logo
● Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● KPK Telusuri Kasus Dana Bencana Rp148 Miliar, Dua Anggota TNI Jadi Perhatian Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Rupiah Kembali Tersungkur di Atas Rp18.000, Sentimen Global Membayangi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Diduga Selundupkan Narkoba, Kapal Tanker Mongolia Diamankan di Belawan, 8 Orang Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● El Niño Pengaruhi Jadwal Musim Hujan, BMKG Minta Warga Bersiap Hadapi Cuaca Ekst Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Antisipasi Dampak Kabut Asap, Sekdaprov Riau Tinjau Posko Kesehatan dan Rumah Ok Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● AKP Zulhendra Resmi Jabat Kapolsek Pangkalan Kerinci, Kompol Shilton ke Polresta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Antrean Solar Picu Kemacetan di Pekanbaru, Dishub Peringatkan Pengelola SPBU Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / Pekanbaru
Tubuh yang Mengingat Asap, Tujuh Koreografer Muda Riau Suarakan Bencana Lewat Tari
Penampilan tari dalam Festival Gerak Riau 2026 dengan tema asap pada Jumat, (9/10/2026). (Foto: Abdul Haris/PekanbaruTV)
Tubuh yang Mengingat Asap, Tujuh Koreografer Muda Riau Suarakan Bencana Lewat Tari
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: abdul haris
Rubrik: news | 10 Oktober 2026 | 14:20:08

PEKANBARU-Kabut asap terus menyelimuti langit bumi lancang kuning dalam beberapa waktu terakhir. Bagi sebagian masyarakat, bencana kabut asap berdampak pada aktivitas sehari-hari. Asap tidak selalu menguap begitu saja. Ia tertinggal di paru-paru, mengendap dalam ingatan dan menghadirkan kecemasan. Bagi sebagian orang, asap mungkin sekadar gangguan jarak pandang.

Namun, bagi mereka yang pernah mengalaminya, bencana itu menyimpan cerita tentang napas yang sesak, aktivitas yang terhenti, hingga kehidupan yang harus menyesuaikan diri.

Ingatan itulah yang coba dihidupkan kembali melalui gerak tubuh di Anjung Seni Idrus Tintin, Kota Pekanbaru, pada 9–10 Oktober 2026. Dalam Festival Gerak Riau 2026, tujuh koreografer muda membawa tema Asap ke atas panggung. Mereka tak menghadirkan laporan tentang kebakaran hutan dan lahan (karhutla), juga tidak menyusun deretan angka mengenai luas wilayah yang terbakar melainkan memilih seni tari sebagai medium untuk menceritakan sesuatu yang kerap berulang, tetapi belum sepenuhnya selesai.

iklan-view

Festival yang memasuki tahun kedua ini menjadi ruang bagi para seniman untuk menyampaikan keresahan terhadap bencana asap melalui bahasa yang berbeda dengan gerak, musik, dan komposisi artistik.

Direktur Festival Gerak Riau 2026 sekaligus Ketua Forum Tari Riau, Wan Harun Ismail mengatakan, tema tersebut berangkat dari pengalaman masyarakat Riau menghadapi bencana asap yang berulang kali terjadi.

Baginya, asap bukan semata-mata peristiwa lingkungan. Bencana itu meninggalkan memori yang melekat dalam pikiran dan tubuh orang-orang yang pernah mengalaminya.

“Ada memori pikiran, memori tubuh dan memori lainnya yang sangat melekat pada diri kami mengenai bencana itu,” kata Wan Harun saat diwawancarai jurnalis Pekanbaru TV pada Jumat malam, (9/10/2026).

Ingatan tersebut, menurutnya tidak bisa begitu saja diabaikan. Apalagi, bencana asap bukan persoalan yang cukup diselesaikan dengan menunggu kabut menghilang. Ada persoalan yang perlu terus dibicarakan, tindakan yang harus dilakukan, serta upaya pencegahan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Wan Harun memandang seorang seniman memiliki ruang untuk menyampaikan kegelisahan publik melalui cara yang tidak selalu konfrontatif. Kemarahan terhadap kerusakan lingkungan, misalnya, tidak harus ditampilkan melalui ekspresi yang keras. Ia dapat diterjemahkan menjadi gerakan tubuh yang mengundang penonton untuk merasakan, menafsirkan, dan memikirkan kembali persoalan yang dihadapi bersama.

