
PEKANBARU - Demonstrasi ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Riau tak hanya menjadi ruang penyampaian aspirasi, tetapi juga membawa peluang dan berkah bagi pedagang kecil. Suwito (45), pedagang siomay keliling yang merupakan asli kelahiran Jakarta mengaku penjualannya meningkat sekitar 20 persen setiap kali demonstrasi.
Suwito bilang, keramaian karena demonstrasi membuat banyak mahasiswa membeli dagangannya. Ia sengaja mendatangi lokasi demonstrasi untuk menjajakan dagangannya. “Karena demo, 20 persen naiknya. Karena anak-anak pada belanja,” kata Suwito saat diwawancarai jurnalis Pekanbarutv.com, di sela-sela demo mahasiswa di kantor Gubernur Riau, Senin (26/10/2026).

Suwito mengaku, telah dua tahun berjualan di Pekanbaru. Ia menjalankan usaha dengan berkeliling dan mendatangi lokasi demonstrasi ketika mengetahui adanya aksi mahasiswa.
Informasi demo, kata dia, didapat dari sesama pedagang, rekan-rekan jurnalis hingga pihak kepolisian. “Ya, dapat info dari Polisi, kadang saya tanyain dan konfirmasi ulang ke mereka benar nggak ada demo. Biar kita bikin banyak kan nggak rugi,” ucapnya.
Di tengah demonstrasi yang menyoroti penanganan kabut asap di Riau, Suwito menilai demonstrasi mahasiswa merupakan salah satu cara menyampaikan aspirasi dan keluhan masyarakat kepada pemerintah.
Namun, ia mengingatkan bahwa situasi demonstrasi harus dengan cara yang elegan dan tidak anarkis. Menurutnya, sejauh ini demonstrasi yang ia datanginya tidak pernah berujung pada tindakan anarkis terhadap pedagang.
“Sudah bagus untuk menyampaikan aspirasi dan keluhan masyarakat. Tapi tergantung koordinatornya juga, sejauh ini gak pernah anarkis ke pedagang sih,” ujarnya.
Di balik peluang peningkatan penjualan saat demonstrasi, Suwito mengaku pendapatannya justru mengalami penurunan sejak kabut asap melanda Riau.
Ia membeberkan pendapatan hariannya yang sebelumnya mencapai Rp600 ribu kini hanya berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu. Penurunan ini memperlihatkan tekanan ekonomi yang dirasakan pedagang kecil di tengah persoalan kabut asap.
Meski begitu, ia mengakui asap dapat berasal dari daerah lain, Suwito menilai penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membutuhkan solusi yang lebih baik. “Kalau bisa mengatasi karhutla, walaupun asap kiriman, tapi solusi pemerintah masih kurang,” katanya.
Baginya, demonstrasi bisa menjadi kesempatan untuk meraup tambahan pendapatan. Namun di sisi lain, kenaikan penjualan saat aksi tidak serta-merta menghapus penurunan pendapatan yang ia rasakan sejak kabut asap melanda. (har)







PEKANBARU - Demonstrasi ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Riau tak hanya menjadi ruang penyampaian aspirasi, tetapi juga membawa peluang dan berkah bagi pedagang kecil. Suwito (45), pedagang siomay keliling yang merupakan asli kelahiran Jakarta mengaku penjualannya meningkat sekitar 20 persen setiap kali demonstrasi.
Suwito bilang, keramaian karena demonstrasi membuat banyak mahasiswa membeli dagangannya. Ia sengaja mendatangi lokasi demonstrasi untuk menjajakan dagangannya. “Karena demo, 20 persen naiknya. Karena anak-anak pada belanja,” kata Suwito saat diwawancarai jurnalis Pekanbarutv.com, di sela-sela demo mahasiswa di kantor Gubernur Riau, Senin (26/10/2026).
Suwito mengaku, telah dua tahun berjualan di Pekanbaru. Ia menjalankan usaha dengan berkeliling dan mendatangi lokasi demonstrasi ketika mengetahui adanya aksi mahasiswa.
Informasi demo, kata dia, didapat dari sesama pedagang, rekan-rekan jurnalis hingga pihak kepolisian. “Ya, dapat info dari Polisi, kadang saya tanyain dan konfirmasi ulang ke mereka benar nggak ada demo. Biar kita bikin banyak kan nggak rugi,” ucapnya.
Di tengah demonstrasi yang menyoroti penanganan kabut asap di Riau, Suwito menilai demonstrasi mahasiswa merupakan salah satu cara menyampaikan aspirasi dan keluhan masyarakat kepada pemerintah.
Namun, ia mengingatkan bahwa situasi demonstrasi harus dengan cara yang elegan dan tidak anarkis. Menurutnya, sejauh ini demonstrasi yang ia datanginya tidak pernah berujung pada tindakan anarkis terhadap pedagang.
“Sudah bagus untuk menyampaikan aspirasi dan keluhan masyarakat. Tapi tergantung koordinatornya juga, sejauh ini gak pernah anarkis ke pedagang sih,” ujarnya.
Di balik peluang peningkatan penjualan saat demonstrasi, Suwito mengaku pendapatannya justru mengalami penurunan sejak kabut asap melanda Riau.
Ia membeberkan pendapatan hariannya yang sebelumnya mencapai Rp600 ribu kini hanya berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu. Penurunan ini memperlihatkan tekanan ekonomi yang dirasakan pedagang kecil di tengah persoalan kabut asap.
Meski begitu, ia mengakui asap dapat berasal dari daerah lain, Suwito menilai penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membutuhkan solusi yang lebih baik. “Kalau bisa mengatasi karhutla, walaupun asap kiriman, tapi solusi pemerintah masih kurang,” katanya.
Baginya, demonstrasi bisa menjadi kesempatan untuk meraup tambahan pendapatan. Namun di sisi lain, kenaikan penjualan saat aksi tidak serta-merta menghapus penurunan pendapatan yang ia rasakan sejak kabut asap melanda. (har)