
PEKANBARU-Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Pekanbaru mencatat 166 kejadian kebakaran bangunan sejak Januari hingga 20 Oktober 2026. Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut berhasil ditekan hingga mencapai zero fire atau nihil kejadian.
Kepala DPKP Pekanbaru, Zarman Candra, mengatakan keberhasilan mengendalikan kebakaran lahan tidak terlepas dari kerja sama lintas instansi. Penanganan dilakukan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
“Terakhir, pada Agustus lalu, ada 28 kasus kebakaran lahan yang kami tangani. Sampai saat ini, kebakaran lahan sudah zero fire,” kata Zarman di rumah dinas wali kota, Selasa (27/10/2026).

Menurutnya, koordinasi antarlembaga menjadi salah satu faktor penting dalam menekan kejadian karhutla. Selain penanganan saat kebakaran terjadi, upaya pencegahan juga terus dilakukan melalui pengawasan kawasan yang berpotensi terbakar.
Pengawasan terutama difokuskan pada lahan gambut dan semak belukar yang rentan terbakar ketika kondisi cuaca panas dan kering. Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru juga meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan agar kebakaran lahan tidak kembali terjadi.
Zarman menyebutkan, langkah tersebut sejalan dengan arahan Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho yang meminta jajarannya menjaga kawasan rawan kebakaran.
“Wali kota mengarahkan kami untuk selalu menjaga lahan, baik gambut maupun semak belukar agar tidak terbakar. Sebab, dampak kebakaran di sejumlah provinsi di Sumatra juga dirasakan oleh Kota Pekanbaru,” ujarnya.
Pekanbaru sebelumnya turut merasakan dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatra. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat serta menurunkan kualitas udara.
Karena itu, pencegahan karhutla di wilayah Pekanbaru menjadi perhatian pemerintah daerah. Selain untuk melindungi lingkungan, langkah tersebut juga bertujuan mencegah munculnya sumber asap baru yang dapat memperburuk kondisi udara.(*)







PEKANBARU-Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Pekanbaru mencatat 166 kejadian kebakaran bangunan sejak Januari hingga 20 Oktober 2026. Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut berhasil ditekan hingga mencapai zero fire atau nihil kejadian.
Kepala DPKP Pekanbaru, Zarman Candra, mengatakan keberhasilan mengendalikan kebakaran lahan tidak terlepas dari kerja sama lintas instansi. Penanganan dilakukan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
“Terakhir, pada Agustus lalu, ada 28 kasus kebakaran lahan yang kami tangani. Sampai saat ini, kebakaran lahan sudah zero fire,” kata Zarman di rumah dinas wali kota, Selasa (27/10/2026).
Menurutnya, koordinasi antarlembaga menjadi salah satu faktor penting dalam menekan kejadian karhutla. Selain penanganan saat kebakaran terjadi, upaya pencegahan juga terus dilakukan melalui pengawasan kawasan yang berpotensi terbakar.
Pengawasan terutama difokuskan pada lahan gambut dan semak belukar yang rentan terbakar ketika kondisi cuaca panas dan kering. Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru juga meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan agar kebakaran lahan tidak kembali terjadi.
Zarman menyebutkan, langkah tersebut sejalan dengan arahan Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho yang meminta jajarannya menjaga kawasan rawan kebakaran.
“Wali kota mengarahkan kami untuk selalu menjaga lahan, baik gambut maupun semak belukar agar tidak terbakar. Sebab, dampak kebakaran di sejumlah provinsi di Sumatra juga dirasakan oleh Kota Pekanbaru,” ujarnya.
Pekanbaru sebelumnya turut merasakan dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatra. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat serta menurunkan kualitas udara.
Karena itu, pencegahan karhutla di wilayah Pekanbaru menjadi perhatian pemerintah daerah. Selain untuk melindungi lingkungan, langkah tersebut juga bertujuan mencegah munculnya sumber asap baru yang dapat memperburuk kondisi udara.(*)