“Tidak selamanya kemarahan harus diungkap dengan hal yang sangat brutal, tapi bisa menunjukkan cara lain,” ucapnya.

Karena itu, melalui tujuh koreografer muda, Festival Gerak Riau menghadirkan cara lain untuk membicarakan asap.

Dikatakan, masing-masing koreografer membawa latar belakang, pengalaman, dan ingatan yang berbeda. Pengalaman tersebut kemudian diolah menjadi karya melalui proses penciptaan dan pendampingan mentor.

Karmaphala: Akibat dari Perbuatan Manusia

Di antara karya tujuh koreografer yang dipentaskan, Miftahul Ilmi, koreografer muda asal Bengkalis, membawa karya bertajuk Karmaphala. 

Judul tersebut berasal dari bahasa Sanskerta yang dimaknainya sebagai akibat dari perbuatan itu sendiri. Bagi Ilmi, istilah tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang menurutnya tidak dapat dilepaskan dari keserakahan manusia dalam membuka lahan. Dari sana, ia melihat hubungan antara tindakan manusia dan akibat yang kemudian harus ditanggung banyak orang.

Direktur Festival Gerak Riau 2026 sekaligus Ketua Forum Tari Riau, Wan Harun Ismail saat diwawancarai Pekanbaru TV pada Jumat, (9/10/2026). (Foto: Abdul Haris/PekanbaruTV)

Dampaknya tidak berhenti pada hutan yang terbakar atau asap yang memenuhi udara. Ada kesehatan masyarakat yang terganggu, tekanan psikologis, aktivitas yang tertunda, hingga perekonomian yang ikut terdampak.

Asap, dalam pandangan Ilmi, merupakan persoalan yang merembet ke berbagai sisi kehidupan. Karena itu, ia ingin menghadirkan dampak tersebut melalui gerak tari, bukan semata-mata menyampaikannya sebagai pesan verbal.

“Saya sebagai koreografer dan seniman hanya bisa menuangkan segala sesuatu melewati gerak. Jadi, saya akan memberitahu kepada khalayak ramai kalau asap ini menimbulkan dampak melalui sebuah gerak yang dinamis dan indah,” kata Ilmi.

Ada ironi dalam upaya tersebut. Sesuatu yang merusak kehidupan manusia diterjemahkan menjadi gerakan yang indah di atas panggung. Namun, keindahan itu bukan berarti menghilangkan rasa sesak atau menghaluskan persoalan. Justru melalui bahasa tubuh, Ilmi ingin membawa penonton mendekati dampak bencana dengan cara yang berbeda.

Ia berharap, karya tersebut dapat membuka perhatian masyarakat, terutama pemerintah, agar upaya mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti sebagai wacana.

Harapan itu muncul dari kenyataan bahwa asap masih menjadi persoalan yang membayangi Riau. Bagi Ilmi, mengangkatnya ke dalam karya seni merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengingatkan publik bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan ketika kebakaran berlangsung.

Tujuh hingga Delapan Bulan Mengolah Ingatan Menjadi Gerak

Di balik pertunjukan yang hadir di panggung, terdapat proses panjang yang tidak selalu terlihat oleh penonton. Ilmi bilang,  penciptaan Karmaphala membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan bulan, mulai dari penetapan konsep, pematangan gagasan, pengembangan artistik, penggarapan musik, eksplorasi gerak, hingga finalisasi karya.

Proses itu didampingi oleh mentor Hartati dan Jecko Siompo. Diskusi disebut menjadi bagian penting dalam memastikan gagasan yang berangkat dari kegelisahan terhadap asap dapat diterjemahkan menjadi komposisi gerak yang utuh.

