
JAKARTA - Rupiah kembali berada di bawah tekanan. Nilai tukar rupiah di pasar spot pada perdagangan Kamis (8/10/2026) melemah dan kembali menembus level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah ditutup pada posisi Rp17.915 per dolar AS, melemah Rp28 atau 0,16 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang turun Rp10 atau 0,06 persen menjadi Rp17.890 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah kembali menguatnya harga minyak dunia. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak November 2026 melonjak 3,98 persen menjadi US$91,79 per barel. Sementara itu, minyak Brent kontrak Desember 2026 naik 3,97 persen menjadi US$104,18 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu sentimen yang membebani rupiah karena dapat meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan devisa untuk impor energi. Di sisi lain, penguatan dolar AS turut membuat pergerakan mata uang regional berada dalam tekanan.
Pelemahan rupiah juga terjadi ketika selisih imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Indonesia dengan surat utang AS semakin menyempit dan mendekati level terendah dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi daya tarik aset berdenominasi rupiah.
Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Mayoritas mata uang Asia juga bergerak melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan tercatat turun 0,38 persen, peso Filipina 0,20 persen, dolar Taiwan 0,17 persen, dolar Singapura 0,14 persen, dan yen Jepang 0,09 persen.
Baht Thailand melemah 0,08 persen, ringgit Malaysia 0,08 persen, rupee India 0,02 persen, sedangkan yuan offshore terkoreksi tipis 0,01 persen.
Di tengah tekanan tersebut, hanya yuan China dan dolar Hong Kong yang mampu menguat terhadap dolar AS, masing-masing sebesar 0,05 persen dan 0,01 persen.
Sementara itu, indeks dolar AS yang mencerminkan pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia naik 0,11 persen ke level 102,35.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, harga komoditas energi, arus modal asing serta perkembangan pasar keuangan global yang masih menjadi perhatian investor. (*)







JAKARTA - Rupiah kembali berada di bawah tekanan. Nilai tukar rupiah di pasar spot pada perdagangan Kamis (8/10/2026) melemah dan kembali menembus level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah ditutup pada posisi Rp17.915 per dolar AS, melemah Rp28 atau 0,16 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang turun Rp10 atau 0,06 persen menjadi Rp17.890 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah kembali menguatnya harga minyak dunia. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak November 2026 melonjak 3,98 persen menjadi US$91,79 per barel. Sementara itu, minyak Brent kontrak Desember 2026 naik 3,97 persen menjadi US$104,18 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu sentimen yang membebani rupiah karena dapat meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan devisa untuk impor energi. Di sisi lain, penguatan dolar AS turut membuat pergerakan mata uang regional berada dalam tekanan.
Pelemahan rupiah juga terjadi ketika selisih imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Indonesia dengan surat utang AS semakin menyempit dan mendekati level terendah dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi daya tarik aset berdenominasi rupiah.
Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Mayoritas mata uang Asia juga bergerak melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan tercatat turun 0,38 persen, peso Filipina 0,20 persen, dolar Taiwan 0,17 persen, dolar Singapura 0,14 persen, dan yen Jepang 0,09 persen.
Baht Thailand melemah 0,08 persen, ringgit Malaysia 0,08 persen, rupee India 0,02 persen, sedangkan yuan offshore terkoreksi tipis 0,01 persen.
Di tengah tekanan tersebut, hanya yuan China dan dolar Hong Kong yang mampu menguat terhadap dolar AS, masing-masing sebesar 0,05 persen dan 0,01 persen.
Sementara itu, indeks dolar AS yang mencerminkan pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia naik 0,11 persen ke level 102,35.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, harga komoditas energi, arus modal asing serta perkembangan pasar keuangan global yang masih menjadi perhatian investor. (*)