan lah, bukan yang gampang putus. Agak tebal, orang tidak kecewa. Kalau sudah putus, tadinya orang kecewa,” jelasnya.
Untuk harga, masker yang dijual Edy berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp8.000, tergantung jenisnya. Masker kain menjadi salah satu produk dengan harga paling tinggi.
“Harga sekitar Rp5.000. Yang paling mahal yang kain, Rp8.000,” katanya.
Dengan demikian, harga masker yang ditawarkan kepada masyarakat berada pada rentang Rp5.000 sampai Rp8.000.
Meningkatnya penjualan masker ini menjadi salah satu gambaran perubahan kebutuhan masyarakat ketika kualitas udara di Pekanbaru memburuk akibat kabut asap. Masker sekali pakai maupun masker kain menjadi pilihan warga untuk digunakan saat beraktivitas di luar rumah. (*)







PEKANBARU-Kabut asap yang melanda Kota Pekanbaru membuat kebutuhan masker meningkat. Sejumlah pedagang masker mengaku mengalami kenaikan penjualan seiring warga mulai menggunakan masker untuk melindungi diri dari paparan asap.
Salah satunya Edy, pedagang masker yang berjualan di Jalan HR Soebrantas, Pekanbaru. Ia mengaku omzet penjualan maskernya mengalami peningkatan sekitar 17 persen dibandingkan kondisi biasanya.
“Alhamdulillah ada peningkatan. Kalau dipersenkan mungkin sekitar 70 persen,” kata Edy, Kamis (7/10/2026).
Edi menjelaskan, pembeli masker datang dari berbagai kalangan. Namun, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling banyak membeli masker.
“Yang paling banyak anak-anak,” ujarnya.
Edy mengatakan, masker yang dijualnya memiliki beberapa jenis. Ia mengaku lebih memilih menyediakan masker dengan bahan yang cukup tebal agar tidak mudah putus saat digunakan.
“Kita butuhnya yang agak lumayan lah, bukan yang gampang putus. Agak tebal, orang tidak kecewa. Kalau sudah putus, tadinya orang kecewa,” jelasnya.
Untuk harga, masker yang dijual Edy berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp8.000, tergantung jenisnya. Masker kain menjadi salah satu produk dengan harga paling tinggi.
“Harga sekitar Rp5.000. Yang paling mahal yang kain, Rp8.000,” katanya.
Dengan demikian, harga masker yang ditawarkan kepada masyarakat berada pada rentang Rp5.000 sampai Rp8.000.
Meningkatnya penjualan masker ini menjadi salah satu gambaran perubahan kebutuhan masyarakat ketika kualitas udara di Pekanbaru memburuk akibat kabut asap. Masker sekali pakai maupun masker kain menjadi pilihan warga untuk digunakan saat beraktivitas di luar rumah. (*)