logo
Intan Sari Terpilih Jadi Ketua RT 02 Tobekgodang, Partisipasi Warga Capai 90 Per Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi BMKG Keluarkan Peringatan Dini, Hujan Lebat Hari Ini Guyur Rohul dan Kuansing Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi DPRD Riau Desak Pemprov Tetapkan Standar Harga Kelapa, Harga di Inhil Anjlok ke Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi KPU Pekanbaru dan PWI Teken MoU, Perkuat Publikasi Kepemiluan hingga Tangkal Hoa Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Uji Kekuatan Tanah, Bandara SSK II Pekanbaru Ubah Jam Operasional Sementara Mula Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Ditjenpas Riau Akui Kelalaian Pengawal Jadi Pemicu Napi Kabur, Usul Hukuman Bera Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Pengakuan Tangan Kanan Ibnu: Napi Kabur Diduga Rutin Keluar Lapas, Sipir Disebut Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi Terungkap! Napi Kabur dari Lapas Pekanbaru Diduga "Otak" Penyelundupan Sabu ke B Menyajikan Fakta, Bukan Sensasi
HOME / News / SEPAKBOLA
CATATAN PIALA DUNIA 2026: Asia Pulang, Afrika Bertahan, Kini Eropa dan Amerika Berebut Takhta
Bek Argentina Cristian Romero (kedua kiri) berselebrasi bersama rekan-rekan setim setelah duel udara yang dilakukannya berujung menjadi gol bunuh diri bek Tanjung Verde Diney Borges dalam laga 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Hard Rock, Miami, Florida, Amerika Serikat, Sabtu (4/7/2026) WIB. (Foto: Antara)
CATATAN PIALA DUNIA 2026: Asia Pulang, Afrika Bertahan, Kini Eropa dan Amerika Berebut Takhta
Editor: Arya Mahendra | Penulis: romi ramadani
4 Juli 2026 | 16:08:15

TUNTAS sudah babak 32 besar Piala Dunia 2026. Sebanyak 16 negara memastikan tiket ke babak perdelapan final yang mulai bergulir Minggu (5/7/2026) dini hari WIB. Namun, di balik daftar negara yang lolos, tersimpan sebuah fakta menarik: Piala Dunia kini benar-benar berubah menjadi arena perebutan supremasi antara Eropa dan Amerika.

Kolombia menjadi tim terakhir yang mengamankan tempat di babak 16 besar. Wakil Amerika Selatan itu menundukkan Ghana 1-0 melalui gol cepat Jhon Arias di Kansas City Stadium. Kemenangan tersebut sekaligus menutup rangkaian babak 32 besar.

Bagi Afrika, kegagalan Ghana memang menyakitkan. Namun, benua itu masih bisa berharap kepada Maroko dan Mesir yang berhasil bertahan.

Berbeda dengan Asia. Harapan terakhir Benua Kuning resmi sirna setelah Australia kalah dramatis dari Mesir lewat adu penalti di Stadion AT&T, Arlington. Padahal Australia sempat membuka asa ketika gol bunuh diri Mohamed Hany membuat skor menjadi 1-1 setelah sebelumnya Mesir unggul melalui Emam Ashour.

iklan-view

Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak kepada tim Negeri Kanguru. Dalam adu penalti, Harry Souttar dan Lucas Harrington gagal menjalankan tugasnya. Mesir menang 4-2 dan memastikan Asia tak lagi memiliki satu pun wakil di Piala Dunia 2026.

Ironisnya, Afrika justru masih menyisakan dua negara. Asia, yang untuk pertama kalinya mengirim begitu banyak peserta ke putaran final, justru lebih dulu bergabung menjadi penonton.

Kini komposisi 16 besar pun terlihat sangat mencolok.

Eropa mengirim tujuh wakil: Norwegia, Prancis, Inggris, Belgia, Spanyol, Portugal, dan Swiss.

Amerika juga menempatkan tujuh negara: Kanada, Meksiko, Amerika Serikat, Brasil, Paraguay, Argentina, dan Kolombia.

Dua slot sisanya menjadi milik Afrika melalui Maroko dan Mesir.

Dengan komposisi tersebut, aroma rivalitas dua benua kembali menguat.

Bukan sekadar soal jumlah peserta, tetapi juga soal sejarah.

Eropa masih memiliki tiga mantan juara dunia yang tersisa, yakni Prancis dengan dua gelar, serta Inggris dan Spanyol yang masing-masing pernah sekali mengangkat trofi.

Namun Amerika tetap membawa dua raksasa sesungguhnya dalam sejarah sepak bola dunia.

Brasil, pemilik lima gelar Piala Dunia, masih berdiri kokoh. Argentina, sang juara bertahan yang telah tiga kali menjadi kampiun dunia, juga terus melangkah.