Tantangan lainnya datang dari para penari yang dibawanya. Sebagian masih duduk di bangku SMA. Bagi Ilmi, mendampingi mereka bukan hanya perkara mengajarkan rangkaian gerakan, melainkan juga membuka cara pandang dan memberi ruang untuk mengenali kemampuan tubuh mereka sendiri.

Proses itu memperlihatkan bahwa karya seni tidak lahir semata-mata dari gagasan yang selesai di kepala. Ia membutuhkan waktu, percakapan, percobaan, dan kesediaan untuk terus mengolah sesuatu yang hendak disampaikan.

Dalam konteks Karmaphala, proses itu sekaligus menjadi upaya menerjemahkan persoalan yang kompleks ke dalam bahasa yang dapat dirasakan penonton.

Sebab, bencana asap bukan hanya perkara api yang membakar lahan. Ia juga menyangkut keputusan manusia, dampak yang ditimbulkan, dan masyarakat yang harus menanggung akibatnya.

Ketika Seni Menolak Melupakan

Festival Gerak Riau 2026 menempatkan seni sebagai ruang untuk merawat ingatan tentang bencana. Di tengah persoalan asap yang berulang, panggung menjadi tempat bagi pengalaman masyarakat untuk kembali dibicarakan, bukan agar mereka terus terjebak dalam kecemasan, melainkan supaya persoalan tersebut tidak dianggap lumrah.

Wan Harun berharap, karya para koreografer dapat menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memikirkan dan mencari jalan keluar dari persoalan asap. Ia menyadari seni memiliki keterbatasan.

Seniman kata dia, tidak bisa sendirian menyelesaikan kebakaran hutan dan lahan. Namun, mereka dapat menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk menyuarakan persoalan tersebut.

Sementara bagi Ilmi, tari merupakan medium yang bisa digunakan untuk menyampaikan keresahan sekaligus mengajak masyarakat melihat dampak karhutla dari sudut pandang yang berbeda.

Pada akhirnya, asap yang dibawa ke panggung bukan sekadar gambaran tentang kabut yang menutupi langit. Ia adalah ingatan tentang sesuatu yang pernah menyakitkan, tentang akibat dari tindakan manusia, dan tentang harapan agar peristiwa yang sama tidak terus berulang.

Di hadapan penonton, tubuh para penari bergerak menyampaikan sesuatu yang tidak selalu mudah diucapkan. Sebab, ada pengalaman yang tidak cukup dijelaskan melalui kata-kata. Ada pula bencana yang tak semestinya hanya dikenang setelah asap menghilang. (*)

Home / News
Tubuh yang Mengingat Asap, Tujuh Koreografer Muda Riau Suarakan Bencana Lewat Tari
Editor: Boy Surya Hamta | Penulis: abdul haris
Rubrik: news | 10 Oktober 2026 | 14:20:08
Tubuh yang Mengingat Asap, Tujuh Koreografer Muda Riau Suarakan Bencana Lewat Tari
Penampilan tari dalam Festival Gerak Riau 2026 dengan tema asap pada Jumat, (9/10/2026). (Foto: Abdul Haris/PekanbaruTV)

PEKANBARU-Kabut asap terus menyelimuti langit bumi lancang kuning dalam beberapa waktu terakhir. Bagi sebagian masyarakat, bencana kabut asap berdampak pada aktivitas sehari-hari. Asap tidak selalu menguap begitu saja. Ia tertinggal di paru-paru, mengendap dalam ingatan dan menghadirkan kecemasan. Bagi sebagian orang, asap mungkin sekadar gangguan jarak pandang.

Namun, bagi mereka yang pernah mengalaminya, bencana itu menyimpan cerita tentang napas yang sesak, aktivitas yang terhenti, hingga kehidupan yang harus menyesuaikan diri.

Ingatan itulah yang coba dihidupkan kembali melalui gerak tubuh di Anjung Seni Idrus Tintin, Kota Pekanbaru, pada 9–10 Oktober 2026. Dalam Festival Gerak Riau 2026, tujuh koreografer muda membawa tema Asap ke atas panggung. Mereka tak menghadirkan laporan tentang kebakaran hutan dan lahan (karhutla), juga tidak menyusun deretan angka mengenai luas wilayah yang terbakar melainkan memilih seni tari sebagai medium untuk menceritakan sesuatu yang kerap berulang, tetapi belum sepenuhnya selesai.

