logo
● Rupiah Makin Terpuruk, Ditutup di Level Rp18.060 per Dolar AS Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Kejati Riau Tahan 8 Tersangka Korupsi Dana PI PT SPRH, Kerugian Negara Rp64,22 M Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Polda Riau Sita 2,1 Kg Sabu dan 284 Catridge Etomidate di Pekanbaru, Dua DPO Dib Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Pansel KPU 2027–2032 Segera Diumumkan, DPR Tekankan Integritas Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Residivis Narkoba Ditangkap di Pekanbaru, Polisi Sita 10 Paket Sabu Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Riau Nihil Penanganan Karhutla, Personel Satgas BNPB Tetap Siaga Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Presiden Prabowo Soroti Keterlibatan Perusahaan Asing dalam Kasus Kebakaran Huta Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi ● Prabowo Ancam Cabut Izin Korporasi Pelanggar Aturan Kebakaran Hutan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / INTERNASIONAL
Kapal Tanker Rusia Terobos Blokade AS di Laut Karibia, 100.000 Ton Minyak Sukses Dikirim ke Kuba
Rusia tembus blokade laut AS dengan kirim 100.000 ton minyak untuk atasi krisis parah di Kuba. (Foto: Int)
Kapal Tanker Rusia Terobos Blokade AS di Laut Karibia, 100.000 Ton Minyak Sukses Dikirim ke Kuba
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 19 April 2026 | 16:22:47

MOSKOW – Kapal tanker Rusia, Anatoly Kolodkin, berhasil menembus blokade Amerika Serikat di laut Karibia untuk mengantarkan minyak ke Kuba pada akhir Maret 2026, guna mengakhiri krisis energi yang dialami negeri cerutu tersebut.

Manuver ini secara langsung menantang blokade Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (AS) terhadap negara tersebut.  Sekaligus menandai perkembangan terbaru dalam tujuh dekade kerja sama strategis antara Moskow dan negara kepulauan Karibia itu.

Ketika kapal tanker Anatoly Kolodkin bersandar pada tanggal 30 Maret lalu, Kuba tercatat tidak menerima pasokan minyak selama tiga bulan.

Kondisi ini memicu krisis yang melumpuhkan ekonomi negara, di mana kelangkaan minyak menyebabkan pemadaman listrik harian selama 12 hingga 20 jam, serta memicu kekurangan bahan bakar, makanan, dan obat-obatan yang parah bagi 10 juta penduduknya.

Kekacauan pasokan ini terjadi buntut dari serangan AS ke Venezuela pada awal Januari dan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang secara efektif memutus pasokan minyak utama bagi Kuba.

Seperti dikutip militarywatchmagazine.com, Sabtu (18/4/2026), para pejabat Rusia secara eksplisit menyatakan bahwa mereka "menerobos blokade" tersebut.

Pihak Kremlin menegaskan bahwa mereka tidak bisa tinggal diam melihat penderitaan rakyat Kuba di bawah blokade AS, dan berjanji akan terus mengirimkan dukungan.

Menanggapi signifikansi operasi ini, Duta Besar Kuba Juan Carlos Marsan Aguilera memberikan pernyataannya kepada media pemerintah Rusia melalui episode terbaru program India, Russia, and the World.

"Setelah tiga bulan tanpa minyak, sebuah kapal Rusia tiba di Kuba," ungkap Marsan Aguilera. "Itu lebih dari itu, sebuah pesan (kepada dunia) bahwa Rusia akan mendukung Kuba pada saat yang kritis."

Lebih lanjut, sang duta besar menegaskan keberanian langkah Moskow tersebut. "Rusia mengirimkan pesan yang lebih luas dengan mendukung Kuba, karena AS mengancam negara mana pun yang memasok minyak dengan tarif atau serangan terhadap kapal," tambahnya.

Sebagaimana diberitakan Idnfinancials.com, keberhasilan manuver ini tidak lepas dari dinamika geopolitik global yang sedang terjadi. Para analis menilai bahwa Rusia berada dalam posisi yang lebih menguntungkan untuk menembus blokade tersebut akibat terpecahnya fokus pasukan AS yang saat ini sedang berkonflik dengan Iran.

Mengalami berbagai kemunduran (setbacks) selama kampanye militer di Timur Tengah membuat peningkatan ketegangan dengan Rusia menjadi opsi yang sangat tidak menguntungkan bagi Washington.

Di sisi lain, Angkatan Laut Rusia sebelumnya kerap mengerahkan kapal perang jarak jauh untuk beroperasi di dekat Kuba. Hal ini memicu spekulasi kuat bahwa pihak AS kemungkinan besar menyadari adanya kehadiran kapal selam serang bertenaga nuklir milik Rusia yang bertugas mengawal pengiriman minyak tersebut.

