
JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026). Mata uang Garuda turun 20 poin atau sekitar 0,11 persen ke level Rp18.080 per dolar AS, memperpanjang tekanan terhadap rupiah di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya risiko ekonomi domestik.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan eksternal masih menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan rupiah. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dunia meningkat menyusul eskalasi konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi.

Ketegangan tersebut menjadi perhatian pasar karena Arab Saudi merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar dunia. Situasi keamanan yang memburuk turut memunculkan kekhawatiran terhadap jalur pelayaran strategis Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Menurut Ibrahim, Saudi Aramco pada Kamis memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran di tengah meningkatnya pertempuran. Sementara itu, kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran dilaporkan bergerak menuju kawasan Bab el-Mandeb, sehingga menambah kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global.
Tekanan pasokan juga muncul dari Libya. Penutupan katup pipa minyak yang menghubungkan ladang Hamada dan Tahara dengan Pelabuhan Zawiya dilaporkan menyebabkan penurunan produksi di kedua ladang tersebut.
Gejolak Energi dan Ekonomi AS Jadi Perhatian Pasar
Selain konflik di kawasan Timur Tengah, perkembangan hubungan Rusia-Ukraina turut menjadi perhatian investor. Rusia menyatakan kesiapan melanjutkan perundingan dengan Ukraina yang dimediasi Amerika Serikat pada November, setelah pertemuan Presiden Vladimir Putin dengan utusan AS, Steve Witkoff, di St. Petersburg.
Dari Amerika Serikat, klaim awal pengangguran untuk pekan yang berakhir 17 Oktober tercatat sebanyak 194.000, lebih rendah dibandingkan perkiraan dan angka sebelumnya yang berada di kisaran 200.000. Data tersebut menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih relatif kuat.
Di sisi lain, inflasi AS yang sebelumnya tercatat lebih tinggi dari ekspektasi tetap menjadi faktor penting bagi arah kebijakan moneter Federal Reserve. Perkembangan inflasi dan pasar tenaga kerja akan terus dicermati investor karena berpengaruh terhadap pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Harga Minyak dan Pangan Berpotensi Menambah Beban APBN
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berkaitan dengan risiko fiskal akibat tingginya harga energi dan kenaikan harga pangan. Ibrahim menilai kombinasi kedua faktor tersebut berpotensi menciptakan guncangan ganda (double shock) bagi perekonomian nasional.
Sebagai negara pengimpor bersih minyak, Indonesia rentan terhadap kenaikan harga minyak mentah dunia, terutama apabila harga berada di atas asumsi makro dalam APBN. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM), LPG, serta kompensasi energi.
Kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi memperbesar beban belanja negara. Pemerintah pun menghadapi pilihan yang tidak mudah: mempertahankan harga energi domestik dengan konsekuensi meningkatnya tekanan terhadap anggaran, atau menyesuaikan harga energi yang berisiko mendorong inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat.
“Dalam hal tersebut, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit (fiscal space), yaitu menahan harga energi domestik yang berisiko memperlebar defisit APBN atau menyesuaikan harga energi domestik, tetapi akan berdampak terhadap inflasi sehingga memberatkan masyarakat,” ujar Ibrahim.
Tekanan tersebut juga dapat merambat ke pasar valuta asing. Kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi yang lebih mahal berpotensi meningkat, sehingga menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Jika pelemahan berlanjut, beban pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri dalam rupiah juga berpotensi membesar. Pada saat bersamaan, kenaikan harga energi dan pangan dapat menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan menengah ke bawah yang sebagian besar pengeluarannya dialokasikan untuk kebutuhan pokok.
Rupiah Berpotensi Lanjut Melemah
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp18.080 hingga Rp18.130 per dolar AS.
Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan geopolitik, prospek pasokan energi global, arah kebijakan moneter AS, serta kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara stabilitas harga domestik dan kesehatan fiskal.
