
PEKANBARU-Hujan deras yang mengguyur Kota Pekanbaru sejak Jumat (9/10/2026) membawa perubahan terhadap kondisi udara. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sebelumnya menyelimuti kota tersebut kini berangsur hilang.
Berkurangnya kabut asap membuat jarak pandang mulai membaik. Kondisi ini juga menjadi kabar baik bagi masyarakat yang beberapa hari terakhir harus beraktivitas di tengah udara yang tercemar asap.
Perbaikan turut terlihat pada kualitas udara Pekanbaru. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), kualitas udara yang sebelumnya berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya kini membaik ke kategori sedang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edy Afrizal, mengatakan kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru dan sejumlah daerah di Riau belakangan ini diduga lebih banyak berasal dari provinsi tetangga.
Dugaan tersebut mengacu pada hasil pemantauan di wilayah Riau yang tidak menemukan titik api aktif. Meski begitu, sejumlah titik panas masih terdeteksi dengan tingkat kepercayaan sedang.
"Hal itu didasari karena di Provinsi Riau sendiri tidak ditemukan titik api yang aktif, melainkan hanya titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang," ujar Edy Afrizal.
Sementara itu, data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menunjukkan jumlah titik panas di Riau terdeteksi kurang dari 20 titik. Titik panas tersebut tersebar di sejumlah kabupaten.
BMKG mencatat titik panas yang terpantau memiliki tingkat kepercayaan sedang atau di bawah 70 persen. Meski belum menunjukkan indikasi kuat adanya kebakaran, keberadaan titik panas tersebut tetap perlu dipantau untuk mengantisipasi perkembangan di lapangan.
Hujan yang turun dalam beberapa waktu terakhir membantu mengurangi kabut asap dan memperbaiki kualitas udara. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menghilangkan risiko karhutla, terutama di wilayah yang masih rawan kebakaran.
BPBD Riau bersama instansi terkait tetap menyiagakan personel untuk memantau perkembangan situasi dan mengantisipasi kemunculan titik api baru.
Masyarakat juga diimbau tetap waspada dan mengikuti informasi terbaru mengenai kualitas udara. Jika kabut asap kembali muncul, warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan.(*)







PEKANBARU-Hujan deras yang mengguyur Kota Pekanbaru sejak Jumat (9/10/2026) membawa perubahan terhadap kondisi udara. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sebelumnya menyelimuti kota tersebut kini berangsur hilang.
Berkurangnya kabut asap membuat jarak pandang mulai membaik. Kondisi ini juga menjadi kabar baik bagi masyarakat yang beberapa hari terakhir harus beraktivitas di tengah udara yang tercemar asap.
Perbaikan turut terlihat pada kualitas udara Pekanbaru. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), kualitas udara yang sebelumnya berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya kini membaik ke kategori sedang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edy Afrizal, mengatakan kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru dan sejumlah daerah di Riau belakangan ini diduga lebih banyak berasal dari provinsi tetangga.
Dugaan tersebut mengacu pada hasil pemantauan di wilayah Riau yang tidak menemukan titik api aktif. Meski begitu, sejumlah titik panas masih terdeteksi dengan tingkat kepercayaan sedang.
"Hal itu didasari karena di Provinsi Riau sendiri tidak ditemukan titik api yang aktif, melainkan hanya titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang," ujar Edy Afrizal.
Sementara itu, data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menunjukkan jumlah titik panas di Riau terdeteksi kurang dari 20 titik. Titik panas tersebut tersebar di sejumlah kabupaten.
BMKG mencatat titik panas yang terpantau memiliki tingkat kepercayaan sedang atau di bawah 70 persen. Meski belum menunjukkan indikasi kuat adanya kebakaran, keberadaan titik panas tersebut tetap perlu dipantau untuk mengantisipasi perkembangan di lapangan.
Hujan yang turun dalam beberapa waktu terakhir membantu mengurangi kabut asap dan memperbaiki kualitas udara. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menghilangkan risiko karhutla, terutama di wilayah yang masih rawan kebakaran.
BPBD Riau bersama instansi terkait tetap menyiagakan personel untuk memantau perkembangan situasi dan mengantisipasi kemunculan titik api baru.
Masyarakat juga diimbau tetap waspada dan mengikuti informasi terbaru mengenai kualitas udara. Jika kabut asap kembali muncul, warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan.(*)