logo
Polemik SPMB Siak Hulu, DPRD Kampar Soroti Kinerja Disdikpora hingga Dugaan Inte Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polda Riau Bongkar Modus Pengurangan Isi Truk Tangki BBM Bersubsidi, Tiga Orang Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Menhut Raja Juli Bungkam Soal Amplop Suhardiman, KPK Tegaskan Sudah Masuk Ranah Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Menguat ke Rp17.888 per Dolar AS, Kekhawatiran Defisit APBN Mulai Mereda Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Dua Residivis Spesialis Bobol Ruko Kosong Ditangkap, Beraksi 12 Kali di Pekanbar Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kabar Baik untuk Petani Riau: Harga Sawit Naik, TBS Plasma Sentuh Rp3.930/Kg, Sw Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sebulan Dua Korban Tewas, Kini Harimau Sumatera Nyaris Menerkam Pekerja Sawit di Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Diduga Mabuk, Pengendara Motor Tabrak Pemotor Lain di Jalan Tengku Bey Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
15.031,58 Hektare Lahan di Riau Terbakar, Ujian Besar Pemerintah Hadapi Ancaman El Nino
Riau jadi salah satu daerah prioritas pengendalian Karhutla tahun 2026. Periode Januari sampai Juni 2026, BNPB mencatat sekitar 15 ribu hektare karhutla di Riau. (Foto: CNN Indonesia)
15.031,58 Hektare Lahan di Riau Terbakar, Ujian Besar Pemerintah Hadapi Ancaman El Nino
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: Boy Surya Hamta
2 Juni 2026 | 14:24:44

PEKANBARU-Ketika sebagian wilayah masih menikmati sisa musim hujan, ancaman yang lebih besar diam-diam tumbuh di berbagai daerah di Riau. Kebakaran hutan dan lahan telah menghanguskan lebih dari 15 ribu hektare area sejak awal tahun 2026.

Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, luas karhutla di Riau mencapai 15.031,58 hektare hingga 1 Juni 2026. Capaian tersebut menjadi peringatan dini bahwa provinsi ini kembali memasuki fase rawan kebakaran menjelang musim kemarau.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, Riau masih menjadi salah satu daerah prioritas nasional dalam penanganan karhutla. Luas lahan terbakar terus bertambah secara fluktuatif di sejumlah kabupaten.

Data Sipongi Kementerian Kehutanan menunjukkan beberapa kejadian kebakaran terbaru terjadi di Bukit Lumut, Desa Cipang Kiri Hulu, Kabupaten Rokan Hulu dengan luas sekitar lima hektare. Kebakaran juga melanda wilayah Rantau Bais, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir seluas 44,4 hektare.

iklan-view

Sementara itu, satu hektare lahan lainnya terbakar di Kelurahan Kandis Kota, Kabupaten Siak. Meski terlihat kecil secara terpisah, akumulasi kejadian serupa menjadi penyumbang utama meningkatnya luas karhutla di Riau sepanjang tahun ini.

Persoalan karhutla memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibanding sekadar lahan yang terbakar. Riau merupakan salah satu pusat perkebunan nasional yang memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi daerah dan ekspor Indonesia. Karena itu, kebakaran yang tidak terkendali berpotensi mengganggu produktivitas sektor perkebunan, aktivitas masyarakat hingga iklim investasi.

Selain kerugian ekonomi, ancaman kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian utama. Pengalaman bencana asap pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat dirasakan jauh melampaui lokasi kebakaran.

BNPB kini mendorong peningkatan kesiapsiagaan seluruh pihak, terutama memasuki masa transisi musim. Pemerintah daerah, perusahaan pemegang konsesi dan masyarakat diharapkan memperkuat patroli serta deteksi dini titik api.

Langkah antisipasi semakin penting setelah BMKG memproyeksikan peluang munculnya fenomena El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026. Fenomena tersebut diperkirakan meningkatkan risiko kekeringan dengan peluang mencapai 50 hingga 80 persen.

