
Oleh: Samuel Mangaraja Sianturi
DI TENGAH kemudahan komunikasi di era digital, hubungan dengan tetangga justru semakin renggang. Gaya hidup individualis, kesibukan dunia kerja, dan kehidupan di media sosial membuat orang di zaman sekarang tidak menyempatkan waktu untuk bersilaturahmi dengan tetangga. Padahal, tetangga adalah orang terdekat di sekitar kita yang bisa ada saat kita sedang membutuhkan pertolongan.
Kita tidak sadar bahwa kehidupan bertetangga dapat membawa banyak pengaruh positif dalam kehidupan kita sehari-hari. Keacuhan terhadap tetangga ini bukan hanya disebabkan oleh kesibukan individu-individu saja, tetapi juga kesadaran kita yang menurun, menganggap bahwa tetangga hanya sekadar orang yang tinggal di sebelah rumah kita saja.
Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya penggunaan media sosial di Indonesia yang membuat interaksi langsung semakin berkurang.
Dari dulu hingga sekarang, kehidupan bertetangga yang harmonis membawa banyak manfaat baik seperti halnya kegiatan gotong royong yang dapat membuat lingkungan tempat tinggal kita bersih dan rapi serta dapat mempererat hubungan kekeluargaan antar tetangga sehingga tidak ada timbul tenggang rasa antara satu sama lain. Sekedar saling sapa dan basa-basi yang dapat membuat kita merasa aman dan nyaman hidup di lingkungan yang semua orang saling mengenal dan berhubungan baik.
Namun sekarang, keakraban dengan tetangga kelihatannya memudar, banyak dari kita yang lebih memilih di rumah dan menghabiskan waktu kita dengan smartphone seperti scrolling ataupun menonton video di medsos, bermain game online, dan lebih memilih interaksi dengan teman secara daring dibandingkan bertemu langsung dengan orang di sekitar seperti tetangga.
Saya sendiri pernah merasakan perubahan ini secara langsung. Ketika ada tetangga baru yang pindah ke dekat rumah saya, saya mencoba menyapanya seperti hal yang biasa dilakukan dalam kehidupan bertetangga. Namun, sapaan tersebut tidak ditanggapi dengan ramah, bahkan terkesan cuek dan menjaga jarak.
Pengalaman ini terasa berbeda dengan masa kecil saya dulu. Ketika keluarga saya baru pindah ke lingkungan tempat tinggal kami, para tetangga justru lebih dulu menyapa, memperkenalkan diri, bahkan bercerita tentang lingkungan sekitar agar kami merasa lebih diterima.
Pada masa itu juga kegiatan gotong royong masih sering dilakukan sehingga hubungan antar tetangga terasa lebih dekat dan akrab, dan menciptakan perasaan peduli satu sama lain.
Saya melihat beberapa faktor yang membuat orang zaman sekarang kurang tertarik berinteraksi dengan tetangga. Seperti sibuk dengan media sosialnya yang membuat banyak orang menghabiskan waktunya untuk online dan kehidupannya di media sosial lebih penting. Sementara kesibukan dalam gaya hidup modern juga membuat interaksi dengan tetangga dianggap melelahkan.
Di sisi lain, munculnya sikap individualisme serta nilai gotong royong semakin berkurang yang juga membuat kedekatan antar warga semakin lemah. Padahal, hubungan yang baik dengan tetangga dapat dimulai dari hal-hal sederhana seperti menyapa, berbincang singkat atau basa-basi, atau berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan. Dengan langkah kecil tersebut, keharmonisan dan rasa kebersamaan di lingkungan tempat tinggal dapat tumbuh kembali mulai dari kesadaran kita masing-masing.
Hubungan yang baik dengan tetangga adalah hal yang sangat penting, karena tetangga adalah orang terdekat dari rumah kita saat kita membutuhkan pertolongan dan berhubungan baik dengan tetangga akan menciptakan lingkungan yang lebih aman, nyaman, dan penuh rasa kebersamaan.
Bagi saya, sudah saatnya masyarakat kembali sadar bahwa kebersamaan dalam kehidupan bertetangga perlu untuk dijaga dengan baik demi ketenteraman hidup di lingkungan bertetangga. Agar tidak lagi merasa asing dengan tetangga, mulailah membuka diri dan membangun komunikasi dari hal kecil seperti saling senyum sapa dan berbincang singkat, agar kita dapat menciptakan lagi kehidupan yang nyaman dan aman di lingkungan kita. **
*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Islam Riau Program Studi Ilmu Komunikasi.
