
PEKANBARU-Kandang ternak unggas milik SMK Negeri Pertanian Terpadu di Pekanbaru menjelma menjadi laboratorium hidup yang strategis bagi para siswa jurusan Agribisnis Ternak Unggas. Di sini, para siswa dibekali keterampilan praktis melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan budidaya, khususnya komoditas bebek dan ayam petelur.
Saat ini, fasilitas pendidikan tersebut memelihara sekitar 200 ekor bebek petelur. Guna menekan biaya produksi sekaligus mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan, pihak sekolah memanfaatkan limbah semangka, jagung dan pelepah pisang sebagai pakan alternatif yang ekonomis.

"Budidaya bebek petelur sendiri sangat bergantung pada aktivitas ternak dan kebersihan kandang", kata Rido Sacipta, Kepala Bidang Agribisnis Ternak Unggas, Selasa (27/10/2026). Manajemen kandang yang buruk dinilai dapat memicu kematian sekaligus menghambat pertumbuhan bebek.
Selain faktor kebersihan, Rido menegaskan cuaca panas khas Kota Pekanbaru turut menjadi kendala utama yang harus dikendalikan.
"Suhu di Riau itu kan panas sekitar 33 hingga 34 derajat, sedangkan suhu ideal untuk peternakan bebek 30 derajat", sebutnya.
Kendati demikian, masalah tersebut berhasil diatasi melalui rekayasa suhu menggunakan alat sederhana seperti blower atau kipas angin demi menjaga kenyamanan dan kebutuhan suhu ideal bagi bebek.
Bagi masyarakat atau pemula yang tertarik merintis usaha serupa, budidaya bebek petelur dinilai cukup terjangkau. Modal awal yang dibutuhkan berkisar antara Rp5 juta hingga Rp6 juta.
Perincian modal tersebut mencakup pembelian sekitar 100 ekor bibit dengan harga sekitar Rp1 juta per kotak, sementara harga pakan pabrikan berkisar antara Rp400.000 hingga Rp500.000.
Setelah bebek mencapai usia ideal untuk bertelur, pihak sekolah akan mengembalikkan bebek tersebut ke investor yang bekerjasama dengan pihak sekolah.(*)







PEKANBARU-Kandang ternak unggas milik SMK Negeri Pertanian Terpadu di Pekanbaru menjelma menjadi laboratorium hidup yang strategis bagi para siswa jurusan Agribisnis Ternak Unggas. Di sini, para siswa dibekali keterampilan praktis melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan budidaya, khususnya komoditas bebek dan ayam petelur.
Saat ini, fasilitas pendidikan tersebut memelihara sekitar 200 ekor bebek petelur. Guna menekan biaya produksi sekaligus mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan, pihak sekolah memanfaatkan limbah semangka, jagung dan pelepah pisang sebagai pakan alternatif yang ekonomis.
"Budidaya bebek petelur sendiri sangat bergantung pada aktivitas ternak dan kebersihan kandang", kata Rido Sacipta, Kepala Bidang Agribisnis Ternak Unggas, Selasa (27/10/2026). Manajemen kandang yang buruk dinilai dapat memicu kematian sekaligus menghambat pertumbuhan bebek.
Selain faktor kebersihan, Rido menegaskan cuaca panas khas Kota Pekanbaru turut menjadi kendala utama yang harus dikendalikan.
"Suhu di Riau itu kan panas sekitar 33 hingga 34 derajat, sedangkan suhu ideal untuk peternakan bebek 30 derajat", sebutnya.
Kendati demikian, masalah tersebut berhasil diatasi melalui rekayasa suhu menggunakan alat sederhana seperti blower atau kipas angin demi menjaga kenyamanan dan kebutuhan suhu ideal bagi bebek.
Bagi masyarakat atau pemula yang tertarik merintis usaha serupa, budidaya bebek petelur dinilai cukup terjangkau. Modal awal yang dibutuhkan berkisar antara Rp5 juta hingga Rp6 juta.
Perincian modal tersebut mencakup pembelian sekitar 100 ekor bibit dengan harga sekitar Rp1 juta per kotak, sementara harga pakan pabrikan berkisar antara Rp400.000 hingga Rp500.000.
Setelah bebek mencapai usia ideal untuk bertelur, pihak sekolah akan mengembalikkan bebek tersebut ke investor yang bekerjasama dengan pihak sekolah.(*)