
JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot kembali tertekan pada perdagangan Kamis (28/5/2026) pagi. Rupiah bahkan nyaris menembus level psikologis Rp17.900 per dolar AS.
Hingga pukul 09.35 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp17.854 per dolar AS atau melemah 53 poin (0,30 persen) dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.801 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah juga tercermin dalam kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Pada Selasa (26/5/2026), Jisdor tercatat di level Rp17.789 per dolar AS, melemah 46 poin dibanding posisi Senin (25/5/2026) di Rp17.743 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen domestik dan tekanan global. Salah satu sorotan pasar berasal dari rencana pemerintah membentuk BUMN ekspor satu pintu, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Menurut Ibrahim, kebijakan sentralisasi ekspor komoditas sumber daya alam itu memunculkan kekhawatiran pelaku pasar dan lembaga pemeringkat internasional. Pasalnya, perubahan mekanisme perdagangan dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok dan arus perdagangan apabila implementasinya tidak berjalan optimal.
“Lembaga pemeringkat seperti S&P menilai implementasi kebijakan tersebut tidak mudah dilakukan dalam waktu singkat. Risiko gangguan perdagangan menjadi perhatian serius pasar,” ujarnya.
Tak hanya itu, Moody’s juga disebut memberi perhatian terhadap potensi perubahan pola perdagangan dan dampaknya terhadap arus modal. Ketidakpastian tersebut dinilai dapat memicu capital outflow atau keluarnya dana asing dari pasar domestik, yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.
“Arus modal asing keluar menjadi salah satu faktor yang membuat rupiah terus melemah. Mata uang rupiah diperkirakan masih fluktuatif dan berpotensi bergerak di kisaran Rp17.790 hingga Rp17.850 per dolar AS,” kata Ibrahim.
Di sisi eksternal, pasar juga masih dibayangi eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi itu meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS dan semakin menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ibrahim memperkirakan kombinasi sentimen kebijakan domestik dan ketidakpastian global masih akan membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. (vvc)





JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot kembali tertekan pada perdagangan Kamis (28/5/2026) pagi. Rupiah bahkan nyaris menembus level psikologis Rp17.900 per dolar AS.
Hingga pukul 09.35 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp17.854 per dolar AS atau melemah 53 poin (0,30 persen) dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.801 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah juga tercermin dalam kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Pada Selasa (26/5/2026), Jisdor tercatat di level Rp17.789 per dolar AS, melemah 46 poin dibanding posisi Senin (25/5/2026) di Rp17.743 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen domestik dan tekanan global. Salah satu sorotan pasar berasal dari rencana pemerintah membentuk BUMN ekspor satu pintu, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Menurut Ibrahim, kebijakan sentralisasi ekspor komoditas sumber daya alam itu memunculkan kekhawatiran pelaku pasar dan lembaga pemeringkat internasional. Pasalnya, perubahan mekanisme perdagangan dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok dan arus perdagangan apabila implementasinya tidak berjalan optimal.
“Lembaga pemeringkat seperti S&P menilai implementasi kebijakan tersebut tidak mudah dilakukan dalam waktu singkat. Risiko gangguan perdagangan menjadi perhatian serius pasar,” ujarnya.
Tak hanya itu, Moody’s juga disebut memberi perhatian terhadap potensi perubahan pola perdagangan dan dampaknya terhadap arus modal. Ketidakpastian tersebut dinilai dapat memicu capital outflow atau keluarnya dana asing dari pasar domestik, yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.
“Arus modal asing keluar menjadi salah satu faktor yang membuat rupiah terus melemah. Mata uang rupiah diperkirakan masih fluktuatif dan berpotensi bergerak di kisaran Rp17.790 hingga Rp17.850 per dolar AS,” kata Ibrahim.
Di sisi eksternal, pasar juga masih dibayangi eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi itu meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS dan semakin menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ibrahim memperkirakan kombinasi sentimen kebijakan domestik dan ketidakpastian global masih akan membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. (vvc)