logo
● 4 Tersangka Baru Masuk Bui, Eks Anggota DPRD Kampar Terancam Dijemput Paksa Kasu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pemko Pekanbaru Segera Bagikan Seragam Gratis untuk 20 Ribu Siswa SD dan SMP Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polsek Kubu Ungkap Dugaan Pencabulan Anak di Rokan Hilir, Satu Tersangka Diamank Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pilpeng Rantau Panjang Kiri Berlangsung Tertib, Dua Kandidat Bersaing Rebut Kepe Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● SMK Pertanian Terpadu Pekanbaru Jadikan Budidaya Bebek Petelur sebagai Laborator Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Atlet Sepatu Roda Pekanbaru Borong 54 Medali di MIS Open 2026 Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Bangun Kepercayaan Publik, Kejati Riau Pererat Komunikasi dengan Media Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kapolda Riau Rangkul Insan Pers, Dorong Kolaborasi Cegah Narkoba dan Konflik Sos Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Energi
Efek Proposal Iran: Harga Minyak Rontok Hampir 3 Persen di Tengah Bayang-Bayang Konflik
Ilustrasi. Harga minyak dunia anjlok pasca-Iran ajukan proposal perdamaian.
Efek Proposal Iran: Harga Minyak Rontok Hampir 3 Persen di Tengah Bayang-Bayang Konflik
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 2 Mei 2026 | 16:11:45

JAKARTA – Sinyal perdamaian dari Iran langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah dunia anjlok pada Jumat (1/5/2026), menyusul proposal negosiasi yang diajukan Teheran kepada Amerika Serikat (AS).

Namun, di balik penurunan tajam tersebut, ketegangan geopolitik belum benar-benar mereda. Penutupan Selat Hormuz dan tekanan militer AS terhadap ekspor minyak Iran masih menjadi bayang-bayang yang menahan penurunan lebih dalam.

Mengutip Reuters, Sabtu (2/5/2026), kontrak berjangka Brent pengiriman Juli ditutup di level USD 108,17 per barel, turun USD 2,23 atau 2,02 persen. Sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot lebih dalam ke USD 101,94 per barel, melemah USD 3,13 atau 2,98 persen.

iklan-view

Langkah Iran mengajukan proposal negosiasi melalui mediator Pakistan, sebagaimana dilaporkan kantor berita negara IRNA, menjadi katalis utama penurunan harga. Upaya ini dinilai membuka peluang untuk memecah kebuntuan dalam konflik yang telah memanas selama dua bulan terakhir.

Meski demikian, tren mingguan masih menunjukkan penguatan. Baik Brent maupun WTI berpotensi mencatat kenaikan sekitar 2,95 persen. Bahkan, Brent sempat melonjak hingga USD 126,41 per barel pada Kamis (30/4)—level tertinggi sejak Maret 2022—sebelum akhirnya terkoreksi.

“Proposal dari Iran memberi harapan bahwa ada jalan keluar bagi Amerika Serikat,” ujar analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.

Sejak serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, harga minyak terus terdorong naik. Konflik tersebut memicu penutupan Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia—sehingga mengganggu distribusi energi global.

Memang, gencatan senjata telah diberlakukan sejak 8 April. Namun, kepercayaan antar pihak masih sangat rapuh. Penasihat presiden Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, bahkan menegaskan bahwa Teheran sulit dipercaya dalam pengaturan sepihak terkait Selat Hormuz.

Menjelang penutupan perdagangan, pasar mulai mencerminkan sikap “wait and see” terhadap gencatan senjata yang belum solid.

“Pergerakan harga sangat dipengaruhi prospek penyelesaian konflik. Untuk saat ini, situasinya masih buntu,” kata mitra Again Capital, John Kilduff.

