
KABUN - Limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang selama ini hanya menumpuk di sekitar perkebunan kini mulai dilirik sebagai sumber ekonomi baru. Melalui kolaborasi Mahasiswa KKN Berdampak Universitas Riau (UNRI) Tahun 2026 bersama Tim Widya Erti Indonesia (WEI), masyarakat Desa Boncah Kesuma, Kecamatan Kabun, Kabupaten Rokan Hulu, diajak mengubah limbah sawit menjadi produk yang bernilai.
Program pemberdayaan tersebut menyasar Kelompok Wanita Tani (KWT), yang sebagian besar merupakan istri petani kelapa sawit swadaya yang telah menerapkan standar Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Membangun rumah jamur sebagai sarana percontohan budidaya jamur berbasis limbah tandan kosong kelapa sawit. (Foto: dok. KKN Unri)

Dalam kegiatan itu, para peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga praktik langsung mengolah tandan kosong kelapa sawit menjadi pupuk organik cair (POC), pupuk organik padat (POP), hingga media tanam untuk budidaya jamur merang.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal pelatihan. Mereka mengikuti setiap tahapan, mulai dari penyusunan tandan kosong sawit, penaburan dolomit dan dedak, hingga memahami teknik budidaya jamur merang yang memanfaatkan limbah perkebunan sebagai media tanam.
Sebagai bentuk pendampingan berkelanjutan, Tim WEI juga membangun sebuah rumah jamur di Desa Boncah Kesuma. Fasilitas ini menjadi lokasi percontohan sekaligus sarana belajar bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha budidaya jamur berbasis limbah kelapa sawit.
Ketua Tim WEI, Dicky H. Ponto, mengatakan limbah tandan kosong kelapa sawit memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomi.
"Melalui kolaborasi dengan mahasiswa KKN Berdampak Universitas Riau, kami ingin berbagi pengetahuan sekaligus mendampingi masyarakat agar mampu mengelola limbah perkebunan menjadi produk yang memberikan nilai tambah. Harapannya, POC, POP maupun rumah jamur ini dapat menjadi contoh nyata bahwa limbah sawit dapat dimanfaatkan secara produktif," ujarnya kepada Pekanbarutv.com, Rabu (15/7/2026).

Proses pembuatan POC oleh ibu ibu Kelompok Wanita tani. (Foto: dok. KKN Unri).
Sementara itu, Ketua Tim KKN Berdampak Universitas Riau Desa Boncah Kesuma, Habib Nanda Wirayuda, mengapresiasi sinergi yang terjalin bersama Tim WEI. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan secara langsung di tengah masyarakat.
Ia menilai kolaborasi ini tidak hanya memperkaya pengalaman mahasiswa, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat, khususnya Kelompok Wanita Tani, untuk mengembangkan usaha melalui produksi kompos, pupuk organik cair, pupuk organik padat, hingga budidaya jamur merang.

Foto bersama mahasiswa KKN Berdampak UNRI 2026, Tim Widya Erti dan masyarakat Desa BoncahKesuma setelah pelaksanaan kegiatan
Habib berharap sinergi antara mahasiswa, Tim WEI, pemerintah desa, dan masyarakat dapat terus berlanjut sehingga inovasi yang telah diperkenalkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata, tetapi berkembang menjadi usaha yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga.
Melalui kolaborasi tersebut, Desa Boncah Kesuma diharapkan dapat menjadi contoh pemanfaatan limbah perkebunan secara berkelanjutan. Limbah tandan kosong kelapa sawit yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini berpotensi menjadi sumber pendapatan baru sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. (**)






KABUN - Limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang selama ini hanya menumpuk di sekitar perkebunan kini mulai dilirik sebagai sumber ekonomi baru. Melalui kolaborasi Mahasiswa KKN Berdampak Universitas Riau (UNRI) Tahun 2026 bersama Tim Widya Erti Indonesia (WEI), masyarakat Desa Boncah Kesuma, Kecamatan Kabun, Kabupaten Rokan Hulu, diajak mengubah limbah sawit menjadi produk yang bernilai.
Program pemberdayaan tersebut menyasar Kelompok Wanita Tani (KWT), yang sebagian besar merupakan istri petani kelapa sawit swadaya yang telah menerapkan standar Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Membangun rumah jamur sebagai sarana percontohan budidaya jamur berbasis limbah tandan kosong kelapa sawit. (Foto: dok. KKN Unri)
Dalam kegiatan itu, para peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga praktik langsung mengolah tandan kosong kelapa sawit menjadi pupuk organik cair (POC), pupuk organik padat (POP), hingga media tanam untuk budidaya jamur merang.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal pelatihan. Mereka mengikuti setiap tahapan, mulai dari penyusunan tandan kosong sawit, penaburan dolomit dan dedak, hingga memahami teknik budidaya jamur merang yang memanfaatkan limbah perkebunan sebagai media tanam.
Sebagai bentuk pendampingan berkelanjutan, Tim WEI juga membangun sebuah rumah jamur di Desa Boncah Kesuma. Fasilitas ini menjadi lokasi percontohan sekaligus sarana belajar bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha budidaya jamur berbasis limbah kelapa sawit.
Ketua Tim WEI, Dicky H. Ponto, mengatakan limbah tandan kosong kelapa sawit memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomi.
"Melalui kolaborasi dengan mahasiswa KKN Berdampak Universitas Riau, kami ingin berbagi pengetahuan sekaligus mendampingi masyarakat agar mampu mengelola limbah perkebunan menjadi produk yang memberikan nilai tambah. Harapannya, POC, POP maupun rumah jamur ini dapat menjadi contoh nyata bahwa limbah sawit dapat dimanfaatkan secara produktif," ujarnya kepada Pekanbarutv.com, Rabu (15/7/2026).

Proses pembuatan POC oleh ibu ibu Kelompok Wanita tani. (Foto: dok. KKN Unri).
Sementara itu, Ketua Tim KKN Berdampak Universitas Riau Desa Boncah Kesuma, Habib Nanda Wirayuda, mengapresiasi sinergi yang terjalin bersama Tim WEI. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan secara langsung di tengah masyarakat.
Ia menilai kolaborasi ini tidak hanya memperkaya pengalaman mahasiswa, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat, khususnya Kelompok Wanita Tani, untuk mengembangkan usaha melalui produksi kompos, pupuk organik cair, pupuk organik padat, hingga budidaya jamur merang.

Foto bersama mahasiswa KKN Berdampak UNRI 2026, Tim Widya Erti dan masyarakat Desa BoncahKesuma setelah pelaksanaan kegiatan
Habib berharap sinergi antara mahasiswa, Tim WEI, pemerintah desa, dan masyarakat dapat terus berlanjut sehingga inovasi yang telah diperkenalkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata, tetapi berkembang menjadi usaha yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga.
Melalui kolaborasi tersebut, Desa Boncah Kesuma diharapkan dapat menjadi contoh pemanfaatan limbah perkebunan secara berkelanjutan. Limbah tandan kosong kelapa sawit yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini berpotensi menjadi sumber pendapatan baru sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. (**)