logo
● Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● KPK Telusuri Kasus Dana Bencana Rp148 Miliar, Dua Anggota TNI Jadi Perhatian Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Rupiah Kembali Tersungkur di Atas Rp18.000, Sentimen Global Membayangi Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Diduga Selundupkan Narkoba, Kapal Tanker Mongolia Diamankan di Belawan, 8 Orang Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● El Niño Pengaruhi Jadwal Musim Hujan, BMKG Minta Warga Bersiap Hadapi Cuaca Ekst Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Antisipasi Dampak Kabut Asap, Sekdaprov Riau Tinjau Posko Kesehatan dan Rumah Ok Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● AKP Zulhendra Resmi Jabat Kapolsek Pangkalan Kerinci, Kompol Shilton ke Polresta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Antrean Solar Picu Kemacetan di Pekanbaru, Dishub Peringatkan Pengelola SPBU Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Jakarta
Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan
Guru Besar Universitas YARSI, Prof. Perdana Wahyu Santosa(foto:dokpekanbarutv)
Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: ekonomi | 21 Oktober 2026 | 21:54:55

JAKARTA-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai berpotensi menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja baru, terutama di wilayah pedesaan. Selain mendukung pemenuhan gizi masyarakat, program tersebut juga mendorong perputaran uang melalui keterlibatan tenaga kerja lokal, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pemasok bahan pangan.

Pengamat Ekonomi GREAT Institute sekaligus Guru Besar Universitas YARSI, Prof. Perdana Wahyu Santosa, mengatakan, besarnya anggaran MBG berpotensi memberikan dampak berantai terhadap aktivitas ekonomi masyarakat hingga ke tingkat desa.

"Program Makan Bergizi Gratis sekarang serapannya sudah sekitar Rp150 triliun. Berarti ada uang sekitar Rp150 triliun yang berputar dalam ekonomi kerakyatan, di akar rumput, dan itu sudah sedikit banyak menggerakkan perekonomian pedesaan," ujar Perdana dalam dialog di salah satu stasiun televisi swasta bertajuk Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran Jaga Stabilitas dan Perkuat Kemandirian Nasional.

Menurut dia, kebutuhan bahan pangan untuk operasional MBG dapat meningkatkan permintaan berbagai komoditas, seperti telur, ayam, daging, dan sayuran. Kondisi ini membuka peluang pasar bagi petani, peternak, serta pemasok bahan pangan lokal.

Selain itu, operasional dapur MBG juga membutuhkan tenaga kerja sehingga berpotensi menciptakan kesempatan kerja baru bagi masyarakat di sekitarnya.

Perdana menyarankan agar pelaksanaan program tersebut lebih diprioritaskan di wilayah pedesaan. Menurutnya, MBG dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi desa apabila dijalankan dengan baik dan didukung pengawasan yang memadai.

"Kalau MBG bisa terus berjalan dengan baik dan risiko keracunan maupun persoalan operasional dapat dikurangi, program ini bisa menjadi salah satu andalan untuk menggerakkan perekonomian desa," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Analis Politik sekaligus akademikus Ujang Komarudin. Ia menilai, MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan makan, tetapi juga berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.

"MBG bukan hanya sekadar memberi makan, tetapi ekonomi di sekitar dapur, bahkan di desa, juga berputar. Pekerja-pekerja yang tadinya menganggur mendapatkan pekerjaan, emak-emak yang tadinya tidak punya pekerjaan ikut turut membantu," ungkap Ujang.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya pengawasan publik dan perbaikan tata kelola secara berkelanjutan agar pelaksanaan program berjalan sesuai tujuan. Perhatian khusus juga diperlukan untuk memastikan manfaat MBG menjangkau masyarakat yang membutuhkan, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dengan pengelolaan yang baik dan dukungan rantai pasok pangan lokal, MBG diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja, meningkatkan peluang usaha bagi masyarakat, serta memperkuat perputaran ekonomi di pedesaan. Sinergi dengan Koperasi Desa Merah Putih juga dinilai berpotensi mendukung distribusi dan penyediaan bahan pangan bagi pelaksanaan program tersebut.(*)

Home / Ekonomi
Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan
Editor: Ridho Haztil | Penulis: raka sagara
Rubrik: ekonomi | 21 Oktober 2026 | 21:54:55
Ahli Ekonomi :Program MBG Gerakkan Ekonomi Desa dan Buka Lapangan Pekerjaan
Guru Besar Universitas YARSI, Prof. Perdana Wahyu Santosa(foto:dokpekanbarutv)

JAKARTA-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai berpotensi menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja baru, terutama di wilayah pedesaan. Selain mendukung pemenuhan gizi masyarakat, program tersebut juga mendorong perputaran uang melalui keterlibatan tenaga kerja lokal, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pemasok bahan pangan.

Pengamat Ekonomi GREAT Institute sekaligus Guru Besar Universitas YARSI, Prof. Perdana Wahyu Santosa, mengatakan, besarnya anggaran MBG berpotensi memberikan dampak berantai terhadap aktivitas ekonomi masyarakat hingga ke tingkat desa.

"Program Makan Bergizi Gratis sekarang serapannya sudah sekitar Rp150 triliun. Berarti ada uang sekitar Rp150 triliun yang berputar dalam ekonomi kerakyatan, di akar rumput, dan itu sudah sedikit banyak menggerakkan perekonomian pedesaan," ujar Perdana dalam dialog di salah satu stasiun televisi swasta bertajuk Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran Jaga Stabilitas dan Perkuat Kemandirian Nasional.

Menurut dia, kebutuhan bahan pangan untuk operasional MBG dapat meningkatkan permintaan berbagai komoditas, seperti telur, ayam, daging, dan sayuran. Kondisi ini membuka peluang pasar bagi petani, peternak, serta pemasok bahan pangan lokal.

Selain itu, operasional dapur MBG juga membutuhkan tenaga kerja sehingga berpotensi menciptakan kesempatan kerja baru bagi masyarakat di sekitarnya.

Perdana menyarankan agar pelaksanaan program tersebut lebih diprioritaskan di wilayah pedesaan. Menurutnya, MBG dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi desa apabila dijalankan dengan baik dan didukung pengawasan yang memadai.

"Kalau MBG bisa terus berjalan dengan baik dan risiko keracunan maupun persoalan operasional dapat dikurangi, program ini bisa menjadi salah satu andalan untuk menggerakkan perekonomian desa," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Analis Politik sekaligus akademikus Ujang Komarudin. Ia menilai, MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan makan, tetapi juga berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.

"MBG bukan hanya sekadar memberi makan, tetapi ekonomi di sekitar dapur, bahkan di desa, juga berputar. Pekerja-pekerja yang tadinya menganggur mendapatkan pekerjaan, emak-emak yang tadinya tidak punya pekerjaan ikut turut membantu," ungkap Ujang.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya pengawasan publik dan perbaikan tata kelola secara berkelanjutan agar pelaksanaan program berjalan sesuai tujuan. Perhatian khusus juga diperlukan untuk memastikan manfaat MBG menjangkau masyarakat yang membutuhkan, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dengan pengelolaan yang baik dan dukungan rantai pasok pangan lokal, MBG diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja, meningkatkan peluang usaha bagi masyarakat, serta memperkuat perputaran ekonomi di pedesaan. Sinergi dengan Koperasi Desa Merah Putih juga dinilai berpotensi mendukung distribusi dan penyediaan bahan pangan bagi pelaksanaan program tersebut.(*)