Jika prediksi itu terjadi, maka wilayah-wilayah yang memiliki lahan gambut akan menghadapi kerentanan lebih tinggi terhadap kebakaran. Karena itu, keberhasilan Riau menekan karhutla tahun ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memadamkan api, tetapi juga efektivitas pencegahan sebelum kebakaran terjadi.

Dengan lebih dari 15 ribu hektare lahan yang telah terbakar, semester kedua 2026 akan menjadi periode krusial bagi Riau untuk membuktikan bahwa pengendalian karhutla tidak lagi sekadar respons darurat, melainkan agenda strategis pembangunan daerah yang berkelanjutan. (cnn)

Home / News
15.031,58 Hektare Lahan di Riau Terbakar, Ujian Besar Pemerintah Hadapi Ancaman El Nino
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: Boy Surya Hamta
Rubrik: news | 2 Juni 2026 | 14:24:44
15.031,58 Hektare Lahan di Riau Terbakar, Ujian Besar Pemerintah Hadapi Ancaman El Nino
Riau jadi salah satu daerah prioritas pengendalian Karhutla tahun 2026. Periode Januari sampai Juni 2026, BNPB mencatat sekitar 15 ribu hektare karhutla di Riau. (Foto: CNN Indonesia)

PEKANBARU-Ketika sebagian wilayah masih menikmati sisa musim hujan, ancaman yang lebih besar diam-diam tumbuh di berbagai daerah di Riau. Kebakaran hutan dan lahan telah menghanguskan lebih dari 15 ribu hektare area sejak awal tahun 2026.

Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, luas karhutla di Riau mencapai 15.031,58 hektare hingga 1 Juni 2026. Capaian tersebut menjadi peringatan dini bahwa provinsi ini kembali memasuki fase rawan kebakaran menjelang musim kemarau.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, Riau masih menjadi salah satu daerah prioritas nasional dalam penanganan karhutla. Luas lahan terbakar terus bertambah secara fluktuatif di sejumlah kabupaten.

Data Sipongi Kementerian Kehutanan menunjukkan beberapa kejadian kebakaran terbaru terjadi di Bukit Lumut, Desa Cipang Kiri Hulu, Kabupaten Rokan Hulu dengan luas sekitar lima hektare. Kebakaran juga melanda wilayah Rantau Bais, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir seluas 44,4 hektare.

Sementara itu, satu hektare lahan lainnya terbakar di Kelurahan Kandis Kota, Kabupaten Siak. Meski terlihat kecil secara terpisah, akumulasi kejadian serupa menjadi penyumbang utama meningkatnya luas karhutla di Riau sepanjang tahun ini.

Persoalan karhutla memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibanding sekadar lahan yang terbakar. Riau merupakan salah satu pusat perkebunan nasional yang memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi daerah dan ekspor Indonesia. Karena itu, kebakaran yang tidak terkendali berpotensi mengganggu produktivitas sektor perkebunan, aktivitas masyarakat hingga iklim investasi.

Selain kerugian ekonomi, ancaman kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian utama. Pengalaman bencana asap pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat dirasakan jauh melampaui lokasi kebakaran.

BNPB kini mendorong peningkatan kesiapsiagaan seluruh pihak, terutama memasuki masa transisi musim. Pemerintah daerah, perusahaan pemegang konsesi dan masyarakat diharapkan memperkuat patroli serta deteksi dini titik api.

Langkah antisipasi semakin penting setelah BMKG memproyeksikan peluang munculnya fenomena El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026. Fenomena tersebut diperkirakan meningkatkan risiko kekeringan dengan peluang mencapai 50 hingga 80 persen.

Jika prediksi itu terjadi, maka wilayah-wilayah yang memiliki lahan gambut akan menghadapi kerentanan lebih tinggi terhadap kebakaran. Karena itu, keberhasilan Riau menekan karhutla tahun ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memadamkan api, tetapi juga efektivitas pencegahan sebelum kebakaran terjadi.

Dengan lebih dari 15 ribu hektare lahan yang telah terbakar, semester kedua 2026 akan menjadi periode krusial bagi Riau untuk membuktikan bahwa pengendalian karhutla tidak lagi sekadar respons darurat, melainkan agenda strategis pembangunan daerah yang berkelanjutan. (cnn)