logo
Kanit Binmas Polsek Payung Sekaki Sambangi Kebun Daun Ubi Warga, Lahan Sempit Ja Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabar dari Tanah Suci: Tangis Haru Jemaah Pecah Saat Dikunjungi Wawako Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Bupati Afni Gandeng Eks Mendikbud Mohammad Nuh, Siak Bidik Universitas NU Pertam Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Aksi Begal Makin Brutal, Seorang Polisi Jadi Korban, Kapolda Keluarkan Perintah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DJP Riau Sita 16 Aset Penunggak Pajak Senilai Rp2,95 Miliar di Pekanbaru, Kendar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Tragis! Pelajar 13 Tahun Meregang Nyawa Usai Jatuh Saat Salip Dump Truck di Pala Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp20 Ribu, Buyback Ikut Melemah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Belasan Ribu Ijazah SMA-SMK Riau Mengendap di Sekolah, Kajian Ombudsman RI Temuk Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Keuangan
Iran Tolak Proposal Damai AS, Rupiah Terpukul ke Rp17.414 per Dolar
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (Foto: KJC)
Iran Tolak Proposal Damai AS, Rupiah Terpukul ke Rp17.414 per Dolar
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
11 Mei 2026 | 19:05:23

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan akibat memanasnya tensi geopolitik global. Pada penutupan perdagangan Senin (11/5/2026), rupiah melemah 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.414 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.382 per dolar AS.

Pelemahan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar setelah Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut memicu aksi “risk-off” di pasar keuangan global, mendorong investor memburu aset aman seperti dolar AS dan meninggalkan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar merespons keras memburuknya hubungan Washington dan Teheran yang berpotensi memperpanjang konflik di Timur Tengah.

“Presiden AS Donald Trump menyebut respons Iran terhadap proposal damai AS sama sekali tidak dapat diterima. Pernyataan itu meningkatkan risiko geopolitik global,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta.

iklan-view

Pernyataan tersebut sekaligus memupus harapan pasar terhadap meredanya konflik dalam waktu dekat, terutama di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Dalam proposalnya, AS meminta Iran menghentikan aktivitas pengayaan uranium selama 20 tahun, menghapus cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi, serta membongkar fasilitas nuklir utama. Sebagai imbalannya, Washington menawarkan pencabutan sanksi ekonomi dan penghentian aksi militer.

Namun Iran mengajukan syarat berbeda. Teheran meminta seluruh sanksi dicabut, penghentian kehadiran militer laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, serta pengakuan atas hak Iran melanjutkan sebagian program nuklirnya.

Laporan Wall Street Journal menyebut Iran juga menawarkan pengurangan sebagian stok uranium yang diperkaya tinggi dan memindahkan sisanya ke negara ketiga.

Menurut Ibrahim, perhatian investor kini tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

“Pelaku pasar tetap fokus pada Selat Hormuz yang hingga kini masih berada dalam situasi ketat sejak konflik pecah,” katanya.

Situasi geopolitik tersebut juga terjadi menjelang kunjungan Donald Trump ke China akhir pekan ini. Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing untuk membahas isu perdagangan, Taiwan, hingga konflik Iran.

China dinilai memiliki posisi strategis dalam upaya diplomasi karena hubungan Beijing dengan Teheran relatif dekat.

Dari dalam negeri, sentimen ekonomi sebenarnya masih cukup positif. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) periode April 2026 menunjukkan tingkat optimisme masyarakat tetap terjaga.

Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada di level 123,0, naik tipis dibandingkan Maret 2026 sebesar 122,9.

“Indeks di atas 100 menunjukkan konsumen masih optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional,” ujar Ibrahim.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin turut melemah ke posisi Rp17.415 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.375 per dolar AS. (kjc)

Home / Ekonomi
Iran Tolak Proposal Damai AS, Rupiah Terpukul ke Rp17.414 per Dolar
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 11 Mei 2026 | 19:05:23
Iran Tolak Proposal Damai AS, Rupiah Terpukul ke Rp17.414 per Dolar
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (Foto: KJC)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan akibat memanasnya tensi geopolitik global. Pada penutupan perdagangan Senin (11/5/2026), rupiah melemah 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.414 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.382 per dolar AS.

Pelemahan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar setelah Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut memicu aksi “risk-off” di pasar keuangan global, mendorong investor memburu aset aman seperti dolar AS dan meninggalkan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar merespons keras memburuknya hubungan Washington dan Teheran yang berpotensi memperpanjang konflik di Timur Tengah.

“Presiden AS Donald Trump menyebut respons Iran terhadap proposal damai AS sama sekali tidak dapat diterima. Pernyataan itu meningkatkan risiko geopolitik global,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta.

Pernyataan tersebut sekaligus memupus harapan pasar terhadap meredanya konflik dalam waktu dekat, terutama di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Dalam proposalnya, AS meminta Iran menghentikan aktivitas pengayaan uranium selama 20 tahun, menghapus cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi, serta membongkar fasilitas nuklir utama. Sebagai imbalannya, Washington menawarkan pencabutan sanksi ekonomi dan penghentian aksi militer.

Namun Iran mengajukan syarat berbeda. Teheran meminta seluruh sanksi dicabut, penghentian kehadiran militer laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, serta pengakuan atas hak Iran melanjutkan sebagian program nuklirnya.

Laporan Wall Street Journal menyebut Iran juga menawarkan pengurangan sebagian stok uranium yang diperkaya tinggi dan memindahkan sisanya ke negara ketiga.

Menurut Ibrahim, perhatian investor kini tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

“Pelaku pasar tetap fokus pada Selat Hormuz yang hingga kini masih berada dalam situasi ketat sejak konflik pecah,” katanya.

Situasi geopolitik tersebut juga terjadi menjelang kunjungan Donald Trump ke China akhir pekan ini. Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing untuk membahas isu perdagangan, Taiwan, hingga konflik Iran.

China dinilai memiliki posisi strategis dalam upaya diplomasi karena hubungan Beijing dengan Teheran relatif dekat.

Dari dalam negeri, sentimen ekonomi sebenarnya masih cukup positif. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) periode April 2026 menunjukkan tingkat optimisme masyarakat tetap terjaga.

Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada di level 123,0, naik tipis dibandingkan Maret 2026 sebesar 122,9.

“Indeks di atas 100 menunjukkan konsumen masih optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional,” ujar Ibrahim.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin turut melemah ke posisi Rp17.415 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.375 per dolar AS. (kjc)