Festival yang memasuki tahun kedua ini menjadi ruang bagi para seniman untuk menyampaikan keresahan terhadap bencana asap melalui bahasa yang berbeda dengan gerak, musik, dan komposisi artistik.

Direktur Festival Gerak Riau 2026 sekaligus Ketua Forum Tari Riau, Wan Harun Ismail mengatakan, tema tersebut berangkat dari pengalaman masyarakat Riau menghadapi bencana asap yang berulang kali terjadi.

Baginya, asap bukan semata-mata peristiwa lingkungan. Bencana itu meninggalkan memori yang melekat dalam pikiran dan tubuh orang-orang yang pernah mengalaminya.

“Ada memori pikiran, memori tubuh dan memori lainnya yang sangat melekat pada diri kami mengenai bencana itu,” kata Wan Harun saat diwawancarai jurnalis Pekanbaru TV pada Jumat malam, (9/10/2026).

Ingatan tersebut, menurutnya tidak bisa begitu saja diabaikan. Apalagi, bencana asap bukan persoalan yang cukup diselesaikan dengan menunggu kabut menghilang. Ada persoalan yang perlu terus dibicarakan, tindakan yang harus dilakukan, serta upaya pencegahan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Wan Harun memandang seorang seniman memiliki ruang untuk menyampaikan kegelisahan publik melalui cara yang tidak selalu konfrontatif. Kemarahan terhadap kerusakan lingkungan, misalnya, tidak harus ditampilkan melalui ekspresi yang keras. Ia dapat diterjemahkan menjadi gerakan tubuh yang mengundang penonton untuk merasakan, menafsirkan, dan memikirkan kembali persoalan yang dihadapi bersama.

“Tidak selamanya kemarahan harus diungkap dengan hal yang sangat brutal, tapi bisa menunjukkan cara lain,” ucapnya.

Karena itu, melalui tujuh koreografer muda, Festival Gerak Riau menghadirkan cara lain untuk membicarakan asap.

Dikatakan, masing-masing koreografer membawa latar belakang, pengalaman, dan ingatan yang berbeda. Pengalaman tersebut kemudian diolah menjadi karya melalui proses penciptaan dan pendampingan mentor.

Karmaphala: Akibat dari Perbuatan Manusia

Di antara karya tujuh koreografer yang dipentaskan, Miftahul Ilmi, koreografer muda asal Bengkalis, membawa karya bertajuk Karmaphala. 

Judul tersebut berasal dari bahasa Sanskerta yang dimaknainya sebagai akibat dari perbuatan itu sendiri. Bagi Ilmi, istilah tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang menurutnya tidak dapat dilepaskan dari keserakahan manusia dalam membuka lahan. Dari sana, ia melihat hubungan antara tindakan manusia dan akibat yang kemudian harus ditanggung banyak orang.

Direktur Festival Gerak Riau 2026 sekaligus Ketua Forum Tari Riau, Wan Harun Ismail saat diwawancarai Pekanbaru TV pada Jumat, (9/10/2026). (Foto: Abdul Haris/PekanbaruTV)

Dampaknya tidak berhenti pada hutan yang terbakar atau asap yang memenuhi udara. Ada kesehatan masyarakat yang terganggu, tekanan psikologis, aktivitas yang tertunda, hingga perekonomian yang ikut terdampak.

Asap, dalam pandangan Ilmi, merupakan persoalan yang merembet ke berbagai sisi kehidupan. Karena itu, ia ingin menghadirkan dampak tersebut melalui gerak tari, bukan semata-mata menyampaikannya sebagai pesan verbal.

“Saya sebagai koreografer dan seniman hanya bisa menuangkan segala sesuatu melewati gerak. Jadi, saya akan memberitahu kepada khalayak ramai kalau asap ini menimbulkan dampak melalui sebuah gerak yang dinamis dan indah,” kata Ilmi.