Oleh: Samuel Mangaraja Sianturi
DI TENGAH kemudahan komunikasi di era digital, hubungan dengan tetangga justru semakin renggang. Gaya hidup individualis, kesibukan dunia kerja, dan kehidupan di media sosial membuat orang di zaman sekarang tidak menyempatkan waktu untuk bersilaturahmi dengan tetangga. Padahal, tetangga adalah orang terdekat di sekitar kita yang bisa ada saat kita sedang membutuhkan pertolongan.
Kita tidak sadar bahwa kehidupan bertetangga dapat membawa banyak pengaruh positif dalam kehidupan kita sehari-hari. Keacuhan terhadap tetangga ini bukan hanya disebabkan oleh kesibukan individu-individu saja, tetapi juga kesadaran kita yang menurun, menganggap bahwa tetangga hanya sekadar orang yang tinggal di sebelah rumah kita saja.
Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya penggunaan media sosial di Indonesia yang membuat interaksi langsung semakin berkurang.
Dari dulu hingga sekarang, kehidupan bertetangga yang harmonis membawa banyak manfaat baik seperti halnya kegiatan gotong royong yang dapat membuat lingkungan tempat tinggal kita bersih dan rapi serta dapat mempererat hubungan kekeluargaan antar tetangga sehingga tidak ada timbul tenggang rasa antara satu sama lain. Sekedar saling sapa dan basa-basi yang dapat membuat kita merasa aman dan nyaman hidup di lingkungan yang semua orang saling mengenal dan berhubungan baik.
Namun sekarang, keakraban dengan tetangga kelihatannya memudar, banyak dari kita yang lebih memilih di rumah dan menghabiskan waktu kita dengan smartphone seperti scrolling ataupun menonton video di medsos, bermain game online, dan lebih memilih interaksi dengan teman secara daring dibandingkan bertemu langsung dengan orang di sekitar seperti tetangga.
Saya sendiri pernah merasakan perubahan ini secara langsung. Ketika ada tetangga baru yang pindah ke dekat rumah saya, saya mencoba menyapanya seperti hal yang biasa dilakukan dalam kehidupan bertetangga. Namun, sapaan tersebut tidak ditanggapi dengan ramah, bahkan terkesan cuek dan menjaga jarak.
Pengalaman ini terasa berbeda dengan masa kecil saya dulu. Ketika keluarga saya baru pindah ke lingkungan tempat tinggal kami, para tetangga justru lebih dulu menyapa, memperkenalkan diri, bahkan bercerita tentang lingkungan sekitar agar kami merasa lebih diterima.
Pada masa itu juga kegiatan gotong royong masih sering dilakukan sehingga hubungan antar tetangga terasa lebih dekat dan akrab, dan menciptakan perasaan peduli satu sama lain.
Saya melihat beberapa faktor yang membuat orang zaman sekarang kurang tertarik berinteraksi dengan tetangga. Seperti sibuk dengan media sosialnya yang membuat banyak orang menghabiskan waktunya untuk online dan kehidupannya di media sosial lebih penting. Sementara kesibukan dalam gaya hidup modern juga membuat interaksi dengan tetangga dianggap melelahkan.
Di sisi lain, munculnya sikap individualisme serta nilai gotong royong semakin berkurang yang juga membuat kedekatan antar warga semakin lemah. Padahal, hubungan yang baik dengan tetangga dapat dimulai dari hal-hal sederhana seperti menyapa, berbincang singkat atau basa-basi, atau berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan. Dengan langkah kecil tersebut, keharmonisan dan rasa kebersamaan di lingkungan tempat tinggal dapat tumbuh kembali mulai dari kesadaran kita masing-masing.
Hubungan yang baik dengan tetangga adalah hal yang sangat penting, karena tetangga adalah orang terdekat dari rumah kita saat kita membutuhkan pertolongan dan berhubungan baik dengan tetangga akan menciptakan lingkungan yang lebih aman, nyaman, dan penuh rasa kebersamaan.
Bagi saya, sudah saatnya masyarakat kembali sadar bahwa kebersamaan dalam kehidupan bertetangga perlu untuk dijaga dengan baik demi ketenteraman hidup di lingkungan bertetangga. Agar tidak lagi merasa asing dengan tetangga, mulailah membuka diri dan membangun komunikasi dari hal kecil seperti saling senyum sapa dan berbincang singkat, agar kita dapat menciptakan lagi kehidupan yang nyaman dan aman di lingkungan kita. **
*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Islam Riau Program Studi Ilmu Komunikasi.