logo
Tragedi Banjir Bandang Nepal-Tibet: Korban Tewas Tembus 469 Orang, 1.500 Lebih M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Manjakan Lidah Warga Pekanbaru, Dawik Toast Tawarkan Roti Panggang Kekinian Mula Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Padamkan Karhutla dengan Tepung Singkong, BRIN Kaji Metode Penyebaran: Kan Tak M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Ditutup ke Rp17.693 per Dolar AS, Sentimen BI Jad Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Danantara Setor Rp120 Triliun ke APBN 2026, Menkeu: Pendapatan Negara Meningkat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kasus Bupati Kuansing: Menhut Raja Juli Kembali Bungkam Saat Ditanya Selisih Uan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kebakaran Lahan Gambut Dekati Permukiman di Tembilahan, Tim Gabungan Berjibaku P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Digempur Konten Medsos, Wabup Rohil Jhony Charles Tetap Fokus Tangani Karhutla Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Internasional
Tragedi Banjir Bandang Nepal-Tibet: Korban Tewas Tembus 469 Orang, 1.500 Lebih Masih Hilang
Foto udara suasana rumah yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8/2026). (Foto: Xinhua)
Tragedi Banjir Bandang Nepal-Tibet: Korban Tewas Tembus 469 Orang, 1.500 Lebih Masih Hilang
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 28 Agustus 2026 | 21:39:07

NEPAL - Duka akibat banjir bandang dahsyat di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, terus bertambah. Hingga Jumat (28/8/2026), sedikitnya 469 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 1.500 lainnya masih dinyatakan hilang.

Jumlah korban tewas itu meningkat tajam hanya dalam waktu dua hari setelah banjir bandang menerjang kawasan tersebut pada Rabu (26/8). Tim penyelamat hingga kini masih berpacu dengan waktu untuk menemukan warga yang diduga tertimbun lumpur, terseret arus, atau terjebak di sejumlah lokasi.

Kepolisian Nepal melaporkan jumlah korban meninggal dunia meningkat dari 390 menjadi 469 orang pada Jumat pagi. Di wilayah Tibet, China, tiga orang juga dilaporkan meninggal dunia.

iklan-view

Di tengah pencarian korban, keluarga masih menunggu kabar orang-orang yang belum ditemukan. Lebih dari 1.500 orang dari Nepal dan China hingga kini masih berstatus hilang.

Bencana datang secara tiba-tiba dengan membawa air, lumpur, batu dan material pegunungan. Derasnya arus menghantam bangunan, jembatan, kendaraan dan berbagai infrastruktur di sepanjang aliran sungai.

Sejumlah rekaman yang beredar memperlihatkan bagaimana banjir bercampur lumpur menerjang kawasan perbatasan dengan cepat. Warga maupun orang-orang yang berada di lokasi hanya memiliki waktu sangat singkat untuk menyelamatkan diri.

Hingga Jumat, operasi penyelamatan terus dilakukan. Pemerintah Nepal mencatat 3.253 orang telah dievakuasi menggunakan helikopter dari kawasan terdampak. Mereka, termasuk korban luka, kemudian dibawa ke Kathmandu dan sejumlah wilayah lain untuk mendapatkan perawatan.

Bencana ini juga berdampak pada sejumlah warga negara asing yang berada di kawasan Himalaya. Mereka terdiri dari wisatawan, pendaki atau trekker, serta peziarah yang sedang melakukan perjalanan.

Ancaman Belum Berakhir

Di tengah pencarian korban, bahaya baru justru mengintai. Sebuah danau terbentuk di kawasan hulu akibat material longsoran yang membendung aliran sungai.

Kondisinya kini menjadi perhatian serius karena volume air terus bertambah dan danau tersebut mulai meluap.

Kementerian Sumber Daya Air China memperkirakan danau itu menampung sekitar 2 juta meter kubik air. Dalam tiga hari berikutnya, volume air diperkirakan bertambah sekitar 3 juta meter kubik.

Jika penghalang alami yang menahan air tersebut runtuh, pelepasan air dalam jumlah besar dikhawatirkan kembali memicu banjir dahsyat di kawasan yang lebih rendah.

Pemerintah Nepal dan China pun memperingatkan masyarakat yang berada di wilayah berisiko agar segera bergerak ke tempat yang lebih aman.

Danau tersebut berada di ketinggian sekitar 2.950 meter di atas permukaan laut, sementara Pelabuhan Gyirong, salah satu titik perbatasan Nepal-China yang terdampak banjir dan lumpur, berada sekitar 1.000 meter lebih rendah.

Situasi ini membuat operasi penyelamatan sekaligus evakuasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Angkatan Darat Nepal mengerahkan tim untuk memantau Sungai Bhotekoshi yang berpotensi mengalami peningkatan debit jika terjadi pelepasan air dari kawasan hulu.

Tim penyelamat juga diterjunkan ke proyek pembangkit listrik tenaga air Upper Trishuli-1 setelah muncul laporan adanya orang yang kemungkinan masih terjebak di dalam terowongan.

Upaya pencarian di lokasi tersebut tidak mudah. Lumpur telah menutup sejumlah bagian terowongan sehingga petugas kesulitan menemukan akses untuk masuk maupun keluar.

