logo
● Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● KPK Telusuri Kasus Dana Bencana Rp148 Miliar, Dua Anggota TNI Jadi Perhatian Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Rupiah Kembali Tersungkur di Atas Rp18.000, Sentimen Global Membayangi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Diduga Selundupkan Narkoba, Kapal Tanker Mongolia Diamankan di Belawan, 8 Orang Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● El Niño Pengaruhi Jadwal Musim Hujan, BMKG Minta Warga Bersiap Hadapi Cuaca Ekst Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Antisipasi Dampak Kabut Asap, Sekdaprov Riau Tinjau Posko Kesehatan dan Rumah Ok Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● AKP Zulhendra Resmi Jabat Kapolsek Pangkalan Kerinci, Kompol Shilton ke Polresta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Antrean Solar Picu Kemacetan di Pekanbaru, Dishub Peringatkan Pengelola SPBU Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
Anak Mengaku Bunuh Ayah Kandung di Brebes, Polisi Dalami Kasus
Tim Inafis kepolisian melakukan olah Tempat Kejadian Perkara dalam kasus pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan seorang pria terhadap ayah kandungnya di Brebes, Jawa Tengah. (Foto: Disway)
Anak Mengaku Bunuh Ayah Kandung di Brebes, Polisi Dalami Kasus
Editor: putrajaya
Rubrik: hukum | 19 Oktober 2026 | 14:55:00

BREBES – Pengakuan seorang pemuda berinisial HS tentang kematian ayah kandungnya mengungkap kisah yang mengerikan. Ia mengaku membunuh ayahnya, memotong tubuh korban menjadi 10 bagian, lalu merebusnya selama dua hari hingga hancur.

Potongan tubuh itu, menurut pengakuannya, dibuang ke sungai yang mengalir menuju laut. Sementara tulang korban disebut dibakar hingga menjadi abu.

Kasus ini mulai terungkap setelah HS mendatangi Mapolsek Kersana dan menyerahkan diri pada Kamis (15/10/2026). Pengakuan tersebut kemudian menjadi perhatian publik setelah beredar di media sosial melalui akun Instagram @brebeshitstitz.

iklan-view

Kanit Reskrim Polsek Kersana, Aiptu Heri Sukamto, membenarkan bahwa HS datang ke kantor polisi dan mengungkap dugaan pembunuhan yang disebutnya terjadi beberapa bulan sebelumnya.

Menurut Heri, berdasarkan pengakuan HS, tubuh korban dipotong menjadi 10 bagian. Potongan tersebut kemudian direbus selama dua hari hingga hancur, lalu dibuang ke Sungai Kluwut yang mengalir menuju laut. Sementara itu, tulang korban disebut dibakar hingga menjadi abu.

"Pengakuannya, ayah dia dibunuh dan dipotong 10 bagian. Potongan direbus 2 hari hingga hancur dan dibuang ke Sungai Kluwut yang menuju ke laut. Tulangnya dibakar hingga menjadi abu," kata Heri, Minggu (18/10).

Meski telah menerima pengakuan tersebut, polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan kebenaran keterangan HS serta mengungkap rangkaian peristiwa yang sebenarnya.

Kapolsek Kersana, AKP Teguh Adi Winarko, sebelumnya menyatakan bahwa petugas telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan untuk mencari bukti yang dapat menguatkan pengakuan tersebut.

Septic Tank Rumah Pelaku Dibongkar

Untuk menelusuri kemungkinan adanya barang bukti yang tersisa, penyidik mendatangi rumah HS di sebuah kompleks perumahan di Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Brebes.

Polisi bahkan membongkar bagian septic tank di rumah tersebut. Langkah itu dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya bagian tubuh korban yang dibuang melalui saluran toilet.

"Hari ini (kemarin), rumah HS yang di kompleks perumahan dibongkar bagian septic tank-nya," ujar Heri.

Ia menjelaskan, pembongkaran tersebut merupakan bagian dari upaya menindaklanjuti pengakuan HS dan memastikan apakah masih terdapat bukti yang dapat ditemukan di lokasi.

"Ini bagian upaya menindaklanjuti pengakuan HS. Barangkali ada bagian tubuh yang dibuang di WC," imbuhnya.

Hasil pemeriksaan di lokasi diharapkan dapat membantu penyidik mengungkap secara utuh dugaan pembunuhan tersebut, termasuk memastikan nasib korban dan mencari bukti pendukung lainnya.

Keluarga Tak Curiga Korban Menghilang

Di balik pengakuan mengerikan itu, keluarga dan warga sekitar mengaku tidak pernah menaruh kecurigaan terhadap HS selama ayahnya tidak terlihat selama beberapa bulan.

Ina, salah seorang kerabat pelaku, mengatakan HS selama ini menyebut ayahnya sedang berjualan siomay menggunakan sepeda motor di Kota Tegal. Penjelasan tersebut diterima keluarga karena korban memang dikenal kerap bepergian ke luar daerah.

Menurut Ina, setiap kali ibunya menanyakan keberadaan sang suami atau persoalan kebutuhan rumah tangga, HS selalu mengatakan bahwa dirinya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga.

"Nggak ada yang merasa curiga. Kata HS memang ayahnya lagi jualan siomay menggunakan sepeda motor. Kalau istrinya butuh uang dan tanya keberadaan ayahnya, HS selalu mengatakan bahwa kebutuhan keluarganya dia yang tanggung," ungkap Ina, Sabtu (17/10).