Ada ironi dalam upaya tersebut. Sesuatu yang merusak kehidupan manusia diterjemahkan menjadi gerakan yang indah di atas panggung. Namun, keindahan itu bukan berarti menghilangkan rasa sesak atau menghaluskan persoalan. Justru melalui bahasa tubuh, Ilmi ingin membawa penonton mendekati dampak bencana dengan cara yang berbeda.

Ia berharap, karya tersebut dapat membuka perhatian masyarakat, terutama pemerintah, agar upaya mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti sebagai wacana.

Harapan itu muncul dari kenyataan bahwa asap masih menjadi persoalan yang membayangi Riau. Bagi Ilmi, mengangkatnya ke dalam karya seni merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengingatkan publik bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan ketika kebakaran berlangsung.

Tujuh hingga Delapan Bulan Mengolah Ingatan Menjadi Gerak

Di balik pertunjukan yang hadir di panggung, terdapat proses panjang yang tidak selalu terlihat oleh penonton. Ilmi bilang,  penciptaan Karmaphala membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan bulan, mulai dari penetapan konsep, pematangan gagasan, pengembangan artistik, penggarapan musik, eksplorasi gerak, hingga finalisasi karya.

Proses itu didampingi oleh mentor Hartati dan Jecko Siompo. Diskusi disebut menjadi bagian penting dalam memastikan gagasan yang berangkat dari kegelisahan terhadap asap dapat diterjemahkan menjadi komposisi gerak yang utuh.

Tantangan lainnya datang dari para penari yang dibawanya. Sebagian masih duduk di bangku SMA. Bagi Ilmi, mendampingi mereka bukan hanya perkara mengajarkan rangkaian gerakan, melainkan juga membuka cara pandang dan memberi ruang untuk mengenali kemampuan tubuh mereka sendiri.

Proses itu memperlihatkan bahwa karya seni tidak lahir semata-mata dari gagasan yang selesai di kepala. Ia membutuhkan waktu, percakapan, percobaan, dan kesediaan untuk terus mengolah sesuatu yang hendak disampaikan.

Dalam konteks Karmaphala, proses itu sekaligus menjadi upaya menerjemahkan persoalan yang kompleks ke dalam bahasa yang dapat dirasakan penonton.

Sebab, bencana asap bukan hanya perkara api yang membakar lahan. Ia juga menyangkut keputusan manusia, dampak yang ditimbulkan, dan masyarakat yang harus menanggung akibatnya.

Ketika Seni Menolak Melupakan

Festival Gerak Riau 2026 menempatkan seni sebagai ruang untuk merawat ingatan tentang bencana. Di tengah persoalan asap yang berulang, panggung menjadi tempat bagi pengalaman masyarakat untuk kembali dibicarakan, bukan agar mereka terus terjebak dalam kecemasan, melainkan supaya persoalan tersebut tidak dianggap lumrah.

Wan Harun berharap, karya para koreografer dapat menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memikirkan dan mencari jalan keluar dari persoalan asap. Ia menyadari seni memiliki keterbatasan.

Seniman kata dia, tidak bisa sendirian menyelesaikan kebakaran hutan dan lahan. Namun, mereka dapat menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk menyuarakan persoalan tersebut.

Sementara bagi Ilmi, tari merupakan medium yang bisa digunakan untuk menyampaikan keresahan sekaligus mengajak masyarakat melihat dampak karhutla dari sudut pandang yang berbeda.

Pada akhirnya, asap yang dibawa ke panggung bukan sekadar gambaran tentang kabut yang menutupi langit. Ia adalah ingatan tentang sesuatu yang pernah menyakitkan, tentang akibat dari tindakan manusia, dan tentang harapan agar peristiwa yang sama tidak terus berulang.

Di hadapan penonton, tubuh para penari bergerak menyampaikan sesuatu yang tidak selalu mudah diucapkan. Sebab, ada pengalaman yang tidak cukup dijelaskan melalui kata-kata. Ada pula bencana yang tak semestinya hanya dikenang setelah asap menghilang. (*)