logo
● Oknum Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Pagi Hari Sempat Terlihat Keluar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kuasa Hukum PT Kaluku Permai Wood Industries Bantah Tuduhan Mafia Tanah di Meran Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kejar Target Rp1,3 Triliun, Bapenda Pekanbaru Andalkan Lonjakan Penerimaan Pajak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Harga Sawit Riau Tembus Rp3.739 per Kg, Petani Umur 9 Tahun Paling Diuntungkan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Bukan Cuma Judi Online, Polri-Komdigi Sasar Kebocoran Data dan Hoaks Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polda Riau Bongkar Jaringan Internasional Penyeludup Sabu 35 Kg, Lima Tersangka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pemesanan Perdana Kia Carens EV Resmi Dibuka untuk Pasar Indonesia Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Dua Putra Menteri Haji dan Umrah Akhirnya Mundur dari Tenaga Ahli Kementrian Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
BPS Ungkap Ratusan Daerah Alami Konstraksi Harga, Cabai Jadi Pemicu Utama
Seorang pedagang cabai di Pasar Raya Kota Pekanbaru terlihat sedang melayani seorang pembeli ditengah gejolak harga yang terus merangkak naik. (Foto: langgam)
BPS Ungkap Ratusan Daerah Alami Konstraksi Harga, Cabai Jadi Pemicu Utama
Editor: putrajaya
Rubrik: ekonomi | 26 Oktober 2026 | 12:00:00

JAKARTA - Badan Pusat Statistik menyampaikan laporan terkait dinamika harga di berbagai daerah dalam agenda Rapat Pengendalian Inflasi Daerah yang diselenggarakan secara daring di Jakarta pada hari Senin (26/10/2026).

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan bahwa eskalasi Indeks Perkembangan Harga terjadi di 309 kabupaten serta kota pada periode minggu keempat Oktober 2026.

Provinsi Sumatera Barat disorot sebagai wilayah dengan konsentrasi kenaikan yang paling menonjol apabila ditinjau berdasarkan pengelompokan wilayah pulau.

iklan-view

"Kalau kita cermati berdasarkan kelompok pulaunya, di Pulau Sumatera yang cukup banyak mengalami peningkatan kabupaten/kota, kondisi Oktober minggu keempat 2026, yaitu di Sumatera Barat," ujar Ateng seperti dilansir antaranews, Senin (26/10/2026).

Catatan lembaga statistik menunjukkan ada enam kabupaten atau kota di Sumatera Barat yang menghadapi kenaikan angka indeks tersebut. Kabupaten Pesisir Selatan memegang rekor tertinggi di provinsi tersebut dengan persentase mencapai 5,68 persen.

Wilayah lain di Sumatera Barat yang turut terdampak meliputi Kabupaten Padang Pariaman sebesar 5,47 persen dan Kabupaten Agam sebesar 4,61 persen. Pergerakan serupa juga terpantau di Kabupaten Payakumbuh, Kabupaten Tanah Datar, serta Kota Sawahlunto.

Di luar wilayah Minangkabau, tren kenaikan juga merambah Provinsi Jambi melalui Kabupaten Sarolangun yang mencatat angka 5,64 persen serta Kabupaten Muaro Jambi yang bertambah 3,68 persen.

Bergeser ke Pulau Jawa, pergerakan naik paling dominan terpusat di kawasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Secara rinci, enam daerah tingkat kabupaten/kota di Jawa Timur serta empat wilayah di Jawa Tengah mengalami situasi serupa.

Kabupaten Blitar mencatatkan kenaikan 3,04 persen yang diikuti oleh Kabupaten Lamongan sebesar 2,61 persen. Sementara itu, wilayah Jawa Tengah diwakili oleh Kabupaten Purbalingga dengan persentase sebesar 2,30 persen.

Faktor pendorong utama dari tren kenaikan harga di berbagai kawasan tersebut bersumber dari komoditas cabai merah dan cabai rawit. Kendati demikian, beberapa wilayah turut dipengaruhi oleh pergerakan harga daging ayam ras serta daging sapi.

Jika dikalkulasikan secara tingkat provinsi, terdapat tiga daerah yang mencatatkan angka pertumbuhan di atas tiga persen pada minggu keempat bulan Oktober bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Barat.

Empat provinsi lainnya mencatatkan angka kisaran dua persen, yang terdiri atas Sulawesi Tengah, Jambi, Sulawesi Selatan, serta Maluku.

Sebaliknya, pergerakan koreksi atau penurunan terdalam terjadi di wilayah timur, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, yang menyusut hingga 5,23 persen. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur juga mengalami penurunan sebesar 1,16 persen.

Wilayah Pulau Sumatera bagian utara tidak luput dari tren penurunan, khususnya di Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Utara, serta Kabupaten Labuhanbatu Utara pada rentang waktu yang sama.

Berdasarkan sebaran komoditas secara nasional, lonjakan harga cabai merah tercatat berdampak pada 327 kabupaten dan kota. Komoditas cabai rawit menyusul dan memengaruhi 269 wilayah.

Komoditas beras tercatat memicu kenaikan pada 138 kabupaten dan kota, yang menunjukkan angka peningkatan dari posisi minggu sebelumnya yang berada di angka 134 daerah.

