logo
Tragedi Banjir Bandang Nepal-Tibet: Korban Tewas Tembus 469 Orang, 1.500 Lebih M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Manjakan Lidah Warga Pekanbaru, Dawik Toast Tawarkan Roti Panggang Kekinian Mula Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Padamkan Karhutla dengan Tepung Singkong, BRIN Kaji Metode Penyebaran: Kan Tak M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Ditutup ke Rp17.693 per Dolar AS, Sentimen BI Jad Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Danantara Setor Rp120 Triliun ke APBN 2026, Menkeu: Pendapatan Negara Meningkat Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kasus Bupati Kuansing: Menhut Raja Juli Kembali Bungkam Saat Ditanya Selisih Uan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kebakaran Lahan Gambut Dekati Permukiman di Tembilahan, Tim Gabungan Berjibaku P Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Digempur Konten Medsos, Wabup Rohil Jhony Charles Tetap Fokus Tangani Karhutla Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / TEKNOLOGI
Padamkan Karhutla dengan Tepung Singkong, BRIN Kaji Metode Penyebaran: Kan Tak Mungkin Ditaburi Pakai Tangan
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (28/8/2026). (Foto: Antara)
Padamkan Karhutla dengan Tepung Singkong, BRIN Kaji Metode Penyebaran: Kan Tak Mungkin Ditaburi Pakai Tangan
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 28 Agustus 2026 | 21:18:58

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan penggunaan tepung singkong sebagai bahan untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum dapat diterapkan secara luas.

BRIN saat ini masih melakukan kajian dan serangkaian uji coba untuk memastikan efektivitas bahan tersebut, termasuk mencari metode penerapan yang tepat di lapangan.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, kajian awal yang dilakukan para ahli BRIN menunjukkan penggunaan tepung singkong memiliki dasar secara teoritik untuk membantu proses pemadaman api.

iklan-view

Kajian tersebut dilakukan setelah BRIN memperoleh informasi mengenai praktik penggunaan tepung singkong dalam membantu mengatasi kebakaran.

"Begitu saya mendapat berita itu kemudian kita lakukan kajian secara teoritik. Para ahli kimia molekuler yang ada di BRIN melakukan kajian dan langsung disampaikan bahwa memang itu secara teoritik betul," ujar Arif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (28/8/2026), seperti dikutip antaranews.

Meski demikian, Arif menekankan hasil kajian secara teoritik tidak serta-merta membuktikan bahwa tepung singkong efektif untuk menangani karhutla dalam skala besar.

Menurut dia, efektivitas bahan tersebut masih harus dibuktikan melalui pengujian langsung, terutama terkait komposisi bahan, teknik aplikasi hingga kemampuan penerapannya pada kondisi karhutla yang sebenarnya.

"Tidak berarti itu sudah terbukti untuk skala besar. Untuk skala besar kan kemudian dari sisi campuran-campuran zatnya maupun dari sisi bagaimana teknik untuk memadamkannya seperti apa," jelasnya.

Salah satu tantangan utama yang kini dikaji adalah metode penyebaran tepung singkong. Penggunaan bahan tersebut dalam skala luas tentu tidak memungkinkan dilakukan secara manual.

"Kan tidak mungkin ditaburi pakai tangan, harus pakai alat-alat tertentu dan sekarang sedang dikaji," kata Arif.

BRIN bersama Polri pun tengah menyiapkan pengujian dengan skala yang lebih besar untuk mengetahui sejauh mana teknologi tersebut dapat diterapkan dalam penanganan karhutla.

Arif menjelaskan, kajian ini merupakan bagian dari fungsi BRIN dalam menguji dan memvalidasi secara ilmiah berbagai inovasi atau praktik yang berkembang di tengah masyarakat.

Menurutnya, teknologi yang muncul dari masyarakat tidak serta-merta langsung diterapkan, melainkan perlu melalui proses penelitian, pengujian, dan validasi sebelum dikembangkan untuk penggunaan yang lebih luas.

Karena itu, Arif meminta masyarakat tidak menganggap tepung singkong sebagai teknologi yang sudah siap digunakan untuk mengatasi karhutla.