Karena itu, pertanyaan besarnya menjadi menarik.

Apakah trofi Piala Dunia akan tetap berada di daratan Amerika seperti empat tahun lalu? Ataukah Eropa kembali merebutnya sebagaimana yang dilakukan Prancis pada 2018?

Jawabannya tentu belum ada.

Namun jika melihat peta kekuatan yang tersisa, peluang Amerika tampak sedikit lebih menjanjikan.

Ada beberapa alasan. Pertama, turnamen kali ini berlangsung di Amerika Utara sehingga faktor tuan rumah menjadi keuntungan tersendiri bagi Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.

Kedua, Brasil dan Argentina masih tampil sebagai kekuatan utama yang secara tradisi sangat tahu bagaimana memenangkan pertandingan-pertandingan hidup mati.

Sebaliknya, sebagian kekuatan besar Eropa sudah lebih dulu berguguran. Jerman, misalnya, harus angkat koper setelah dikalahkan Paraguay melalui adu penalti pada babak 32 besar.

Babak 16 besar nanti bahkan langsung menyajikan pertarungan yang bisa disebut sebagai "perang antarbenua".

Dari delapan pertandingan, lima di antaranya mempertemukan wakil Eropa melawan Amerika. Tiga laga lainnya terdiri atas duel sesama Eropa, Portugal melawan Spanyol, serta dua pertandingan Amerika menghadapi Afrika, yakni Argentina versus Mesir dan Kanada melawan Maroko.

Artinya, sejak awal fase gugur kedua ini, banyak tim unggulan sudah harus saling menghabisi. Tidak sedikit favorit yang dipastikan tumbang sebelum mencapai perempat final.

Menariknya lagi, tiga negara tuan rumah sama-sama masih bertahan.

Kanada akan menghadapi Maroko. Meksiko ditantang Inggris. Sedangkan Amerika Serikat harus meladeni Belgia.

Apabila ketiganya mampu memanfaatkan dukungan publik sendiri, bukan mustahil Amerika semakin mendominasi babak berikutnya.

Tetapi sepak bola tidak pernah tunduk sepenuhnya kepada statistik, sejarah, maupun logika.

Siapa yang menyangka Jerman tersingkir begitu cepat? Siapa pula yang menduga Asia justru habis lebih dulu, sementara Afrika masih menyisakan dua wakil?

Itulah sebabnya Piala Dunia selalu menghadirkan kejutan.

Pada akhirnya, sejarah memang penting. Tradisi juga berpengaruh. Faktor tuan rumah bisa menjadi keuntungan.

Namun, ketika peluit pertama dibunyikan, semua itu sering kali kehilangan maknanya.

Karena dalam sepak bola, bola memang tetap bundar.

Dan justru di situlah letak keindahan Piala Dunia. (**)

Penulis adalah Pemimpin Redaksi PekanbaruTV.com.


Home / News
CATATAN PIALA DUNIA 2026: Asia Pulang, Afrika Bertahan, Kini Eropa dan Amerika Berebut Takhta
Editor: Arya Mahendra | Penulis: romi ramadani
Rubrik: news | 4 Juli 2026 | 16:08:15
CATATAN PIALA DUNIA 2026: Asia Pulang, Afrika Bertahan, Kini Eropa dan Amerika Berebut Takhta
Bek Argentina Cristian Romero (kedua kiri) berselebrasi bersama rekan-rekan setim setelah duel udara yang dilakukannya berujung menjadi gol bunuh diri bek Tanjung Verde Diney Borges dalam laga 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Hard Rock, Miami, Florida, Amerika Serikat, Sabtu (4/7/2026) WIB. (Foto: Antara)

TUNTAS sudah babak 32 besar Piala Dunia 2026. Sebanyak 16 negara memastikan tiket ke babak perdelapan final yang mulai bergulir Minggu (5/7/2026) dini hari WIB. Namun, di balik daftar negara yang lolos, tersimpan sebuah fakta menarik: Piala Dunia kini benar-benar berubah menjadi arena perebutan supremasi antara Eropa dan Amerika.

Kolombia menjadi tim terakhir yang mengamankan tempat di babak 16 besar. Wakil Amerika Selatan itu menundukkan Ghana 1-0 melalui gol cepat Jhon Arias di Kansas City Stadium. Kemenangan tersebut sekaligus menutup rangkaian babak 32 besar.

Bagi Afrika, kegagalan Ghana memang menyakitkan. Namun, benua itu masih bisa berharap kepada Maroko dan Mesir yang berhasil bertahan.

