logo
● Polres Kuansing Bongkar Penyelundupan 2.400 Liter Pertalite Bersubsidi, Dua Oran Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Sasar Kabel FO Semraut, Pemko Pekanbaru Lanjutkan Penertiban ke Jalan Paus Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Warga Rumbai Silahkan Kunjungi Pasar Murah, Beras SPHP Dijual Rp60 Ribu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Udara Pekanbaru Kian Mengkhawatirkan, PM2.5 Enam Kali Ambang Batas WHO Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Hujan Lebat Disertai Petir Malam Ini, BMKG Pantau 11 Titik Panas di Riau Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Diduga Dipicu Sengketa Tanah, Adik Bacok Kakak Kandung Hingga Tewas di Ukui Pela Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Rupiah Makin Terpuruk, Ditutup di Level Rp18.060 per Dolar AS Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kejati Riau Tahan 8 Tersangka Korupsi Dana PI PT SPRH, Kerugian Negara Rp64,22 M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Teknologi
AI Agent Bisa Saling Meneruskan Perintah Berbahaya, Celah Keamanan Terungkap
Ilustraso. (Foto: Unite.AI)
AI Agent Bisa Saling Meneruskan Perintah Berbahaya, Celah Keamanan Terungkap
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 6 Oktober 2026 | 15:51:21

PEKANBARU – Penggunaan AI agent untuk menjalankan pekerjaan secara otomatis mulai menghadirkan persoalan keamanan baru. Peneliti menemukan adanya celah yang memungkinkan instruksi berbahaya diteruskan dari satu AI agent kepada agent lainnya.

Temuan tersebut berkaitan dengan sistem yang memungkinkan beberapa AI agent saling berkomunikasi dan membagi tugas. Masalah muncul ketika sebuah agent menganggap instruksi dari agent lain sebagai perintah yang dapat dipercaya tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

iklan-view

Laporan Ars Technica menyebut peneliti keamanan Syed Anas Mohiuddin menemukan pola serangan yang memanfaatkan hubungan kepercayaan dalam komunikasi antargen. Penelitian tersebut menyoroti penggunaan Model Context Protocol (MCP), teknologi yang memungkinkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan terhubung dengan berbagai layanan dan perangkat.

Sejumlah perusahaan dan organisasi dilaporkan telah menemukan atau menangani persoalan keamanan yang berkaitan dengan pola tersebut, termasuk Google, JPMorgan Chase, Weaviate dan Rapid7.

Perintah Bisa Berpindah Antar-AI

AI agent memiliki kemampuan yang lebih luas dibandingkan chatbot biasa. Sistem ini dapat diberi tugas untuk membaca dokumen, mengambil informasi, menggunakan aplikasi, mengakses layanan tertentu hingga menjalankan pekerjaan secara otomatis.

Dalam sebuah sistem perusahaan, misalnya, satu agent dapat bertugas membaca email. Agent lain menganalisis dokumen, sedangkan agent berikutnya memiliki akses ke database.

Masalah terjadi ketika salah satu agent menerima informasi yang telah disisipi instruksi tertentu. Jika informasi tersebut diteruskan kepada agent lain, instruksi yang sama dapat ikut berpindah.

Agent penerima kemudian berpotensi menganggap instruksi tersebut sebagai tugas yang sah karena datang dari agent yang sebelumnya dipercaya.

Kondisi tersebut membuat penyerang tidak selalu harus menyerang sistem yang memiliki akses paling penting. Mereka dapat mencari titik masuk pada agent lain, kemudian memanfaatkan hubungan antaragent untuk meneruskan instruksi ke bagian sistem yang lebih sensitif.

Pola tersebut berkaitan dengan prompt injection, yaitu teknik memasukkan instruksi ke dalam data yang diproses sistem AI agar sistem melakukan tindakan yang tidak semestinya.

Persoalan menjadi lebih serius ketika AI agent memiliki akses terhadap email, database, jaringan perusahaan atau layanan lain yang menyimpan informasi penting.

Keamanan Tidak Cukup di Satu Sistem

Menurut laporan Ars Technica, peneliti menyebut pola serangan tersebut sebagai protocol pivoting. Serangan memanfaatkan hubungan antarprotokol dan kepercayaan yang diberikan sebuah sistem kepada sistem lainnya.

Penggunaan MCP dan protokol komunikasi antargen seperti Agent-to-Agent (A2A) membuat persoalan tersebut semakin relevan. Ketika AI agent tidak lagi bekerja sendirian, keamanan tidak hanya bergantung pada model yang digunakan.

Setiap agent perlu memiliki batas akses yang jelas. Instruksi dari agent lain juga tidak semestinya langsung dianggap aman hanya karena berasal dari jaringan internal.

Pemeriksaan terhadap sumber instruksi menjadi penting, terutama ketika sebuah permintaan berkaitan dengan data sensitif atau meminta agent menjalankan tindakan tertentu.

Perusahaan juga perlu membatasi kemampuan setiap agent sesuai kebutuhan pekerjaannya. Agent yang bertugas membaca dokumen, misalnya, tidak harus memiliki akses ke seluruh database perusahaan.

