
MANILA – Korban jiwa akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang lepas pantai Pulau Mindanao, Filipina selatan, Senin (8/6/2026), terus bertambah. Hingga Senin petang, sedikitnya 15 orang dilaporkan meninggal dunia dan 129 lainnya mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.
Kantor Pertahanan Sipil Filipina menyebut sebagian besar korban luka mengalami cedera setelah tertimpa reruntuhan bangunan yang roboh saat gempa mengguncang. Pemerintah setempat masih melakukan pendataan sehingga jumlah korban maupun kerusakan diperkirakan masih dapat bertambah.
Selain menelan korban jiwa, gempa kuat itu juga menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah Mindanao, terutama di sekitar Kota General Santos dan Provinsi Sarangani. Sebuah bangunan yang menaungi restoran cepat saji di General Santos dilaporkan runtuh. Rekaman video yang dibagikan pemerintah kota memperlihatkan warga berhamburan menyelamatkan diri saat awan debu tebal menyelimuti lokasi kejadian.
Dampak gempa juga memaksa salah satu rumah sakit di General Santos dievakuasi setelah ditemukan retakan pada lantai-lantai bagian atas bangunan. Sementara itu, salah satu gedung di Universitas Notre Dame of Dadiangas dilaporkan ambruk. Beruntung tidak ada aktivitas di dalam gedung saat peristiwa terjadi.

Kerusakan juga terlihat di berbagai kawasan Sarangani. Foto-foto yang dirilis pemerintah provinsi menunjukkan bagian depan sejumlah toko mengalami kerusakan, papan reklame roboh, kaca-kaca pecah, serta puing-puing beton berserakan di sejumlah titik.
Badan seismologi Filipina mencatat sedikitnya sembilan gempa susulan terjadi setelah gempa utama. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,7, memicu kekhawatiran masyarakat dan menghambat proses evakuasi serta penilaian kerusakan.
Menanggapi bencana tersebut, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan respons darurat penuh di Mindanao. Pemerintah pusat mengerahkan bantuan logistik, menyiapkan pusat-pusat evakuasi, serta mengaktifkan berbagai lembaga untuk mendukung operasi penyelamatan dan penanganan korban.
Gempa yang terjadi pada kedalaman sekitar 50 kilometer itu berpusat sekitar 58 kilometer dari Kota General Santos. Getarannya tidak hanya dirasakan di Filipina, tetapi juga mencapai wilayah Malaysia Timur serta sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara. Peringatan tsunami sempat dikeluarkan oleh sejumlah negara di kawasan sebelum akhirnya situasi terus dipantau oleh otoritas terkait.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan hingga kini tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam bencana tersebut. Bersama Konsulat Jenderal RI di Davao, pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan situasi dan kondisi WNI yang berada di wilayah terdampak.
“Sejauh ini belum terdapat informasi adanya WNI atau pekerja migran Indonesia terdampak dalam gempa tersebut,” kata Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah. (vvc)






MANILA – Korban jiwa akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang lepas pantai Pulau Mindanao, Filipina selatan, Senin (8/6/2026), terus bertambah. Hingga Senin petang, sedikitnya 15 orang dilaporkan meninggal dunia dan 129 lainnya mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.
Kantor Pertahanan Sipil Filipina menyebut sebagian besar korban luka mengalami cedera setelah tertimpa reruntuhan bangunan yang roboh saat gempa mengguncang. Pemerintah setempat masih melakukan pendataan sehingga jumlah korban maupun kerusakan diperkirakan masih dapat bertambah.
Selain menelan korban jiwa, gempa kuat itu juga menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah Mindanao, terutama di sekitar Kota General Santos dan Provinsi Sarangani. Sebuah bangunan yang menaungi restoran cepat saji di General Santos dilaporkan runtuh. Rekaman video yang dibagikan pemerintah kota memperlihatkan warga berhamburan menyelamatkan diri saat awan debu tebal menyelimuti lokasi kejadian.
Dampak gempa juga memaksa salah satu rumah sakit di General Santos dievakuasi setelah ditemukan retakan pada lantai-lantai bagian atas bangunan. Sementara itu, salah satu gedung di Universitas Notre Dame of Dadiangas dilaporkan ambruk. Beruntung tidak ada aktivitas di dalam gedung saat peristiwa terjadi.
Kerusakan juga terlihat di berbagai kawasan Sarangani. Foto-foto yang dirilis pemerintah provinsi menunjukkan bagian depan sejumlah toko mengalami kerusakan, papan reklame roboh, kaca-kaca pecah, serta puing-puing beton berserakan di sejumlah titik.
Badan seismologi Filipina mencatat sedikitnya sembilan gempa susulan terjadi setelah gempa utama. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,7, memicu kekhawatiran masyarakat dan menghambat proses evakuasi serta penilaian kerusakan.
Menanggapi bencana tersebut, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan respons darurat penuh di Mindanao. Pemerintah pusat mengerahkan bantuan logistik, menyiapkan pusat-pusat evakuasi, serta mengaktifkan berbagai lembaga untuk mendukung operasi penyelamatan dan penanganan korban.
Gempa yang terjadi pada kedalaman sekitar 50 kilometer itu berpusat sekitar 58 kilometer dari Kota General Santos. Getarannya tidak hanya dirasakan di Filipina, tetapi juga mencapai wilayah Malaysia Timur serta sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara. Peringatan tsunami sempat dikeluarkan oleh sejumlah negara di kawasan sebelum akhirnya situasi terus dipantau oleh otoritas terkait.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan hingga kini tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam bencana tersebut. Bersama Konsulat Jenderal RI di Davao, pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan situasi dan kondisi WNI yang berada di wilayah terdampak.
“Sejauh ini belum terdapat informasi adanya WNI atau pekerja migran Indonesia terdampak dalam gempa tersebut,” kata Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah. (vvc)