Ina juga menggambarkan HS sebagai sosok yang selama ini terlihat tenang dan penurut. Ia menyebut HS dikenal menyayangi ibu dan kedua adiknya yang masih bersekolah.

Setelah lulus SMA, HS bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik sepatu untuk membantu perekonomian keluarga.

Kini, pengakuan HS menjadi titik awal bagi polisi untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi terhadap ayah kandungnya. Penyidik masih harus menguji setiap keterangan dengan bukti-bukti yang ditemukan di lapangan. (*)

Home / Hukum
Anak Mengaku Bunuh Ayah Kandung di Brebes, Polisi Dalami Kasus
Editor: putrajaya
Rubrik: hukum | 19 Oktober 2026 | 14:55:00
Anak Mengaku Bunuh Ayah Kandung di Brebes, Polisi Dalami Kasus
Tim Inafis kepolisian melakukan olah Tempat Kejadian Perkara dalam kasus pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan seorang pria terhadap ayah kandungnya di Brebes, Jawa Tengah. (Foto: Disway)

BREBES – Pengakuan seorang pemuda berinisial HS tentang kematian ayah kandungnya mengungkap kisah yang mengerikan. Ia mengaku membunuh ayahnya, memotong tubuh korban menjadi 10 bagian, lalu merebusnya selama dua hari hingga hancur.

Potongan tubuh itu, menurut pengakuannya, dibuang ke sungai yang mengalir menuju laut. Sementara tulang korban disebut dibakar hingga menjadi abu.

Kasus ini mulai terungkap setelah HS mendatangi Mapolsek Kersana dan menyerahkan diri pada Kamis (15/10/2026). Pengakuan tersebut kemudian menjadi perhatian publik setelah beredar di media sosial melalui akun Instagram @brebeshitstitz.

Kanit Reskrim Polsek Kersana, Aiptu Heri Sukamto, membenarkan bahwa HS datang ke kantor polisi dan mengungkap dugaan pembunuhan yang disebutnya terjadi beberapa bulan sebelumnya.

Menurut Heri, berdasarkan pengakuan HS, tubuh korban dipotong menjadi 10 bagian. Potongan tersebut kemudian direbus selama dua hari hingga hancur, lalu dibuang ke Sungai Kluwut yang mengalir menuju laut. Sementara itu, tulang korban disebut dibakar hingga menjadi abu.

"Pengakuannya, ayah dia dibunuh dan dipotong 10 bagian. Potongan direbus 2 hari hingga hancur dan dibuang ke Sungai Kluwut yang menuju ke laut. Tulangnya dibakar hingga menjadi abu," kata Heri, Minggu (18/10).

Meski telah menerima pengakuan tersebut, polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan kebenaran keterangan HS serta mengungkap rangkaian peristiwa yang sebenarnya.

Kapolsek Kersana, AKP Teguh Adi Winarko, sebelumnya menyatakan bahwa petugas telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan untuk mencari bukti yang dapat menguatkan pengakuan tersebut.

Septic Tank Rumah Pelaku Dibongkar

Untuk menelusuri kemungkinan adanya barang bukti yang tersisa, penyidik mendatangi rumah HS di sebuah kompleks perumahan di Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Brebes.

Polisi bahkan membongkar bagian septic tank di rumah tersebut. Langkah itu dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya bagian tubuh korban yang dibuang melalui saluran toilet.

"Hari ini (kemarin), rumah HS yang di kompleks perumahan dibongkar bagian septic tank-nya," ujar Heri.

Ia menjelaskan, pembongkaran tersebut merupakan bagian dari upaya menindaklanjuti pengakuan HS dan memastikan apakah masih terdapat bukti yang dapat ditemukan di lokasi.

"Ini bagian upaya menindaklanjuti pengakuan HS. Barangkali ada bagian tubuh yang dibuang di WC," imbuhnya.

Hasil pemeriksaan di lokasi diharapkan dapat membantu penyidik mengungkap secara utuh dugaan pembunuhan tersebut, termasuk memastikan nasib korban dan mencari bukti pendukung lainnya.

Keluarga Tak Curiga Korban Menghilang

Di balik pengakuan mengerikan itu, keluarga dan warga sekitar mengaku tidak pernah menaruh kecurigaan terhadap HS selama ayahnya tidak terlihat selama beberapa bulan.

Ina, salah seorang kerabat pelaku, mengatakan HS selama ini menyebut ayahnya sedang berjualan siomay menggunakan sepeda motor di Kota Tegal. Penjelasan tersebut diterima keluarga karena korban memang dikenal kerap bepergian ke luar daerah.

Menurut Ina, setiap kali ibunya menanyakan keberadaan sang suami atau persoalan kebutuhan rumah tangga, HS selalu mengatakan bahwa dirinya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga.

"Nggak ada yang merasa curiga. Kata HS memang ayahnya lagi jualan siomay menggunakan sepeda motor. Kalau istrinya butuh uang dan tanya keberadaan ayahnya, HS selalu mengatakan bahwa kebutuhan keluarganya dia yang tanggung," ungkap Ina, Sabtu (17/10).

Ina juga menggambarkan HS sebagai sosok yang selama ini terlihat tenang dan penurut. Ia menyebut HS dikenal menyayangi ibu dan kedua adiknya yang masih bersekolah.

Setelah lulus SMA, HS bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik sepatu untuk membantu perekonomian keluarga.

Kini, pengakuan HS menjadi titik awal bagi polisi untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi terhadap ayah kandungnya. Penyidik masih harus menguji setiap keterangan dengan bukti-bukti yang ditemukan di lapangan. (*)