Perbedaan ini penting karena kesalahan pada chatbot biasanya hanya menghasilkan jawaban yang keliru. Sementara pada AI agent yang memiliki akses ke sistem perusahaan, kesalahan atau instruksi berbahaya dapat berujung pada tindakan nyata.

Perkembangan AI agent membuat hubungan antarsistem menjadi bagian penting dalam keamanan teknologi. Semakin banyak agent yang saling bertukar informasi dan tugas, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan setiap instruksi diperiksa sebelum dijalankan. (*)

Home / News
AI Agent Bisa Saling Meneruskan Perintah Berbahaya, Celah Keamanan Terungkap
Editor: putrajaya
Rubrik: news | 6 Oktober 2026 | 15:51:21
AI Agent Bisa Saling Meneruskan Perintah Berbahaya, Celah Keamanan Terungkap
Ilustraso. (Foto: Unite.AI)

PEKANBARU – Penggunaan AI agent untuk menjalankan pekerjaan secara otomatis mulai menghadirkan persoalan keamanan baru. Peneliti menemukan adanya celah yang memungkinkan instruksi berbahaya diteruskan dari satu AI agent kepada agent lainnya.

Temuan tersebut berkaitan dengan sistem yang memungkinkan beberapa AI agent saling berkomunikasi dan membagi tugas. Masalah muncul ketika sebuah agent menganggap instruksi dari agent lain sebagai perintah yang dapat dipercaya tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Laporan Ars Technica menyebut peneliti keamanan Syed Anas Mohiuddin menemukan pola serangan yang memanfaatkan hubungan kepercayaan dalam komunikasi antargen. Penelitian tersebut menyoroti penggunaan Model Context Protocol (MCP), teknologi yang memungkinkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan terhubung dengan berbagai layanan dan perangkat.

Sejumlah perusahaan dan organisasi dilaporkan telah menemukan atau menangani persoalan keamanan yang berkaitan dengan pola tersebut, termasuk Google, JPMorgan Chase, Weaviate dan Rapid7.

Perintah Bisa Berpindah Antar-AI

AI agent memiliki kemampuan yang lebih luas dibandingkan chatbot biasa. Sistem ini dapat diberi tugas untuk membaca dokumen, mengambil informasi, menggunakan aplikasi, mengakses layanan tertentu hingga menjalankan pekerjaan secara otomatis.

Dalam sebuah sistem perusahaan, misalnya, satu agent dapat bertugas membaca email. Agent lain menganalisis dokumen, sedangkan agent berikutnya memiliki akses ke database.

Masalah terjadi ketika salah satu agent menerima informasi yang telah disisipi instruksi tertentu. Jika informasi tersebut diteruskan kepada agent lain, instruksi yang sama dapat ikut berpindah.

Agent penerima kemudian berpotensi menganggap instruksi tersebut sebagai tugas yang sah karena datang dari agent yang sebelumnya dipercaya.

Kondisi tersebut membuat penyerang tidak selalu harus menyerang sistem yang memiliki akses paling penting. Mereka dapat mencari titik masuk pada agent lain, kemudian memanfaatkan hubungan antaragent untuk meneruskan instruksi ke bagian sistem yang lebih sensitif.

Pola tersebut berkaitan dengan prompt injection, yaitu teknik memasukkan instruksi ke dalam data yang diproses sistem AI agar sistem melakukan tindakan yang tidak semestinya.

Persoalan menjadi lebih serius ketika AI agent memiliki akses terhadap email, database, jaringan perusahaan atau layanan lain yang menyimpan informasi penting.

Keamanan Tidak Cukup di Satu Sistem

Menurut laporan Ars Technica, peneliti menyebut pola serangan tersebut sebagai protocol pivoting. Serangan memanfaatkan hubungan antarprotokol dan kepercayaan yang diberikan sebuah sistem kepada sistem lainnya.

Penggunaan MCP dan protokol komunikasi antargen seperti Agent-to-Agent (A2A) membuat persoalan tersebut semakin relevan. Ketika AI agent tidak lagi bekerja sendirian, keamanan tidak hanya bergantung pada model yang digunakan.

Setiap agent perlu memiliki batas akses yang jelas. Instruksi dari agent lain juga tidak semestinya langsung dianggap aman hanya karena berasal dari jaringan internal.

Pemeriksaan terhadap sumber instruksi menjadi penting, terutama ketika sebuah permintaan berkaitan dengan data sensitif atau meminta agent menjalankan tindakan tertentu.

Perusahaan juga perlu membatasi kemampuan setiap agent sesuai kebutuhan pekerjaannya. Agent yang bertugas membaca dokumen, misalnya, tidak harus memiliki akses ke seluruh database perusahaan.

Perbedaan ini penting karena kesalahan pada chatbot biasanya hanya menghasilkan jawaban yang keliru. Sementara pada AI agent yang memiliki akses ke sistem perusahaan, kesalahan atau instruksi berbahaya dapat berujung pada tindakan nyata.

Perkembangan AI agent membuat hubungan antarsistem menjadi bagian penting dalam keamanan teknologi. Semakin banyak agent yang saling bertukar informasi dan tugas, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan setiap instruksi diperiksa sebelum dijalankan. (*)