logo
Kanit Binmas Polsek Payung Sekaki Sambangi Kebun Daun Ubi Warga, Lahan Sempit Ja Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabar dari Tanah Suci: Tangis Haru Jemaah Pecah Saat Dikunjungi Wawako Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Bupati Afni Gandeng Eks Mendikbud Mohammad Nuh, Siak Bidik Universitas NU Pertam Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Aksi Begal Makin Brutal, Seorang Polisi Jadi Korban, Kapolda Keluarkan Perintah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DJP Riau Sita 16 Aset Penunggak Pajak Senilai Rp2,95 Miliar di Pekanbaru, Kendar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Tragis! Pelajar 13 Tahun Meregang Nyawa Usai Jatuh Saat Salip Dump Truck di Pala Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp20 Ribu, Buyback Ikut Melemah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Belasan Ribu Ijazah SMA-SMK Riau Mengendap di Sekolah, Kajian Ombudsman RI Temuk Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Keuangan
Efek Geopolitik Timur Tengah, Rupiah Tergelincir di Awal Perdagangan
Ilustrasi. Rupiah loyo di awal perdagangan pekan ini.
Efek Geopolitik Timur Tengah, Rupiah Tergelincir di Awal Perdagangan
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
11 Mei 2026 | 12:24:09

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada awal pekan ini. Mata uang Garuda melemah 4 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.386 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.382 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global setelah pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan menemui jalan buntu. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu kenaikan harga minyak dunia.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah masih berada dalam tekanan akibat sentimen eksternal tersebut.

“Rupiah diperkirakan akan melemah seiring menguatnya dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia menyusul tanda-tanda pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu,” ujar Lukman Leong, dikutip dari Antara, Senin (11/5/2026).

iklan-view

Mengutip Sputnik, Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan Washington karena dianggap memuat tuntutan berlebihan dari AS.

Sebelumnya, kantor berita Iran ISNA melaporkan bahwa respons Teheran terhadap proposal AS difokuskan pada upaya mengakhiri perang serta menjamin keamanan pelayaran di Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian tersebut “tidak dapat diterima”.

Media Iran, Press TV, melaporkan bahwa Teheran menuntut AS membayar kompensasi atas kerugian perang yang dialami Iran.

Awal Mei lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa Teheran telah menerima respons Washington terhadap proposal perdamaian 14 poin yang diajukan Iran melalui perantara Pakistan.

Sementara itu, kantor berita Tasnim pada Minggu (11/5) melaporkan usulan terbaru Iran dalam negosiasi lanjutan dengan AS mencakup pencabutan sanksi ekonomi, kontrol penuh Iran atas Selat Hormuz, serta pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menanti rilis data survei kepercayaan konsumen yang diperkirakan turun dari 122,9 menjadi 122.

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS. (ntr)

Home / Ekonomi
Efek Geopolitik Timur Tengah, Rupiah Tergelincir di Awal Perdagangan
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 11 Mei 2026 | 12:24:09
Efek Geopolitik Timur Tengah, Rupiah Tergelincir di Awal Perdagangan
Ilustrasi. Rupiah loyo di awal perdagangan pekan ini.

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada awal pekan ini. Mata uang Garuda melemah 4 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.386 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.382 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global setelah pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan menemui jalan buntu. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu kenaikan harga minyak dunia.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah masih berada dalam tekanan akibat sentimen eksternal tersebut.

“Rupiah diperkirakan akan melemah seiring menguatnya dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia menyusul tanda-tanda pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu,” ujar Lukman Leong, dikutip dari Antara, Senin (11/5/2026).

Mengutip Sputnik, Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan Washington karena dianggap memuat tuntutan berlebihan dari AS.

Sebelumnya, kantor berita Iran ISNA melaporkan bahwa respons Teheran terhadap proposal AS difokuskan pada upaya mengakhiri perang serta menjamin keamanan pelayaran di Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian tersebut “tidak dapat diterima”.

Media Iran, Press TV, melaporkan bahwa Teheran menuntut AS membayar kompensasi atas kerugian perang yang dialami Iran.

Awal Mei lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa Teheran telah menerima respons Washington terhadap proposal perdamaian 14 poin yang diajukan Iran melalui perantara Pakistan.

Sementara itu, kantor berita Tasnim pada Minggu (11/5) melaporkan usulan terbaru Iran dalam negosiasi lanjutan dengan AS mencakup pencabutan sanksi ekonomi, kontrol penuh Iran atas Selat Hormuz, serta pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menanti rilis data survei kepercayaan konsumen yang diperkirakan turun dari 122,9 menjadi 122.

Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS. (ntr)