logo
● Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● KPK Telusuri Kasus Dana Bencana Rp148 Miliar, Dua Anggota TNI Jadi Perhatian Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Rupiah Kembali Tersungkur di Atas Rp18.000, Sentimen Global Membayangi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Diduga Selundupkan Narkoba, Kapal Tanker Mongolia Diamankan di Belawan, 8 Orang Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● El Niño Pengaruhi Jadwal Musim Hujan, BMKG Minta Warga Bersiap Hadapi Cuaca Ekst Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Antisipasi Dampak Kabut Asap, Sekdaprov Riau Tinjau Posko Kesehatan dan Rumah Ok Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● AKP Zulhendra Resmi Jabat Kapolsek Pangkalan Kerinci, Kompol Shilton ke Polresta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Antrean Solar Picu Kemacetan di Pekanbaru, Dishub Peringatkan Pengelola SPBU Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / KEUANGAN
Harga Minyak Melonjak, Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.915
Ilustrasi. Rupiah melemah di tengah kenaikan harga minyak dunia. (Foto: AI/Pekanbarutv.com)
Harga Minyak Melonjak, Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.915
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 8 Oktober 2026 | 19:19:27

JAKARTA - Rupiah kembali berada di bawah tekanan. Nilai tukar rupiah di pasar spot pada perdagangan Kamis (8/10/2026) melemah dan kembali menembus level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS).

Rupiah ditutup pada posisi Rp17.915 per dolar AS, melemah Rp28 atau 0,16 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang turun Rp10 atau 0,06 persen menjadi Rp17.890 per dolar AS.

iklan-view

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah kembali menguatnya harga minyak dunia. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak November 2026 melonjak 3,98 persen menjadi US$91,79 per barel. Sementara itu, minyak Brent kontrak Desember 2026 naik 3,97 persen menjadi US$104,18 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi salah satu sentimen yang membebani rupiah karena dapat meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan devisa untuk impor energi. Di sisi lain, penguatan dolar AS turut membuat pergerakan mata uang regional berada dalam tekanan.

Pelemahan rupiah juga terjadi ketika selisih imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Indonesia dengan surat utang AS semakin menyempit dan mendekati level terendah dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi daya tarik aset berdenominasi rupiah.

Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Mayoritas mata uang Asia juga bergerak melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan tercatat turun 0,38 persen, peso Filipina 0,20 persen, dolar Taiwan 0,17 persen, dolar Singapura 0,14 persen, dan yen Jepang 0,09 persen.

Baht Thailand melemah 0,08 persen, ringgit Malaysia 0,08 persen, rupee India 0,02 persen, sedangkan yuan offshore terkoreksi tipis 0,01 persen.

Di tengah tekanan tersebut, hanya yuan China dan dolar Hong Kong yang mampu menguat terhadap dolar AS, masing-masing sebesar 0,05 persen dan 0,01 persen.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mencerminkan pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia naik 0,11 persen ke level 102,35.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, harga komoditas energi, arus modal asing serta perkembangan pasar keuangan global yang masih menjadi perhatian investor. (*)

Home / Ekonomi
Harga Minyak Melonjak, Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.915
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 8 Oktober 2026 | 19:19:27
Harga Minyak Melonjak, Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.915
Ilustrasi. Rupiah melemah di tengah kenaikan harga minyak dunia. (Foto: AI/Pekanbarutv.com)

JAKARTA - Rupiah kembali berada di bawah tekanan. Nilai tukar rupiah di pasar spot pada perdagangan Kamis (8/10/2026) melemah dan kembali menembus level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS).

Rupiah ditutup pada posisi Rp17.915 per dolar AS, melemah Rp28 atau 0,16 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang turun Rp10 atau 0,06 persen menjadi Rp17.890 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah kembali menguatnya harga minyak dunia. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak November 2026 melonjak 3,98 persen menjadi US$91,79 per barel. Sementara itu, minyak Brent kontrak Desember 2026 naik 3,97 persen menjadi US$104,18 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi salah satu sentimen yang membebani rupiah karena dapat meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan devisa untuk impor energi. Di sisi lain, penguatan dolar AS turut membuat pergerakan mata uang regional berada dalam tekanan.

Pelemahan rupiah juga terjadi ketika selisih imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Indonesia dengan surat utang AS semakin menyempit dan mendekati level terendah dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi daya tarik aset berdenominasi rupiah.

Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Mayoritas mata uang Asia juga bergerak melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan tercatat turun 0,38 persen, peso Filipina 0,20 persen, dolar Taiwan 0,17 persen, dolar Singapura 0,14 persen, dan yen Jepang 0,09 persen.

Baht Thailand melemah 0,08 persen, ringgit Malaysia 0,08 persen, rupee India 0,02 persen, sedangkan yuan offshore terkoreksi tipis 0,01 persen.

Di tengah tekanan tersebut, hanya yuan China dan dolar Hong Kong yang mampu menguat terhadap dolar AS, masing-masing sebesar 0,05 persen dan 0,01 persen.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mencerminkan pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia naik 0,11 persen ke level 102,35.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, harga komoditas energi, arus modal asing serta perkembangan pasar keuangan global yang masih menjadi perhatian investor. (*)