Sebaliknya, komoditas bawang merah justru mengalami koreksi harga di 187 kabupaten dan kota. Komoditas bawang putih juga menunjukkan penurunan serupa di 183 wilayah.

Ateng menambahkan catatan khusus mengenai komoditas pangan pokok meskipun pergerakan angkanya tidak terlalu besar.

"Ateng menambahkan, meskipun perubahan IPH beras dan minyak goreng relatif rendah, level harga kedua komoditas tersebut masih perlu mendapat perhatian," tutup keterangan tersebut.

Home / Ekonomi
BPS Ungkap Ratusan Daerah Alami Konstraksi Harga, Cabai Jadi Pemicu Utama
Editor: putrajaya
Rubrik: ekonomi | 26 Oktober 2026 | 12:00:00
BPS Ungkap Ratusan Daerah Alami Konstraksi Harga, Cabai Jadi Pemicu Utama
Seorang pedagang cabai di Pasar Raya Kota Pekanbaru terlihat sedang melayani seorang pembeli ditengah gejolak harga yang terus merangkak naik. (Foto: langgam)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik menyampaikan laporan terkait dinamika harga di berbagai daerah dalam agenda Rapat Pengendalian Inflasi Daerah yang diselenggarakan secara daring di Jakarta pada hari Senin (26/10/2026).

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan bahwa eskalasi Indeks Perkembangan Harga terjadi di 309 kabupaten serta kota pada periode minggu keempat Oktober 2026.

Provinsi Sumatera Barat disorot sebagai wilayah dengan konsentrasi kenaikan yang paling menonjol apabila ditinjau berdasarkan pengelompokan wilayah pulau.

"Kalau kita cermati berdasarkan kelompok pulaunya, di Pulau Sumatera yang cukup banyak mengalami peningkatan kabupaten/kota, kondisi Oktober minggu keempat 2026, yaitu di Sumatera Barat," ujar Ateng seperti dilansir antaranews, Senin (26/10/2026).

Catatan lembaga statistik menunjukkan ada enam kabupaten atau kota di Sumatera Barat yang menghadapi kenaikan angka indeks tersebut. Kabupaten Pesisir Selatan memegang rekor tertinggi di provinsi tersebut dengan persentase mencapai 5,68 persen.

Wilayah lain di Sumatera Barat yang turut terdampak meliputi Kabupaten Padang Pariaman sebesar 5,47 persen dan Kabupaten Agam sebesar 4,61 persen. Pergerakan serupa juga terpantau di Kabupaten Payakumbuh, Kabupaten Tanah Datar, serta Kota Sawahlunto.

Di luar wilayah Minangkabau, tren kenaikan juga merambah Provinsi Jambi melalui Kabupaten Sarolangun yang mencatat angka 5,64 persen serta Kabupaten Muaro Jambi yang bertambah 3,68 persen.

Bergeser ke Pulau Jawa, pergerakan naik paling dominan terpusat di kawasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Secara rinci, enam daerah tingkat kabupaten/kota di Jawa Timur serta empat wilayah di Jawa Tengah mengalami situasi serupa.

Kabupaten Blitar mencatatkan kenaikan 3,04 persen yang diikuti oleh Kabupaten Lamongan sebesar 2,61 persen. Sementara itu, wilayah Jawa Tengah diwakili oleh Kabupaten Purbalingga dengan persentase sebesar 2,30 persen.

Faktor pendorong utama dari tren kenaikan harga di berbagai kawasan tersebut bersumber dari komoditas cabai merah dan cabai rawit. Kendati demikian, beberapa wilayah turut dipengaruhi oleh pergerakan harga daging ayam ras serta daging sapi.

Jika dikalkulasikan secara tingkat provinsi, terdapat tiga daerah yang mencatatkan angka pertumbuhan di atas tiga persen pada minggu keempat bulan Oktober bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Barat.

Empat provinsi lainnya mencatatkan angka kisaran dua persen, yang terdiri atas Sulawesi Tengah, Jambi, Sulawesi Selatan, serta Maluku.

Sebaliknya, pergerakan koreksi atau penurunan terdalam terjadi di wilayah timur, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, yang menyusut hingga 5,23 persen. Kabupaten Bolaang Mongondow Timur juga mengalami penurunan sebesar 1,16 persen.

Wilayah Pulau Sumatera bagian utara tidak luput dari tren penurunan, khususnya di Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Utara, serta Kabupaten Labuhanbatu Utara pada rentang waktu yang sama.

Berdasarkan sebaran komoditas secara nasional, lonjakan harga cabai merah tercatat berdampak pada 327 kabupaten dan kota. Komoditas cabai rawit menyusul dan memengaruhi 269 wilayah.

Komoditas beras tercatat memicu kenaikan pada 138 kabupaten dan kota, yang menunjukkan angka peningkatan dari posisi minggu sebelumnya yang berada di angka 134 daerah.

Sebaliknya, komoditas bawang merah justru mengalami koreksi harga di 187 kabupaten dan kota. Komoditas bawang putih juga menunjukkan penurunan serupa di 183 wilayah.

Ateng menambahkan catatan khusus mengenai komoditas pangan pokok meskipun pergerakan angkanya tidak terlalu besar.

"Ateng menambahkan, meskipun perubahan IPH beras dan minyak goreng relatif rendah, level harga kedua komoditas tersebut masih perlu mendapat perhatian," tutup keterangan tersebut.