
PEKANBARU-PT Bumi Siak Pusako (BSP) menegaskan komitmennya menjaga keberlanjutan produksi minyak dan memperkuat kinerja perusahaan, melalui pembenahan fasilitas operasi, penguatan organisasi dan percepatan investasi strategis.
Sejumlah tantangan operasional yang dihadapi perusahaan perlu dilihat secara proporsional dengan mempertimbangkan capaian kinerja, kondisi fasilitas produksi dan langkah perbaikan yang tengah disiapkan manajemen.

Menanggapi adanya pemberitaan soal kondisi keuangan, kendala penyaluran minyak dan komitmen investasi perusahaan, BSP memandang penting menyampaikan informasi utuh agar publik memperoleh gambaran yang berimbang mengenai kondisi perusahaan dan arah kebijakan manajemen ke depan.
Dari sisi keuangan, BSP mencatatkan laba sebesar US$8,4 juta tahun 2025 berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit.
"Capaian ini jadi salah satu indikator penting melihat kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh, dengan tetap memperhatikan tantangan operasional dan kebutuhan investasi untuk menjaga keberlanjutan usaha," ujar Direktur BSP, Robi Junipa dalam keterangan persnya, Senin (26/10/2026).
Di sisi operasional, BSP mencatatkan capaian produksi yang patut diperhitungkan. Berdasarkan data kinerja perusahaan, BSP menjadi satu-satunya Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam kelompok 15 besar nasional yang mencapai 101,89 persen dari target APBN dan merealisasikan 99,8 persen dari target Work Program and Budget (WP&B).
"Hasil ini menunjukkan bahwa di tengah tantangan pengelolaan fasilitas dan penyaluran minyak, perusahaan masih tetap berupaya menjaga kinerja produksi sesuai target yang ditetapkan," ujarnya.
BSP memahami, pencapaian produksi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Keandalan fasilitas, efisiensi biaya, keselamatan operasi, serta kesinambungan investasi juga menjadi aspek penting yang harus dikelola secara terintegrasi.
Kebocoran Pipa dan Congealing Jadi Perhatian Pembenahan Fasilitas
Terkait persoalan kebocoran pipa dan congealing, BSP menjelaskan, insiden pada jaringan perpipaan merupakan salah satu risiko teknis yang dapat terjadi dalam pengoperasian fasilitas migas, terutama pada infrastruktur yang telah memasuki usia operasi lanjut atau aging facilities.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti kebocoran dapat dianggap sebagai hal yang biasa atau diabaikan. Setiap gangguan pada fasilitas harus menjadi perhatian serius, melalui evaluasi teknis, pemeliharaan, pengendalian risiko dan perencanaan investasi yang tepat.
BSP menempatkan keandalan fasilitas sebagai salah satu prioritas pengelolaan operasi. Salah satu tantangan yang perlu ditangani adalah kondisi penyaluran minyak, termasuk persoalan pembentukan endapan minyak yang dapat mengganggu kelancaran aliran, serta belum dapat digunakannya fasilitas shipping line.
Kondisi tersebut berdampak terhadap pilihan metode penyaluran minyak dan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengendalian biaya lifting. Karena itu, penyelesaian persoalan fasilitas tidak cukup dilakukan melalui penanganan gangguan jangka pendek, tetapi juga membutuhkan solusi infrastruktur yang berkelanjutan.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat keandalan operasi, menurut Robi, BSP merencanakan proses pelelangan pembangunan pipa baru pada tahun 2026. Selanjutnya, pembangunan fisik ditargetkan mulai dilaksanakan pada tahun 2027, dengan tetap memperhatikan kesiapan teknis, proses pengadaan, perizinan, serta persetujuan yang diperlukan.
Pembangunan pipa baru merupakan langkah strategis untuk memperbaiki sistem penyaluran minyak sekaligus mendukung efisiensi biaya lifting. Infrastruktur yang lebih andal diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada alternatif penyaluran yang berbiaya tinggi dan memperkuat keberlanjutan operasi perusahaan.
"Bagi BSP, investasi infrastruktur bukan semata-mata pengeluaran modal, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga nilai aset, meningkatkan keandalan fasilitas dan mendukung optimalisasi produksi," tuturnya.