Di sisi lain, tensi tetap tinggi. Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran sempat mengancam akan melancarkan serangan berkepanjangan terhadap kepentingan AS jika kembali terjadi agresi. Ancaman ini sempat mendorong harga ke puncak intraday sebelum akhirnya berbalik turun.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan pada 6 Mei mendatang terkait opsi serangan militer lanjutan terhadap Iran, guna menekan Teheran ke meja perundingan. Hingga kini, Washington belum mengungkap detail rencana tersebut.

Di tengah tarik-ulur diplomasi dan ancaman militer, pasar minyak masih berada di persimpangan—antara harapan damai dan risiko konflik yang bisa kembali meledak kapan saja. (kpc)

Home / Ekonomi
Efek Proposal Iran: Harga Minyak Rontok Hampir 3 Persen di Tengah Bayang-Bayang Konflik
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 2 Mei 2026 | 16:11:45
Efek Proposal Iran: Harga Minyak Rontok Hampir 3 Persen di Tengah Bayang-Bayang Konflik
Ilustrasi. Harga minyak dunia anjlok pasca-Iran ajukan proposal perdamaian.

JAKARTA – Sinyal perdamaian dari Iran langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah dunia anjlok pada Jumat (1/5/2026), menyusul proposal negosiasi yang diajukan Teheran kepada Amerika Serikat (AS).

Namun, di balik penurunan tajam tersebut, ketegangan geopolitik belum benar-benar mereda. Penutupan Selat Hormuz dan tekanan militer AS terhadap ekspor minyak Iran masih menjadi bayang-bayang yang menahan penurunan lebih dalam.

Mengutip Reuters, Sabtu (2/5/2026), kontrak berjangka Brent pengiriman Juli ditutup di level USD 108,17 per barel, turun USD 2,23 atau 2,02 persen. Sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot lebih dalam ke USD 101,94 per barel, melemah USD 3,13 atau 2,98 persen.

Langkah Iran mengajukan proposal negosiasi melalui mediator Pakistan, sebagaimana dilaporkan kantor berita negara IRNA, menjadi katalis utama penurunan harga. Upaya ini dinilai membuka peluang untuk memecah kebuntuan dalam konflik yang telah memanas selama dua bulan terakhir.

Meski demikian, tren mingguan masih menunjukkan penguatan. Baik Brent maupun WTI berpotensi mencatat kenaikan sekitar 2,95 persen. Bahkan, Brent sempat melonjak hingga USD 126,41 per barel pada Kamis (30/4)—level tertinggi sejak Maret 2022—sebelum akhirnya terkoreksi.

“Proposal dari Iran memberi harapan bahwa ada jalan keluar bagi Amerika Serikat,” ujar analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.

Sejak serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, harga minyak terus terdorong naik. Konflik tersebut memicu penutupan Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia—sehingga mengganggu distribusi energi global.

Memang, gencatan senjata telah diberlakukan sejak 8 April. Namun, kepercayaan antar pihak masih sangat rapuh. Penasihat presiden Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, bahkan menegaskan bahwa Teheran sulit dipercaya dalam pengaturan sepihak terkait Selat Hormuz.

Menjelang penutupan perdagangan, pasar mulai mencerminkan sikap “wait and see” terhadap gencatan senjata yang belum solid.

“Pergerakan harga sangat dipengaruhi prospek penyelesaian konflik. Untuk saat ini, situasinya masih buntu,” kata mitra Again Capital, John Kilduff.

Di sisi lain, tensi tetap tinggi. Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran sempat mengancam akan melancarkan serangan berkepanjangan terhadap kepentingan AS jika kembali terjadi agresi. Ancaman ini sempat mendorong harga ke puncak intraday sebelum akhirnya berbalik turun.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan pada 6 Mei mendatang terkait opsi serangan militer lanjutan terhadap Iran, guna menekan Teheran ke meja perundingan. Hingga kini, Washington belum mengungkap detail rencana tersebut.

Di tengah tarik-ulur diplomasi dan ancaman militer, pasar minyak masih berada di persimpangan—antara harapan damai dan risiko konflik yang bisa kembali meledak kapan saja. (kpc)