
JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (13/10/2026). Rupiah naik 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.900 per dolar AS, setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup di posisi Rp17.913 per dolar AS.
Penguatan mata uang Garuda ini terjadi di tengah tarik-menarik sentimen domestik dan global. Pelaku pasar masih mencermati persoalan transparansi pasar saham Indonesia yang menjadi perhatian penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI), sekaligus perkembangan geopolitik dan prospek pasokan energi dunia.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi seperti dikutip investor.id, mengatakan perhatian investor domestik masih tertuju pada status pembekuan (freeze) yang diberlakukan MSCI terhadap Indonesia. Persoalan transparansi dalam pembentukan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi salah satu isu yang dicermati pelaku pasar.
Menurut Ibrahim, investor kini menunggu perkembangan kajian MSCI yang dijadwalkan terbit pada November mendatang. Hasil kajian tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Dari eksternal, sentimen positif datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan pasokan solar Rusia ke pasar global. Pemerintah AS juga untuk sementara melonggarkan sanksi terhadap bahan bakar Rusia, dengan harapan tambahan pasokan dapat meredakan tekanan di pasar energi.
Perkembangan tersebut memberi harapan bagi pasar terhadap membaiknya pasokan bahan bakar global. Namun, ketidakpastian masih membayangi karena konflik Rusia-Ukraina belum sepenuhnya mereda dan implementasi kesepakatan energi tersebut masih menghadapi sejumlah risiko.
Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi sumber kekhawatiran. Serangan kelompok Houthi terhadap Bandara Internasional Riyadh serta laporan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan distribusi energi global.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar harus mempertimbangkan dua sentimen yang berlawanan: peluang meredanya tekanan pasokan energi dan risiko eskalasi konflik yang dapat kembali mendorong harga minyak.
Selain perkembangan geopolitik, investor juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) dijadwalkan diumumkan Rabu, sedangkan Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) menyusul pada Kamis.
Kedua indikator tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai tekanan inflasi di AS dan memengaruhi ekspektasi arah kebijakan moneter Federal Reserve. (*)







JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (13/10/2026). Rupiah naik 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.900 per dolar AS, setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup di posisi Rp17.913 per dolar AS.
Penguatan mata uang Garuda ini terjadi di tengah tarik-menarik sentimen domestik dan global. Pelaku pasar masih mencermati persoalan transparansi pasar saham Indonesia yang menjadi perhatian penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI), sekaligus perkembangan geopolitik dan prospek pasokan energi dunia.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi seperti dikutip investor.id, mengatakan perhatian investor domestik masih tertuju pada status pembekuan (freeze) yang diberlakukan MSCI terhadap Indonesia. Persoalan transparansi dalam pembentukan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi salah satu isu yang dicermati pelaku pasar.
Menurut Ibrahim, investor kini menunggu perkembangan kajian MSCI yang dijadwalkan terbit pada November mendatang. Hasil kajian tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Dari eksternal, sentimen positif datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan pasokan solar Rusia ke pasar global. Pemerintah AS juga untuk sementara melonggarkan sanksi terhadap bahan bakar Rusia, dengan harapan tambahan pasokan dapat meredakan tekanan di pasar energi.
Perkembangan tersebut memberi harapan bagi pasar terhadap membaiknya pasokan bahan bakar global. Namun, ketidakpastian masih membayangi karena konflik Rusia-Ukraina belum sepenuhnya mereda dan implementasi kesepakatan energi tersebut masih menghadapi sejumlah risiko.
Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi sumber kekhawatiran. Serangan kelompok Houthi terhadap Bandara Internasional Riyadh serta laporan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan distribusi energi global.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar harus mempertimbangkan dua sentimen yang berlawanan: peluang meredanya tekanan pasokan energi dan risiko eskalasi konflik yang dapat kembali mendorong harga minyak.
Selain perkembangan geopolitik, investor juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) dijadwalkan diumumkan Rabu, sedangkan Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) menyusul pada Kamis.
Kedua indikator tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai tekanan inflasi di AS dan memengaruhi ekspektasi arah kebijakan moneter Federal Reserve. (*)