Direktur Baru Memperkuat Organisasi dan Strategi Operasi
Di sisi lain, Robi mengungkap, BSP juga telah menyusun strategi dalam memperkuat pengelolaan operasi dan menjaga kesinambungan produksi. Salah satu langkah yang ditempuh adalah asesmen untuk pengisian sejumlah jabatan yang saat ini masih kosong.
Proses asesmen tersebut telah memasuki tahap akhir dan ditargetkan segera ditindaklanjuti sesuai mekanisme serta ketentuan tata kelola perusahaan yang berlaku.
Penguatan organisasi ini menjadi bagian penting dari upaya memastikan setiap fungsi berjalan lebih efektif, memperjelas tanggung jawab, serta meningkatkan kapasitas perusahaan dalam menghadapi tantangan teknis dan bisnis di sektor hulu migas.
Manajemen memandang bahwa keandalan operasi tidak hanya ditentukan oleh fasilitas fisik, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia, efektivitas pengambilan keputusan, serta kemampuan perusahaan mengeksekusi program kerja secara terukur.
Selain pembenahan fasilitas, BSP menyiapkan langkah untuk memperkuat potensi produksi melalui kegiatan pengeboran.
Akhir 2026, perusahaan merencanakan pengeboran sumur infil yang diharapkan dapat memberikan tambahan produksi pada tahun berjalan, dengan mempertimbangkan hasil pengeboran dan respons sumur.
Selanjutnya, tahun 2027, BSP merencanakan pengeboran sumur eksplorasi dalam rangka pelaksanaan Komitmen Kerja Pasti (KKP). Kegiatan ini diarahkan untuk membuka peluang penambahan cadangan dan meningkatkan potensi produksi perusahaan pada masa mendatang.
Rencana tersebut merupakan bagian dari strategi pengembangan lapangan yang perlu dijalankan secara terukur, berdasarkan kajian teknis, keekonomian, kesiapan pendanaan, serta persetujuan yang berlaku.
"Kami menyadari, peningkatan produksi berkelanjutan membutuhkan keseimbangan antara optimalisasi sumur eksisting, pengembangan potensi baru, keandalan fasilitas dan efisiensi biaya operasi. Karena itu, kita terus berusaha semaksimal mungkin merealisasikannya," tukasnya. (bsh)







PEKANBARU-PT Bumi Siak Pusako (BSP) menegaskan komitmennya menjaga keberlanjutan produksi minyak dan memperkuat kinerja perusahaan, melalui pembenahan fasilitas operasi, penguatan organisasi dan percepatan investasi strategis.
Sejumlah tantangan operasional yang dihadapi perusahaan perlu dilihat secara proporsional dengan mempertimbangkan capaian kinerja, kondisi fasilitas produksi dan langkah perbaikan yang tengah disiapkan manajemen.
Menanggapi adanya pemberitaan soal kondisi keuangan, kendala penyaluran minyak dan komitmen investasi perusahaan, BSP memandang penting menyampaikan informasi utuh agar publik memperoleh gambaran yang berimbang mengenai kondisi perusahaan dan arah kebijakan manajemen ke depan.
Dari sisi keuangan, BSP mencatatkan laba sebesar US$8,4 juta tahun 2025 berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit.
"Capaian ini jadi salah satu indikator penting melihat kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh, dengan tetap memperhatikan tantangan operasional dan kebutuhan investasi untuk menjaga keberlanjutan usaha," ujar Direktur BSP, Robi Junipa dalam keterangan persnya, Senin (26/10/2026).
Di sisi operasional, BSP mencatatkan capaian produksi yang patut diperhitungkan. Berdasarkan data kinerja perusahaan, BSP menjadi satu-satunya Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam kelompok 15 besar nasional yang mencapai 101,89 persen dari target APBN dan merealisasikan 99,8 persen dari target Work Program and Budget (WP&B).
"Hasil ini menunjukkan bahwa di tengah tantangan pengelolaan fasilitas dan penyaluran minyak, perusahaan masih tetap berupaya menjaga kinerja produksi sesuai target yang ditetapkan," ujarnya.
BSP memahami, pencapaian produksi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Keandalan fasilitas, efisiensi biaya, keselamatan operasi, serta kesinambungan investasi juga menjadi aspek penting yang harus dikelola secara terintegrasi.