Berbeda dengan Asia. Harapan terakhir Benua Kuning resmi sirna setelah Australia kalah dramatis dari Mesir lewat adu penalti di Stadion AT&T, Arlington. Padahal Australia sempat membuka asa ketika gol bunuh diri Mohamed Hany membuat skor menjadi 1-1 setelah sebelumnya Mesir unggul melalui Emam Ashour.

Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak kepada tim Negeri Kanguru. Dalam adu penalti, Harry Souttar dan Lucas Harrington gagal menjalankan tugasnya. Mesir menang 4-2 dan memastikan Asia tak lagi memiliki satu pun wakil di Piala Dunia 2026.

Ironisnya, Afrika justru masih menyisakan dua negara. Asia, yang untuk pertama kalinya mengirim begitu banyak peserta ke putaran final, justru lebih dulu bergabung menjadi penonton.

Kini komposisi 16 besar pun terlihat sangat mencolok.

Eropa mengirim tujuh wakil: Norwegia, Prancis, Inggris, Belgia, Spanyol, Portugal, dan Swiss.

Amerika juga menempatkan tujuh negara: Kanada, Meksiko, Amerika Serikat, Brasil, Paraguay, Argentina, dan Kolombia.

Dua slot sisanya menjadi milik Afrika melalui Maroko dan Mesir.

Dengan komposisi tersebut, aroma rivalitas dua benua kembali menguat.

Bukan sekadar soal jumlah peserta, tetapi juga soal sejarah.

Eropa masih memiliki tiga mantan juara dunia yang tersisa, yakni Prancis dengan dua gelar, serta Inggris dan Spanyol yang masing-masing pernah sekali mengangkat trofi.

Namun Amerika tetap membawa dua raksasa sesungguhnya dalam sejarah sepak bola dunia.

Brasil, pemilik lima gelar Piala Dunia, masih berdiri kokoh. Argentina, sang juara bertahan yang telah tiga kali menjadi kampiun dunia, juga terus melangkah.

Karena itu, pertanyaan besarnya menjadi menarik.

Apakah trofi Piala Dunia akan tetap berada di daratan Amerika seperti empat tahun lalu? Ataukah Eropa kembali merebutnya sebagaimana yang dilakukan Prancis pada 2018?

Jawabannya tentu belum ada.

Namun jika melihat peta kekuatan yang tersisa, peluang Amerika tampak sedikit lebih menjanjikan.

Ada beberapa alasan. Pertama, turnamen kali ini berlangsung di Amerika Utara sehingga faktor tuan rumah menjadi keuntungan tersendiri bagi Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.

Kedua, Brasil dan Argentina masih tampil sebagai kekuatan utama yang secara tradisi sangat tahu bagaimana memenangkan pertandingan-pertandingan hidup mati.

Sebaliknya, sebagian kekuatan besar Eropa sudah lebih dulu berguguran. Jerman, misalnya, harus angkat koper setelah dikalahkan Paraguay melalui adu penalti pada babak 32 besar.

Babak 16 besar nanti bahkan langsung menyajikan pertarungan yang bisa disebut sebagai "perang antarbenua".

Dari delapan pertandingan, lima di antaranya mempertemukan wakil Eropa melawan Amerika. Tiga laga lainnya terdiri atas duel sesama Eropa, Portugal melawan Spanyol, serta dua pertandingan Amerika menghadapi Afrika, yakni Argentina versus Mesir dan Kanada melawan Maroko.

Artinya, sejak awal fase gugur kedua ini, banyak tim unggulan sudah harus saling menghabisi. Tidak sedikit favorit yang dipastikan tumbang sebelum mencapai perempat final.

Menariknya lagi, tiga negara tuan rumah sama-sama masih bertahan.

Kanada akan menghadapi Maroko. Meksiko ditantang Inggris. Sedangkan Amerika Serikat harus meladeni Belgia.

Apabila ketiganya mampu memanfaatkan dukungan publik sendiri, bukan mustahil Amerika semakin mendominasi babak berikutnya.

Tetapi sepak bola tidak pernah tunduk sepenuhnya kepada statistik, sejarah, maupun logika.

Siapa yang menyangka Jerman tersingkir begitu cepat? Siapa pula yang menduga Asia justru habis lebih dulu, sementara Afrika masih menyisakan dua wakil?

Itulah sebabnya Piala Dunia selalu menghadirkan kejutan.

Pada akhirnya, sejarah memang penting. Tradisi juga berpengaruh. Faktor tuan rumah bisa menjadi keuntungan.

Namun, ketika peluit pertama dibunyikan, semua itu sering kali kehilangan maknanya.

Karena dalam sepak bola, bola memang tetap bundar.

Dan justru di situlah letak keindahan Piala Dunia. (**)

Penulis adalah Pemimpin Redaksi PekanbaruTV.com.