Penutupan di level Rp18.080 per dolar AS menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya bersumber dari penguatan dolar AS, tetapi juga dari meningkatnya risiko eksternal dan tantangan ekonomi dalam negeri. (*)







JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026). Mata uang Garuda turun 20 poin atau sekitar 0,11 persen ke level Rp18.080 per dolar AS, memperpanjang tekanan terhadap rupiah di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya risiko ekonomi domestik.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan eksternal masih menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan rupiah. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dunia meningkat menyusul eskalasi konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi.
Ketegangan tersebut menjadi perhatian pasar karena Arab Saudi merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar dunia. Situasi keamanan yang memburuk turut memunculkan kekhawatiran terhadap jalur pelayaran strategis Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Menurut Ibrahim, Saudi Aramco pada Kamis memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran di tengah meningkatnya pertempuran. Sementara itu, kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran dilaporkan bergerak menuju kawasan Bab el-Mandeb, sehingga menambah kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global.
Tekanan pasokan juga muncul dari Libya. Penutupan katup pipa minyak yang menghubungkan ladang Hamada dan Tahara dengan Pelabuhan Zawiya dilaporkan menyebabkan penurunan produksi di kedua ladang tersebut.
Gejolak Energi dan Ekonomi AS Jadi Perhatian Pasar
Selain konflik di kawasan Timur Tengah, perkembangan hubungan Rusia-Ukraina turut menjadi perhatian investor. Rusia menyatakan kesiapan melanjutkan perundingan dengan Ukraina yang dimediasi Amerika Serikat pada November, setelah pertemuan Presiden Vladimir Putin dengan utusan AS, Steve Witkoff, di St. Petersburg.
Dari Amerika Serikat, klaim awal pengangguran untuk pekan yang berakhir 17 Oktober tercatat sebanyak 194.000, lebih rendah dibandingkan perkiraan dan angka sebelumnya yang berada di kisaran 200.000. Data tersebut menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih relatif kuat.
Di sisi lain, inflasi AS yang sebelumnya tercatat lebih tinggi dari ekspektasi tetap menjadi faktor penting bagi arah kebijakan moneter Federal Reserve. Perkembangan inflasi dan pasar tenaga kerja akan terus dicermati investor karena berpengaruh terhadap pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Harga Minyak dan Pangan Berpotensi Menambah Beban APBN
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga berkaitan dengan risiko fiskal akibat tingginya harga energi dan kenaikan harga pangan. Ibrahim menilai kombinasi kedua faktor tersebut berpotensi menciptakan guncangan ganda (double shock) bagi perekonomian nasional.
Sebagai negara pengimpor bersih minyak, Indonesia rentan terhadap kenaikan harga minyak mentah dunia, terutama apabila harga berada di atas asumsi makro dalam APBN. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM), LPG, serta kompensasi energi.
Kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi memperbesar beban belanja negara. Pemerintah pun menghadapi pilihan yang tidak mudah: mempertahankan harga energi domestik dengan konsekuensi meningkatnya tekanan terhadap anggaran, atau menyesuaikan harga energi yang berisiko mendorong inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat.
“Dalam hal tersebut, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit (fiscal space), yaitu menahan harga energi domestik yang berisiko memperlebar defisit APBN atau menyesuaikan harga energi domestik, tetapi akan berdampak terhadap inflasi sehingga memberatkan masyarakat,” ujar Ibrahim.
Tekanan tersebut juga dapat merambat ke pasar valuta asing. Kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi yang lebih mahal berpotensi meningkat, sehingga menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Jika pelemahan berlanjut, beban pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri dalam rupiah juga berpotensi membesar. Pada saat bersamaan, kenaikan harga energi dan pangan dapat menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan menengah ke bawah yang sebagian besar pengeluarannya dialokasikan untuk kebutuhan pokok.
Rupiah Berpotensi Lanjut Melemah
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp18.080 hingga Rp18.130 per dolar AS.
Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan geopolitik, prospek pasokan energi global, arah kebijakan moneter AS, serta kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara stabilitas harga domestik dan kesehatan fiskal.
Penutupan di level Rp18.080 per dolar AS menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya bersumber dari penguatan dolar AS, tetapi juga dari meningkatnya risiko eksternal dan tantangan ekonomi dalam negeri. (*)