logo
Dalami Aliran Dana Pemerasan, KPK Perpanjang Penahanan Mantan Ajudan Abdul Wahid Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Polres Bengkalis Perang Total Lawan Narkoba, Jaringan Sindikat Internasional Dis Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Gunung Marapi Meletus, Pendaki dan Wisatawan Dilarang Dekati Kawah Verbeek Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Rupiah Sempat Tembus Rp17.500, Menkeu Minta Publik Tidak Panik: Beda Kondisi den Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Antisipasi Lonjakan Kendaraan Saat Long Weekend, Ditlantas Polda Riau Intensifka Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Kejagung Serahkan Rp10,2 Triliun Denda Kawasan Hutan, Prabowo: Bulan Depan Ada L Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ketahanan Pangan Dimulai dari Pekarangan, Polisi Apresiasi Kebun Sayur Warga di Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Sempat Hilang Sejak Selasa, Pemuda di Pangean Ditemukan Meninggal di Sungai Kuan Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / Ekonomi / Keuangan
Rupiah Sempat Tembus Rp17.500, Menkeu Minta Publik Tidak Panik: Beda Kondisi dengan Krisis 1998
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Rupiah Sempat Tembus Rp17.500, Menkeu Minta Publik Tidak Panik: Beda Kondisi dengan Krisis 1998
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
13 Mei 2026 | 17:43:59

JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) mendapat perhatian serius pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan stabilitas kurs rupiah tetap menjadi kewenangan utama Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral.

Meski demikian, pemerintah memastikan akan ikut mendukung upaya menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan nasional.

“Untuk nilai tukar itu ranah bank sentral dan saya yakin BI mampu mengendalikannya. Pemerintah tentu akan membantu sesuai kebutuhan,” ujar Purbaya usai menghadiri seremoni penyerahan denda administratif dan penyelamatan keuangan negara di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Rabu (13/5/2026).

Di tengah tekanan terhadap rupiah, Purbaya meminta masyarakat tidak panik. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih relatif kuat dan jauh berbeda dibanding kondisi krisis 1998.

iklan-view

Menurutnya, pemerintah telah memetakan titik-titik kelemahan yang memicu tekanan terhadap ekonomi maupun nilai tukar rupiah.

“Kita tahu di mana letak kelemahannya dan itu bisa diperbaiki. Kondisi sekarang juga tidak akan seperti 1998. Pondasi ekonomi kita jauh lebih kuat,” tegasnya.

Ia optimistis pemerintah bersama otoritas moneter mampu mengambil langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus membalikkan tekanan terhadap rupiah.

Sementara itu, setelah sempat tertekan pada perdagangan pagi, rupiah berhasil bangkit dan ditutup menguat terhadap dolar AS pada Rabu (13/5/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.460 per dolar AS atau menguat 0,17 persen. Sebelumnya, mata uang Garuda sempat melemah 0,06 persen ke posisi Rp17.500 per dolar AS, yang menjadi level terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah. (cnbc)

Home / Ekonomi
Rupiah Sempat Tembus Rp17.500, Menkeu Minta Publik Tidak Panik: Beda Kondisi dengan Krisis 1998
Editor: Arya Mahendra | Penulis: arya mahendra
Rubrik: ekonomi | 13 Mei 2026 | 17:43:59
Rupiah Sempat Tembus Rp17.500, Menkeu Minta Publik Tidak Panik: Beda Kondisi dengan Krisis 1998
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) mendapat perhatian serius pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan stabilitas kurs rupiah tetap menjadi kewenangan utama Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral.

Meski demikian, pemerintah memastikan akan ikut mendukung upaya menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan nasional.

“Untuk nilai tukar itu ranah bank sentral dan saya yakin BI mampu mengendalikannya. Pemerintah tentu akan membantu sesuai kebutuhan,” ujar Purbaya usai menghadiri seremoni penyerahan denda administratif dan penyelamatan keuangan negara di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Rabu (13/5/2026).

Di tengah tekanan terhadap rupiah, Purbaya meminta masyarakat tidak panik. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih relatif kuat dan jauh berbeda dibanding kondisi krisis 1998.

Menurutnya, pemerintah telah memetakan titik-titik kelemahan yang memicu tekanan terhadap ekonomi maupun nilai tukar rupiah.

“Kita tahu di mana letak kelemahannya dan itu bisa diperbaiki. Kondisi sekarang juga tidak akan seperti 1998. Pondasi ekonomi kita jauh lebih kuat,” tegasnya.

Ia optimistis pemerintah bersama otoritas moneter mampu mengambil langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus membalikkan tekanan terhadap rupiah.

Sementara itu, setelah sempat tertekan pada perdagangan pagi, rupiah berhasil bangkit dan ditutup menguat terhadap dolar AS pada Rabu (13/5/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.460 per dolar AS atau menguat 0,17 persen. Sebelumnya, mata uang Garuda sempat melemah 0,06 persen ke posisi Rp17.500 per dolar AS, yang menjadi level terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah. (cnbc)