
JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil berbalik arah dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (1/6/2026), setelah sempat berada di bawah tekanan pada sesi pagi.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 76 poin atau 0,43 persen ke level Rp17.805 per dolar AS. Posisi ini lebih baik dibandingkan perdagangan pagi yang sempat berada di kisaran Rp17.845 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah relatif stagnan di level Rp17.878 per dolar AS.
Adapun kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia masih mencatat rupiah di posisi Rp17.883 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026). JISDOR merupakan acuan transaksi valuta asing yang digunakan pelaku pasar dan perbankan.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi sebelumnya memperkirakan pergerakan rupiah akan berlangsung fluktuatif. Meski sempat memperkirakan pelemahan, rupiah justru mampu menutup perdagangan di zona positif.
Menurut Ibrahim, penguatan rupiah ditopang oleh membaiknya sentimen global setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran telah menyusun draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump.
“Prospek tercapainya kesepakatan damai mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global dan meningkatkan optimisme terhadap stabilitas jalur pelayaran internasional,” ujar Ibrahim.
Ia menjelaskan, harapan perdamaian juga memicu ekspektasi normalisasi aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Meski demikian, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut masih berada di bawah level normal sebelum konflik sehingga risiko geopolitik masih membayangi pasar minyak global.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar terus mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran karena berpotensi memengaruhi pergerakan harga minyak dunia, dolar AS, dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. (mtv)





JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil berbalik arah dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (1/6/2026), setelah sempat berada di bawah tekanan pada sesi pagi.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 76 poin atau 0,43 persen ke level Rp17.805 per dolar AS. Posisi ini lebih baik dibandingkan perdagangan pagi yang sempat berada di kisaran Rp17.845 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah relatif stagnan di level Rp17.878 per dolar AS.
Adapun kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia masih mencatat rupiah di posisi Rp17.883 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026). JISDOR merupakan acuan transaksi valuta asing yang digunakan pelaku pasar dan perbankan.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi sebelumnya memperkirakan pergerakan rupiah akan berlangsung fluktuatif. Meski sempat memperkirakan pelemahan, rupiah justru mampu menutup perdagangan di zona positif.
Menurut Ibrahim, penguatan rupiah ditopang oleh membaiknya sentimen global setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran telah menyusun draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump.
“Prospek tercapainya kesepakatan damai mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global dan meningkatkan optimisme terhadap stabilitas jalur pelayaran internasional,” ujar Ibrahim.
Ia menjelaskan, harapan perdamaian juga memicu ekspektasi normalisasi aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Meski demikian, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut masih berada di bawah level normal sebelum konflik sehingga risiko geopolitik masih membayangi pasar minyak global.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar terus mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran karena berpotensi memengaruhi pergerakan harga minyak dunia, dolar AS, dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. (mtv)