
PEKANBARU – Perlambatan ekonomi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan berbagai sektor usaha, termasuk bisnis mobil bekas di Kota Pekanbaru. Lesunya daya beli masyarakat membuat penjualan kendaraan roda empat bekas mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan periode sebelumnya.
Kondisi tersebut diungkapkan Sunoto, perwakilan Showroom Putra Jaya Mobil. Menurutnya, aktivitas penjualan saat ini jauh lebih sepi. Jika sebelumnya showroom mampu menjual beberapa unit mobil dalam waktu singkat, kini penjualan hanya berkisar satu hingga dua unit dalam periode tertentu.
"Penjualan memang turun cukup drastis. Masih ada yang membeli, tetapi jumlahnya jauh berkurang dibandingkan sebelumnya. Sekarang paling hanya satu atau dua unit yang terjual," ujar Sunoto, Selasa (14/7/2026).
Ia menilai melemahnya perputaran ekonomi menjadi faktor utama yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Keputusan membeli kendaraan kini tidak lagi menjadi prioritas bagi sebagian konsumen, terutama yang mengandalkan fasilitas pembiayaan.

Menariknya, pola transaksi juga mengalami perubahan. Jika beberapa tahun lalu pembelian mobil bekas lebih banyak dilakukan melalui kredit, kini pembeli justru didominasi konsumen yang melakukan pembayaran secara tunai. Hal itu terjadi karena proses pengajuan kredit semakin selektif.
Untuk pilihan kendaraan, mobil keluarga masih menjadi favorit masyarakat. Merek Toyota dan Mitsubishi tetap mendominasi permintaan, khususnya kendaraan dengan harga di bawah Rp200 juta yang dinilai lebih sesuai dengan kemampuan finansial konsumen.
Sunoto menjelaskan, tantangan terbesar yang dihadapi showroom saat ini bukan hanya penurunan minat beli, tetapi juga tingginya angka penolakan pengajuan kredit oleh perusahaan pembiayaan. Banyak calon pembeli gagal memperoleh persetujuan karena memiliki riwayat kredit yang kurang baik.
"Yang paling sering menjadi kendala adalah hasil BI Checking atau pengecekan riwayat kredit. Ketika data KTP suami maupun istri diperiksa, sering ditemukan tunggakan cicilan, kendaraan yang pernah ditarik, utang PayLater yang belum dilunasi, hingga pinjaman online. Kalau riwayat kreditnya buruk, pengajuan hampir pasti ditolak," jelasnya.
Menurut Sunoto, kondisi tersebut membuat showroom harus lebih selektif melayani calon pembeli sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga riwayat kredit agar tetap baik.
Di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, ia mengimbau masyarakat yang berencana membeli mobil bekas untuk memilih showroom yang memiliki reputasi baik. Mobil yang dijual di showroom umumnya telah melalui proses inspeksi dan rekondisi sehingga kondisinya lebih terjamin.
"Jangan hanya tergiur harga murah. Pastikan membeli di showroom yang terpercaya karena kendaraan sudah diperiksa dan diperbaiki bila ada kerusakan. Dengan begitu, pembeli bisa lebih tenang dan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan setelah mobil dibawa pulang," tutupnya.






PEKANBARU – Perlambatan ekonomi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan berbagai sektor usaha, termasuk bisnis mobil bekas di Kota Pekanbaru. Lesunya daya beli masyarakat membuat penjualan kendaraan roda empat bekas mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan periode sebelumnya.
Kondisi tersebut diungkapkan Sunoto, perwakilan Showroom Putra Jaya Mobil. Menurutnya, aktivitas penjualan saat ini jauh lebih sepi. Jika sebelumnya showroom mampu menjual beberapa unit mobil dalam waktu singkat, kini penjualan hanya berkisar satu hingga dua unit dalam periode tertentu.
"Penjualan memang turun cukup drastis. Masih ada yang membeli, tetapi jumlahnya jauh berkurang dibandingkan sebelumnya. Sekarang paling hanya satu atau dua unit yang terjual," ujar Sunoto, Selasa (14/7/2026).
Ia menilai melemahnya perputaran ekonomi menjadi faktor utama yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Keputusan membeli kendaraan kini tidak lagi menjadi prioritas bagi sebagian konsumen, terutama yang mengandalkan fasilitas pembiayaan.
Menariknya, pola transaksi juga mengalami perubahan. Jika beberapa tahun lalu pembelian mobil bekas lebih banyak dilakukan melalui kredit, kini pembeli justru didominasi konsumen yang melakukan pembayaran secara tunai. Hal itu terjadi karena proses pengajuan kredit semakin selektif.
Untuk pilihan kendaraan, mobil keluarga masih menjadi favorit masyarakat. Merek Toyota dan Mitsubishi tetap mendominasi permintaan, khususnya kendaraan dengan harga di bawah Rp200 juta yang dinilai lebih sesuai dengan kemampuan finansial konsumen.
Sunoto menjelaskan, tantangan terbesar yang dihadapi showroom saat ini bukan hanya penurunan minat beli, tetapi juga tingginya angka penolakan pengajuan kredit oleh perusahaan pembiayaan. Banyak calon pembeli gagal memperoleh persetujuan karena memiliki riwayat kredit yang kurang baik.
"Yang paling sering menjadi kendala adalah hasil BI Checking atau pengecekan riwayat kredit. Ketika data KTP suami maupun istri diperiksa, sering ditemukan tunggakan cicilan, kendaraan yang pernah ditarik, utang PayLater yang belum dilunasi, hingga pinjaman online. Kalau riwayat kreditnya buruk, pengajuan hampir pasti ditolak," jelasnya.
Menurut Sunoto, kondisi tersebut membuat showroom harus lebih selektif melayani calon pembeli sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga riwayat kredit agar tetap baik.
Di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, ia mengimbau masyarakat yang berencana membeli mobil bekas untuk memilih showroom yang memiliki reputasi baik. Mobil yang dijual di showroom umumnya telah melalui proses inspeksi dan rekondisi sehingga kondisinya lebih terjamin.
"Jangan hanya tergiur harga murah. Pastikan membeli di showroom yang terpercaya karena kendaraan sudah diperiksa dan diperbaiki bila ada kerusakan. Dengan begitu, pembeli bisa lebih tenang dan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan setelah mobil dibawa pulang," tutupnya.