
CARACAS - Sebulan setelah diguncang gempa bumi kembar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5, Venezuela masih bergulat dengan krisis kemanusiaan yang belum berakhir. Jumlah korban tewas kini mencapai 5.069 orang, sementara puluhan ribu warga masih kehilangan tempat tinggal dan bergantung pada bantuan di kamp-kamp pengungsian.
Pemerintah Venezuela melalui Ketua Majelis Nasional Jorge Rodriguez, Jumat (17/7/2026) waktu setempat mengungkapkan, selain ribuan korban meninggal, 16.740 orang mengalami luka-luka, sedangkan 6.462 korban berhasil diselamatkan dari reruntuhan. Sebagian besar korban luka telah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan.
Bencana yang terjadi pada 24 Juni 2026 itu menghancurkan wilayah pesisir Negara Bagian La Guaira, di utara Caracas. Dua gempa kuat yang terjadi hanya dalam selang 39 detik merobohkan ratusan bangunan dan memaksa ribuan keluarga meninggalkan rumah mereka.
Hingga kini, 17.907 warga masih kehilangan tempat tinggal, sementara 21.210 orang bertahan di 107 lokasi penampungan sementara. Kondisi pengungsian dilaporkan memprihatinkan karena keterbatasan air bersih, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya.

Kerusakan akibat gempa juga sangat besar. Pemerintah mencatat 856 bangunan mengalami kerusakan, dengan 190 bangunan runtuh total.
Upaya penyelamatan dan pemulihan melibatkan kekuatan besar, termasuk 30.989 personel pemerintah, 31.745 relawan, serta 2.278 personel penyelamat dari berbagai negara yang datang membawa bantuan kemanusiaan.
Untuk mempercepat rekonstruksi, Pemerintah Venezuela mencairkan dana darurat sebesar US$346 juta atau sekitar Rp6,2 triliun dari Dana Moneter Internasional (IMF). Presiden Interim Delcy Rodriguez mengatakan dana tersebut akan difokuskan pada pemulihan infrastruktur dan penanganan kebutuhan mendesak para penyintas.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, turut mengonfirmasi pencairan dana tersebut. Menurutnya, IMF bekerja sama dengan berbagai mitra internasional agar Venezuela dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan dan mempercepat proses pemulihan.
Pencairan dana ini menjadi bagian dari membaiknya hubungan Venezuela dengan IMF dan Bank Dunia setelah bertahun-tahun mengalami kebuntuan. Kini, di tengah duka yang masih menyelimuti ribuan keluarga korban, bantuan internasional diharapkan mampu mempercepat langkah Venezuela untuk bangkit dari salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah negara tersebut. (cnn/ntr)






CARACAS - Sebulan setelah diguncang gempa bumi kembar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5, Venezuela masih bergulat dengan krisis kemanusiaan yang belum berakhir. Jumlah korban tewas kini mencapai 5.069 orang, sementara puluhan ribu warga masih kehilangan tempat tinggal dan bergantung pada bantuan di kamp-kamp pengungsian.
Pemerintah Venezuela melalui Ketua Majelis Nasional Jorge Rodriguez, Jumat (17/7/2026) waktu setempat mengungkapkan, selain ribuan korban meninggal, 16.740 orang mengalami luka-luka, sedangkan 6.462 korban berhasil diselamatkan dari reruntuhan. Sebagian besar korban luka telah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan.
Bencana yang terjadi pada 24 Juni 2026 itu menghancurkan wilayah pesisir Negara Bagian La Guaira, di utara Caracas. Dua gempa kuat yang terjadi hanya dalam selang 39 detik merobohkan ratusan bangunan dan memaksa ribuan keluarga meninggalkan rumah mereka.
Hingga kini, 17.907 warga masih kehilangan tempat tinggal, sementara 21.210 orang bertahan di 107 lokasi penampungan sementara. Kondisi pengungsian dilaporkan memprihatinkan karena keterbatasan air bersih, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya.
Kerusakan akibat gempa juga sangat besar. Pemerintah mencatat 856 bangunan mengalami kerusakan, dengan 190 bangunan runtuh total.
Upaya penyelamatan dan pemulihan melibatkan kekuatan besar, termasuk 30.989 personel pemerintah, 31.745 relawan, serta 2.278 personel penyelamat dari berbagai negara yang datang membawa bantuan kemanusiaan.
Untuk mempercepat rekonstruksi, Pemerintah Venezuela mencairkan dana darurat sebesar US$346 juta atau sekitar Rp6,2 triliun dari Dana Moneter Internasional (IMF). Presiden Interim Delcy Rodriguez mengatakan dana tersebut akan difokuskan pada pemulihan infrastruktur dan penanganan kebutuhan mendesak para penyintas.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, turut mengonfirmasi pencairan dana tersebut. Menurutnya, IMF bekerja sama dengan berbagai mitra internasional agar Venezuela dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan dan mempercepat proses pemulihan.
Pencairan dana ini menjadi bagian dari membaiknya hubungan Venezuela dengan IMF dan Bank Dunia setelah bertahun-tahun mengalami kebuntuan. Kini, di tengah duka yang masih menyelimuti ribuan keluarga korban, bantuan internasional diharapkan mampu mempercepat langkah Venezuela untuk bangkit dari salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah negara tersebut. (cnn/ntr)