Pengerahan semacam ini pernah mendapat publisitas besar pada bulan Juni 2024, ketika sebuah armada yang dipimpin oleh kapal selam serang nuklir Kelas Yasen-M, Kazan, dan fregat Kelas Gorshkov, Admiral Gorshkov, berlatih melakukan serangan jarak jauh di Atlantik saat sedang dalam pelayaran menuju Kuba. (idn)

Home / Ekonomi
Kapal Tanker Rusia Terobos Blokade AS di Laut Karibia, 100.000 Ton Minyak Sukses Dikirim ke Kuba
Editor: Arya Mahendra
Rubrik: ekonomi | 19 April 2026 | 16:22:47
Kapal Tanker Rusia Terobos Blokade AS di Laut Karibia, 100.000 Ton Minyak Sukses Dikirim ke Kuba
Rusia tembus blokade laut AS dengan kirim 100.000 ton minyak untuk atasi krisis parah di Kuba. (Foto: Int)

MOSKOW – Kapal tanker Rusia, Anatoly Kolodkin, berhasil menembus blokade Amerika Serikat di laut Karibia untuk mengantarkan minyak ke Kuba pada akhir Maret 2026, guna mengakhiri krisis energi yang dialami negeri cerutu tersebut.

Manuver ini secara langsung menantang blokade Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (AS) terhadap negara tersebut.  Sekaligus menandai perkembangan terbaru dalam tujuh dekade kerja sama strategis antara Moskow dan negara kepulauan Karibia itu.

Ketika kapal tanker Anatoly Kolodkin bersandar pada tanggal 30 Maret lalu, Kuba tercatat tidak menerima pasokan minyak selama tiga bulan.

Kondisi ini memicu krisis yang melumpuhkan ekonomi negara, di mana kelangkaan minyak menyebabkan pemadaman listrik harian selama 12 hingga 20 jam, serta memicu kekurangan bahan bakar, makanan, dan obat-obatan yang parah bagi 10 juta penduduknya.

Kekacauan pasokan ini terjadi buntut dari serangan AS ke Venezuela pada awal Januari dan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang secara efektif memutus pasokan minyak utama bagi Kuba.

Seperti dikutip militarywatchmagazine.com, Sabtu (18/4/2026), para pejabat Rusia secara eksplisit menyatakan bahwa mereka "menerobos blokade" tersebut.

Pihak Kremlin menegaskan bahwa mereka tidak bisa tinggal diam melihat penderitaan rakyat Kuba di bawah blokade AS, dan berjanji akan terus mengirimkan dukungan.

Menanggapi signifikansi operasi ini, Duta Besar Kuba Juan Carlos Marsan Aguilera memberikan pernyataannya kepada media pemerintah Rusia melalui episode terbaru program India, Russia, and the World.

"Setelah tiga bulan tanpa minyak, sebuah kapal Rusia tiba di Kuba," ungkap Marsan Aguilera. "Itu lebih dari itu, sebuah pesan (kepada dunia) bahwa Rusia akan mendukung Kuba pada saat yang kritis."

Lebih lanjut, sang duta besar menegaskan keberanian langkah Moskow tersebut. "Rusia mengirimkan pesan yang lebih luas dengan mendukung Kuba, karena AS mengancam negara mana pun yang memasok minyak dengan tarif atau serangan terhadap kapal," tambahnya.

Sebagaimana diberitakan Idnfinancials.com, keberhasilan manuver ini tidak lepas dari dinamika geopolitik global yang sedang terjadi. Para analis menilai bahwa Rusia berada dalam posisi yang lebih menguntungkan untuk menembus blokade tersebut akibat terpecahnya fokus pasukan AS yang saat ini sedang berkonflik dengan Iran.

Mengalami berbagai kemunduran (setbacks) selama kampanye militer di Timur Tengah membuat peningkatan ketegangan dengan Rusia menjadi opsi yang sangat tidak menguntungkan bagi Washington.

Di sisi lain, Angkatan Laut Rusia sebelumnya kerap mengerahkan kapal perang jarak jauh untuk beroperasi di dekat Kuba. Hal ini memicu spekulasi kuat bahwa pihak AS kemungkinan besar menyadari adanya kehadiran kapal selam serang bertenaga nuklir milik Rusia yang bertugas mengawal pengiriman minyak tersebut.

Pengerahan semacam ini pernah mendapat publisitas besar pada bulan Juni 2024, ketika sebuah armada yang dipimpin oleh kapal selam serang nuklir Kelas Yasen-M, Kazan, dan fregat Kelas Gorshkov, Admiral Gorshkov, berlatih melakukan serangan jarak jauh di Atlantik saat sedang dalam pelayaran menuju Kuba. (idn)