Kebocoran Pipa dan Congealing Jadi Perhatian Pembenahan Fasilitas
Terkait persoalan kebocoran pipa dan congealing, BSP menjelaskan, insiden pada jaringan perpipaan merupakan salah satu risiko teknis yang dapat terjadi dalam pengoperasian fasilitas migas, terutama pada infrastruktur yang telah memasuki usia operasi lanjut atau aging facilities.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti kebocoran dapat dianggap sebagai hal yang biasa atau diabaikan. Setiap gangguan pada fasilitas harus menjadi perhatian serius, melalui evaluasi teknis, pemeliharaan, pengendalian risiko dan perencanaan investasi yang tepat.
BSP menempatkan keandalan fasilitas sebagai salah satu prioritas pengelolaan operasi. Salah satu tantangan yang perlu ditangani adalah kondisi penyaluran minyak, termasuk persoalan pembentukan endapan minyak yang dapat mengganggu kelancaran aliran, serta belum dapat digunakannya fasilitas shipping line.
Kondisi tersebut berdampak terhadap pilihan metode penyaluran minyak dan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengendalian biaya lifting. Karena itu, penyelesaian persoalan fasilitas tidak cukup dilakukan melalui penanganan gangguan jangka pendek, tetapi juga membutuhkan solusi infrastruktur yang berkelanjutan.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat keandalan operasi, menurut Robi, BSP merencanakan proses pelelangan pembangunan pipa baru pada tahun 2026. Selanjutnya, pembangunan fisik ditargetkan mulai dilaksanakan pada tahun 2027, dengan tetap memperhatikan kesiapan teknis, proses pengadaan, perizinan, serta persetujuan yang diperlukan.
Pembangunan pipa baru merupakan langkah strategis untuk memperbaiki sistem penyaluran minyak sekaligus mendukung efisiensi biaya lifting. Infrastruktur yang lebih andal diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada alternatif penyaluran yang berbiaya tinggi dan memperkuat keberlanjutan operasi perusahaan.
"Bagi BSP, investasi infrastruktur bukan semata-mata pengeluaran modal, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga nilai aset, meningkatkan keandalan fasilitas dan mendukung optimalisasi produksi," tuturnya.
Direktur Baru Memperkuat Organisasi dan Strategi Operasi
Di sisi lain, Robi mengungkap, BSP juga telah menyusun strategi dalam memperkuat pengelolaan operasi dan menjaga kesinambungan produksi. Salah satu langkah yang ditempuh adalah asesmen untuk pengisian sejumlah jabatan yang saat ini masih kosong.
Proses asesmen tersebut telah memasuki tahap akhir dan ditargetkan segera ditindaklanjuti sesuai mekanisme serta ketentuan tata kelola perusahaan yang berlaku.
Penguatan organisasi ini menjadi bagian penting dari upaya memastikan setiap fungsi berjalan lebih efektif, memperjelas tanggung jawab, serta meningkatkan kapasitas perusahaan dalam menghadapi tantangan teknis dan bisnis di sektor hulu migas.
Manajemen memandang bahwa keandalan operasi tidak hanya ditentukan oleh fasilitas fisik, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia, efektivitas pengambilan keputusan, serta kemampuan perusahaan mengeksekusi program kerja secara terukur.
Selain pembenahan fasilitas, BSP menyiapkan langkah untuk memperkuat potensi produksi melalui kegiatan pengeboran.
Akhir 2026, perusahaan merencanakan pengeboran sumur infil yang diharapkan dapat memberikan tambahan produksi pada tahun berjalan, dengan mempertimbangkan hasil pengeboran dan respons sumur.
Selanjutnya, tahun 2027, BSP merencanakan pengeboran sumur eksplorasi dalam rangka pelaksanaan Komitmen Kerja Pasti (KKP). Kegiatan ini diarahkan untuk membuka peluang penambahan cadangan dan meningkatkan potensi produksi perusahaan pada masa mendatang.
Rencana tersebut merupakan bagian dari strategi pengembangan lapangan yang perlu dijalankan secara terukur, berdasarkan kajian teknis, keekonomian, kesiapan pendanaan, serta persetujuan yang berlaku.
"Kami menyadari, peningkatan produksi berkelanjutan membutuhkan keseimbangan antara optimalisasi sumur eksisting, pengembangan potensi baru, keandalan fasilitas dan efisiensi biaya operasi. Karena itu, kita terus berusaha semaksimal mungkin merealisasikannya," tukasnya. (bsh)