“Sulit mencari jalan masuk dan keluar terowongan karena semuanya tertutup lumpur. Prioritas pertama kami adalah menyelamatkan orang-orang yang terdampar,” kata Basnet, dikutip AP News, Jumat (28/8/2026).

Sementara itu, pencarian korban terus dilanjutkan. Di tengah medan yang berat dan ancaman banjir susulan, tim penyelamat masih berharap menemukan korban yang hilang dan membawa mereka kembali kepada keluarga. (trt)

Home / News
Tragedi Banjir Bandang Nepal-Tibet: Korban Tewas Tembus 469 Orang, 1.500 Lebih Masih Hilang
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 28 Agustus 2026 | 21:39:07
Tragedi Banjir Bandang Nepal-Tibet: Korban Tewas Tembus 469 Orang, 1.500 Lebih Masih Hilang
Foto udara suasana rumah yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8/2026). (Foto: Xinhua)

NEPAL - Duka akibat banjir bandang dahsyat di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, terus bertambah. Hingga Jumat (28/8/2026), sedikitnya 469 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 1.500 lainnya masih dinyatakan hilang.

Jumlah korban tewas itu meningkat tajam hanya dalam waktu dua hari setelah banjir bandang menerjang kawasan tersebut pada Rabu (26/8). Tim penyelamat hingga kini masih berpacu dengan waktu untuk menemukan warga yang diduga tertimbun lumpur, terseret arus, atau terjebak di sejumlah lokasi.

Kepolisian Nepal melaporkan jumlah korban meninggal dunia meningkat dari 390 menjadi 469 orang pada Jumat pagi. Di wilayah Tibet, China, tiga orang juga dilaporkan meninggal dunia.

Di tengah pencarian korban, keluarga masih menunggu kabar orang-orang yang belum ditemukan. Lebih dari 1.500 orang dari Nepal dan China hingga kini masih berstatus hilang.

Bencana datang secara tiba-tiba dengan membawa air, lumpur, batu dan material pegunungan. Derasnya arus menghantam bangunan, jembatan, kendaraan dan berbagai infrastruktur di sepanjang aliran sungai.

Sejumlah rekaman yang beredar memperlihatkan bagaimana banjir bercampur lumpur menerjang kawasan perbatasan dengan cepat. Warga maupun orang-orang yang berada di lokasi hanya memiliki waktu sangat singkat untuk menyelamatkan diri.

Hingga Jumat, operasi penyelamatan terus dilakukan. Pemerintah Nepal mencatat 3.253 orang telah dievakuasi menggunakan helikopter dari kawasan terdampak. Mereka, termasuk korban luka, kemudian dibawa ke Kathmandu dan sejumlah wilayah lain untuk mendapatkan perawatan.

Bencana ini juga berdampak pada sejumlah warga negara asing yang berada di kawasan Himalaya. Mereka terdiri dari wisatawan, pendaki atau trekker, serta peziarah yang sedang melakukan perjalanan.

Ancaman Belum Berakhir

Di tengah pencarian korban, bahaya baru justru mengintai. Sebuah danau terbentuk di kawasan hulu akibat material longsoran yang membendung aliran sungai.

Kondisinya kini menjadi perhatian serius karena volume air terus bertambah dan danau tersebut mulai meluap.

Kementerian Sumber Daya Air China memperkirakan danau itu menampung sekitar 2 juta meter kubik air. Dalam tiga hari berikutnya, volume air diperkirakan bertambah sekitar 3 juta meter kubik.

Jika penghalang alami yang menahan air tersebut runtuh, pelepasan air dalam jumlah besar dikhawatirkan kembali memicu banjir dahsyat di kawasan yang lebih rendah.

Pemerintah Nepal dan China pun memperingatkan masyarakat yang berada di wilayah berisiko agar segera bergerak ke tempat yang lebih aman.

Danau tersebut berada di ketinggian sekitar 2.950 meter di atas permukaan laut, sementara Pelabuhan Gyirong, salah satu titik perbatasan Nepal-China yang terdampak banjir dan lumpur, berada sekitar 1.000 meter lebih rendah.

Situasi ini membuat operasi penyelamatan sekaligus evakuasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Angkatan Darat Nepal mengerahkan tim untuk memantau Sungai Bhotekoshi yang berpotensi mengalami peningkatan debit jika terjadi pelepasan air dari kawasan hulu.

Tim penyelamat juga diterjunkan ke proyek pembangkit listrik tenaga air Upper Trishuli-1 setelah muncul laporan adanya orang yang kemungkinan masih terjebak di dalam terowongan.

Upaya pencarian di lokasi tersebut tidak mudah. Lumpur telah menutup sejumlah bagian terowongan sehingga petugas kesulitan menemukan akses untuk masuk maupun keluar.

“Sulit mencari jalan masuk dan keluar terowongan karena semuanya tertutup lumpur. Prioritas pertama kami adalah menyelamatkan orang-orang yang terdampar,” kata Basnet, dikutip AP News, Jumat (28/8/2026).

Sementara itu, pencarian korban terus dilanjutkan. Di tengah medan yang berat dan ancaman banjir susulan, tim penyelamat masih berharap menemukan korban yang hilang dan membawa mereka kembali kepada keluarga. (trt)