
ROKAN HILIR-Ritual Bakar Tongkang di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, kembali ditetapkan sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, program unggulan Kementerian Pariwisata yang menghimpun berbagai agenda budaya terbaik di Indonesia.
Penetapan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memperkuat dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
Masuknya kembali Bakar Tongkang dalam KEN 2026 menjadi pengakuan pemerintah pusat terhadap nilai budaya yang dimiliki tradisi masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi. Selain menjadi warisan budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun, ritual tersebut dinilai memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Melalui program KEN, Kementerian Pariwisata memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan event budaya, mulai dari promosi nasional, publikasi, pendampingan pelaksanaan, hingga penyediaan berbagai fasilitas pendukung. Dukungan tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan promosi sehingga semakin banyak wisatawan memilih Bagansiapiapi sebagai destinasi wisata budaya.

Puncak Ritual Bakar Tongkang, Rabu (1/7/2026) berlangsung meriah. Ribuan masyarakat dari berbagai daerah memadati Kota Bagansiapiapi untuk menyaksikan prosesi pembakaran replika kapal tongkang yang menjadi inti dari tradisi tersebut.
Selain memiliki nilai spiritual dan budaya yang kuat, penyelenggaraan Bakar Tongkang juga memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Selama pelaksanaan event, tingkat hunian hotel meningkat, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memperoleh tambahan pendapatan, sementara sektor transportasi, kuliner, hingga jasa wisata turut merasakan peningkatan aktivitas.
Analis Kebijakan Ahli Muda Kementerian Pariwisata, Kusdiana Lusi Kartikasari mengatakan, masuknya kembali Bakar Tongkang ke dalam Karisma Event Nusantara 2026 menunjukkan bahwa tradisi yang tumbuh dari masyarakat tetap memiliki posisi penting dalam pengembangan pariwisata nasional.
"Kami sangat bangga Bakar Tongkang kembali menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara 2026. Ini menunjukkan bahwa tradisi yang tumbuh dari masyarakat memiliki nilai budaya yang luar biasa dan layak dipromosikan ke tingkat nasional bahkan internasional. Kami berharap semakin banyak wisatawan datang ke Bagansiapiapi untuk menyaksikan langsung keunikan tradisi ini serta merasakan kekayaan budaya Indonesia," ujarnya.
Menurut Kusdiana, Kementerian Pariwisata akan terus memperkuat dukungan terhadap penyelenggaraan event melalui promosi yang lebih luas, peningkatan publikasi, serta penguatan kualitas pelaksanaan agar mampu memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan.
Ia menilai keberhasilan sebuah event budaya tidak hanya diukur dari pelaksanaan ritualnya, tetapi juga dari kemampuan daerah memanfaatkan momentum tersebut untuk meningkatkan daya saing destinasi wisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
"Bakar Tongkang bukan hanya kebanggaan masyarakat Rokan Hilir, tetapi juga kebanggaan Indonesia. Semangat masyarakat dalam menjaga tradisi ini menjadi modal besar untuk menjadikan Bakar Tongkang sebagai destinasi wisata budaya kelas dunia. Kami optimistis event ini akan terus berkembang dan memberikan manfaat ekonomi yang semakin besar bagi masyarakat," katanya.
Meski kembali memperoleh pengakuan nasional melalui KEN 2026, penyelenggaraan Bakar Tongkang tahun ini dinilai memiliki dinamika berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan pantauan di lapangan, kepadatan pengunjung di sejumlah titik kegiatan terlihat tidak seramai pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian berbagai pihak, terutama dalam upaya mempertahankan posisi Bakar Tongkang sebagai salah satu agenda wisata budaya unggulan nasional. Penguatan strategi promosi, perluasan publikasi digital, serta kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku pariwisata dan masyarakat dinilai penting agar jumlah kunjungan wisatawan kembali meningkat pada penyelenggaraan berikutnya.
Keberadaan Bakar Tongkang dalam kalender Karisma Event Nusantara juga membuka peluang promosi yang lebih luas karena menjadi bagian dari agenda nasional yang dipasarkan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan status tersebut, event memiliki peluang lebih besar menjangkau pasar wisata melalui berbagai kanal promosi resmi pemerintah.
Terlepas dari jumlah pengunjung yang dinilai belum sepadat tahun-tahun sebelumnya, prosesi Bakar Tongkang tetap berlangsung khidmat dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Ribuan warga dari berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya membaur mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mencerminkan nilai toleransi dan keberagaman yang selama ini menjadi ciri khas Bagansiapiapi.
Kembalinya Bakar Tongkang ke dalam Karisma Event Nusantara 2026 diharapkan menjadi momentum memperkuat posisi Kabupaten Rokan Hilir sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia.
Dukungan berkelanjutan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, panitia penyelenggara, serta partisipasi masyarakat dinilai menjadi faktor penting agar tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun itu terus berkembang, menarik lebih banyak wisatawan, dan memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi daerah. (rom)






ROKAN HILIR-Ritual Bakar Tongkang di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, kembali ditetapkan sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, program unggulan Kementerian Pariwisata yang menghimpun berbagai agenda budaya terbaik di Indonesia.
