logo
Misteri Paus 8 Meter dan Berat 8 Ton di Hutan Bakau Inhil, Warga Mandah Mendadak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Semakin Terdesak, Tinggal Rp84 dari Level Psikologis Rp18.000 Per-Dolar A Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Razia Gabungan di Lapas Pekanbaru, Senjata Tajam Rakitan hingga Kompor Listrik D Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPD RI Desak Kemenlu Selamatkan Nandiya, TKI Jaksel yang Diduga Jadi Korban TPPO Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Cabai Merah Kian "Pedas", Harga Jual Tembus Rp80 Ribu Per Kilogram, Cuaca Buruk Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Cucu Dilaporkan Curi Sawit Milik Kakek Sendiri, Dugaan Kriminalisasi Ahli Waris Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Massa Fomari-Bebersi Desak Kejati Riau Usut Kasus Dugaan Ijazah Ketua DPRD Siak Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Saat Antrean BBM Jadi Rezeki: Kisah Zurbainah, Penjual Pisang Molen di Pekanbaru Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Opini / Karhutla
Karhutla Riau dan Pelajaran dari Asap: Jangan Hanya Memadamkan Api
Manggala Agni Daops Sumatera VII/Rengat melaksanakan operasi pemadaman darat di di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu (instagram.com/@sekwil2_dalkarhutsum)
Karhutla Riau dan Pelajaran dari Asap: Jangan Hanya Memadamkan Api
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: opini | 11 Agustus 2026 | 18:38:30

Penulis Wartawan PekanbaruTV: Raka Sagara 

Karhutla kembali menjadi persoalan serius di Riau. Titik api muncul di sejumlah kabupaten, sementara tim pemadam harus bekerja dalam kondisi medan yang tidak mudah. Lahan gambut, keterbatasan akses, sumber air yang jauh, hingga api yang masih menyala di bawah permukaan membuat pemadaman karhutla tidak bisa disamakan dengan kebakaran biasa.

iklan-view

Di tengah situasi itu, Manggala Agni kembali berada di garis depan. Mereka bekerja bersama TNI, Polri, BPBD, perusahaan dan unsur lainnya untuk menghentikan penjalaran api. Di beberapa lokasi, pemadaman bahkan berlangsung berhari-hari.

Kerja seperti ini sering kali hanya terlihat ketika asap sudah memenuhi udara. Padahal, di baliknya ada personel yang masuk ke kawasan terbakar, mencari sumber api, membuat sekat bakar, menyedot air, hingga melakukan penyisiran untuk memastikan bara tidak kembali menyala.

Karena itu, kerja Manggala Agni patut diapresiasi. Namun, apresiasi saja tentu tidak cukup.

Karhutla Riau seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi cara kita menangani kebakaran hutan dan lahan. Selama ini, perhatian publik sering membesar ketika api sudah meluas dan kualitas udara mulai memburuk. Setelah asap hilang, persoalan seolah selesai. Pola seperti ini tidak boleh terus berulang.

Pemadaman tetap penting, tetapi pencegahan jauh lebih menentukan. Pemerintah perlu memperkuat pemantauan kawasan rawan, memastikan kanal dan sumber air tersedia, mempercepat deteksi titik api, serta memperjelas tanggung jawab pengelola lahan.

Penegakan hukum juga harus berjalan. Jika kebakaran disebabkan kelalaian atau kesengajaan, proses hukum harus dilakukan berdasarkan bukti dan ketentuan yang berlaku. Jangan sampai masyarakat hanya melihat petugas berjibaku memadamkan api, sementara penyebab kebakaran tidak pernah benar-benar ditemukan.

Karhutla bukan sekadar persoalan api. Ini menyangkut kesehatan, ekonomi, pendidikan, transportasi dan kualitas hidup masyarakat Riau.

Manggala Agni bisa memadamkan api, tetapi mereka tidak mungkin bekerja sendirian. Pemerintah, perusahaan dan masyarakat harus mengambil bagian sejak sebelum api muncul.

Sebab ukuran keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga seberapa sedikit kebakaran yang terjadi.(*)

Home / Opini
Karhutla Riau dan Pelajaran dari Asap: Jangan Hanya Memadamkan Api
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: opini | 11 Agustus 2026 | 18:38:30
Karhutla Riau dan Pelajaran dari Asap: Jangan Hanya Memadamkan Api
Manggala Agni Daops Sumatera VII/Rengat melaksanakan operasi pemadaman darat di di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu (instagram.com/@sekwil2_dalkarhutsum)

Penulis Wartawan PekanbaruTV: Raka Sagara 

Karhutla kembali menjadi persoalan serius di Riau. Titik api muncul di sejumlah kabupaten, sementara tim pemadam harus bekerja dalam kondisi medan yang tidak mudah. Lahan gambut, keterbatasan akses, sumber air yang jauh, hingga api yang masih menyala di bawah permukaan membuat pemadaman karhutla tidak bisa disamakan dengan kebakaran biasa.

Di tengah situasi itu, Manggala Agni kembali berada di garis depan. Mereka bekerja bersama TNI, Polri, BPBD, perusahaan dan unsur lainnya untuk menghentikan penjalaran api. Di beberapa lokasi, pemadaman bahkan berlangsung berhari-hari.

Kerja seperti ini sering kali hanya terlihat ketika asap sudah memenuhi udara. Padahal, di baliknya ada personel yang masuk ke kawasan terbakar, mencari sumber api, membuat sekat bakar, menyedot air, hingga melakukan penyisiran untuk memastikan bara tidak kembali menyala.

Karena itu, kerja Manggala Agni patut diapresiasi. Namun, apresiasi saja tentu tidak cukup.

Karhutla Riau seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi cara kita menangani kebakaran hutan dan lahan. Selama ini, perhatian publik sering membesar ketika api sudah meluas dan kualitas udara mulai memburuk. Setelah asap hilang, persoalan seolah selesai. Pola seperti ini tidak boleh terus berulang.

Pemadaman tetap penting, tetapi pencegahan jauh lebih menentukan. Pemerintah perlu memperkuat pemantauan kawasan rawan, memastikan kanal dan sumber air tersedia, mempercepat deteksi titik api, serta memperjelas tanggung jawab pengelola lahan.

Penegakan hukum juga harus berjalan. Jika kebakaran disebabkan kelalaian atau kesengajaan, proses hukum harus dilakukan berdasarkan bukti dan ketentuan yang berlaku. Jangan sampai masyarakat hanya melihat petugas berjibaku memadamkan api, sementara penyebab kebakaran tidak pernah benar-benar ditemukan.

Karhutla bukan sekadar persoalan api. Ini menyangkut kesehatan, ekonomi, pendidikan, transportasi dan kualitas hidup masyarakat Riau.

Manggala Agni bisa memadamkan api, tetapi mereka tidak mungkin bekerja sendirian. Pemerintah, perusahaan dan masyarakat harus mengambil bagian sejak sebelum api muncul.

Sebab ukuran keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga seberapa sedikit kebakaran yang terjadi.(*)