"Tim Polri dengan tim BRIN sedang menyiapkan itu, melakukan kajian dan juga melakukan uji coba," tegas Arif.

Dengan demikian, penggunaan tepung singkong untuk membantu pemadaman karhutla saat ini masih berada pada tahap penelitian dan pengujian. Hasil uji coba nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan efektivitas serta kemungkinan penerapannya dalam penanganan karhutla secara lebih luas. (*)

Home / News
Padamkan Karhutla dengan Tepung Singkong, BRIN Kaji Metode Penyebaran: Kan Tak Mungkin Ditaburi Pakai Tangan
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: news | 28 Agustus 2026 | 21:18:58
Padamkan Karhutla dengan Tepung Singkong, BRIN Kaji Metode Penyebaran: Kan Tak Mungkin Ditaburi Pakai Tangan
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (28/8/2026). (Foto: Antara)

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan penggunaan tepung singkong sebagai bahan untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum dapat diterapkan secara luas.

BRIN saat ini masih melakukan kajian dan serangkaian uji coba untuk memastikan efektivitas bahan tersebut, termasuk mencari metode penerapan yang tepat di lapangan.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, kajian awal yang dilakukan para ahli BRIN menunjukkan penggunaan tepung singkong memiliki dasar secara teoritik untuk membantu proses pemadaman api.

Kajian tersebut dilakukan setelah BRIN memperoleh informasi mengenai praktik penggunaan tepung singkong dalam membantu mengatasi kebakaran.

"Begitu saya mendapat berita itu kemudian kita lakukan kajian secara teoritik. Para ahli kimia molekuler yang ada di BRIN melakukan kajian dan langsung disampaikan bahwa memang itu secara teoritik betul," ujar Arif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (28/8/2026), seperti dikutip antaranews.

Meski demikian, Arif menekankan hasil kajian secara teoritik tidak serta-merta membuktikan bahwa tepung singkong efektif untuk menangani karhutla dalam skala besar.

Menurut dia, efektivitas bahan tersebut masih harus dibuktikan melalui pengujian langsung, terutama terkait komposisi bahan, teknik aplikasi hingga kemampuan penerapannya pada kondisi karhutla yang sebenarnya.

"Tidak berarti itu sudah terbukti untuk skala besar. Untuk skala besar kan kemudian dari sisi campuran-campuran zatnya maupun dari sisi bagaimana teknik untuk memadamkannya seperti apa," jelasnya.

Salah satu tantangan utama yang kini dikaji adalah metode penyebaran tepung singkong. Penggunaan bahan tersebut dalam skala luas tentu tidak memungkinkan dilakukan secara manual.

"Kan tidak mungkin ditaburi pakai tangan, harus pakai alat-alat tertentu dan sekarang sedang dikaji," kata Arif.

BRIN bersama Polri pun tengah menyiapkan pengujian dengan skala yang lebih besar untuk mengetahui sejauh mana teknologi tersebut dapat diterapkan dalam penanganan karhutla.

Arif menjelaskan, kajian ini merupakan bagian dari fungsi BRIN dalam menguji dan memvalidasi secara ilmiah berbagai inovasi atau praktik yang berkembang di tengah masyarakat.

Menurutnya, teknologi yang muncul dari masyarakat tidak serta-merta langsung diterapkan, melainkan perlu melalui proses penelitian, pengujian, dan validasi sebelum dikembangkan untuk penggunaan yang lebih luas.

Karena itu, Arif meminta masyarakat tidak menganggap tepung singkong sebagai teknologi yang sudah siap digunakan untuk mengatasi karhutla.

"Tim Polri dengan tim BRIN sedang menyiapkan itu, melakukan kajian dan juga melakukan uji coba," tegas Arif.

Dengan demikian, penggunaan tepung singkong untuk membantu pemadaman karhutla saat ini masih berada pada tahap penelitian dan pengujian. Hasil uji coba nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan efektivitas serta kemungkinan penerapannya dalam penanganan karhutla secara lebih luas. (*)