Penetapan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memperkuat dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
Masuknya kembali Bakar Tongkang dalam KEN 2026 menjadi pengakuan pemerintah pusat terhadap nilai budaya yang dimiliki tradisi masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi. Selain menjadi warisan budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun, ritual tersebut dinilai memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Melalui program KEN, Kementerian Pariwisata memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan event budaya, mulai dari promosi nasional, publikasi, pendampingan pelaksanaan, hingga penyediaan berbagai fasilitas pendukung. Dukungan tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan promosi sehingga semakin banyak wisatawan memilih Bagansiapiapi sebagai destinasi wisata budaya.
Puncak Ritual Bakar Tongkang, Rabu (1/7/2026) berlangsung meriah. Ribuan masyarakat dari berbagai daerah memadati Kota Bagansiapiapi untuk menyaksikan prosesi pembakaran replika kapal tongkang yang menjadi inti dari tradisi tersebut.
Selain memiliki nilai spiritual dan budaya yang kuat, penyelenggaraan Bakar Tongkang juga memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Selama pelaksanaan event, tingkat hunian hotel meningkat, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memperoleh tambahan pendapatan, sementara sektor transportasi, kuliner, hingga jasa wisata turut merasakan peningkatan aktivitas.
Analis Kebijakan Ahli Muda Kementerian Pariwisata, Kusdiana Lusi Kartikasari mengatakan, masuknya kembali Bakar Tongkang ke dalam Karisma Event Nusantara 2026 menunjukkan bahwa tradisi yang tumbuh dari masyarakat tetap memiliki posisi penting dalam pengembangan pariwisata nasional.
"Kami sangat bangga Bakar Tongkang kembali menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara 2026. Ini menunjukkan bahwa tradisi yang tumbuh dari masyarakat memiliki nilai budaya yang luar biasa dan layak dipromosikan ke tingkat nasional bahkan internasional. Kami berharap semakin banyak wisatawan datang ke Bagansiapiapi untuk menyaksikan langsung keunikan tradisi ini serta merasakan kekayaan budaya Indonesia," ujarnya.
Menurut Kusdiana, Kementerian Pariwisata akan terus memperkuat dukungan terhadap penyelenggaraan event melalui promosi yang lebih luas, peningkatan publikasi, serta penguatan kualitas pelaksanaan agar mampu memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan.
Ia menilai keberhasilan sebuah event budaya tidak hanya diukur dari pelaksanaan ritualnya, tetapi juga dari kemampuan daerah memanfaatkan momentum tersebut untuk meningkatkan daya saing destinasi wisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
"Bakar Tongkang bukan hanya kebanggaan masyarakat Rokan Hilir, tetapi juga kebanggaan Indonesia. Semangat masyarakat dalam menjaga tradisi ini menjadi modal besar untuk menjadikan Bakar Tongkang sebagai destinasi wisata budaya kelas dunia. Kami optimistis event ini akan terus berkembang dan memberikan manfaat ekonomi yang semakin besar bagi masyarakat," katanya.
Meski kembali memperoleh pengakuan nasional melalui KEN 2026, penyelenggaraan Bakar Tongkang tahun ini dinilai memiliki dinamika berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan pantauan di lapangan, kepadatan pengunjung di sejumlah titik kegiatan terlihat tidak seramai pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian berbagai pihak, terutama dalam upaya mempertahankan posisi Bakar Tongkang sebagai salah satu agenda wisata budaya unggulan nasional. Penguatan strategi promosi, perluasan publikasi digital, serta kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku pariwisata dan masyarakat dinilai penting agar jumlah kunjungan wisatawan kembali meningkat pada penyelenggaraan berikutnya.
Keberadaan Bakar Tongkang dalam kalender Karisma Event Nusantara juga membuka peluang promosi yang lebih luas karena menjadi bagian dari agenda nasional yang dipasarkan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan status tersebut, event memiliki peluang lebih besar menjangkau pasar wisata melalui berbagai kanal promosi resmi pemerintah.
Terlepas dari jumlah pengunjung yang dinilai belum sepadat tahun-tahun sebelumnya, prosesi Bakar Tongkang tetap berlangsung khidmat dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Ribuan warga dari berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya membaur mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mencerminkan nilai toleransi dan keberagaman yang selama ini menjadi ciri khas Bagansiapiapi.
Kembalinya Bakar Tongkang ke dalam Karisma Event Nusantara 2026 diharapkan menjadi momentum memperkuat posisi Kabupaten Rokan Hilir sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia.
Dukungan berkelanjutan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, panitia penyelenggara, serta partisipasi masyarakat dinilai menjadi faktor penting agar tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun itu terus berkembang, menarik lebih banyak wisatawan, dan memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi daerah. (rom)